NovelToon NovelToon
Hanya Cinta Yang Bisa

Hanya Cinta Yang Bisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:616
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Helen Kusuma adalah seorang putri konglomerat yang jatuh miskin setelah ibu tirinya, Beatrix Van Amgard mengusirnya paksa pasca mendiang papa Helen, Aditya Kusuma tewas dalam sebuah kecelakaan tragis! Helen harus menghadapi penderitaan dan kehinaan oleh kejamnya Beatrix walau ia sudah tak punya apa pun lagi namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria bernama Aryo Diangga membuat hidupnya jauh lebih baik. Bagaimana akhir kisahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dansa Di Pesta

Sementara itu, di apartemen Ario, suasana kontras menyelimuti. Helen sedang berdiri di balkon, menatap lampu-lampu kota yang berkelap-kelip. Ia mengenakan robe sutra putih, rambutnya basah setelah mandi.

Pikiran Helen berkecamuk. Ia teringat bagaimana tadi sore Ario menatapnya di depan cermin. Ada sesuatu di dalam diri Ario yang membuatnya merasa aman, sebuah perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Setiap kali Ario berada di dekatnya, detak jantungnya memberontak.

Apakah ini yang namanya cinta? pikir Helen. Ia merasa berdosa. Papanya baru saja tiada, dan ia terjebak dalam pusaran perasaan untuk pria yang baru ia kenal beberapa hari.

Ario melangkah keluar ke balkon, membawa secangkir cokelat panas. Ia melihat kegelisahan di mata Helen.

"Kau memikirkan apa?" tanya Ario pelan.

Helen menoleh, menatap wajah Ario yang diterpa cahaya bulan. "Aku merasa menjadi putri yang buruk, Ario. Papa meninggal dengan cara yang mengerikan, dan di sini aku... memikirkan hal lain."

Ario berdiri di sampingnya, meletakkan cangkir itu di pagar balkon. "Beatrix ingin kau merasa bersalah. Dia ingin kau tetap lemah dan terpuruk. Memiliki perasaan bukan berarti kau melupakan ayahmu. Itu berarti kau masih manusia."

"Tapi kau bilang perasaan adalah beban," tukas Helen, mengingatkan janji mereka.

Ario terdiam. Ia menatap lurus ke depan, ke arah kegelapan malam. "Memang beban. Tapi aku juga tidak bisa memintamu untuk menjadi batu. Gunakan perasaan itu untuk memperkuat tekadmu, bukan untuk melemahkannya."

Tanpa sadar, Helen menyentuh lengan Ario. "Terima kasih, Ario. Tanpamu, aku mungkin sudah mengakhiri hidupku di bawah hujan itu."

Ario tidak menarik lengannya. Untuk sesaat, ketegangan di antara mereka mencair. Di mata Helen, Ario adalah penyelamat. Namun di mata Ario, ada sebuah rahasia yang ia simpan rapat-rahasia yang mungkin akan menghancurkan kepercayaan Helen jika suatu saat terungkap.

****

Malam itu, Hotel Grand Hyatt Jakarta berubah menjadi lautan kemewahan. Mobil-mobil supercar berjejer di lobi. Para elit politik dan pengusaha kelas atas berkumpul, semuanya membicarakan satu hal: Kematian Aditya Kusuma dan suksesi takhta yang mengejutkan oleh istri Belandanya.

Beatrix hadir lebih awal. Ia tampil memukau dengan gaun hitam berbahan beludru dengan potongan leher rendah yang dihiasi kalung berlian zamrud sebesar telur burung puyuh. Ia memegang gelas sampanye, menyapa para tamu dengan keramahan yang palsu dan mematikan.

"Ah, General... senang melihat Anda," sapa Beatrix dalam bahasa Indonesia yang sangat lancar, meskipun aksen Belandanya tetap ada. "Ya, kepergian Aditya sangat memukul saya. Tapi perusahaan harus tetap berjalan demi kesejahteraan ribuan karyawan, bukan?"

Di tengah-tengah obrolan formal itu, pintu besar ballroom terbuka.

Semua mata tertuju ke sana. Suasana yang tadinya bising oleh tawa basa-basi seketika menjadi senyap.

Helen Kusuma melangkah masuk.

Ia tampak seperti dewi kemarahan yang cantik. Gaun merah darahnya menyapu lantai marmer dengan anggun. Rambutnya disanggul modern dengan beberapa helai yang dibiarkan jatuh membingkai wajahnya yang kini terlihat tegas dan bercahaya. Dan di sampingnya, menggandeng lengannya dengan protektif, adalah Ario Diangga.

Beatrix, yang sedang menyesap sampanyenya, tidak melepaskan pandangannya dari mereka. Di balik gelas kristalnya, ia tersenyum sinis.

Lihatlah mereka, batin Beatrix. Pasangan yang malang. Nikmatilah cahaya lampu ini, Helen. Karena setelah malam ini, aku akan memastikan kau merindukan kegelapan emperan toko tempat aku membuangmu.

Helen menatap lurus ke arah ibu tirinya. Ia tidak menunduk. Ia tidak gemetar. Dengan langkah yang mantap dan didampingi pria yang kini mulai menguasai hatinya, Helen berjalan menuju panggung tempat Beatrix berdiri.

"Selamat malam, Mama tiri," suara Helen bergema, cukup keras untuk didengar oleh orang-orang di sekitarnya. "Sepertinya kau lupa mengundang pemilik sah dari acara ini."

Beatrix menurunkan gelasnya, matanya berkilat penuh drama. "Helen, sayang! Syukurlah kau selamat. Mama sangat khawatir setelah kau melarikan diri dari rumah karena syok berat."

Beatrix melangkah mendekat, seolah ingin memeluk Helen, namun matanya justru tertuju pada Ario. Ia memberikan tatapan penuh arti pada Ario, sebuah kode rahasia yang hanya mereka berdua yang tahu.

"Dan siapa pria tampan ini?" tanya Beatrix dengan nada menggoda yang menjijikkan. "Apakah ini alasanmu melupakan masa berkabung papamu, Helen?"

Helen merasakan amarahnya naik, tapi tangan Ario di pinggangnya meremas pelan, memberinya sinyal untuk tetap tenang.

"Namaku Ario Diangga, Nyonya Van Amgard," Ario berbicara dengan suara bariton yang memenuhi ruangan. "Dan aku di sini bukan untuk menggantikan posisi Tuan Aditya. Aku di sini untuk memastikan bahwa wasiat yang Anda pegang itu... diperiksa kembali oleh hukum yang sebenar-benarnya."

Tawa kecil Beatrix keluar lagi. "Oh, betapa beraninya. Baiklah, anak muda. Mari kita lihat seberapa kuat kau bisa melindungi 'putri' ini."

Beatrix kemudian berbalik ke arah kerumunan tamu. "Hadirin sekalian! Mari kita rayakan kembalinya putri tercinta kita, Helen! Dan mari kita beri mereka ruang untuk menikmati malam yang indah ini."

Skenario Beatrix dimulai. Musik orkestra mulai memainkan lagu yang romantis dan melankolis. Lampu-lampu mulai meredup, menciptakan suasana yang intim. Beatrix memberikan isyarat pada pelayannya untuk membubarkan kerumunan di sekitar Helen dan Ario, membiarkan mereka terisolasi di tengah kemegahan.

Dari kejauhan, Beatrix memperhatikan bagaimana Helen menatap Ario dengan penuh kekaguman dan ketergantungan. Ia melihat bagaimana Helen bersandar pada bahu pria itu saat mereka mulai berdansa kecil di tengah ruangan.

Beatrix mengeluarkan sapu tangannya lagi, kali ini bukan untuk menyeka ingus, melainkan untuk menutupi senyum kemenangannya yang mengerikan.

"Jatuh cintalah, Helen," bisik Beatrix di dalam hati. "Jatuh cintalah sedalam mungkin. Agar saat aku menghancurkan Ario, jiwamu juga akan ikut mati bersamanya."

****

Alunan musik orkestra mengalun lembut, menyapu ruang ballroom Grand Hyatt dengan irama waltz yang memabukkan. Lampu kristal yang tadinya benderang, kini meredup, menyisakan pendar keemasan yang dramatis. Di tengah lantai dansa, Helen Kusuma berada dalam dekapan Ario Diangga.

Tangan Ario yang besar dan hangat melingkar di pinggang Helen, sementara tangan kiri Helen bersandar di bahu kokoh pria itu. Gerakan mereka sinkron, mengalir mengikuti ritme biola yang mendayu. Helen, yang selama dua puluh delapan tahun hidup dalam pengawasan ketat ayahnya, tidak pernah membayangkan akan sedekat ini dengan seorang pria.

Wajah Ario hanya berjarak beberapa sentimeter darinya. Helen bisa menghirup aroma maskulin yang kini terasa begitu akrab—campuran antara cedarwood dan sisa aroma kopi—yang membuatnya merasa pening dalam artian yang manis. Ia menatap rahang Ario yang tegas, bibirnya yang tipis namun menunjukkan kekuatan, dan matanya yang sehitam malam.

Perlahan, dunia di sekitar Helen mulai memudar. Suara bisik-bisik para tamu, kilatan lampu kamera, bahkan bayangan hitam Beatrix van Amgard di sudut ruangan seolah lenyap ditelan kabut. Rencana besar untuk membongkar rekaman suara, niat untuk merebut kembali Kusuma Group, dan duka mendalam atas kematian ayahnya... semuanya mendadak tersapu oleh debaran jantungnya yang kian menggila.

"Ario..." bisik Helen pelan, hampir tak terdengar.

Ario menunduk, menatap mata Helen yang berkaca-kaca bukan karena sedih, melainkan karena gejolak emosi yang tak mampu ia definisikan. "Ya, Helen?"

"Terima kasih. Untuk semuanya," ucap Helen tulus. Matanya terkunci pada manik mata Ario, mencari kepastian, mencari perlindungan. Di saat itu, Helen benar-benar lupa bahwa ia sedang berada di tengah medan perang. Ia merasa seperti seorang putri dalam dongeng yang akhirnya ditemukan oleh pangerannya setelah lama terkurung di menara gelap.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!