NovelToon NovelToon
THE DEVIL'S WIFE

THE DEVIL'S WIFE

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anonymous MC

Sebelum kau membaca kisah ini, kau harus tahu satu hal:

Aku bisa melihat bagaimana kau akan mati.

Bukan dengan bola kristal. Bukan dengan ritual aneh. Cukup dengan menyentuhmu. Satu sentuhan, dan mataku akan dipenuhi gambar—kau di ujung napas terakhir, dengan cara yang mungkin tidak pernah kau bayangkan.

Kakek bilang ini kutukan. Aku bilang ini hadiah.

Karena dengan hadiah ini, aku tahu siapa yang harus aku hindari.

Tapi malam itu, saat pertama kali menyentuh Damian Adhiratria, aku tidak melihat kematiannya.

Aku melihat kematianku sendiri.

Dan aku tersenyum.

Karena akhirnya, setelah 24 tahun, aku tahu kapan aku akan mati.

Tepat 6 bulan setelah menikahi iblis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: MONSTER ATAU KORBAN?

Tangan itu melingkar di pergelanganku—bukan menggenggam, tapi mencengkeram. Seperti besi panas yang membakar kulit. Damian dewasa menarikku keluar dari lorong rahasia itu tanpa bicara sepatah kata pun. Langkahnya cepat, terburu-buru, tapi anehnya... tidak ada suara. Seperti hantu yang meluncur di atas karpet tebal.

Aku menoleh ke belakang. Lorong itu semakin jauh. Damian Kecil masih berdiri di sana, di ambang pintu besi, dengan lampu lilin di tangannya. Matanya—Tuhan, matanya—bersinar basah di tengah gelap. Ia tidak menangis. Tapi tatapan itu lebih menyayat dari tangis apa pun.

"Jangan tinggalin aku, Kak..."

Suara itu hanya bisikan di kepalaku. Atau mungkin benar-benar ada? Aku tidak tahu lagi.

Pintu besi tertutup. Damian Kecil lenyap.

Damian dewasa melepaskanku di lorong utama. Ia berhenti. Membelakangiku. Bahunya naik turun—pertama kali aku melihatnya bernapas tidak teratur.

Aku memegang pergelanganku yang memar. Masih terasa panas di sana. Tapi bukan panas api. Panas... sesuatu yang lain.

"Apa kau lihat dia?"

Suaranya berbeda. Tidak dingin seperti biasa. Tidak datar. Ada getaran di sana. Seperti kaca yang retak.

Aku menelan ludah. "Siapa?"

Damian berbalik. Dan untuk pertama kalinya, aku melihat matanya dalam cahaya lampu kristal yang temaram. Bukan mata kosong yang kukenal selama empat hari terakhir. Ini mata lain. Mata yang lelah. Mata yang tak bisa tidur bertahun-tahun. Mata yang... takut.

"Jangan main-main denganku." Ia mendekat. Satu langkah. Aku mundur. Punggungku menyentuh dinding dingin. Ia mendekat lagi. Sekarang ia cukup dekat untuk aku mencium napasnya—cendana, kopi pahit, dan sesuatu yang metalik. Darah? Atau ketakutan?

"Kau lihat dia atau tidak?"

Aku mengangguk. Tidak bisa bicara.

Damian diam. Lama. Sangat lama sampai aku bisa menghitung detak jantungku sendiri—dua puluh tiga kali, dua puluh empat, dua puluh lima. Matanya tidak bergerak dari wajahku. Mencari sesuatu. Kebohongan? Atau harapan?

Lalu tiba-tiba, ia mundur.

"Jangan cerita ke siapa pun."

Suaranya kembali datar. Seperti perintah biasa. Seperti menyuruhku makan atau diam di kamar.

Aku menegakkan punggung. "Atau?"

Ia sudah setengah berbalik, tapi berhenti. Menoleh sedikit—hanya profilnya yang tajam terlihat.

"Atau kau akan menyesal."

Lalu ia pergi. Meninggalkanku di lorong itu dengan seribu pertanyaan yang membakar lidah.

---

Denting.

Suara jam besar di ruang tamu. Pukul tiga pagi.

Aku masih duduk di ranjang, memeluk lutut. Lampu kamar menyala terang—aku tidak berani mematikannya sejak malam pertama. Tapi cahaya tidak membuatku merasa aman. Tidak setelah melihat apa yang ada di balik dinding ini.

Damian Kecil.

Siapa dia? Anak siapa? Kenapa bisa ada di mansion ini? Kenapa matanya sama persis dengan Damian dewasa? Kenapa ia bilang Damian dewasa yang membunuhnya?

Dan kenapa Damian dewasa—pria yang konon tidak pernah takut pada apa pun—terlihat begitu... hancur saat aku mengaku melihatnya?

Aku meraih ponsel. Mencoba mencari sinyal. Tentu saja tidak ada. Sejak hari pertama, ponselku hanya bisa digunakan untuk melihat waktu. Rania bilang ini karena "keamanan". Karena "banyak musuh". Tapi sekarang aku curiga: mereka tidak takut musuh masuk. Mereka takut aku yang keluar—atau menghubungi dunia luar.

Tok. Tok. Tok.

Aku tersentak. Suara ketukan pelan di pintu. Bukan pintu utama—tapi pintu lemari.

Aku diam. Tidak bernapas.

Tok. Tok.

Lebih keras sekarang. Dari dalam lemari.

Perlahan, tanpa sadar, tanganku meraih gunting kuku di nakas. Benda tumpul itu terasa seperti satu-satunya senjata yang kumiliki.

Pintu lemari terbuka sendiri.

Dan Damian Kecil melompat keluar.

Ia tersenyum lebar. "Kak, main petak umpet lagi! Aku nemu tempat sembunyi baru!"

Aku menghela napas panjang—lega, tapi juga takut. "Kamu... kamu bisa keluar dari lorong?"

"Aku bisa ke mana aja!" Ia berjingkrak ke ranjangku, naik tanpa izin, duduk di sampingku. Kakinya yang kecil menjuntai, tidak menyentuh lantai. "Tapi cuma kalau Damian dewasa tidur. Kalau dia bangun, aku harus sembunyi."

Aku menatapnya. Mencari keanehan. Tapi ia terlihat seperti anak biasa. Bajunya—piyama sutra biru tua yang kebesaran. Rambutnya sama persis dengan Damian. Tapi matanya... matanya tidak kosong. Matanya hidup. Penuh rasa ingin tahu. Penuh... kesepian.

"Kamu... kamu bilang Damian dewasa bunuh kamu." Aku berusaha membuat suaraku tenang. "Maksudnya apa?"

Senyum Damian Kecil memudar. Ia menunduk. Jari-jari kecilnya memainkan ujung piyama.

"Dia... dia kunci aku di ruang bawah tanah. Lama sekali. Terus aku tidur. Terus aku bangun, aku sudah di sini." Ia menepuk dadanya. "Di dalam sini. Tapi gelap. Sepi. Aku mau keluar, tapi Damian dewasa marah. Kataku, kalau aku keluar, dia mati."

Aku mengerutkan dahi. "Maksudnya, kamu... kamu di dalam tubuh Damian?"

Ia mengangguk. "Aku Damian. Damian kecil. Yang dulu. Yang belum jadi jahat." Ia menatapku. "Kak, Damian dewasa itu jahat. Tapi dia aku juga. Aku yang jahat."

Kalimat itu—kontradiktif, tidak masuk akal—tapi entah kenapa, aku mengerti. Sebagai psikiater, aku pernah membaca tentang Dissociative Identity Disorder. Tentang korban trauma berat yang "membelah" dirinya untuk bertahan. Satu kepribadian menyimpan semua rasa sakit. Satu kepribadian menjadi "pelindung" yang kejam.

Tapi ini... ini berbeda. Ini bukan sekadar kepribadian. Ini seperti dua jiwa dalam satu tubuh. Satu dewasa, satu anak-anak. Dan yang dewasa mengurung yang kecil agar tidak "keluar".

"Damian," aku memanggil pelan. "Kamu tahu nggak... kenapa Damian dewasa mengurung kamu?"

Ia menggeleng. Rambutnya yang halus bergoyang. "Dia bilang, aku lemah. Aku bikin dia lemah. Padahal..." Ia berhenti. Bibirnya bergetar. "Padahal aku cuma mau temenin dia. Aku nggak mau dia sedih sendiri."

Air mata mulai menggenang di sudut matanya. Tapi ia tidak menangis. Ia menahannya. Seperti sudah terbiasa.

Aku tidak bisa menahan diri. Tanganku terulur, mengusap kepalanya pelan. Rambutnya lembut. Hangat. Nyata.

Ia mendongak, matanya membelalak. Seperti tidak percaya ada yang mau menyentuhnya.

"Kak..."

"Apa?"

"Aku..." Ia menggigit bibir. "Aku takut."

"Takut apa?"

"Damian dewasa." Suaranya berbisik sekarang, hampir tidak terdengar. "Dia mau bunuh aku."

Aku tertegun. "Maksudnya?"

"Tadi malam, pas aku sama kakak di lorong, dia marah. Marah banget. Aku dengar dia berpikir." Damian Kecil menunjuk kepalanya. "Aku bisa dengar dia. Dia pikir, kalau aku mati, dia bisa hidup tenang. Nggak ada lagi yang ganggu dia. Nggak ada lagi yang bikin dia lemah."

Keringat dingin merambat di punggungku. "Dia... dia mau bunuh kamu? Tapi kamu kan... kamu bagian dari dia. Kalau kamu mati—"

"Aku nggak tahu." Damian Kecil menggenggam tanganku. Tangannya kecil, dingin, dan gemetar. "Tapi aku takut, Kak. Aku takut tidur. Takut kalau bangun, aku udah nggak ada."

Aku diam. Otakku bekerja cepat. Ini gila. Ini di luar nalar. Tapi di saat yang sama, hati kecilku berteriak: anak ini nyata. Ketakutannya nyata. Aku bisa merasakannya dari genggaman jari-jari mungil itu.

"Kak." Damian Kecil menatapku dengan mata penuh harap. "Kakak bisa tolong aku?"

"Tolong... bagaimana?"

"Bilang ke Damian dewasa. Bilang aku nggak mau ganggu dia. Bilang aku cuma mau..." Ia berhenti. Air mata yang sedari tadi ditahan akhirnya tumpah. Satu. Dua. Membasahi pipi tembamnya. "Aku cuma mau disayang."

Aku menariknya dalam pelukan. Tanpa berpikir. Tanpa takut. Tubuhnya kecil, rapuh, dan hangat. Ia menangis di dadaku dengan suara tertahan—seperti anak kecil yang terbiasa menangis dalam diam agar tidak diketahui.

"Kakak..." isaknya. "Kakak jangan pergi ya. Jangan tinggalin aku kayak yang lain."

"Siapa yang lain?"

"Mama. Papa. Semua." Ia menggeleng di dadaku. "Mereka tinggalin aku. Mereka pilih Damian dewasa. Karena dia kuat. Karena dia nggak takut. Padahal... padahal aku juga mau kuat. Aku cuma... aku cuma perlu waktu."

Aku memeluknya lebih erat. Ada sesuatu yang hancur di dalam dadaku. Sesuatu yang selama ini kukunci rapat-rapat—rasa kehilangan kakakku, rasa ditinggalkan orang tua, rasa tidak pernah cukup baik untuk siapa pun.

"Aku nggak akan pergi," bisikku. "Aku janji."

Damian Kecil mendongak. Matanya bengkak, hidungnya merah. Tapi di balik itu, ada secercah harapan yang menyakitkan untuk dilihat.

"Janji?"

"Janji."

Ia tersenyum. Senyum pertama yang kulihat darinya. Senyum tulus, tanpa beban, tanpa ketakutan. Dan di saat itu, untuk pertama kalinya, aku melihat Damian yang sebenarnya. Bukan monster. Bukan mafia kejam. Tapi anak kecil yang takut ditinggal.

Krak!

Suara pintu kamar terbuka.

Aku menoleh cepat. Damian dewasa berdiri di ambang pintu. Matanya—Tuhan, matanya—merah. Bukan karena menangis, tapi karena marah. Atau takut. Aku tidak bisa membedakan lagi.

"Alea." Suaranya rendah, menggetarkan tulang. "Kau bicara dengan siapa?"

Aku menunduk. Damian Kecil masih di pelukanku. Tapi ketika aku melihatnya—

Ia tidak ada.

Pelukanku kosong. Hanya piyama biru yang tertinggal di ranjang. Masih hangat. Masih basah oleh air matanya.

"Alea!" Damian melangkah masuk. Ia melihat piyama itu. Wajahnya berubah. Semua warna lenyap. Menjadi pucat pasi.

"Aku..." Aku tidak tahu harus berkata apa.

Damian meraih piyama itu. Ia menggenggamnya erat. Tangannya gemetar. Lalu perlahan, ia mendongak menatapku.

Dan untuk pertama kalinya, aku melihat ketakutan di mata pria yang konon tidak takut pada apa pun.

"Alea." Suaranya pecah. "Kau benar-benar lihat dia?"

Aku mengangguk. Tidak bisa berbohong lagi.

Damian menjatuhkan diri di kursi dekat jendela. Ia memegangi kepalanya. Bahunya bergetar. Ia menangis? Atau tertawa? Aku tidak tahu.

"Aku gila," bisiknya. "Aku benar-benar gila."

Aku turun dari ranjang. Mendekatinya perlahan. "Damian... kau tidak gila."

Ia mendongak. Matanya basah. Tapi ia tidak membiarkan air mata itu jatuh. Ia menahannya. Seperti Damian Kecil tadi.

"Kau tahu apa yang paling menakutkan, Alea?" Suaranya serak. "Bukan membunuh orang. Bukan dikhianati teman. Bukan mati. Tapi tidak tahu mana yang nyata dan mana yang hanya... kepalaku."

Aku berlutut di depannya. "Damian Kecil itu nyata. Aku melihatnya. Aku menyentuhnya. Aku memeluknya."

Damian menatapku. Tidak percaya. Tapi juga... berharap.

"Dia bilang apa?"

Aku ragu. Tapi akhirnya kuputuskan untuk jujur. "Dia bilang dia takut. Dia bilang kau mau bunuh dia."

Damian tertawa. Tawa pahit tanpa humor. "Bunuh dia? Aku sudah mencobanya ribuan kali. Terapi. Obat. Bahkan eksorsis. Tapi dia selalu kembali." Ia menatap piyama di tangannya. "Dia selalu kembali."

"Kenapa kau mau bunuh dia? Dia cuma... anak kecil."

"Karena selama dia ada, aku tidak bisa hidup!" Damian membentak. Tapi segera ia menyesal. Suaranya melembut. "Maaf. Aku... aku tidak bermaksud..."

Aku diam. Menunggu.

Damian menarik napas panjang. "Setiap kali dia muncul, aku lemah. Aku takut. Aku jadi... aku yang dulu. Yang takut gelap. Yang takut ditinggal. Yang takut..." Ia berhenti. "Aku tidak bisa jadi pemimpin seperti ini. Orang-orangku akan mati. Aku akan mati."

"Tapi dia bagian dari dirimu."

"Justru itu masalahnya." Damian menatapku. Matanya kosong lagi. Tapi kali ini, aku tahu itu topeng. "Dia adalah aku yang paling lemah. Dan dunia ini tidak punya tempat untuk yang lemah."

Aku meraih tangannya. Ia terkejut, tapi tidak menarik.

"Damian. Dunia ini tidak selalu kejam. Dan kelemahan bukan dosa."

Ia menatap genggaman tangan kami. Lama. Sangat lama.

Lalu ia berkata pelan, "Kau tidak tahu apa-apa tentang duniaku."

"Ajar aku."

Ia mendongak. Terkejut. "Apa?"

"Ajar aku tentang duniamu. Tentang Damian Kecil. Tentang kenapa kau begitu takut padanya. Ajar aku, dan biarkan aku membantu."

Damian diam. Matanya mencari-cari sesuatu di wajahku. Kebohongan? Jebakan?

Tapi akhirnya, ia hanya menggeleng. "Kau akan menyesal."

"Aku ambil risiko."

Ia tersenyum tipis. Senyum pertama yang kulihat darinya. Samar. Hanya sudut bibir yang naik sedikit. Tapi itu cukup.

"Coba tidur," katanya bangun. "Besok kita bicara lagi."

"Tapi—"

"Besok." Ia berjalan ke pintu. Berhenti. Tanpa menoleh, ia berkata, "Alea. Terima kasih."

Pintu tertutup.

Aku kembali ke ranjang. Piyama biru itu masih di sana. Aku menggenggamnya. Masih hangat. Masih basah.

Damian Kecil... kau di mana?

Tidak ada jawaban. Hanya keheningan dan lampu kamar yang terang.

Aku berbaring. Memeluk piyama itu. Mencium aroma bayi yang samar—bedak, susu, dan sesuatu yang manis. Aroma anak kecil yang seharusnya tidak ada di kamar ini.

Besok, pikirku. Besok aku akan cari tahu semuanya.

---

PAGI HARINYA

Matahari masuk melalui celah tirai. Aku mengucek mata, setengah sadar. Tangan masih memeluk piyama biru itu. Tapi—

Aku tersentak.

Piyama itu tidak lagi di tanganku.

Dan di ujung ranjang, duduk dengan kaki menjuntai, Damian Kecil tersenyum padaku.

"Selamat pagi, Kak."

Aku duduk cepat. "Kamu—"

"Aku nunggu dari subuh." Ia tertawa kecil. "Damian dewasa tidur nyenyak tadi malam. Pertama kali. Mungkin karena kakak."

Aku menghela napas. "Damian, ada apa? Kok pagi-pagi udah ke sini?"

Senyum Damian Kecil memudar. Ia menunduk. Jari-jarinya memainkan ujung piyama yang sekarang ia kenakan.

"Kak... aku mau minta tolong."

"Tolong apa?"

Ia mendongak. Matanya—Tuhan, matanya—penuh ketakutan. Tapi juga tekad.

"Damian dewasa... tadi malam, pas kakak tidur, dia duduk di samping kakak. Dia pegang piyama aku. Terus dia bilang..." Ia berhenti. Menelan ludah.

"Bilang apa?"

"Dia bilang, 'Maaf, tapi ini satu-satunya cara.'"

Bulu kudukku meremang. "Maksudnya?"

Damian Kecil turun dari ranjang. Ia berjalan ke pintu. Sebelum membukanya, ia menoleh.

"Kak... Damian dewasa mau bunuh aku. Hari ini. Tolong."

Pintu terbuka. Ia melangkah keluar.

Aku membeku.

Lalu suara langkah kaki berat terdengar dari luar. Langkah Damian dewasa.

Aku melompat, berlari ke pintu. Membukanya—

Kosong.

Lorong kosong. Tidak ada Damian Kecil. Tidak ada Damian dewasa.

Tapi di lantai, tepat di depan pintuku, ada piyama biru itu. Terlipat rapi. Dan di atasnya, sebuah catatan kecil tulisan tangan anak-anak:

"Kak, jangan lupa janji kakak. Kakak nggak boleh pergi."

Tanganku gemetar.

Dan dari ujung lorong, suara itu datang lagi—bisikan Damian Kecil, samar, seperti dari jauh:

"Tolong aku, Kak... sebelum dia bunuh aku..."

---[BERSAMBUNG...]---(⁠ノ゚⁠0゚⁠)⁠ノ⁠→

Akankah Alea menyelamatkan Damian Kecil? Bagaimana cara menghadapi Damian dewasa yang bertekad membunuh "dirinya sendiri"? Temukan jawabannya di BAB 6: DUA JIWA, SATU TUBUH, hanya di NovelToon!

Jangan lupa LIKE, KOMEN, dan SHARE cerita ini ke teman-teman kalian. Dukung terus THE DEVIL'S WIFE untuk menjadi yang terbaik di tahun ini! 🔥🔥🔥

Terima kasih telah membaca! Dukung terus cerita ini dengan memberikan votedan komentar! 🖤

---BERSAMBUNG--- (⁠ノ゚⁠0゚⁠)⁠ノ⁠→

1
Amelia
Ceritanya penuh misteri Dokter RSJ vs Monster pasangan yang cocok jiwa mereka sama" kayak tidak memiliki Jiwa dan sakit jiwa😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!