NovelToon NovelToon
Misteri Hati Dibalik Pernikahan

Misteri Hati Dibalik Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:615
Nilai: 5
Nama Author: Eliana. s

Ketika kecurigaan mulai menggerogoti rumah tangganya, seorang wanita menyadari bahwa ancaman datang dari orang-orang terdekatnya. Suami yang dingin, anak yang mungkin bukan darah dagingnya, hingga asisten rumah tangga yang selalu mengintai semua tampak memainkan peran dalam permainan berbahaya yang mematikan. Terjebak dalam jebakan penuh tipu daya, satu-satunya jalan untuk bertahan hidup adalah melawan, meski harus mempertaruhkan segalanya hingga titik darah penghabisan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliana. s, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5 Rasa Sakit Yang Mencekam

Kesadaranku tersentak bangun secara tiba-tiba, seolah ditarik paksa dari mimpi yang gelap. Namun aku tidak bergerak sedikit pun. Dengan susah payah, aku mengatur napas agar tetap terdengar teratur, menutup mata rapat-rapat sambil memusatkan pendengaran pada suara langkah kaki yang perlahan mendekat ke arahku. Setiap denting langkah itu terasa begitu jelas di telinga pelan, mantap, dan akrab. Dari ritmenya saja, aku sudah tahu siapa yang datang.

Itu Kak Zhiyi.

Di balik selimut, tanganku tanpa sadar mengepal erat. Kuku-kukuku menekan telapak hingga terasa perih, sementara keringat dingin mulai membasahi kulitku. Meski aku berbaring membelakangi pintu, aku bisa merasakan kehadirannya yang kini berhenti tepat di sisi tempat tidurku. Udara di sekitarku terasa berubah lebih berat, lebih menekan. Aku bahkan bisa mendengar helaan napasnya yang halus dan mencium samar aroma parfumnya yang tajam, menusuk indra penciumanku.

“Nyonya…” panggilnya pelan, hampir seperti bisikan.

Aku tetap diam. Tidak menjawab. Tidak bergerak. Bahkan kelopak mataku tak kugerakkan sedikit pun.

Sesaat kemudian, tangannya tiba-tiba menyentak bahuku dengan kasar. Dorongannya cukup kuat hingga tubuhku nyaris ikut terguncang. Untung saja aku sudah bersiap sebelumnya. Jika tidak, sandiwara ini pasti sudah runtuh seketika.

“Tidur lelap sekali, ya.”

Gumamannya terdengar lirih, nyaris tak tertangkap. Namun di telingaku, kalimat itu menggema keras, seperti petir yang menyambar tanpa peringatan. Itu bukan pujian—aku tahu pasti. Ada sesuatu yang dingin, sinis, bahkan menghina yang terselip dalam nada suaranya.

Pikiranku seketika menjadi jernih.

Benar… ini memang Kak Zhiyi.

Namun sebelum aku sempat mencerna lebih jauh, sesuatu yang tak pernah kubayangkan tiba-tiba terjadi. Tanpa peringatan, rasa sakit yang tajam dan menusuk menyerang kulit kepalaku. Seolah-olah sesuatu ditarik dengan paksa—menyisakan perih yang menjalar hingga ke ujung saraf. Secara refleks, aku hampir mengerang.

Hampir.

Dengan sisa kesadaran yang kupunya, aku mati-matian menahan reaksi itu. Aku hanya menggerakkan kepalaku sedikit, berpura-pura gelisah dalam tidur, seolah aku masih terjebak dalam mimpi dan belum benar-benar terbangun.

Padahal, di dalam diriku, semuanya sudah runtuh.

Rasa sakit fisik itu tak sebanding dengan apa yang berkecamuk di dalam dada. Keterkejutan, kemarahan, dan luka yang dalam datang bertubi-tubi, seperti ombak besar yang menghantam tanpa jeda. Mataku terasa panas, air mata mendesak ingin keluar, tetapi aku menahannya sekuat tenaga. Rahangku kukatup rapat, menahan setiap isak yang nyaris lolos.

Kak Zhiyi… coba jawab dengan jujur.

Selama delapan tahun ini, pernahkah aku memperlakukanmu dengan buruk?

Bukankah aku selalu menganggapmu seperti saudara kandungku sendiri…? Memberimu kepercayaan, memberimu tempat di hidupku…

Lalu kenapa…?

Kenapa kau membalasnya dengan cara seperti ini?

Saat itulah aku benar-benar menyadari selama ini, semua yang kulihat, semua yang kupercaya… mungkin hanyalah ilusi yang kubangun sendiri.

Mengapa rasa sakit seperti ditusuk jarum halus itu terus datang dan pergi tanpa henti? Rasanya menusuk dalam, seolah menembus hingga ke tulang, menyayat perlahan namun menyisakan perih yang tak kunjung hilang. Anehnya, setiap kali rasa itu memuncak, kesadaranku justru kembali mengabur, seakan ditelan oleh kabut tipis yang menyesakkan. Pada awalnya, aku mengira semua itu hanyalah bagian dari mimpi buruk yang tak berujung.

Siapa sangka… ternyata semua itu nyata.

Bukan sekadar ilusi dalam tidur, melainkan perlakuan keji yang benar-benar diarahkan kepadaku. Tak heran rasa sakitnya begitu jelas dan meninggalkan bekas. Bahkan setelah kesadaranku perlahan pulih, sisa nyerinya masih tertinggal, samar namun cukup untuk membuat tubuhku gemetar.

Mungkin karena melihatku tak kunjung sadar, tiba-tiba sebuah tamparan keras mendarat di pipiku. Lalu satu lagi. Dan satu lagi.

“Bangun! Waktunya minum obat!”

Suara itu terdengar begitu asing di telingaku. Dingin, tajam, dan tanpa sedikit pun kehangatan sangat berbeda dari nada lembut yang selama ini selalu ia gunakan. Kali ini, setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti ancaman yang terselubung.

Aku benar-benar terpaku.

Pikiranku kosong, tubuhku kaku, dan hatiku seperti tercekat. Aku hampir tidak bisa mempercayai kenyataan di depanku—bahwa sosok bernama Kak Zhiyi, orang yang selama ini kuanggap lembut dan dapat dipercaya, mampu melakukan hal sekejam ini kepadaku.

Satu tamparan lagi mendarat di pipiku, lebih keras dari sebelumnya.

Saat itulah kesadaranku tersentak sepenuhnya.

Aku tahu… jika aku terus berpura-pura pingsan, dia pasti akan mulai curiga.

Dengan susah payah, aku mulai menggerakkan tubuhku. Bibirku mengeluarkan erangan pelan, napasku kubuat terdengar berat dan tidak teratur. Perlahan, aku membuka mata, membiarkan pandanganku kosong menatap ke arah jendela, seolah jiwaku belum sepenuhnya kembali ke tubuh ini.

Namun di dalam hati, aku menjerit tanpa suara.

Apa sebenarnya yang sedang terjadi…?

Bagaimana mungkin Kak Zhiyi yang selama ini tampak begitu tulus, begitu sabar bisa berubah menjadi sosok yang kejam, bahkan lebih menakutkan daripada “Rong Mama” dalam cerita?

Belum sempat aku menemukan jawabannya, suaranya kembali terdengar.

Anehnya, kini nadanya sudah berubah lagi kembali lembut, hangat, seakan tidak pernah terjadi apa pun sebelumnya.

“Nyonya, Anda sudah bangun? Waktunya minum obat.”

“Emm…” Aku menghela napas panjang, berpura-pura mengumpulkan kesadaran yang tersisa. Perlahan, aku membalikkan badan dan menatap ke arahnya yang berdiri di sisi tempat tidur. Mataku terasa panas, dipenuhi cairan yang nyaris tumpah.

Saat tatapan kami bertemu, senyum di wajahnya sempat membeku sesaat hanya sekejap, namun cukup jelas untuk kutangkap. Setelah itu, ia segera mengendalikan diri, kembali mengenakan ekspresi lembut yang selama ini begitu kukenal.

“Nyonya, tidurnya nyenyak? Mau saya bantu duduk sebentar?” ucapnya pelan, seolah tak terjadi apa-apa.

Aku tidak mengalihkan pandangan.

Sebaliknya, aku menatapnya lebih dalam, mencoba menembus topeng yang ia kenakan. Tatapanku sengaja kutahan, hingga perlahan ia mulai terlihat gelisah. Jemarinya bergerak kaku, dan tanpa sadar ia menelan ludah, seolah ada sesuatu yang berusaha ia sembunyikan.

Baru setelah ia membuang muka, aku menarik napas panjang, membiarkan kesedihan mengalir dalam suaraku.

“Kak Zhiyi…” ucapku lirih, penuh keraguan yang disengaja. “Aku sedang berpikir… apakah aku menderita penyakit yang parah?”

Aku berhenti sejenak, menatapnya lagi dengan mata yang berkaca-kaca.

“Atau… kalian semua sedang menyembunyikan sesuatu dariku?”

Dengan raut wajah yang tampak polos tanpa cela, ia mengulurkan tangan dan merapikan selimutku dengan gerakan yang begitu terlatih, seolah semua yang terjadi barusan hanyalah khayalanku semata. Nada suaranya ringan, bahkan cenderung santai saat ia berkata,

“Nyonya, jangan memikirkan hal yang aneh-aneh. Semua orang pasti pernah jatuh sakit. Anda hanya kelelahan karena melahirkan berturut-turut. Tubuh Anda menjadi lemah, itu wajar. Kalau dirawat dengan baik, pasti akan segera pulih.”

Aku tersenyum tipis, namun senyum itu tidak pernah benar-benar sampai ke mataku.

“Memang terdengar mudah kalau diucapkan,” balasku perlahan. “Tapi kenapa justru semakin hari tubuhku terasa makin lemas? Tidurku pun tidak pernah benar-benar nyenyak. Aku sering merasa linglung… seperti sudah menghabiskan seluruh jatah tidurku seumur hidup.”

Aku berhenti sejenak, menarik napas panjang yang terasa berat di dada.

“Setiap hari kegiatanku hanya dua minum obat dan tidur. Tidak ada yang lain.” Suaraku melemah, seolah penuh penyesalan. “Kak Zhiyi… aku benar-benar sudah sangat merepotkanmu.”

Ia langsung menggeleng pelan, sorot matanya seolah menyiratkan ketulusan.

“Nyonya, jangan berkata seperti itu. Apa maksud Anda merepotkan? Ini memang sudah menjadi tanggung jawab saya.” Ia menatapku lembut, nyaris meyakinkan. “Justru tidur adalah cara terbaik untuk memulihkan tubuh. Jadi Anda tidak perlu terburu-buru untuk sembuh.”

Ia tersenyum tipis sebelum melanjutkan,

“Orang-orang bilang, penyakit datang secepat gunung runtuh, tetapi perginya seperti menarik benang dari kepompong—perlahan dan butuh kesabaran. Saya ambilkan obatnya dulu, ya. Harus diminum selagi hangat supaya khasiatnya bekerja maksimal.”

Setelah mengatakan itu, ia segera berbalik dan melangkah keluar dengan cekatan, seolah tidak ingin memberiku waktu untuk berpikir lebih jauh.

Begitu pintu tertutup, aku perlahan bangkit dan duduk di atas ranjang. Pandanganku kosong menatap ke arah pintu yang baru saja ia lewati. Tanganku terangkat secara refleks, menyentuh kulit kepalaku yang masih terasa perih—sisa rasa sakit yang belum sepenuhnya hilang.

Pikiranku berputar cepat.

Bagaimana caranya… agar aku bisa menghindari obat itu kali ini?

Saat aku menurunkan tangan, pandanganku tanpa sengaja tertuju pada ujung jariku. Ada setitik noda merah di sana kecil, namun warnanya begitu segar dan mencolok.

Darah.

Aku terdiam sejenak, lalu dengan tenang menyekanya pada selimut tanpa mengubah ekspresi wajahku sedikit pun.

Tak lama kemudian, langkah kaki terdengar kembali mendekat. Pintu terbuka, dan Kak Zhiyi masuk dengan tergesa, membawa semangkuk obat di tangannya. Uap tipis masih mengepul dari permukaannya.

Ia menyodorkannya kepadaku sambil berkata,

“Suhunya sudah pas. Ayo, segera diminum.”

Aku hanya menggumam pelan sebagai jawaban, tidak langsung menerimanya. Alih-alih mengulurkan tangan, aku justru mengangkat tangan ke arah kepalaku, meraba bagian yang tadi terasa ditusuk.

Kemudian aku mendongak, menatapnya lurus dengan ekspresi samar.

“Kak Zhiyi…” ucapku pelan, seolah benar-benar kebingungan. “Bisa tolong lihatkan sebentar? Kenapa bagian sini terasa sakit sekali, ya?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!