Pada suatu malam di bulan Mei, hidup Andra hancur dalam satu detik, kecelakaan itu tidak merenggut nyawa istrinya.Tapi merenggut sesuatu yang jauh lebih kejam—seluruh ingatan Meisyah tentang dirinya.
Bagi Mei waktu berhenti di tahun 2020.
Sebelum Andra ada sebelum mereka jatuh cinta, sebelum mereka menikah diam-diam di apartemen kecil yang bahkan keluarganya tidak pernah mengakui.
Sekarang, Andra hanyalah pria asing yang mengaku sebagai suaminya.Dan di dunia yang tidak lagi mengingat mereka,ada satu orang yang justru terasa familiar bagi Meisyah—
Fero.
Pria yang dulu dipilih keluarganya, pria yang seharusnya menjadi masa depan Meisyah… sebelum Andra datang dan mengubah segalanya.
Dipaksa hidup bersama orang yang tidak ia kenal, Mei mencoba memahami dirinya sendiri melalui foto, diary, dan seorang suami yang mencintainya dengan kesabaran menyakitkan.
Apakah cinta yang pernah mereka bangun akan kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alasan Untuk Kembali
Minggu sore Andra datang agak lambat dari biasanya. Jam di ponselnya belum menunjukkan pukul empat sore ketika dia mematikan motor dan berhenti di depan gerbang panti. Dia berdiri beberapa detik di sana, merasakan detak jantungnya sedikit lebih cepat tidak bisa di jelaskan dengan akal.
Gerbang besi berwarna hijau itu terbuka setengah. Catnya mengelupas di beberapa bagian, meninggalkan bercak-bercak karat seperti lukisan abstrak karya waktu. Dari dalam terdengar suara anak-anak tertawa. Suara itu sudah begitu familiar di telinganya sekarang.
Andra tidak langsung masuk menatap halaman kecil itu dari luar pagar, seperti memandang lukisan museum menyerap setiap detailnya.
Beberapa anak sedang bermain lompat tali. Tali karet yang disambung-sambung itu meliuk di udara, diayunkan oleh dua anak di ujung, sementara yang lain melompat bergantian dengan konsentrasi penuh. Yang lain duduk di teras menggambar dengan krayon, lidah mereka sedikit menjulur karena fokus.
Suasana sederhana.
Tapi entah kenapa tempat itu terasa begitu hidup. Lebih hidup dari kafe-kafe ramai di pusat kota. Lebih hidup dari mal yang terang benderang. Di sini, hidup tidak perlu berpura-pura menjadi sesuatu yang lain.
Andra menghela napas kecil akhirnya melangkah masuk. Begitu dia melewati pintu gerbang—
"Om !"
Anak itu langsung berlari ke arahnya sekencang mungkin, kaki mungilnya menghentak tanah dengan penuh semangat.
Andra tertawa, membuka tangannya sedikit—cukup untuk menangkap tubuh kecil itu jika ia melompat.
"Iya, Kapten."
Ia menunjuk ke arah halaman dengan bangga matanya berbinar-binar."Om kita bikin gawang baru."
Andra melihat ke arah yang ditunjuk. Dua kursi plastik merah dipasang saling berhadapan dengan jarak sekitar dua meter. Tidak ada jaring maupun tiang hanya dua kursi bekas mungkin sudah tidak terpakai.
"Ini gawang?" tanya Andra menutup mulutnya menahan tawa, "Lumayan kreatif."
Ia mengangguk bangga, dadanya sedikit membusung.
"Kak Mei yang bilang! kalau mau main bola, harus punya gawang dulu."
Nama itu.
Kak Mei
Andra tanpa sadar menoleh ke sekeliling halaman mencari, matanya bergerak cepat dari teras ke pohon mangga, dari dapur kecil ke bangku-bangku kayu namun ia tidak melihatnya.
Deni nama sang kapten sudah menarik tangannya dengan tidak sabar.
"Ayo Om, main!"
"Sebentar, Kapten."
"Ayo!" Ia menarik lebih keras membuat Andra hampir tersandung. Andra akhirnya menyerah ikut berjalan ke tengah laman.
Permainan mereka sama sekali tidak teratur, tanpa wasit, aturan offside bahkan tidak jelas berapa lawan berapa. Anak-anak berlari mengejar bola kecil tanpa pola, kadang saling bertabrakan, kadang tiba-tiba berhenti melihat kupu-kupu atau kendaraan berhenti di depan panti.
Andra bahkan tidak yakin siapa yang satu tim dengannya.
Tapi tawa anak-anak membuat semuanya terasa menyenangkan. Tawa itu menular, merayap masuk ke dada tanpa permisi. Pria tampan itu tertawa bersama mereka—sesuatu yang jarang dia lakukan di dunia kerja , sesuai konteks,dan tidak harus berlebihan.
Beberapa menit kemudian bola meluncur deras keluar halaman, menggelinding sampai hampir mencapai selokan.
Andra mengejarnya sambil terengah-engah meraih bola plastik merah itu tepat sebelum jatuh ke parit.
Saat dia berbalik—suara seseorang terdengar dari belakang
"Mas datang lagi."
Ia menoleh gadis itu berdiri beberapa langkah baru saja masuk dari luar gerbang, membawa dua kantong plastik besar—satu putih, satu merah—tampak berat.
Rambutnya diikat sederhana seperti biasanya, tapi kali ada sedikit rontokan daun mangga terselip di sela-sela ikat rambutnya, seolah dia baru saja melewati jalan yang rimbun.
"Sudah lama main bola nya mas ? " tanyanya tersenyum kecil. Ada nada bercanda di suaranya, tapi juga kehangatan sulit dijelaskan.
Andra mengangkat bola itu sedikit, membuktikan bahwa dia memang sedang bermain." Baru saja datang masih main sama anak-anak."
Ia mengangguk mengalihkan kantong plastik ke satu tangan, berjalan menuju teras.
"Aku baru saja beli roti cokelat kesukaan mereka."
Begitu kata "roti" terdengar, beberapa anak langsung berteriak histeris. Mereka meninggalkan bola, meninggalkan lompat tali, berlarian menuju Meisyah seperti pasukan kecil baru melihat pasukan logistik.
"Roti!"
"Kak Meisyah bawa roti!"
"Aku mau yang cokelat!"
"Tunggu dulu sayang, antre yang rapi! Kalau rebutan, nanti rotinya kabur."
Anak-anak langsung berusaha membuat barisan tidak rapi, tapi setidaknya mereka tidak saling dorong lagi.
Andra memperhatikan dari dekat gerbang, masih memegang bola merah Gadis itu membagikan roti satu per satu dengan sabar. Dia menunduk untuk setiap anak, menanyakan mau rasa apa, lalu memberikan dengan kedua tangan, kadang mengusap kepala mereka, kadang mengelap mulut yang belepotan cokelat dengan tisu sudah dia siapkan dari dalam saku.
Setiap anak yang menerima roti langsung berlari kembali bermain dengan wajah berseri-seri.
Deni, sang kapten tiba-tiba muncul di samping Andra menggigit rotinya dengan lahap, pipinya menggembung seperti tupai.
"Om dapat?" tanyanya dengan mulut penuh.
Andra menggeleng tersenyum. "Om tidak ikut antre."
Ia berpikir sebentar, alisnya yang tipis berkerut. Lalu tanpa berkata apa-apa, mematahkan roti menjadi dua bagian. Satu lebih besar, satu lebih kecil, yang lebih besar diberikan pada Andra.
"Ini buat Om."
Andra sedikit terkejut roti cokelat itu masih hangat di tangannya.
"Kamu yakin?"
Ia mengangguk serius. "Biar Om kuat main bola nanti Om jagain gawang."
Andra menatap potongan roti sederhana itu, hatinya tersentuh. Di bawah langit sore yang mulai turun, anak kecil yang memandang penuh harap, roti itu terasa lebih berarti dari makanan apa pun yang pernah ia makan di restoran mahal.
"Terima kasih Nak" katanya pelan.
Deni mengangguk puas dan berlari kembali ke lapangan, separuh roti masih di tangannya.
Dari teras, Meisyah memperhatikan sebentar. Ada sesuatu yang membuatnya tersenyum kecil melihat pemandangan itu—seorang laki-laki dewasa menerima setengah roti dari anak kecil dengan mata berkaca-kaca
Beberapa menit kemudian anak-anak kembali bermain dengan energi yang pulih setelah mendapat asupan gula.
---
Andra duduk di tangga teras, memakan potongan roti Deni perlahan-lahan sementara
Meisyah duduk tidak jauh darinya.
Anya gadis kecil berkepang dua itu tiba-tiba naik ke pangkuan bersandar di dada tanpa suara. Ia masih mengunyah roti dengan mata setengah terpejam.
Angin sore bergerak pelan melewati halaman, membawa aroma tanah dan daun mangga kering. Suara shalawat terdengar samar dari masjid di ujung jalan menandakan sebentar lagi Maghrib
"Anak-anak cepat sekali akrab dengan mas," kata Mei pelan, tidak ingin mengganggu Anya di pangkuannya mulai tertidur.
Andra menatap halaman, sang Kapten sedang mencoba mencetak gol ke kursi plastik, tapi bolanya meleset jauh."Mungkin wajahku tidak terlihat seperti orang dewasa menakutkan."
Meisyah tertawa kecil, tertahan
"Itu benar juga. Mas lebih terlihat seperti... anak besar tersesat di dunia anak anak ."
" Ha apa ia?"
"Anak-anak paling pintar membedakan orang dewasa tulus dan yang hanya... datang."
Beberapa detik mereka hanya diam melihat anak-anak bermain. Matahari mulai turun perlahan, menciptakan gradasi oranye di ufuk barat.
"Jujur saja."
Andra menoleh.
"Mas datang lagi karena anak-anak... atau karena penasaran?"
Pertanyaan itu menggantung di antara mereka. Sore hari yang tenang tiba-tiba terasa sedikit lebih berisik di kepala Andra "Penasaran?"
"Biasanya relawan baru datang dua atau tiga kali saja. Setelah itu bosan, atau sibuk, atau sadar bahwa membantu anak-anak tidak seenak yang dibayangkan."
"Dan aku sudah lewat batas itu?"
Ia mengangguk menatap tanpa menghakimi, hanya mengamati."Lumayan."
Andra berpikir sebentar, jujur, dia harus jujur sekarang rasanya aneh kalau berbohong
"Awalnya karena anak-anak."
"Awalnya?"
"Sekarang... karena tempat ini."
Mei mengangkat alis sedikit, penasaran.
"Tempat ini?"
"Iya."
"Kenapa?"
Ia menunjuk ke arah anak-anak yang sedang berlari. Deni sekarang bergelantungan di bahu temannya, tertawa keras saat mereka berdua jatuh.
"Di sini semuanya terasa jujur."
"Jujur bagaimana?"
"Kalau mereka senang, mereka tertawa."
"Kalau sedih?"
"Mereka menangis."
"Dan itu berbeda dengan dunia luar?"
Ia mengangkat bahu tangannya meremas potongan roti yang hampir habis."Di luar sana orang sering berpura-pura, tersenyum meski capek, baik-baik saja meski hancur. Dan harus... sesuai ekspektasi."
Meisyah tersenyum tipis sesuatu di matanya—mungkin pengakuan, mungkin juga kesepahaman."Betul juga."
Beberapa detik mereka kembali diam. Anya di pangkuan Meisyah bergerak sedikit, lalu kembali tidur dengan napas teratur.
"Kalau boleh tahu mas kerja di mana?"
" Aku hanya karyawan biasa di Studio desain kecil di daerah Sudirman."
" Mas gak capek?"
" Maksudnya?"
" Masih mau datang ke sini setelah kerja?"
Andra hanya diam meliat sang kapten berguling-guling di tanah kegirangan setelah berhasil mencetak gol. Yang lain tertawa melihatnya. Suasana itu terasa hangat, seperti selimut malam hujan.
"Gak ada rasa cepek karena di sini seperti pulang .. ."
"Disini mas kadang kerja membantu pekerjaan panti, ikut dengan anak anak bermain berlari lari."
"Iya. Tapi hatiku tidak ikut lari." Jawaban itu terdengar sangat jujur bagi orang yang baru saja kenal.
Mei tidak berkata apa-apa lagi, hanya matanya melembut.
"Kalau kamu?" tanya Andra balik. "Kenapa kamu terus datang ke sini? Rei bilang kamu sudah lama sekali."
"Aku sudah datang ke sini sejak kuliah."
"Sejak kapan tepatnya?"
"Semester tiga sudah... hampir lima tahun lebih."
"Wah, lama sekali."
"Iya."
"Kenapa?"
Meisyah menjelajah satu per satu anak yang masih bermain. Lalu berhenti di pohon mangga tua yang daunnya mulai berguguran ditiup angin senja. " Disini aku bisa menjadi diriku sendiri."
"Di luar kamu tidak bisa?"
Ia tidak langsung menjawab. Tangannya mengusap rambut gadis kecil di pangkuannya dengan lembut.
"Keluargaku punya ekspektasi tertentu. Tentang bagaimana aku harus bersikap, harus tampil, harus... menjadi seseorang. Di sini, aku tidak perlu jadi siapa-siapa. Hanya Meisyah yang suka duduk di teras, yang suka beliin anak-anak roti."
Angin sore berhembus sedikit lebih kencang. Daun mangga jatuh pelan ke tanah, berputar-putar sebentar sebelum akhirnya diam.Cahaya jingga menerpa wajah gadis itu terlihat sederhana tapi penuh aura nyata.
Sama nyatanya dengan anak-anak yang tidur di pangkuan.
Beberapa menit kemudian sang kapten berlari lagi ke arah mereka keringat membasahi wajahnya, rambutnya basah dan berantakan.
"Om Andra!"
"Iya, Kapten?"
"Kita main lagi! aku mau tunjukin tendangan rahasia!"
"Sebentar lagi maghrib, Nak
"Sebentar aja!"
Andra tertawa berdiri, merapikan bajunya yang kusut. "Kamu tidak ikut Mei? Ini kesempatan langka melihat tendangan rahasia Kapten "
Mei menggeleng sambil tersenyum menunjuk anak yang masih tertidur di pangkuannya.
"Aku penonton saja menjaga gawang cadangan."
----
Dari teras, Meisyah memperhatikan laki laki itu berlari canggung mengejar bola, hampir terpeleset di tanah sedikit becek, membuat anak-anak tertawa keras. Dia tidak marah malah ikut tertawa. Rambutnya berantakan, bajunya kotor, keringat membasahi lehernya.
Dia tidak terlihat seperti seseorang yang mencoba terlihat keren.
Dia hanya… bermain seolah-olah tidak ada tempat lain di dunia ini yang lebih penting selain halaman kecil ini.
Dan entah kenapa— dada Mei ikut tersenyum hangat
Sementara itu di halaman, Andra berhenti sebentar untuk menarik napas. Jantungnya berdetak kencang karena berlari, dadanya naik turun menoleh ke arah teras. Meisyah masih duduk di sana.
Mata mereka bertemu hanya beberapa detik. Tapi cukup lama bagi Andra menyadari bahwa detak jantungnya berdegup kencang