Warning!!!!!!
Shenina Valerie Arous hanya menginginkan satu hal—cinta yang tulus.
Namun, pria yang ia cintai justru memberinya kasih sayang karena rasa kasihan.
Saat hatinya hancur, seorang pria berbahaya muncul dalam hidupnya.
Arsen Erzaquel Lergan—pewaris keluarga ternama yang terbiasa mendapatkan segalanya, termasuk dirinya.
Obsesi Arsen bukan cinta. Itu lebih seperti penjara yang tak terlihat.
Di saat yang sama, Andrew Kyle hadir sebagai satu-satunya pria yang tulus, rela melakukan apapun demi kebahagiaannya.
Di antara cinta, obsesi, dan pengkhianatan—
pilihan Shena akan menentukan apakah ia akan diselamatkan… atau justru hancur lebih dalam.
Dan ketika sebuah rahasia besar terungkap, segalanya tak akan pernah sama lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nupitautari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Mereka berjalan mencari meja dengan Shena yang memegang 2 botol minuman di tangan kiri dan kanannya. Ello menemukan meja dan berjalan ke arah sana sambil memberi kode ke Diandra. Mata Shena seperti menampakkan alarm waspada melihat interaksi keduanya. Ia menatap Diandra was-was penuh kehati-hatian dan segera berjalan ke samping Ello. Ello meletakkan piring mereka berdua dan duduk. Shena dengan cepat langsung mengambil tempat duduk di samping Ello. Takut keduluan Diandra. Sementara Diandra duduk di depan Shena.
Shena tersenyum lebar hingga mata menyipit ke arah Ello sambil berkata. "Emmm... Terimakasih pacar" nadanya di buat sangat manja hingga Diandra yang melihat ingin muntah di tempat dan memaki Shena. Namun otaknya masih waras untuk menahan diri.
Ello merasa tertekan dengan sikap manja Shena. Shena memang selalu bersikap seperti ini kepadanya. Mungkin 2 tahun tidak bertemu membuatnya merasa kurang nyaman dengan sikap manja Shena. Ia memperingatkan. "Shena, jangan bersikap seperti ini di depan umum".
Shena meletakkan kedua tangannya di bawah dagu dan menoleh ke arah Ello. "Emm, kenapa?" Ucapnya masih dengan gaya centilnya.
"Shena, semua orang memperhatikan. Bersikap baiklah selama di sekolah". Tegas Ello.
Ekspresi Shena langsung berubah jadi datar. Ia berkata dengan sinis. "Semua orang yang memperhatikan atau perempuan di depan ini yang memperhatikan".
Mata Diandra bergerak menatap Shena. Ello langsung melihat Shena. "Maksud mu?" Tanya Ello bingung.
Shena bersedekap dada dan duduk dengan tegap. Tatapan matanya sinis menatap Diandra tak suka dan penuh permusuhan. "Kenapa dia dari tadi ikut kau terus? Aku terganggu".
Ello tak suka mendengar ucapan Shena namun masih berusaha untuk sabar. "Dia temanku".
Kepala Shena memutar untuk menatap Ello dengan sinis. "Jadi teman yang sakit semalam dan harus kau temani itu adalah dia?". Nada suaranya naik setengah oktaf menuntut jawaban dari Ello.
"Ya" jawab Ello datar. Diandra sampai sedikit tercengang mendengarnya karena Ello tak berusaha untuk menutupi. Bukankah itu akan melukai harga diri kekasihnya.
Mulut Shena terbuka menganga tak terima. Ia marah dan kesal. Cemburu dan merasa tak terima. "Kau menyuruhku pulang untuk menemani perempuan lain. El, apa kau pikir aku tidak waras? Bukankah ini keterlaluan?".
"Shen, sudah ku bilang semalam tidak ada yang menjaganya. Aku hanya menjaganya semalam dan mengurus prosedur kepulangannya. Ini adalah hal wajar sebagai seorang teman. Dian juga banyak membantuku" ucap Ello datar.
Shena masih tak terima. Lebih tepatnya ia menolak menerima wanita itu ada di sisi Ello. "Mulai sekarang berhenti berteman dengannya. Aku sudah disini. Aku yang akan selalu ada untuk kamu".
Kesabaran Ello habis. Dari tatapan matanya, Shena tahu Ello marah dan melihat itu Shena malah semakin kesal dan tak suka. "Shena berhenti. Jangan keterlaluan". Matanya menatap Shena dengan dingin dan tajam
"Kau tidak berhak mengatur dengan siapa aku bisa berteman". Suaranya terdengar dingin.
Wajah hingga telinga Shena memerah. Ia seperti menahan sesuatu yang hendak keluar dan meledak. Matanya bahkan ikut memerah.
Ello diam dan memulai makan dengan tenang ketika Shena sudah diam. Sementara Diandra? Jangan di tanya. Ia merasa sangat senang bahwa Ello lebih memilih untuk membelanya dari pada Shena yang kekasihnya sendiri. Ia merasa di atas awan sekarang.
Dari arah lain nampak Arsen celingak-celinguk mencari sesuatu. Semua orang merasa aneh dan heran kenapa tiran ini berada di kantin. Arsen jarang makan di kantin. Biasanya para kacungnya dengan senang hati membawakannya makan tanpa Arsen minta sekalipun. Jika di tanya kenapa? Itu karena Arsen adalah pewaris keluarga Lergan yang berharga. Punya koneksi dengan keluarga Lergan maka hidupmu akan sejahtera tujuh turunan. Orang tua mereka yang memberi tahu untuk banyak-banyak menjilat Arsen agar sejahtera di masa depan.
"Bos, kita biasanya makan di meja itu. Tuh kosong mejanya bos. Ga ada yang berani nempatin kecuali kita bos" ucap teman Arsen bernama martin.
"Bos, nyari apa?" Tanya Nick.
Mata Arsen yang sedang bergerak terhenti pada pundak kecil Shena. Ia tersenyum jahil dan berjalan ke arah sana.
"Ehh bos mau kemana?" Teriak Lucas dan teman lainnya. Mereka bertiga mengekor di belakang Arsen. Langkah kaki Arsen tertuju pada meja yang di tempati Shena.
"Ohh, perempuan tadi. Kayaknya bos mau ngasih pelajaran tuh". Ucap Lucas enteng. Mereka bertiga jadi bersemangat untuk melihat pertunjukkan yang akan di mulai.
Arsen langsung duduk di samping Shena sementara Martin, Lucas dan Nick duduk di kursi yang sama dengan Diandra. Diandra seketika merasa kikuk dan tak nyaman dengan keberadaan mereka. Ia langsung menoleh ke arah Arsen. Begitu juga Ello yang cukup terkejut dengan kedatangan mereka. Ello memandang Arsen tajam dan penuh waspada takut kalau ia akan menyakiti Shena.
"Wahhh, apa kau sedang berdiet dan tak mau ayam mu?" Dengan nada bercanda Arsen langsung mengambil ayam di piring Shena. Ekspresi Shena bahkan tidak berubah ketika piringnya di aduk-aduk oleh Arsen.
Pipinya hingga telinganya memerah. Bukan hanya itu, matanya juga merah. Wajahnya seperti kepiting rebus. Hati Arsen tergelitik untuk menggodanya. "Hei, apa kau mau menangis?" Dengan nada bercanda dan tengil.
Shena langsung kesal dan melotot menatap Arsen. "Diam" bentaknya.
Arsen makin menjadi-jadi untuk menggodanya. "Aaaa... Lihat air mata mu jatuh. Kau menangis?". Perkataannya bahkan di ikuti gelak tawa oleh teman-temannya.
Kesal, marah, cemburu bercampur ada di hati Shena. Ia murka dan mencubit pipi Arsen dengan kuat. "Aaaa...." Teriak Arsen kesakitan.
Martin, Lucas dan Nick langsung berdiri hendak memberi pembelaan namun langsung duduk kembali ketika tanggan Arsen memberi perintah untuk duduk. "Jangan menggangguku!! Apa kau cari mati".
Semua orang bahkan Ello terkejut dengan aksi Shena. Yang lebih mengejutkan, Arsen menahannya.
Ello khawatir dengan tindakan Shena yang nantinya dapat menyakitinya. "Shena, hentikan". Ia meminta Shena untuk berhenti.
Shena melepaskan cubitan tangannya di pipi Arsen. Pipinya bahkan memerah dan Arsen mengelusnya dengan sakit dan mengeluh. "Apa kau benar-benar wanita? Bagaimana kau berani mencubit pipi pria tampan seperti ku hah?". Marahnya di buat-buat. Lebih tepatnya Arsen tidak marah. Ia menyukainya ketika Shena menunjukkan semua ekspresinya secara terang-terangan.
Air mata Shena rembes satu tetes dan wajahnya terlihat jelek menahan air mata itu. Arsen mendadak diam. Ia merasa bersalah. Apakah ia keterlaluan? Pikirnya dalam hati. "Hei, aku hanya bercanda". Jelasnya pada Shena.
*Hi readers. Jangan lupa untuk memberikan dukungan kalian pada novel ini dengan cara berikan komentar terbaik kalian, kasih like dan vote novel ini ya. Akan ada banyak keseruan yang kalian dapatkan. Happy reading all 🙏