"Aku Jadi Ibu?" Melisa Wulandari, seorang gadis desa yang bercita-cita menjadi pengacara, berjuang menempuh pendidikan hukum di kota demi melindungi tanah kelahirannya dari mafia tanah. Hidupnya sederhana, hanya ditemani dua sahabat setianya, Diana dan Riki. Namun, suatu malam yang seharusnya biasa berubah menjadi titik balik hidupnya. Di sebuah gang sepi, tangisan bayi menggema, menggiring Melisa pada pemandangan mengejutkan—dua bayi mungil tergeletak dalam sebuah kotak. Nalurinya mengatakan untuk menyerahkan mereka kepada pihak berwajib, tetapi dunia tidak seadil yang ia kira. Alih-alih mendapatkan keadilan, Melisa justru dituduh sebagai ibu bayi-bayi itu dan dianggap berniat membuang mereka. Tak ada jalan keluar. Nama baiknya tercoreng, keluarganya di desa tak boleh tahu, dan tak ada yang percaya bahwa dia hanyalah seorang mahasiswa yang kebetulan menemukan bayi-bayi malang itu. Dengan segala keterbatasan, Melisa mengambil keputusan gila—merawat bayi-bayi itu diam-diam bersama Diana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susiajaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 5
Setelah mengikuti perkuliahan dengan cukup khusyuk—atau setidaknya cukup untuk tidak tertidur—Meli, Diana, dan Riki akhirnya bisa bernapas lega ketika dosen mereka keluar dari kelas. Begitu pintu tertutup, suasana kelas langsung berubah. Mahasiswa mulai mengobrol, beberapa mengeluhkan tugas yang baru saja diberikan, dan sisanya bersiap untuk pergi.
Diana, yang sejak tadi tampak gelisah, langsung menoleh ke arah dua sahabatnya dengan ekspresi berbinar.
"Gas nongkrong, guys!" serunya penuh semangat.
Meli sudah menduganya. Diana memang punya stamina sosial yang luar biasa, berbeda jauh darinya yang lebih suka menikmati ketenangan.
Namun, belum sempat Meli menjawab, Riki sudah lebih dulu mengangkat tasnya dan bersiap pergi. "Ga dulu, gue ada janji ketemu kating cantik." ucapnya santai sebelum melangkah keluar.
Diana langsung memutar bola matanya dengan dramatis. "Dasar buaya!" cibirnya tanpa malu-malu, meski tahu Riki sudah kebal dengan julukan itu.
Saat Riki benar-benar lenyap dari pandangan, Diana langsung menoleh kembali ke Meli dengan tatapan penuh antusias. "Yuk, Mel! Tempat biasa!"
Meli mengernyit. "Katanya tadi kamu mau cerita hal penting, Na? Jadi gak?" tanyanya, mengingat-ingat percakapan mereka sebelumnya.
Mata Diana tiba-tiba membulat seolah baru mengingat sesuatu yang sangat krusial. "Oh iya! Saking fokusnya mau nongkrong, gue sampe lupa!"
Ia langsung meraih tangan Meli dengan gaya dramatis. "Udah, ini penting banget! Kita harus ke kantin sekarang juga! Misi penyelamatan perasaan Diana dimulai!" serunya berlebihan, membuat beberapa mahasiswa di sekitar mereka menoleh dengan tatapan heran.
Meli hanya bisa menghela napas panjang. Sudah dua tahun berteman dengan Diana, tapi tetap saja, ia tak pernah siap dengan kelakuan sahabatnya yang satu ini.
Meli dan Diana akhirnya sampai di kantin dan langsung menuju meja favorit mereka. Biasanya, meja ini dihuni oleh mereka bertiga—tapi kali ini, hanya ada mereka berdua. Si buaya Riki sedang sibuk berkencan dengan salah satu gebetan barunya, jadi tak heran ia absen dari sesi nongkrong kali ini.
Setelah memesan makanan, Diana mulai gelisah. Ia menatap layar ponselnya dengan ekspresi antara frustasi dan patah hati, jari-jarinya bergerak cepat seolah sedang mencari kepastian dalam ketidakpastian.
Meli sudah bisa menebak arah pembicaraan kali ini. "Jadi… kenapa mukamu kusut kayak baju belum di setrika?" tanyanya santai sambil menyeruput es teh manisnya.
Diana langsung mendesah panjang. "Mel… gue patah hati."
Meli menaikkan alis. "Oh, ya? Crush yang mana nih?"
Diana langsung menepuk meja dengan ekspresi dramatis. "Jangan ngomong gitu dong! Ini serius!"
Meli mengangkat bahu. "Oke, oke, lanjut."
Diana mendekatkan ponselnya ke wajah Meli, memperlihatkan sebuah foto yang baru saja diunggah oleh crush-nya di media sosial. Di dalam foto itu, si cowok berpose bersama seorang cewek yang tersenyum manis, dan yang lebih menyakitkan… ada emoticon love di caption-nya.
Diana mengusap wajahnya dengan penuh derita. "Gue kira dia jomblo, Mel. Ternyata…" suaranya bergetar seolah hendak menangis, "…ternyata dia sudah berpasangan."
Meli menatap layar ponsel itu sebentar, lalu menatap Diana yang terlihat seperti baru ditinggal nikah. "Na, kamu kenal dia juga enggak, kan?"
Diana langsung mendelik. "Apa maksudmu?!"
Meli menghela napas. "Maksudku, kalian gak pernah ngobrol, gak pernah ketemu, satu-satunya interaksi kalian cuma dia nge-followback kamu, terus kamu udah ngerasa dikhianati?"
Diana menatapnya sejenak, lalu menghembuskan napas panjang seolah tak terima dengan kenyataan. "Iya, tapi itu kan tetap berarti sesuatu, Mel! Followback itu ibarat tanda persetujuan tak tertulis! Harapan! Harapan yang sekarang sudah hancur berkeping-keping!"
Meli menatap Diana yang sudah bersandar lemas di kursi dengan ekspresi sedih berlebihan. "Bisa aja itu saudara atau temannya, Na. Jangan langsung berasumsi."
Diana langsung bangkit tegak. "Enggak mungkin, Mel! Orang kalau cuma saudara atau teman, gak mungkin kasih emot love! Paling gak, emot senyum doang! Atau kalau emang sahabatan, ya emot ketawa! Ini? Love, Mel! LOVE!" serunya penuh kepedihan.
Meli berusaha menahan tawa. "Terus… kamu sendiri aja belum pernah ngomong sama dia, kenapa sesakit ini?"
Diana menghela napas berat, tatapannya menerawang ke langit-langit kantin. "Karena kita punya ikatan yang tak terlihat, Mel… ikatan yang hanya bisa dirasakan, bukan diungkapkan. Gue udah berjuang like semua story dia, Mel. Udah selalu jadi viewer pertama tiap dia nge-post. Tapi apa balasannya? Dia malah upload foto sama cewek lain."
Meli tak bisa lagi menahan tawa. "Na… kamu tuh kayak orang yang baru diselingkuhin padahal bahkan dia gak tahu kamu ada!"
Diana langsung memegangi dadanya, pura-pura sesak napas. "Mel, kenapa kamu ngomong sejujur itu? Sakit tau!"
Meli hanya menggeleng, lalu menepuk bahu sahabatnya yang masih terlihat frustasi. "Yaudah, yuk makan. Anggap aja ini pelajaran supaya kamu gak terlalu berharap sama orang yang bahkan gak sadar kamu ada."
Diana mengangguk lemas. "Iya… iya… tapi habis ini tolong ajarin gue cara jadi misterius dan susah ditebak. Biar next crush gue gak bisa ninggalin gue begitu aja."
Meli hanya tertawa. "Next crush? Move on-nya cepat juga."
Diana menyeringai. "Ya iyalah, patah hati boleh, tapi harus tetap ada cadangan."
Dan begitulah sesi curhat Diana yang dramatis berakhir—untuk saat ini.