NovelToon NovelToon
Layu Sebelum Mewangi

Layu Sebelum Mewangi

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Single Mom / Dunia Masa Depan / Tamat
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: miss tiii

" Dua puluh tahun terkurung. Sebuah pernikahan tanpa suara. Dan seorang pria yang lebih memilih diam dari pada berjuang.

Arumi mengira ia akan mekar setelah menikah. Ternyata , ia hanya berpindah ke sangkar yg lebih dingin. Ketika kehidupan hidup mulai mencekik dan suaminya tetap membatu, Arumi menyadari satu hal : Untuk bisa bernafas lagi, ia harus merelakan segalanya. Termasuk status yg selama ini di anggap suci."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon miss tiii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Racun Dalam Diam

Sore itu, suhu di dalam rumah terasa lebih panas dari biasanya. Bukan karena cuaca, tapi karena pemutusan aliran listrik yang sudah memasuki hari ketiga. Arumi duduk di lantai, keringat bercucuran di pelipisnya.

Ia mual, kepalanya berputar karena hormon kehamilan, dan perutnya melilit karena sejak pagi ia hanya menelan air putih.

Baskara pulang, meletakkan tas kusamnya di atas kursi plastik. Ia melihat istrinya yang pucat, tapi ia tidak mendekat. Ia hanya berjalan menuju dapur, membuka tudung saji, dan mendapati meja itu kosong melompong.

"Tidak ada makanan?" tanya Baskara. Suaranya datar, seolah ia sedang menanyakan cuaca, bukan bertanya pada istrinya yang sedang mengandung.

Arumi mendongak, matanya merah dan cekung. "Pakai apa, Mas? Uang dari mana? Beras habis. Telur habis. Bahkan garam pun habis."

Baskara menghela napas panjang—suara yang paling dibenci Arumi karena itu adalah satu-satunya "usaha" yang dilakukan suaminya. "Aku belum gajian. Pinjam dulu ke tetangga sebelah."

"Pinjam?" Arumi tertawa sumbang, suaranya pecah di tengah ruangan yang pengap. "Mas tahu tidak? Tadi pagi Ibu kontrakan datang. Dia tidak mau tahu lagi. Besok kita harus keluar kalau tidak bayar satu bulan. Mas dengar? Kita akan jadi gelandangan!"

Baskara hanya terdiam. Ia menarik kursi, duduk membelakangi Arumi, dan mulai menyalakan sebatang rokok—satu-satunya hal yang selalu ia usahakan ada meski mereka kelaparan.

"Matikan rokok itu, Mas! Aku sedang hamil! Bau itu membuatku mual!" teriak Arumi sambil merangkak bangun, memegang pinggiran meja agar tidak jatuh.

Baskara menoleh sekilas, lalu mematikan rokoknya di lantai dengan ujung sandal. "Jangan terlalu banyak mengeluh, Rum. Bikin kepalaku pusing saja."

"Pusing?" Arumi menghampiri Baskara, mencengkeram lengan kemeja suaminya yang kasar. "Mas pusing karena keluhanku, atau karena Mas memang tidak mau peduli? Anak ini... anak di perutku ini butuh makan, Mas! Dia butuh nutrisi! Apa Mas mau dia lahir prematur atau mati di dalam karena ayahnya tidak mau bergerak seujung kuku pun?"

Baskara melepaskan cengkeraman tangan Arumi dengan perlahan, namun kuat. Ia menatap Arumi dengan mata yang benar-benar kosong. "Kalau memang takdirnya lahir, ya lahir. Kalau tidak, ya sudah. Jangan memaksaku untuk melakukan hal yang tidak bisa kulakukan."

Plak!

Satu tamparan mendarat di pipi Baskara. Arumi gemetar hebat. Tangannya terasa panas, tapi hatinya jauh lebih panas.

Baskara tidak membalas. Ia bahkan tidak memegang pipinya yang memerah. Ia hanya menatap Arumi sebentar, lalu kembali menatap gelas kosong di depannya. Sikapnya seolah mengatakan bahwa tamparan itu pun tidak cukup berharga untuk direspons.

"Mas benar-benar batu," bisik Arumi dengan suara yang hilang timbul karena isak tangis. "Mas bukan manusia. Mas itu racun. Mas membiarkan aku dan anak ini mati pelan-pelan karena kemalasanmu yang berkedok 'sabar'."

Baskara tetap tidak bicara. Ia bangkit, berjalan menuju kamar, dan menutup pintu. Tanpa kata maaf. Tanpa rencana. Tanpa usaha.

Di balik pintu yang tertutup itu, Arumi merosot ke lantai. Ia memeluk perutnya yang masih rata. Di saat itulah, sebuah pikiran liar mulai muncul di benaknya—pikiran untuk pergi, untuk melepaskan status istri, untuk menyelamatkan nyawa di dalam perutnya sebelum "racun" di rumah ini membunuh mereka berdua.

"Layu," bisik Arumi pada dirinya sendiri. "Aku benar-benar akan layu jika tetap di sini."

1
Diana Bellusi
bagus ceritanya q suka💪
miss tiii: halooo kakk, jangan lupa vote yaaa , salam kenalll🙏🤭
total 1 replies
Emily
dah baskara gak usah harap Arumi lagi pigi kerja jadi kuli buat ngisi perutmu
Emily
kerja baskara jangan ngintipin arumi aja
Emily
lha baskara itu pernah berjuang apa
Emily
nah gitu dong Rumi
Emily
ah ngomong aja kau Rumi..makin banyak kau ngomong makin mentiko lakikmu
Emily
si Arumi kan udah pernah ngomong begitu jgn sampe berkali kali ngomong begitu tapi tetap masih mengharap laki mokondo
Emily
lha Arumi di tinggal saja laki begitu..malah balik lagi
Emily
baskara kerja apa kok modelnya begitu.. bpak nya Arumi juga salah kenapa menjodohkan anaknya dgn leleki gak jelas
Emily
semangat
Yuli Yanti
sbetulnya nama anaknya Bayu apa Kinan. bingung aku
miss tiii: Kinan Buu , episode berapa yg masih nama Bayu biar saya ganti , makasihh atas komentarnya 🙏😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!