Dianggap sampah karena kehancuran jiwa beladirinya, Keluarganya di asingkan dan bahkan hampir mati dengan tulang belakang yang hancur.
Namun tidak ada yang tahu…
Di dalam tubuhnya bangkit jiwa beladiri ganda legendaris yang belum pernah muncul di dunia ini.
Dengan kehidupan kedua di tangannya, dia hanya memiliki satu tujuan..
Menginjak semua orang yang pernah merendahkannya dan berdiri tak terkalahkan di bawah langit.
Tapi saat rahasianya perlahan terungkap, musuh yang datang untuk menghancurkannya semakin kuat…
Akankah dia menjadi penguasa tak terkalahkan, atau justru jatuh sebelum mencapai puncak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jazzy bold, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teknik Dewa Ashura
Air kolam itu dingin namun sangat menyegarkan saat tubuh Zhang Tiangxia masuk ke dalamnya.
Tapi yang lebih mengejutkan bukan dinginnya, melainkan betapa padatnya energi di dalam cairan ini. Setiap inci kulitnya seperti ditekan oleh ribuan jarum halus yang mendorong Qi masuk ke dalam pori-pori hingga ke sumsum tulang secara paksa.
Luar biasa.
Zhang Tiangxia menyelam lebih dalam, matanya terbuka di bawah permukaan cairan yang biru samar di bawah sinar bulan. Tangannya meraba dasar kolam yang berbatu.
Dan benar saja, dia melihat sebongkah batu hijau seperti jade seukuran kepalan tangan orang dewasa.
"Ini pasti batu sumber, dan pasti kualitasnya sangat tinggi." Zhang Tiangxia mengamati batu tersebut.
Dia langsung mengambil batu tersebut lalu di selipkan kedalam bajunya, Setelah itu dia mengetuk beberapa batu di dasar kolam satu per satu. Sebagian besar ini hanya batu biasa saja.
Dia kembali merabah rabah, sampai akhirnya tangannya menyentuh bagian tengah dasar kolam, disini terasa ada perbedaan yang jelas, lebih tepatnya terasa seperti ada selaput tipis yang tidak kasat mata.
Saat mengamati lebih dekat, ternyata di baliknya Zhang Tiangxia merasakan ada ruangan lain.
Formasi penutup.
Dia menekan selaput itu dengan Qi di ujung jarinya.
Klik.
Selaput itu terbuka saat menyentuh tangan Zhang Tiangxia.
Awalnya dia khawatir air kolam akan masuk ke dalamnya, namun setelah beberapa saat, ternyata Air kolam tidak masuk ke dalamnya seolah ada penghalang tak kasat mata yang memisahkan kolam dengan ruang di bawahnya.
Zhang Tiangxia segera melewati formasi penutup lalu masuk kedalam ruangan di baliknya.
Dia mendarat di lantai gua yang kering.
"Gua ini cukup luas," gumamnya.
Ruangannya cukup luas hampir seluas aula latihan keluarga Zhang. Di atasnya langit langitnya cukup tinggi setinggi dua meter.
Dindingnya dipenuhi oleh kristal kehijauan yang bersinar redup, memberikan cahaya samar yang cukup untuk melihat sekeliling tanpa obor.
Zhang Tiangxia tau ini adalah kristal cahaya yang bisa memberikan cahaya di dalam ruangan gelap.
Dia mengamati tempat ini dengan napas tertahan.
Udara di dalam gua ini berbeda sepenuhnya dari luar. Selain lebih padat, auranya juga lebih murni.
Lalu dia melihat kedepan.
Di tengah gua, seorang pria duduk bersila di atas ranjang giok.
Lebih tepatnya itu mayat seorang pria yang duduk bersila sebab tidak ada lagi tanda-tanda kehidupan darinya.
Tubuhnya tidak membusuk. Setelah sekian lama, kulitnya sudah mengering seperti kulit kayu tua, tapi posturnya tetap tegak sempurna seolah pemiliknya baru saja memejamkan mata beberapa menit yang lalu. Dari penampilannya, orang ini di masa hidupnya pasti bertubuh tinggi dan tegap.
Di depan mayat itu, tergeletak sebuah kitab berwarna hitam yang sampulnya diukir dengan gambar tengkorak yang terlihat mengerikan. Di samping kitab itu ada sebuah botol kecil berwarna merah muda, dan di dalam botol itu terdapat setetes cairan merah yang masih bersinar seperti bara api yang belum padam.
"Ini sepertinya darah.." Zhang Tiangxia mengamati cairan di dalam botol dengan ekspresi aneh.
Jelas gua ini sudah lama, orang di atas ranjang giok juga sudah meninggal entah berapa lama, namun darah di dalam botol ini justru masih utuh dan terlihat segar, jadi bagaimana dia tidak merasa heran.
Kemudian dia mengalihkan pandangannya ke arah tubuh mayat tersebut. Saat pandangan matanya melihat jarinya, jantungnya berdegup kencang.
Di tangan kanan mayat itu terpasang sebuah cincin.
Cincinnya berwarna hitam pekat, dan di atasnya terukir gambar tengkorak yang sama persis dengan yang ada di sampul kitab itu.
"Apakah itu cincin penyimpanan?" Zhang Tiangxia benar-benar sulit mempercayai jika itu adalah cincin penyimpanan. Sebab di Desa Cansu atau bahkan wilayah kota Linbao hingga petinggi di Provinsi pun hanya terbatas orang yang memiliki cincin penyimpanan.
Dia menggeser pandangannya ke belakang mayat itu.
Di sana, tergantung pada dinding batu ada sebilah pedang.
Panjangnya sedang, sarungnya berwarna merah tua seperti darah yang sudah mengering. Gagangnya dibalut kain berwarna sama, dan di bagian ujung gagang terdapat ornamen kecil berbentuk tengkorak dengan mata merah darah.
Meskipun sudah tersimpan entah berapa lama di dalam gua ini, pedang itu tidak sedikit pun terlihat berkarat. Sebaliknya, pedang ini membawa perasaan haus darah yang di pancarkan darinya.
Zhang Tiangxia berdiri diam cukup lama.
Kemudian matanya menatap pada kitab di depan mayat itu. Di sampulnya, selain ukiran tengkorak, ada tulisan yang bisa dia baca jelas.
Teknik Dewa Ashura.
Dan di bawahnya, dalam tulisan yang lebih kecil.
Pewaris Raja Neraka.
"Gila, apakah ini betul teknik dewa?" Dia agak skeptis.
Kemudian perlahan dia jongkok di depan mayat itu.
Tangannya meraih kitab Dewa Ashura lalu membukanya, namun sekeras apapun usahanya dia tetap tidak bisa membukanya.
"Bagaimana cara membukanya?" Ucap Zhang Tiangxia sedikit kebingungan, "Apa mungkin berhubungan dengan darah ini?"
Matanya mengamati darah di dalam botol kecil tersebut dengan ekspresi ragu, sebab dia tidak tahu darah ini harus di gunakan seperti apa.
Saat dia sedang mengamati darah tersebut dengan bingung, setetes darah itu langsung melesat ke arah dahinya secepat kilat.
Syut!
Zhang Tiangxia yang kaget refleks ingin menghindar, tapi kecepatan darah itu begitu cepat langsung masuk di antara kedua alisnya.
"Ahhh..." Dia langsung meraung, "Panas, panas sekali."
Zhang Tiangxia yang tidak punya persiapan langsung berguling-guling di lantai kesakitan, "Sial... Ini sakit sekali."
Dia ingin sekali pingsan sekarang, namun kesadarannya tetap terjaga seolah-olah memberitahu bahwa dia harus merasakan siksaan yang tidak manusiawi ini.
Bersamaan dengan rasa sakit yang di alami, kesadarannya di bawah ke suatu tempat yang amat mengerikan.
Jika di gambarkan, tempat ini lebih seperti neraka pembantaian.
Di dunia ini berwarna merah darah, langit, pohon, gunung semua berwarna merah darah. Bahkan matahari yang biasanya cerah kini juga berwarna merah darah.
Sepanjang mata memandang, Zhang Tiangxia melihat mayat bergelimpangan, ada wanita, anak-anak, namun lebih banyak mayat pria hingga membentuk sebuah gunung.
Di atas gunung, matanya melihat seorang pria tinggi tegap membawa pedang yang berlumuran darah. Di tangan Kirinya ada kepala yang sudah terpenggal, bajunya berkibar tertiup angin.
Bau darah dan kematian disini membuat Zhang Tiangxia yang masih berusia 7 tahun langsung mual.
Entah berapa lama kemudian, kesadarannya kembali ke tubuhnya, dan rasa sakit di kepalanya juga perlahan-lahan mulai reda.
"Darah macam apa yang bisa membuat orang ingin segera mati seperti ini." Zhang Tiangxia merasa ngeri ketika mengingat kembali rasa sakit yang baru saja di alaminya.
Kemudian dia coba membuka kembali Teknik Dewa Ashura yang sebelumnya gagal ia buka.
Dan anehnya, kali ini dia berhasil membukanya tanpa ada kesulitan seperti sebelumnya.
Saat halaman pertama terbuka, sebuah memori langsung masuk di kepalanya.
"Kamu adalah pewaris raja neraka yang baru dan juga ketua baru Sekte Pedang Ashura." Sebuah suara kuno terdengar dalam kepala Zhang Tiangxia.
"Jika kamu berhasil melatih Teknik Dewa Ashura hingga tingkat sepuluh, kamu akan menjadi yang tak terkalahkan di bawah langit." Suara itu kembali terdengar.
Zhang Tiangxia merasa orang ini sangat sombong, namun tetap mempertahankan ketenangan dan fokus mengamati informasi yang ada di kepalanya. Dia tau dengan jelas, yang bisa mewariskan teknik dengan cara memasuki kesadaran tentu bukanlah orang biasa.
Sebab sejauh yang dia ketahui, di kehidupan yang sekarang dia belum pernah bertemu orang yang bisa melakukan itu. Bahkan ketua keluarga Zhang di Desa Cansu atau ketua cabang utama keluarga Zhang di Kota Linbao juga tidak bisa melakukan itu.
Namun Zhang Tiangxia bukan tidak pernah mendengar hal seperti ini, di kehidupan sebelumnya ada beberapa orang yang bisa melakukan hal tersebut namun itu menggunakan batu perekam.
Dengan teknik khusus, seseorang bisa merekam sebuah teknik lalu di salin ke sebuah batu, saat ingin belajar tinggal alirkan energi dalam tubuh ke batu tersebut maka informasi akan muncul di kepala.