Juni 2026
----
Aktivitas matahari menurun drastis. Zona es meluas dari kutub hingga mencapai Indonesia. Jakarta membeku dalam suhu minus belasan derajat, hukum dan negara runtuh, dan manusia saling berburu untuk bertahan hidup. Di tengah kiamat Es itulah Arka, seorang pemuda jenius tapi pemalas , mati dikhianati tunangannya sendiri. Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terbangun satu tahun sebelum bencana, dengan ingatan penuh akan enam bulan neraka yang telah ia lalui. Kini, dengan memanfaatkan pengetahuannya tentang masa depan, bisakah arka bertahan hidup di dunia tanpa hukum, di mana siapa kuat dia berkuasa saat ini ? ...
----
~ Jika waktu bisa mundur 1 tahun dari saat ini, Apa yg akan kamu lakukan? ~
----
@ThinkzIam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thinkziam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Arka menghabiskan dua hari setelah pertemuan di kafe untuk mengurus berkas-berkas yang diperlukan bank. Fotokopi sertifikat tanah, surat keterangan warisan, bukti kepemilikan apartemen. Semua dokumen itu tersebar di map cokelat yang dulu disimpan ibunya, ada yang sudah usang, ada yang masih baru.
Dia bolak-balik notaris dua kali. Yang pertama untuk mengesahkan surat keterangan warisan, yang kedua untuk memastikan semua dokumen sesuai persyaratan. Pegawai notaris, seorang wanita paruh baya dengan kacamata tebal, sempat bertanya kenapa dia terburu-buru.
“Ada rencana investasi,” jawab Arka singkat.
Dia tidak perlu menjelaskan lebih. Di dunia ini, belum ada yang tahu.
Sore harinya, setelah dari notaris, Arka mampir ke bank lagi. Kali ini dia membawa dokumen yang lebih lengkap. Pegawai yang sama melayaninya, wanita muda dengan rambut diikat rapi itu.
“Mas Arka, untuk pinjaman dengan agunan gabungan seperti ini, nilai maksimal yang bisa diajukan sekitar tujuh puluh persen dari total nilai aset. Kami perlu waktu satu hingga dua minggu untuk appraisal.”
Arka mengangguk. “Tidak masalah.”
“Apakah Mas Arka sudah punya perkiraan nilai aset?”
“Motor sekitar lima belas juta. Apartemen di Jakarta Timur sekitar lima ratus juta. Tanah di desa dulu dibeli dua ratus juta, sekarang mungkin sudah naik. Kebun sawit... saya tidak yakin.”
Pegawai itu mencatat. “Baik, kami akan proses. Mohon isi formulir ini.”
Arka mengambil formulir, mengisinya dengan tulisan yang rapi. Di kolom tujuan pinjaman, dia menulis: investasi properti.
Saat menulis, ponselnya bergetar. Sari.
“Ark, besok kita ketemu yuk. Aku mau cerita.”
Arka membaca pesan itu, lalu meletakkan ponsel di meja. Dia melanjutkan mengisi formulir.
Dia baru membalas pesan Sari setelah selesai dari bank.
“Ok. Jam 3 di kafe biasa.”
Balasan itu standar, sama seperti yang dulu sering dia kirim. Tapi kali ini ada keanehan yang dia rasakan. Sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan.
Arka menggeleng. Mungkin cuma perasaan.
Pertemuan keesokan harinya berjalan seperti biasanya. Sari datang dengan senyum lebar, bercerita tentang kuliah, tentang teman, tentang ibunya yang mulai sering bertanya kapan dia dilamar. Arka mendengarkan, mengangguk, tersenyum di tempat yang tepat.
Tapi ada satu hal yang berbeda.
Sari bertanya tentang pekerjaannya. Lebih detail dari biasanya. Tentang gaji, tentang bonus, tentang tabungan.
“Kamu kok tanya-tanya soal gaji?” tanya Arka sambil menyesap kopi hitamnya.
Sari mengangkat bahu. “Cuma penasaran. Kamu kan udah kerja tiga tahun, pasti ada tabungan kan.”
“Ada sedikit.”
“Berapa?”
Arka menatap Sari. Matanya tidak berkedip. Ada sesuatu di balik pertanyaan itu yang tidak dia mengerti.
“Lumayan,” jawabnya singkat.
Sari tersenyum, tidak memaksa. Tapi Arka menangkap ada sedikit kekecewaan di wajahnya.
Sepanjang pertemuan itu, Arka terus mengamati. Gerak-gerik Sari yang dulu terasa alami, sekarang terlihat sedikit dipaksakan. Senyumnya masih lebar, tawanya masih mudah, tapi matanya... matanya sering melirik ke ponsel. Setiap kali ada notifikasi, dia buru-buru melihat, lalu mengetik cepat dengan punggung tangan menutupi layar.
“Siapa?” tanya Arka iseng.
“Temen,” jawab Sari sambil mematikan layar.
Arka tidak bertanya lebih lanjut. Tapi ada benang merah yang mulai dia ikat di kepalanya.
Pulang dari kafe, Arka tidak langsung ke kos-kosan. Dia memilih duduk sebentar di taman kecil dekat stasiun MRT, tempat yang dulu sering dia lewati tanpa pernah berhenti.
Ponsel di tangannya. Dia membuka chat dengan Sari, menggulir ke belakang. Pesan-pesan manis yang dulu membuatnya tersenyum. Foto-foto selfie yang dulu dia simpan. Kata-kata “aku sayang kamu” yang dulu membuatnya merasa menjadi pria paling beruntung.
Sekarang dia membaca ulang semuanya dengan kaca mata berbeda.
Apakah ini semua sandiwara?
Dia teringat sesuatu. Di kehidupan pertama, Sari tidak pernah benar-benar peduli dengan keuangannya. Dia sering bercanda bahwa Arka “pegawai rendahan” dengan gaji pas-pasan. Tapi dua bulan terakhir sebelum es tiba, Sari tiba-tiba menjadi lebih perhatian. Sering bertanya tentang tabungan, tentang aset orang tua, tentang warisan.
Dulu Arka menganggap itu sebagai bentuk perhatian. Sekarang, di kepalanya yang sudah dipenuhi ingatan masa depan, semua itu terasa seperti... pemeriksaan. Seperti seseorang yang sedang menghitung berapa banyak yang bisa diambil sebelum meninggalkan pemiliknya.
Arka menutup mata.
Sabar. Jangan terburu-buru. Buktikan dulu.
Keesokan harinya, Arka punya rencana lain. Dia tidak memberi tahu Sari. Dia hanya memantau.
Sari bilang dia ada kuliah sampai siang. Arka memarkir motornya di depan kampus, agak jauh dari pintu gerbang, di tempat yang tidak terlalu mencolok.
Dia menunggu.
Jam sebelas, Sari keluar dari gerbang. Tapi dia tidak berjalan ke arah kos-kosan atau halte. Dia berdiri di pinggir jalan, menatap ponsel, lalu tersenyum.
Tiga menit kemudian, sebuah motor berhenti di depannya. Pengendaranya laki-laki, jaket hitam, helm full face. Sari naik ke boncengan dengan gerakan yang akrab. Tangannya memegang pinggang pengendara itu dengan erat.
Arka menatap dari kejauhan. Wajahnya datar.
Dia tidak mengejar. Dia hanya mencatat plat nomor motor itu di kepalanya.
Sore harinya, Arka mencari tahu. Dia punya kenalan yang kerja di samsat, mantan teman SMA yang dulu sering minta tolong. Beberapa pesan singkat, dan dia mendapat nama pemilik motor itu.
Andre.
Arka duduk di kamar kos-kosannya, menatap ponsel dengan tatapan kosong. Andre. Tetangga lantai 11 yang dulu dia selamatkan dari kedinginan. Andre yang membawa tali saat eksekusi. Andre yang mengambil jaketnya sebelum tubuhnya benar-benar dingin.
Dan sekarang Andre menjemput Sari di belakangnya.
Sudah dari awal, pikir Arka. Mereka sudah bersama dari awal.
Dia teringat bagaimana Sari selalu membela Andre di setiap kesempatan. Bagaimana Andre selalu ada di dekat Sari saat Arka tidak ada. Bagaimana mereka berdua sering berbisik-bisik saat Arka sedang sibuk dengan urusan lain.
Dulu dia tidak pernah curiga. Dulu dia percaya pada Sari.
Sekarang benang merah itu mulai jelas.
Malam harinya, Sari mengirim pesan seperti biasa.
“Ark, besok kita ketemu yuk. Aku kangen.”
Arka menatap layar. Jari-jarinya bergerak lambat.
“Ok. Jam 3 di kafe biasa.”
Dia mengirim balasan itu, lalu meletakkan ponsel.
Besok dia akan datang. Besok dia akan duduk di hadapan Sari, mendengar suaranya, melihat senyumnya, dan dia akan bertanya. Tidak dengan amarah. Tidak dengan terburu-buru. Tapi dengan pertanyaan yang sudah dia siapkan.
Sari, siapa Andre bagimu?
Sudahlah... Siapa yang tau jalan pemikiran sang Author??? 😁