Hanya anak muda yang ingin mendapatkan kebaikan dalam hidupnya, mencintai wanita tapi tak seorangpun menginginkannya. Cakka, fisik tubuhnya memanglah idaman semua kaum hawa. Namun wajahnya? terdapat bintik-bintik merah yang timbul dari kulit yang seharusnya menjadi rupa pertama dari setiap pertemuan. Selain itu, kulit wajahnya seperti lelehan plastik yang tak bisa terbentuk rapih mengikuti rahang. Buruk rupa, itu sebutan orang-orang untuk Cakka. Sejak kecil, sejak ia lahir kedunia. Hidupnya nelangsa, bukan karena wajahnya saja tapi karena ayah ibunya pergi lebih dulu darinya. Belum lagi Gempa, yang berhasil menghancurkan rumah tempat berlindungnya dan merenggut sang nenek yang mengasuhnya sejak kecil. Sedih, kesepian, dan sebatang kara. Itu yang Cakka alami ketika usianya beranjak sebelas tahun. Apakah Cakka akan berputus asa dengan hidup yang terus menerus di uji? Apakah wajah Cakka akan tetap seperti itu untuk melanjutkan hidup? Simak ceritanya Di Dua Dimensi!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silviriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Talak 3
Pukulan itu terus berlanjut, membabi buta hingga Cakka tersungkur lemas ke tanah. Suara tinju dan suara Mak Ranti yang mencoba menghentikan pria itu menyatu, dan nyaring.
"Astagfirulloh! Astagfirulloh!" Teriak Mak Ranti kelimpungan melihat pria itu terus memukul Cakka.
Pun warga yang perlahan muncul dari berbagai arah ikut menyaksikan dan memisahkan pria itu dari Cakka dengan menarik bajunya. Lepas! Tangan kekar yang sedari tadi menghujani wajah Cakka dengan pukulan, akhirnya berhenti juga.
"Kamu kenapa sih mas?!!!!" Teriak Mak Ranti pada orang itu, yang sedang dipegangi oleh warga.
Dengan nafas yang masih memburu dan dada yang naik turun, orang itu menjawab.
"Aku nggak suka kalau ada orang yang berani bermain mata denganmu! Kamu itu istriku!" Tegasnya, marah.
Istriku...
Lelaki itu suami Mak Ranti, ia baru menikahinya beberapa bulan yang lalu. Gampang cemburu pada siapapun yang berani mendekati istrinya. Meski itu hanya bertanya saja kadang tatapannya selalu mengintimidasi.
Dan kejadian seperti ini bukan sekali dua kali, tapi sering! Sehingga, para pelanggan Mak Ranti banyak yang kabur. Mak Ranti kesal, Cakka yang baru dikenalnya kini harus babak belur. Dengan nafas yang dihembuskan ke udara, alih-alih ingin memarahi sang suami, Mak Ranti malah justru berbicara pada suaminya dengan nada lemah lembut.
"Mas, Cakka ini anak muda. Dia pendatang, ingin makan. Bukan menggodaku atau mendekatiku!"
"Alah! Semua orang yang jadi selingkuhan mu itu pasti awalnya begini, modus mau makan!"
"Kalau mas begini terus, daganganku nggak laku! Kita nanti makan mau dari apa mas? Sedangkan mas saja tidak bekerja"
"Itu urusanku nanti! Kamu hanya tinggal diam di rumah dan terima saja uang dariku"
"Nggak mau mas, aku merasa tidak jadi diriku sendiri"
"Maksud kamu?!"
Mak Ranti memejamkan matanya secara paksa, dan Cakka dibantu oleh warga lain untuk bangun.
"Uang yang kamu kasih ke aku, cuma cukup makan satu kali. Itu pun ada bumbu yang harus dibeli, gas, dan minyak. Kamu pikir itu semua aku dapatkan gratis? Aku juga sebagai istrimu harus terlihat cantik, aku nggak mau nggak pakai lipstik"
Bukannya merenung atau melemahkan ego, sang suami malah berfikir yang tidak-tidak.
"Buat apa pakai lipstik kalau nanti luntur lagi? Buat menggoda pria lain?!!!"
Kening Mak Ranti mengernyit,
"Mas?!"
"Kau ngaku sama aku perawan tua, nyatanya? Kau sudah melakukan itu berkali-kali dengan siapa saja!"
Mak Ranti menggelengkan kepalanya, beliau tak menyangka kalau suaminya tega sekali berkata begitu dihadapan orang-orang yang tengah menengahi pertengkarannya dengan Cakka.
"Kau pantas menerima nafkah dua puluh lima ribu dari aku! Aku menikahi lonte!"
Marah yang selama ini terpendam dihati Mak Ranti kini mencuat, menggerakan kaki dan tangannya menuju sang suami.
Srak!
Srak!
Plak!!!!!!!!
Tamparan keras untuknya, pipi Mak Ranti merah padam. Hidung kembang kempis dan dadanya bergemuruh. Pun suaminya ingin membalas namun untungnya ditahan, oleh mereka yang masih memegangi tangan suami Mak Ranti.
"Aku nggak tahan ya sama kamu! Aku pikir kamu nggak akan kayak gini. Kamu termakan fitnah yang gak pernah aku lakukan sama sekali!"
Wajah yang selama ini terlihat mencintai, penuh kasih pada Mak Ranti berubah menjadi bengis. Matanya melotot seolah akan menerkam Mak Ranti saat itu juga.
"Fitnah kata siapa kamu, memang benar kan begitu? Aku harusnya dapat durian yang enak, penuh daging dan cangkang yang tipis. Tapi aku malah apa? Malah mendapatkan ikan teri digoreng sampai hangus! Kalau kamu masih perawan, harusnya berdarah! Sempit! Bukan longgar dan berbau asam. Pantas orang-orang bilang sama aku, kalau kamu itu pernah tidur dengan siapapun! Dan kenyataannya, aku malah mendapatkan getah di malam pertama!"
Mak Ranti menangis, beliau menutupi wajah dengan kedua tangannya. Perlahan terduduk di tanah seraya menahan malu dari pertengkaran ini. Cakka merasa bersalah, karena kehadirannya malah membuat Mak Ranti dan sang suami bertengkar hebat.
Dengan tubuh yang ringkih lemas tak bertenaga, Cakka menghampiri Mak Ranti. Mengelus punggungnya, pelan.
" Maafkan saya, M-mak" ucap Cakka.
Mak Ranti merasakan tangan itu hadir dihidupnya, menenangkannya, tak peduli dengan suami yang sekarang menghujati dirinya dengan kata-kata 'lonte' Mak Ranti tiba-tiba memeluk Cakka.
Sret!!!
Keadaan itu bertambah panas, orang-orang saling pandang apalagi suaminya. Mulut menganga dan mata membalalak menambah ekspresi kesal dan marah yang sedari tadi meledak-ledak. Dengan satu tarikan nafas yang begitu kasar, suami Mak Ranti berkata.
"Dasar istri durhaka, ku talak kamu hari ini. Talak 3!"
Salah satu warga yang memegangi suami Mak Ranti menyanggahnya "Heh! Istigfar! Istri mu dipermalukan oleh kamu, sekarang malah ditalak?"
Marah, orang yang disampingnya seolah sedang membela Mak Ranti. Ia, meronta ingin menghajarnya. Lagi-lagi untungnya tenaga mereka kuat, keinginannya tak bisa dilakukan.
Sedangkan Mak Ranti yang masih memeluk Cakka, berbisik "maafkan saya, saya harus seperti ini agar bisa lepas dari dia."
Cakka tahu, Mak Ranti pastinya sudah tidak tahan dengan rumah tangga yang tak bisa harmonis lagi. Cakka tahu, suaminya yang sudah mempermalukan Mak Ranti, harus mendapat suatu balasan setimpal agar orang lain bisa lihat betapa buruknya dia menjadi kepala keluarga. Tapi, Cakka bukanlah pahlawan yang harus menyelamatkan orang-orang.
Belum lagi, kisah yang kemarin masih basah. Menghantuinya. Membuatnya kikuk dan gugup ditempat baru. Sadar akan terjadi hal yang tak menyenangkan kedepannya. Cakka mendorong Mak Ranti, hingga lepas dari peluknya.
Dug!
"Maaf, saya harus pergi. Saya tidak akan berbelanja lagi disini. Permisi!" Ucapnya takut dan gelisah.
Langkah Cakka tergesa, sesekali dia menengok kebelakang untuk memastikan bahwa dirinya tidak dikejar. Dan pemandangan yang Cakka tangkap, mereka hanya melihat kepergian Cakka.
(***)
Srak!
Srak!
Srak!
Kaki itu terus melangkah, berjalan menyusuri jalanan aspal yang trotoarnya sebagian sudah rusak. Sembari sesekali menelan ludah sendiri, Cakka berusaha kuat untuk tetap mencari tempat makan atau penjual nasi uduk yang bisa dibelinya tanpa drama seperti tadi pagi.
Ini sudah jam sebelas siang, perutnya masih kosong dan uangnya masih utuh ditangan. Tempat baru mengajarkannya untuk bersabar, ia harus menjelajahi tempat yang tidak tahu apakah para pedagang makanan disini terbilang dekat atau jauh tempatnya.
Hingga tak sadar ternyata Cakka sudah berada dikawasan pasar, barulah disini. Dia menemukan ada banyak sekali pedagang makanan, baju dan kebutuhan hidup yang lainnya.
Cakka tersenyum lebar, langkahnya semakin bersemangat. Sampainya dia ditempat para pedagang, ia langsung memesan makanan. Tak tanggung-tanggung. Masing-masing satu menu ia beli 2 porsi.
Batinya berkata, "Mumpung di pasar! Biar esok dan lusa, aku diam di rumah."
Orang-orang pasar ternyata ramah, mereka tidak memandang Cakka dengan mimik muka aneh atau jijik seperti sebelumnya. Malah justru yang ada, para pedagang senang dengan kehadiran Cakka. Melihat respon orang-orang tertawa, berbincang dengannya seperti tidak ada rasa takut padanya. Cakka memutuskan untuk tidak membawa sikapnya yang dulu, ketempat yang baru.