NovelToon NovelToon
Jalan Keabadian Penguasa Sembilan Alam

Jalan Keabadian Penguasa Sembilan Alam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Dikhianati oleh tunangannya sendiri demi merampas akar spiritual bawaannya, Lin Tian—sang jenius nomor satu dari Kota Daun Gugur—jatuh menjadi "sampah" yang dilumpuhkan dan dihina oleh klannya sendiri. Selama tiga tahun, ia menelan segala penderitaan dan penindasan dalam diam, bertahan hidup hanya demi mencari kebenaran tentang orang tuanya yang hilang dan membalas dendam pada mereka yang merampas masa depannya.
​Namun, roda takdir berputar ketika darahnya tanpa sengaja membangkitkan jiwa Kaisar Alkemis Surgawi yang tertidur di dalam liontin peninggalan ibunya, Mutiara Kekacauan Primordial.
​Mendapatkan warisan kuno dan merombak fisiknya menjadi Tubuh Pedang Kekacauan, Lin Tian kembali menapak jalan kultivasi yang kejam. Di dunia di mana hukum rimba berlaku mutlak dan kekuatan adalah satu-satunya kebenaran, Lin Tian harus menggunakan akal, taktik, dan kekuatan barunya untuk membelah segala rintangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Perpustakaan Hukum Kekaisaran

​Lautan manusia di sekitar Arena Utama membelah layaknya air laut yang diusir oleh kekuatan tak kasat mata. Saat Lin Tian melangkah keluar dari gerbang besi, puluhan ribu kultivator muda, diakon, hingga tetua menyingkir dengan kepanikan yang berusaha mereka sembunyikan. Tidak ada yang berani menatap langsung ke arah sepasang mata peraknya yang perlahan kembali memudar menjadi hitam pekat.

​Hukum alam di Benua Tengah, dan bahkan di seluruh alam semesta kultivasi, sangatlah sederhana: mereka yang memiliki kekuatan absolut adalah hukum itu sendiri.

​Dalam satu hari, Lin Tian telah menghancurkan aliansi elit di Reruntuhan Ribuan Siluman, keluar dari Kolam Sumsum Naga yang mematikan sebagai anomali, dan mengeksekusi seorang jenius Inti Emas dari faksi penguasa hanya dengan satu jentikan jari. Ia telah bertransformasi dari sekadar murid baru menjadi eksistensi yang sangat tabu untuk disinggung.

​"Biarkan para bangsawan itu sibuk mengubur arogansi mereka," analisa Lin Tian dalam hati, sama sekali tidak mempedulikan badai politik yang akan meletus akibat kematian Huangpu Tian. "Fokus utamaku di akademi ini adalah logistik dan informasi."

​Lin Tian berjalan melewati pelataran utama dan langsung menuju struktur tertinggi di Akademi Bintang Surgawi: Perpustakaan Hukum Kekaisaran.

​Bangunan ini adalah sebuah pagoda raksasa berlantai sembilan yang terbuat dari kayu spiritual berusia sepuluh ribu tahun, dilapisi oleh susunan formasi pertahanan tingkat Surga yang tak terhitung jumlahnya. Di tempat inilah Kekaisaran Bintang Surgawi menyimpan seluruh akumulasi pengetahuan, seni bela diri tingkat tinggi, dan rahasia kuno benua fana.

​Begitu Lin Tian melangkah ke lobi lantai pertama, para diakon yang berjaga langsung menunduk hormat dengan tubuh gemetar, berita tentang pembantaian di arena telah mendahuluinya.

​"T-Tuan Lin," seorang diakon kepala tergagap. "Lantai berapa yang ingin Anda akses? Untuk murid Inti, Anda memiliki akses bebas hingga lantai empat. Untuk lantai lima ke atas, Anda harus membayar menggunakan poin kontribusi."

​"Lantai sembilan," jawab Lin Tian datar.

​Diakon itu menelan ludah, matanya membelalak. "L-Lantai sembilan? Itu adalah area terlarang tingkat tertinggi! Hanya Kepala Akademi dan Kaisar yang memiliki akses gratis ke sana. Untuk memasukinya... dibutuhkan sepuluh ribu poin kontribusi hanya untuk satu jam waktu baca. Dan tekanan spiritual di sana sangat mematikan bagi mereka yang belum mencapai puncak Inti Emas!"

​Lin Tian tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya melempar token hitamnya ke atas meja kristal. Angka 29.000 bersinar merah menyala, menerangi wajah pucat sang diakon.

​"Potong sepuluh ribu poin. Berikan token aksesnya. Sekarang," perintah Lin Tian dengan efisiensi yang mematikan. Ia tidak punya waktu untuk berdebat dengan birokrasi fana.

​Dengan tangan gemetar, diakon itu mentransfer poin tersebut dan menyerahkan sebuah pelat giok putih berukir lambang naga terbang. Lin Tian mengambilnya dan melesat ke arah tangga spiritual, mengabaikan delapan lantai pertama yang berisi seni bela diri kelas fana dan bumi. Bagi Dapur Lebur Kekacauan miliknya, seni bela diri biasa hanyalah sampah yang menghambat kemurnian pedangnya. Ia hanya menginginkan informasi.

​Begitu kakinya menginjak anak tangga terakhir yang menuju lantai sembilan, sebuah penghalang energi berwarna emas murni menghalangi jalannya. Tekanan yang memancar dari penghalang ini cukup kuat untuk menghancurkan tulang kultivator Pendirian Yayasan hingga menjadi bubuk.

​Lin Tian menempelkan pelat giok putihnya. Penghalang itu beriak, membuka celah kecil. Lin Tian melangkah masuk, dan celah itu seketika tertutup kembali.

​Ruangan di lantai sembilan sangat berbeda dari bayangan perpustakaan pada umumnya. Tidak ada rak buku. Tempat ini adalah sebuah ruang hampa udara yang dipenuhi oleh kabut spiritual. Ribuan gulungan giok kuno melayang di udara bagaikan bintang-bintang di malam hari, masing-masing memancarkan cahaya redup.

​Di tengah ruangan, duduk bersila seorang lelaki tua yang tampak sangat renta. Matanya tertutup, dan napasnya nyaris tidak terdeteksi. Ia menyatu dengan formasi ruangan ini. Ini adalah Roh Array, kesadaran formasi yang telah hidup selama ribuan tahun.

​"Seorang pemuda di usia belasan... dengan aura yang tidak bisa dibaca oleh mataku," suara serak lelaki tua itu menggema di dalam pikiran Lin Tian. "Seni bela diri apa yang kau cari, Anak Muda? Serangan? Pertahanan? Atau alkimia tingkat Surga?"

​"Aku tidak datang untuk mencari trik rendahan," ucap Lin Tian, berjalan melewati Roh Array itu tanpa menunduk hormat. "Aku mencari informasi spasial. Peta menuju anomali energi tingkat tinggi, zona terlarang kuno, atau serpihan medan perang primordial yang tersebar di wilayah Kekaisaran."

​Roh Array itu sedikit tersentak oleh arogansi dan kejelasan tujuan Lin Tian. Gulungan-gulungan giok di udara mulai berputar.

​"Kau memiliki satu jam. Gunakan indra spiritualmu untuk menangkap gulungan yang beresonansi dengan pertanyaanmu," pandu Roh Array tersebut.

​Lin Tian tidak menggunakan indra spiritual biasa. Itu terlalu lambat dan tidak efisien. Ia menutup matanya, memusatkan fokus ke dalam Dantiannya. Inti Pedang Kekacauan yang berwarna abu-abu baja berputar pelan, mengirimkan seutas niat pedang murni dari peninggalan Gurunya ke luar tubuhnya.

​Niat pedang itu bertindak seperti radar pencari yang sangat spesifik.

​Hanya dalam waktu tiga tarikan napas, sebuah gulungan giok berwarna hitam pekat yang tertutup debu tebal di sudut paling atas ruangan mulai bergetar hebat. Gulungan itu merespons resonansi niat pedang Kekacauan!

​Lin Tian membuka matanya, melesat ke atas, dan mencengkeram gulungan giok hitam tersebut.

​"Gulungan itu..." Roh Array itu membuka sebelah matanya, tampak terkejut. "Itu adalah Catatan Rahasia Dimensi Retakan Bintang. Wilayah mati yang hanya terbuka setiap seratus tahun sekali di perbatasan utara Kekaisaran. Tingkat kematian di sana adalah sembilan puluh persen bahkan bagi ahli Jiwa Baru Lahir. Mengapa kau memilih benda terkutuk itu?"

​Lin Tian mengabaikan peringatan tersebut. Ia memindai isi gulungan giok itu ke dalam otaknya.

​Di dalam gulungan tersebut, terekam sebuah ingatan visual dari seorang penjelajah kuno. Ingatan itu memperlihatkan sebuah dimensi saku yang hancur berkeping-keping, dipenuhi oleh badai petir hitam. Dan di pusat badai itu, tertancap sebuah patahan bilah pedang. Bilah itu tidak memancarkan cahaya, namun kehadirannya merobek hukum ruang di sekitarnya, menelan cahaya layaknya lubang hitam.

​Darah Lin Tian berdesir. Meskipun hanya berupa proyeksi ingatan, resonansi dari Inti Pedang Kekacauannya memastikan satu kebenaran mutlak.

​"Serpihan Pedang Primordial milik Guru. Kepingan kedua," gumam Lin Tian dalam hati. Otaknya dengan cepat memproses koordinat spasial dan waktu pembukaan dimensi tersebut.

​Teks kuno di gulungan itu memberikan informasi logistik yang sangat penting:

"Dimensi Retakan Bintang tidak memiliki gerbang masuk fisik. Ia hanya bisa diakses menggunakan Kapal Penjelajah Kekaisaran yang ditenagai oleh Formasi Urat Naga. Ekspedisi berikutnya akan dipimpin langsung oleh Jenderal Besar Kekaisaran dalam waktu dua bulan."

​Lin Tian membuka matanya. Ia meremas gulungan giok itu, mengembalikannya ke udara.

​"Kalkulasi waktu yang sempurna," Lin Tian menyimpulkan. "Aku tidak bisa pergi ke sana sendirian tanpa kapal kekaisaran untuk menahan badai spasial. Aku harus memanipulasi posisiku agar masuk ke dalam daftar ekspedisi Jenderal Besar."

​Ia berbalik dan melangkah menuju pintu keluar.

​"Kau hanya menggunakan lima menit dari waktu satu jammu, Anak Muda," tegur Roh Array. "Sepuluh ribu poin adalah harga yang mahal untuk satu lirikan."

​"Informasi yang tepat waktu jauh lebih berharga dari jutaan poin yang tertumpuk mati," jawab Lin Tian dingin tanpa menoleh. "Lagipula, poin itu bukan milikku sejak awal."

​Begitu Lin Tian melangkah keluar dari Perpustakaan Hukum Kekaisaran, hari sudah mulai menjelang sore. Ia telah mendapatkan peta jalannya. Akademi Bintang Surgawi kini bukan lagi tempat untuk belajar, melainkan hanya sekadar batu loncatan baginya untuk naik ke kapal ekspedisi.

​Namun, sebelum ia bisa kembali ke paviliunnya untuk merencanakan langkah selanjutnya, langkahnya dihentikan oleh barisan pasukan berseragam zirah perak yang memblokir jalan keluar perpustakaan.

​Di depan pasukan itu, berdiri seorang pria paruh baya dengan aura yang sangat menindas, jauh melampaui Inti Emas. Fluktuasi spasial di sekitarnya melengkung, menandakan bahwa pria ini adalah seorang ahli di Tahap Jiwa Baru Lahir (Nascent Soul). Pakaiannya dihiasi sulaman naga emas bermata merah—lambang resmi keluarga inti Klan Huangpu.

​"Kau Lin Tian," pria itu tidak bertanya, melainkan menetapkan vonis. Suaranya mengandung tekanan spiritual yang mencoba memaksa Lin Tian untuk berlutut. "Aku adalah Huangpu Zong, Paman dari dua jenius yang kau bantai hari ini. Arena Hidup-Mati mungkin melindungimu dari hukuman akademi, tapi tidak ada yang bisa melindungimu dari hukum darah."

​Puluhan murid dan diakon di kejauhan menahan napas. Pembalasan dendam dari faksi bangsawan datang lebih cepat dan lebih brutal dari yang diperkirakan. Membawa pasukan militer ke dalam akademi adalah pelanggaran serius, namun pengaruh Klan Huangpu di Ibukota rupanya cukup besar untuk membungkam para penjaga.

​Menghadapi tekanan aura dari ahli Jiwa Baru Lahir, Lin Tian tidak mundur apalagi berlutut. Inti Pedang Kekacauan di dalam tubuhnya berputar, menetralisir seluruh tekanan gravitasi yang diarahkan kepadanya.

​Matanya yang setajam pedang menatap Huangpu Zong. Tidak ada ketakutan, tidak ada keraguan, hanya kalkulasi dingin seorang predator yang sedang menilai mangsa baru.

​"Hukum darah," Lin Tian mengulang kata-kata itu dengan nada datar yang mengerikan. Tangan kanannya perlahan menyentuh ruang kosong di sisinya, memadatkan Qi Primordial menjadi sebilah pedang abu-abu yang memancarkan niat kehancuran absolut.

​"Sebuah konsep yang sangat logis. Kebetulan sekali, Inti Pedangku baru saja terbentuk, dan aku sedang mencari darah berkualitas tinggi untuk menguji ketajamannya. Jika kau begitu merindukan keponakan-keponakanmu... aku akan mengirimmu menyusul mereka sekarang juga."

1
yos helmi
💪💪💪👍👍👍
yos helmi
💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍
yos helmi
👍👍👍😍😍😍💪💪💪💪
yos helmi
😍😍😍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪💪🙏
yos helmi
😍😍😍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪💪💪
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣3🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍💪💪
yos helmi
💪💪💪💪🤣🤣🤣👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪👍👍👍
Fajar Fathur rizky
klan huangpu dan leluhurnya akan musnah hahahaha
Daryus Effendi
terlalu banyak penjelasan jadi nya membosankan
T28J
semangat kak 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!