NovelToon NovelToon
Kaisar: Menguasai Takhta Dengan Darah

Kaisar: Menguasai Takhta Dengan Darah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Perperangan
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, sang kaisar kehilangan segalanya—takhta, kekuasaan, bahkan nyawanya sendiri.
Namun kematian bukanlah akhir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cerminan di Palung Kuda

Dinding kayu gubuk itu kasar, penuh serpihan tajam yang siap menusuk kulit, namun bagi Yang Chen saat ini, dinding itu adalah satu-satunya sahabat yang bisa diandalkan.

Dia menempelkan punggungnya ke papan kayu yang lapuk. Kedua telapak tangannya menekan lantai tanah yang lembap, mencoba mencari gaya tolak yang cukup untuk mengangkat beban tubuhnya sendiri.

"Naik..." perintahnya pada dirinya sendiri. "Naik, tubuh sialan!"

Otot paha Zhao Wei, yang sudah menyusut karena malnutrisi bertahun-tahun, bergetar hebat. Lututnya gemeretak. Rasa sakit dari tulang rusuk yang patah menusuk dada setiap kali dia menahan napas untuk mengerahkan tenaga. Keringat dingin sebesar biji jagung kembali membasahi dahinya yang baru saja kering.

Satu inci demi satu inci.

Dia tidak langsung berdiri tegak. Itu bunuh diri. Dia menggeser punggungnya ke atas menyusuri dinding, kakinya menyeret di tanah, sampai dia berada dalam posisi setengah jongkok yang canggung.

Dunia berayun. Lantai gubuk seolah miring ke kiri.

Yang Chen memejamkan mata erat-erat, menahan rasa mual yang mendadak naik ke tenggorokan. Vertigo. Akibat kekurangan darah dan guncangan otak ringan bekas pukulan tiga hari lalu.

"Dulu..." batinnya tertawa miris di tengah penderitaannya. "Dulu aku bisa berdiri di ujung pedang terbang yang melesat menembus awan badai tanpa berkedip. Sekarang, berdiri di atas tanah datar saja rasanya seperti mabuk laut."

Dia menunggu sampai pusingnya mereda. Lima menit berlalu dalam posisi setengah jongkok itu, hanya mengatur napas dan membiarkan sistem keseimbangan di telinga dalamnya beradaptasi.

Setelah dunia berhenti berputar, dia melanjutkan usahanya.

Dengan satu dorongan terakhir dan erangan tertahan, lututnya lurus. Dia berdiri.

Tegak.

Meskipun punggungnya sedikit membungkuk untuk melindungi dadanya yang sakit, dia berdiri di atas kedua kakinya sendiri. Ini adalah kemenangan kecil yang terasa monumental. Ketinggian pandangannya berubah. Dia tidak lagi melihat dunia dari sudut pandang tikus di lantai.

Langkah selanjutnya: Pintu.

Jaraknya hanya dua meter dari tempatnya berdiri. Namun, lantai tanah di depannya tidak rata. Ada lubang-lubang kecil bekas genangan air, dan ada sisa-sisa jerami licin yang berpotensi membuatnya terpeleset. Jatuh sekarang berarti dia mungkin tidak akan bisa bangun lagi seharian.

Yang Chen menggeser kaki kanannya. Seret. Tapak. Mantapkan. Kaki kirinya menyusul. Seret. Tapak. Mantapkan.

Dia bergerak seperti orang tua berusia seratus tahun yang menderita rematik parah. Tangannya tidak pernah lepas dari dinding, meraba-raba permukaan kasar itu sebagai pegangan.

Akhirnya, dia sampai di ambang pintu.

Pintu kayu itu sedikit terbuka, menyisakan celah selebar jengkal tangan yang membiarkan cahaya matahari masuk membentuk garis vertikal yang tajam di lantai.

Yang Chen tidak langsung membukanya lebar-lebar. Insting Kaisar Tiraninya masih tajam: Jangan pernah melangkah ke wilayah baru tanpa mengintip terlebih dahulu.

Dia menempelkan satu matanya ke celah pintu itu.

Cahaya matahari menyilaukan mata kanannya, memaksanya berkedip beberapa kali hingga air mata keluar. Setelah pupil matanya mengecil menyesuaikan diri, pemandangan dunia luar mulai terbentuk jelas.

Ini adalah halaman belakang area kandang kuda.

Sebuah area terbuka yang kotor dan tidak terawat. Tanah di luar sana berlumpur parah akibat hujan semalam, dicampur dengan kotoran kuda yang berserakan di mana-mana. Bau amonia dari urin kuda dan jerami busuk jauh lebih menyengat di sini daripada di dalam gubuk.

Di seberang halaman, sekitar lima puluh meter jauhnya, berdiri sebuah bangunan panjang dari batu bata abu-abu. Itu adalah istana pelayan tingkat rendah. Ada asap tipis mengepul dari salah satu cerobongnya—dapur umum.

Yang Chen mengamati aktivitas di sana.

Ada dua orang pelayan wanita sedang menjemur kain seprai putih raksasa di tali jemuran. Angin mengibarkan kain-kain itu, menciptakan dinding putih sementara yang menghalangi pandangan ke arah gerbang utama.

Bagus,pikir Yang Chen. Kain-kain itu bisa jadi pelindung visual.

Tidak ada penjaga berbaju besi. Tidak ada pelatih bela diri. Area ini adalah area 'sampah' istana, tempat di mana hal-hal kotor disembunyikan dari pandangan para bangsawan.

Aman untuk saat ini.

Yang Chen mendorong pintu gubuk perlahan. Engselnya berdecit pelan, tapi suara angin dan suara kain yang berkibar di kejauhan menyamarkannya.

Dia melangkah keluar.

Udara segar—meskipun berbau kotoran kuda—terasa luar biasa saat mengisi paru-parunya. Itu jauh lebih baik daripada udara apek di dalam gubuk yang berbau kematian dan darah. Sinar matahari pagi menghangatkan kulitnya yang pucat dan dingin. Dia bisa merasakan pori-porinya terbuka, menyerap energi Yang murni dari matahari. Sayangnya, tanpa Dantian, dia tidak bisa mengolah energi itu menjadi Qi. Dia hanya bisa menikmatinya sebagai kehangatan fisik biasa.

Tetapi, kehangatan itu tidak menghilangkan rasa haus yang mencekik.

Tenggorokannya terasa seperti kertas pasir yang digosokkan satu sama lain. Bibirnya pecah-pecah dan berdarah. Dehidrasi adalah pembunuh yang lebih cepat daripada kelaparan.

Mata Yang Chen memindai sekeliling halaman dengan putus asa.

Air. Di mana air?

Dia melihat sebuah sumur tua di dekat bangunan dapur di seberang sana. Tapi itu terlalu jauh. Lima puluh meter berjalan melintasi lumpur terbuka sama saja dengan menyerahkan diri untuk dilihat orang. Jika pelayan wanita itu melihatnya, mereka mungkin akan berteriak atau memanggil penjaga, mengira ada mayat hidup berjalan. Penampilannya saat ini pasti mengerikan.

Pandangannya beralih ke arah yang lebih dekat. Tepat di samping gubuknya, menempel pada dinding luar kandang kuda utama.

Sebuah palung batu panjang.

Itu tempat minum kuda.

Air di dalamnya terlihat tenang. Tapi warnanya tidak jernih. Ada lapisan lumut hijau tipis yang mengapung di permukaannya. Beberapa ekor lalat hijau terbang berdengung di atasnya, sesekali mendarat untuk mencicipi air itu.

Seorang bangsawan akan lebih memilih mati daripada meminum air bekas kuda yang berlumut. Zhao Wei yang asli mungkin akan menangis melihatnya.

Tapi Yang Chen?

Bibirnya menyunggingkan senyum tipis. Air adalah air.

Di kehidupan sebelumnya, saat dia dikepung di Gurun Tulang Putih selama tiga tahun, dia pernah meminum darah musuhnya sendiri untuk bertahan hidup. Air lumut ini bagaikan nektar surga dibandingkan itu.

Dia mulai bergerak menuju palung itu. Jaraknya hanya lima langkah.

Langkah pertama, kakinya terbenam ke dalam lumpur sedalam mata kaki. Lumpur dingin itu merembes masuk ke dalam sepatu kainnya yang sudah bolong, membuat kakinya basah dan kotor. Sensasi yang menjijikkan, tapi dia mengabaikannya.

Langkah kedua, dia hampir kehilangan keseimbangan karena pijakan yang licin. Tangannya menyambar tiang kayu penyangga atap kandang untuk menahan diri. Serpihan kayu menusuk telapak tangannya, tapi dia tidak peduli.

Langkah ketiga, keempat, kelima.

Dia sampai di depan palung batu itu.

Palung itu tingginya setara pinggang orang dewasa. Bagi Yang Chen yang sedang membungkuk kesakitan, tingginya pas di depan dadanya.

Dia mencengkeram pinggiran batu yang dingin dan kasar itu dengan kedua tangannya. Dia menunduk, menatap ke dalam air.

Dan untuk pertama kalinya, dia melihat wajahnya.

Refleksi di permukaan air yang tenang namun keruh itu menatap balik padanya.

1
saniscara patriawuha.
lumayannnn....
Muh Hafidz
bagus thor pertahankan terus ritme cerita seperti ini, biar kita semakin mendalam menikmati alur ceritanya 👍👍👍
Muh Hafidz
saya suka ceritanya, runut, runtut gak cepat melompat, apalagi melompat lompat, saya setuju dg Thor ttp konsisten menceritakan adegan dg detil dan bertahap Krn itu membuat kita semakin bisa mendalami alur cerita, bravo buat Thor
saniscara patriawuha.
gassssssd deuiiiiii...
saniscara patriawuha.
gasssss pollllll.....
saniscara patriawuha.
lanjutttttt....
saniscara patriawuha.
mantappp..
saniscara patriawuha.
gasssd polllll manggg chennnn
saniscara patriawuha.
ojo kesuwen mang otor moso sampe 6 episode hanya untuk menceritakan,,, cukup 3 bab,, langsung sat set sat set....
saniscara patriawuha.
lanjoootttttkannnnn.....
saniscara patriawuha.
lanjutttttkannnnn....
saniscara patriawuha.
gasssdd polllll ojoo kesuwennnn manggg otorrrrr
saniscara patriawuha.
gassssd pollllllll...
saniscara patriawuha.
gassssss pollllll manggg weuiuiii
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!