" Hei Leha, turun gak ? " Ibunya Juleha berkacak pinggang di bawah pohon mangga.
" Bentaran ! Nanggung "
Masih dengan santai nangkring diatas pohon mangga.
Bagaimana kisah perjalanan rumah tangga antara Juleha dan Zainal dan pasangan lainnya yang menikah karena minta dijodohkan ? ikuti terus kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Mendadak nikah ( 11 )
Abdul dan Sarah setelah pulang menemani Mahmud, tidak langsung pulang ke rumah, Mahmud juga masih sedikit bertahan di rumah orang tua Lusi, karena banyak yang akan dibicarakan oleh keduanya.
" Sar, kamu mau kemana ? sekarang baru jam sembilan "
Abdul melihat petunjuk waktu yang melingkar di pergelangan tangannya.
" Pulang aja kita bang, enakan dirumah ngobrolnya "
" Oke ! "
Jarak antara tempat tinggal bapaknya Abdul dan rumah orang tua Lusi lumayan jauh, sekitar dua puluh kilometer.
Cuaca tiba tiba berubah menjadi terasa dingin, pertanda sebentar lagi akan turun hujan.
Benar saja hujan setetes demi setetes mulai turun, hingga gerimis deras mulai terasa membasahi kerudung dan gamis yang Sarah kenakan, Abdul segera membelokkan motornya ke halte yang berada beberapa meter ada di depan.
" Kita singgah saja dulu disini ya Sar, sembari menunggu hujan reda "
Sarah hanya bisa mengangguk, bibirnya sedikit bergetar menahan rasa dingin.
Abdul segera melepaskan jaket yang dikenakannya.
" Abang nanti kedinginan "
" Gak apa apa, kan Abang laki laki, lebih kuat, lagi pula gamismu sebagian mulai basah, sehingga memperlihatkan bentuk tubuhmu, Abang aja belum lihat, masa' orang lain nanti boleh lihat " eh.
Bang Abdul jadi ketularan Zainal ya hobi merayu.
Wajah Sarah memerah.
" Tanganmu dingin, Sar "
Abdul meraih tangan Sarah dan mulai meniup niupnya, menyalurkan hawa panas dari dalam mulutnya.
Sarah hanya bisa melongo mendapati sikap manis Abdul.
" Bang "
Abdul menghentikan aktivitasnya dan diam menatap Sarah.
" Jangan terlalu bersikap manis pada Sarah, Sarah takut jika Sarah segera jatuh cinta padamu, bang "
Gantian Abdul yang melongo.
" Jatuh cintalah Sar, jika hatimu benar benar sudah siap "
Abdul masih belum melepaskan genggaman tangannya pada kedua telapak tangan Sarah.
Sebuah sepeda motor berhenti tepat didepan halte, sepertinya akan numpang berteduh juga, sepasang pria dan wanita, Sarah mendadak merasa gelisah.
Abdul memperhatikan siapa yang datang.
" Sa-sarah, bagaimana kabarmu ? " pria itu mengulurkan tangannya ke arah Sarah setelah membuka helm yang dikenakannya tanpa memperdulikan wanita yang mencebikkan bibirnya yang ada disebelahnya sembari mengibas ngibaskan bajunya yang sedikit basah.
" Keadaan dirinya sangat baik "
Abdul yang menyambut uluran tangan yang di sodorkan pria itu.
Laki laki itu hanya tersenyum masam.
" Maaf, Sar, aku...."
Pria itu tidak meneruskan ucapannya, dia melirik ke arah wanita yang bersamanya yang terus saja semakin cemberut.
" Tidak ada yang perlu dimaafkan, kami justru sangat berterima kasih kau sudah melakukan perbuatan yang belum halal bagimu, kalau tidak.... Tidak akan mungkin kami bisa menikah "
Abdul menarik badan Sarah dan memeluknya erat.
Badan Sarah semakin tegang, baru kali ini Abdul memeluknya dan itu didepan Haris, untung saja di halte itu hanya ada mereka berempat.
Kedua mata Haris membulat dengan sempurna.
" Kamu bahagia kan menikah dengan Abang, Sar ? "
Ujung jari tangan Abdul mengeringkan titik titik air hujan yang membasahi wajah bening Sarah.
Dada Sarah berdegup dengan kencang, begitu juga dengan Abdul, mereka berdua sama sama bisa merasakan jika degup jantung mereka sama sama berdetak sangat kencang karena kedua dada mereka menempel dengan erat.
Sarah menganggukan kepala.
Abdul semakin berani, anggap saja Abdul sedang mengambil kesempatan.
Dia mencium kening Sarah lama, dan Sarah sendiri, memejamkan kedua matanya.
Wajah Haris terlihat semakin pucat.
" Mas Haris, ayo pulang ! "
wanita yang bersama Haris sudah menarik narik tangan Haris.
" Masih hujan "
Jawab Haris tanpa mengalihkan tatapannya dari menatap Sarah yang berada dalam pelukan Abdul.
" Sudah berhenti, apa kamu masih ingin melihat kemesraan mereka ? kalau gak mau pulang, aku pulang sendiri "
wanita itu sudah berjalan menuju motor Haris.
" Sar, benarkah kamu sudah menikah ? "
" Tentu saja, memang kamu berharap aku menunggumu, Mas ? sungguh konyol "
Sarah mencibir.
" Itu tidak mungkin "
Haris menggeleng gelengkan kepalanya.
" Terserah ! "
Abdul dan Sarah masih belum melepaskan pelukan mereka satu sama lain.
" Hei bung, istrimu sudah berjalan itu "
Abdul menunjuk ke arah istri Haris yang sudah berjalan kaki karena merajuk.
Gegas Haris menuju ke motornya.
" Kita pulang yuk, Sar "
Eh, bang Abdul, kok suaranya mendadak lembut gitu, ada maunya ya ?
" Iya bang "
iya katanya.
...******...
...🌿🌿🌿🌿🌿🌿...
..
maraton bacanya
Mira bete lagi nih, Thor ada dendam ya sama mira👻
👍🏼👏🏼🙏🏼☕
haduh porsinya pas Pasan bang jali👻
emang somplak mereka
hore Mahmud otw nikah juga Ama Lusi 👻🌹
rezeki nomplok si Abdul nikah nga modal 👻
awas ada yang kebakar leha👻
bang Zai ada yang kepanasan 👻