NovelToon NovelToon
Whispers Beneitah The Sajadah

Whispers Beneitah The Sajadah

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: jlianty

“Aku nggak mau nikah sama ustaz dingin kayak kulkas berjalan!”




Itulah teriakan Naura Aleesha saat orang tuanya menjatuhkan keputusan ia akan menikah dengan Gus Azzam Al-Farizi, pewaris pesantren ternama. Bagi Naura, gadis modern yang mencintai kebebasan, café, dan koleksi bunga, menikah dengan lelaki yang hidupnya diatur oleh aturan agama adalah akhir dari dunianya.



Di sisi lain, Gus Azzam menerima wasiat terakhir almarhum kakeknya dengan tenang. Meski calon istrinya jauh dari kesan islami, keras kepala, dan bahkan tidak berhijab syar’i, Azzam adalah lelaki yang tak pernah membantah takdir. Ia berjanji akan menjaga Naura, meski dengan caranya yang diam dan penuh batas.



Pernikahan yang diawali penolakan dan kesalahpahaman ini perlahan mempertemukan dua dunia yang bertolak belakang. Di balik tatapan dingin Azzam, ada taman bunga yang diam-diam ia tanamkan untuk istrinya. Di balik keras kepala Naura, ada kelembutan yang mampu melelehkan hati sang Gus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 27 Gus Posesif

Sejak malam insiden di hotel, Azzam berubah, ia tidak tiba-tiba menjadi kasar, tidak tiba-tiba memasang GPS di ponsel Naura, dan tidak melarangnya keluar rumah. Perubahannya lebih halus dari itu, dan jauh lebih... mengganggu.

Itu dimulai dari hal-hal kecil.

Pagi setelah insiden, saat Naura turun untuk sarapan, Azzam sudah duduk di meja makan. Tapi bukan dengan kitab di tangan seperti biasa, melainkan dengan ponselnya, yang sedang menayangkan layar yang tidak Naura kenali.

"Selamat pagi," sapa Naura, berjalan mendekat dengan langkah yang sedikit ragu. Setelah pengakuan cemburu Azzam semalam, ia tidak tahu bagaimana harus bersikap.

"Selamat pagi, Nauraku" balas Azzam, menatap Naura sebentar, lalu kembali ke ponselnya. "Duduk. Sarapan sudah siap."

Naura duduk, menatap piring nasi dan lauk yang sudah disiapkan, lalu menoleh ke arah Azzam. "Kamu lagi ngapain?"

"Mengecek jadwal," jawab Azzam singkat. Ia mematikan ponselnya, meletakkannya di samping piring, lalu menatap Naura dengan mata yang tajam. "Mulai minggu depan, saya mengurangi jadwal ceramah di luar kota. Saya sudah mengatur ulang jadwal pengganti dengan ustaz-ustaz lain."

Naura menatapnya takjub. "Apa?! Kenapa?! Kamu kan suka ceramah! Itu dakwahmu, Azzam!"

"Dakwah bisa dilakukan dari mana saja," Azzam mengambil sendok, mulai makan dengan tenang. "Termasuk dari pesantren. Dan saya tidak ingin terlalu sering meninggalkanmu sendirian."

"Aku nggak sendirian! Ada Ibu Jamilah, ada Umi , ada..."

"Nauraku!" Azzam menatap istrinya dengan tatapan yang tidak menerima bantahan. "Keputusanku sudah bulat."

Naura membuka mulut untuk membantah, tapi melihat ekspresi Azzam, tegas, protektif, dan sedikit keras kepala... ia tahu tidak ada gunanya berdebat. Ia hanya menghela napas panjang dan mulai makan.

"Ini masih normal," batin Naura. "Cuma perubahan jadwal. No problem."

Tapi ternyata, itu baru permulaan.

.

.

.

Dua hari kemudian, Naura ingin pergi ke perpustakaan pesantren untuk mengembalikan buku botani yang ia pinjam dan mencari buku baru tentang merawat mawar.

"Ibu Jamilah, aku pergi ke perpustakaan ya," ucap Naura pada pembantu itu saat melangkah keluar.

"Tunggu sebentar, Ning Naura," Ibu Jamilah berjalan cepat ke arah dapur, lalu kembali membawa sebuah kotak makan kecil. "Ini bekal dari Gus Azzam. Beliau berpesan agar Ning Naura tidak makan sembarangan di luar."

Naura menerima kotak itu dengan tangan terulur, mengerutkan dahi. "Bekal? Ke perpustakaan, rumah kan cuma lima menit jalan kaki!"

"Tapi Gus Azzam yang meminta," jawab Ibu Jamilah dengan senyum yang nyaris tidak bisa disembunyikan. "Beliau juga bilang, jangan lupa minum air yang cukup. Dan jangan duduk di lantai yang dingin. Juga..."

"Okee, okee, aku mengerti," Naura memotong, wajahnya mulai merah karena campur aduk antara terharu dan kesal. "Azzam ngasih bekal?! Kayak anak SD yang mau piknik?!"

Ia berjalan menuju perpustakaan dengan kotak makan di tangan, merasa sedikit bodoh tapi juga... seneng sih. Karena di balik keposesifan itu, ada kepedulian yang tulus.

Tapi keposesifan Azzam tidak berhenti di bekal.

Sore harinya, saat Naura duduk di taman belakang membaca buku botani barunya, Azzam tiba-tiba muncul dari arah rumah dan duduk di bangku di sampingnya.

"Kamu nggak ada kegiatan?" tanya Naura, mengerutkan dahi.

"Sudah selesai," jawab Azzam santai, bersandar di bangku, menatap langit sore yang berwarna jingga. "Sekarang saya ingin menemanimu."

"Aku cuma baca buku, Azzam. Nggak perlu ditemani."

"Saya tahu," Azzam menoleh, menatap Naura dengan mata yang tenang namun tidak bisa dimengerti. "Tapi saya ingin Naura."

Naura menatapnya, lalu mengalihkan pandangan ke bukunya, berusaha fokus pada kata-kata di halaman yang tiba-tiba terasa blur karena kehadiran pria di sampingnya membuatnya sulit berkonsentrasi.

Setiap beberapa menit, Azzam akan bergerak, mengambil botol air minum dari sampingnya dan meletakkannya di dekat Naura, menarik selimut kecil dari sandaran bangku dan meletakkannya di pangkuan Naura, atau meraih buku yang sedang dibaca Naura dan membolak-balikkan halaman untuk mencari bagian yang menarik.

"Azzam!" Naura akhirnya tidak tahan, menarik bukunya kembali. "Kamu menggangguku!"

"Maaf," Azzam tidak terlihat bersalah sama sekali. Ia bahkan senyum yang membuat Naura ingin menampar wajah tampan itu dengan bantal. "Saya hanya ingin membantu."

"Kamu nggak membantu! Kamu mengganggu!"

"Baik, baik." Azzam mengangkat kedua tangannya, seolah menyerah. "Saya akan diam."

Tapi "diam" bagi Azzam artinya duduk di samping Naura dengan tangan yang bersandar di pinggang bangku, hanya beberapa sentimeter dari bahu Naura dan menatap istrinya dengan mata yang sesekali bergerak dari wajah Naura ke buku yang dibacanya, lalu kembali ke wajah Naura.

Naura merasa seperti sedang diawasi oleh elang yang sangat tampan dan sangat mengganggu.

.

.

.

Hari berikutnya, Naura ingin pergi ke toko souvenir pesantren untuk membeli pupuk tanaman.

"Ibu Jamilah, aku..."

"Gus Azzam sudah mengantar pupuknya, Ning," Ibu Jamilah menyela dengan senyum yang semakin lebar. "Tadi pagi, sebelum Ning Naura bangun. Sudah ada di taman."

Naura menatap Ibu Jamilah dengan mulut terbuka. "Azzam beli pupuk?! Sebelum aku bangun?! Artinya dia bangun lebih awal dari biasanya hanya untuk membeli pupuk?!"

Ia berjalan ke taman belakang, dan benar saja, tiga sak pupuk berbagai jenis sudah tertata rapi di samping petak tanaman, lengkap dengan catatan kecil berisi petunjuk penggunaan yang ditulis dengan tangan Azzam.

Pupuk NPK untuk mawar: 1 sendok makan per 2 minggu.

Pupuk organik untuk sukulen: secukupnya, jangan berlebihan.

Jangan menyiram saat matahari terik. Menunggu sore saja.

Naura membaca catatan itu, matanya memanas, lalu memutar tubuhnya dan berjalan mencari suaminya.

Ia menemukan Azzam di ruang kerjanya, sedang menulis di mejanya. Ia mendengar langkah Naura, menoleh, dan menatap istrinya dengan kening sedikit terangkat.

"Ada apa?"

"Azzam," Naura berdiri di ambang pintu, lengan disilangkan di dada, wajahnya serius. "Kamu harus berhenti."

"Berhenti apa?"

"Berhenti... berhenti melakukan semua ini! Beliin pupuk, buatkan catatan, kasih bekal, atur ulang jadwal ceramahmu, duduk di taman nungguin aku baca buku... semuanya! Kamu terlalu..."

"Terlalu apa?" Azzam meletakkan pennya, menatap Naura dengan mata yang tidak terbaca.

"Terlalu posesif!" Naura memekik, lalu menutup mulutnya dengan tangan karena suaranya terdengar lebih keras dari yang ia inginkan.

Azzam terdiam sejenak, lalu berdiri dari kursinya. Ia berjalan mendekat, berhenti tepat di depan Naura, dan menatapnya dari ketinggiannya.

"Posesif?" ulang Azzam, suaranya rendah, hampir berbisik. "Kamu pikir saya posesif?"

"Ya! K-kamuu.... mengatur segalanya! Nggak kasih aku ruang bernapas! Kamu..."

"Karena aku khawatir, Naura," Azzam memotong, suaranya tegas namun penuh emosi. Ia mengulurkan tangannya, meraih tangan Naura yang disilangkan di dada, dan menggenggamnya. "Semenjak malam itu, semenjak pria itu muncul dan berbicara padamu seperti ia masih memiliki hak atasmu... ada sesuatu di dalam diriku yang tidak bisa tenang. Setiap kali kamu keluar rumah, setiap kali kamu tidak di penglihatanku, aku memikirkan hal-hal yang tidak rasional. Bagaimana jika dia muncul lagi? Dan ada orang lain yang mencoba mendekatimu? Atau kamu menyadari bahwa dunia di luar sana lebih menarik daripada dunia yang kubangun untukmu?"

Naura menatap Azzam, dadanya sesak. Pria ini bukan sedang mengontrolnya. Pria ini sedang berjuang melawan ketakutannya sendiri.

"Azzam..."

"Saya tahu ini berlebihan," lanjut Azzam, mengusap punggung tangan Naura dengan ibu jarinya, gerakan yang selalu berhasil menenangkan gadis itu. "Dan saya minta maaf, Kalau kamu merasa tertekan. Tapi Naura harus mengerti... selama dua puluh enam tahun, saya hidup dalam kendali. Saya mengendalikan emosiku, emosiku, emosiku, dan keinginanku. Tapi kamu...bsatu-satunya hal dalam hidupku yang tidak bisa saya kendalikan. Dan itu menakutkan."

Naura menelan ludah, matanya memanas lagi. "Dia nggak bisangendaliin perasaannya ke gue? Dan itu membuatnya takut."

"Azzam dengarkan aku," Naura menarik napas, menguatkan diri, lalu menatap suaminya dengan mata yang jujur. "Aku mengerti kamu khawatir. Dan aku... terharu dengan semua yang kamu lakukan. Pupuk, bekal, catatan, semuanya. Tapi nggak boleh menghentikan hidupmu hanya karena aku. Jangan mengurangi jadwal ceramahmu, dan mengawasiku setiap saat. Karena jika kamu melakukan itu, kamu akan kehilangan dirimu sendiri. Dan aku nggak mau itu terjadi."

Azzam menatapnya, rahangnya sedikit mengendur.

"Kamu seorang Gus Azzam Al-Farizi," lanjut Naura, suaranya lebih teguh sekarang. "Pemimpin pesantren, pembicara yang luar biasa, pria yang membuat ratusan orang berdiri dan bertepuk tangan malam itu. Dan aku... aku adalah istrimu. Istri yang keras kepala dan suka bunga hehehe..., tapi juga istri yang bisa menjaga dirinya sendiri."

Ia meraih tangan Azzam yang menggenggamnya, lalu menekannya ke dadanya, tepat di atas jantungnya yang berdebar kencang.

"Jantung ini berdetak untukmu, Azzam. Bukan untuk Arkan. Untukmu dan nggak ada orang yang bisa mengubah itu. Jadi berhenti khawatir, dan mulai percaya padaku. Bisa?"

Azzam menatap Naura lama-lama, matanya bergerak dari mata gadis itu ke tangan yang menekan tangannya ke dada istrinya. Ia bisa merasakan debaran jantung Naura, cepat, kuat, dan itu mengingatkannya bahwa Naura ada di sini, bersamanya, bukan di suatu tempat yang jauh.

Perlahan, ketegangan di wajah Azzam mengendur. Ia menghela napas panjang, menunduk, lalu mempertemukan dahinya dengan dahi Naura, gestur yang tampaknya menjadi kebiasaan mereka.

"Maafkan saya," bisik Azzam, suaranya serak. "Saya tahu saya berlebihan. Tapi sulit bagiku untuk tidak... melindungimu secara berlebihan."

"Melindungi boleh," Naura tersenyum getir, matanya masih basah. "Mengawasi setiap detik? Nggak!. Aku butuh ruang, Azzam. Aku butuh ruang untuk bernapas, untuk tumbuh, untuk menjadi istri yang layak untukmu. Dan aku nggak akan bisa melakukannya jika kamu selalu berada di sampingku seperti bodyguard."

"Haha." Azzam tertawa pelan, tawa yang lelah tapi lega. "Bodyguard?"

"Ya! Bodyguard yang bawa pupuk dan bekal!" Naura memukul bahu Azzam ringan, membuat pria itu tersenyum lebih lebar.

"Baik," Azzam mengangguk, menarik napas, lalu menatap Naura dengan mata yang lebih tenang. "Saya akan mencoba mengurangi... pengawalanku. Tapi dengan satu syarat."

"Apa?"

"Jika Arkan atau pria lain mencoba mendekatimu lagi, bahkan hanya menyapamu, kamu harus memberitahuku. Tidak boleh menyembunyikannya. Bukan saya tidak percaya padamu. Itu karena saya tidak percaya pada mereka."

Naura mengangguk tanpa ragu. "Deal."

Azzam tersenyum mencapai matanya, lalu mencium punggung tangan Naura sekali lagi. "Deal, habibti"

.

.

.

Naura terbaring di tempat tidur dengan senyum yang tidak mau hilang.

Ia meraih ponselnya, membuka obrolan dengan Cipa.

Naura: Cipa, gue mau nanya sesuatu.

Cipa: Ya ya ya apa?! Cerita cepat!

Naura: Kalo suami lo posesif tapi posesifnya karena dia takut kehilangan lo, bukan karena dia nggak percaya, itu... itu normal nggak?

Cipa: NORMAL BANGET! ITU NAMA NYA GREEN FLAG POSESSIVENESS!

Cipa: Lo mau bilang apa?! Gus Azzam posesif?!

Naura: Dia beliin pupuk tanah sebelum gue bangun, kasih bekal cuman ke perpustakaan, ngurangin jadwal ceramahnya biar nggak sering ninggalin gue, dan duduk di taman nungguin gue baca buku.

Hening sejenak.

Cipa: OMG OMG OMG BESTIE!!!

Cipa: PRIA ITU UDAH MULAI MENGHALALKAN SEGALA CARA UNTUK NGEJAGA LO. ITU BUKAN POSESSIVENESS. ITU DEVOSI.

Cipa: GUE MINTA MAAF KARENA GUE NGGAK BISA KASIH LO APA-APA SELAIN KATA-KATA. TAPI GUE HARAP LO SADAR KALO LO SEDANG MEMEGANG EMAS MURNI 24 KARAT.

Naura tertawa, memeluk ponselnya, dan berbisik pada dirinya sendiri, "Gue sadar, Cipa. Sadar pake banget-banget-banget."

Ia memejamkan mata, memikirkan Azzam, Azzam yang khawatir, Azzam yang takut kehilangan, Azzam yang membeli pupuk sebelum subuh karena istrinya ingin menanam bunga.

"Gue jatuh cinta pada lo Zam" batin Naura lagi, kali ini dengan keyakinan yang lebih kuat. "Dan gue nggak akan pernah menyesalinya."

.

.

.

Di ruang kerjanya, Azzam duduk di meja dengan ponsel di tangan.

Ia membuka aplikasi pesan, mengetik nomor yang jarang ia hubungi, nomor salah satu pengurus keamanan pesantren.

Azzam: Pak Dodo, tolong pantau gerak-gerik Ustaz Farrel dan siapa pun yang mencoba mendekati istriku. Laporkan semuanya padaku.

Ia mematikan ponsel, meletakkannya di meja, kembali setelan awal. Tapi matanya tidak fokus pada huruf-huruf Arab di halaman itu. Pikirannya melayang pada Naura, Naura yang berdiri di depannya siang tadi, menekan tangannya ke dada, dan berkata "jantung ini berdetak untukmu."

Ia menutup kitabnya, mendukung dagu di tangannya, dan tersenyum sendirian di dalam gelap.

"Jika kamu tahu berapa lama aku menunggu mendengar kata-kata itu dari bibirmu," bisik Azzam pada malam, "mungkin kamu akan mengerti mengapa aku tidak bisa berhenti menjagamu."

Di luar jendela, bulan sabit bersinar terang, menerangi pesantren yang tenang. Dan di bawah cahaya yang sama, dua orang yang sedang jatuh cinta, masing-masing di kamar mereka sendiri... sama-sama memikirkan satu sama lain, berjuang melawan perasaan yang semakin dalam, dan tidak menyadari bahwa badai yang sesungguhnya belum datang.

Karena jauh di sana, di kota yang berdebur, Arkan Pratama duduk di bar eksklusif dengan gelas whisky di tangannya, menatap layar ponsel yang menampilkan foto Naura di acara seminar, foto yang diambil secara diam-diam oleh salah satu tamu.

"Gue nggak menyerah begitu saja, Naura," bisik Arkan, matanya menyala dalam cahaya temaram. "Gus mu itu nggak tahu siapa yang sedang ia lawan."

Ia menekan layar ponselnya, membuka aplikasi pesan, dan mengetik nama seseorang yang baru saja ia temui di acara seminar itu, seseorang yang memiliki dendam yang sama padanya, terhadap keluarga yang sama.

Arkan: Ustaz Farrel? Ini Arkan. Aku pikir kita punya masalah yang sama. Mau ketemu?

Pesan itu terkirim.

.

.

.

1
Nina Utami
novelnya baru ya kak?
jlianty: Iyaa, ikutin terus ya. Aku update tiap hari kok🤭
total 1 replies
Nina Utami
Gus Azzam kata katamu bikin nangiss
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!