NovelToon NovelToon
Cinta Asteria

Cinta Asteria

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Romansa-Percintaan bebas / Pertemuan tak terduga / Tamat
Popularitas:82.4k
Nilai: 4.8
Nama Author: Abu Alfin

Aster adalah gadis yg teguh pada pendirian
namun selalu dihadapkan dengan problem kehidupan yg penuh lika liku.
hingga akhirnya menemukan kebahagiaan hidup sejati. meski perjalanan hidupnya diwarnai berbagai macam kejadian pilu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abu Alfin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

tambah satu sahabat Aster

“Bang, meski kita tiap hari berantem tapi Astri kan tetep

sayang sama abang. Kenapa harus tinggalkan rumah ?” Tanya Astri. Yang merasa

keberatan ditinggal Hendra abangnya. Walau bagaimanapun Hendra adalah satu

satunya lelaki dikeluarga itu yang bisa menjadi tulang punggung keluarga.

“Tenang adikku, abang akan segera pulang dan tinggal dirumah

ini lagi jika sudah ada wanita yang mencintai abangmu apa adanaya, bukan

mencintai abangmu karena pewaris perusahaan.” Jawab Hendra.

Meski berat akhirnya mereka merelakan kepergian hendra demi

untuk mencari ketenangan atas kekecewaanya terhadap Elisa.

Ditempat lain, Arya kebingungan mencoba menghubungi Astri

yang saat itu juga ganti nomer hp. Karena ingin melupakan Dimas, padahal Arya

ingin memberikan no Dimas pada Astri. Arya sudah siap dimarahi Dimas, toh dia

sudah dijogja ini,pikirnya. Namun sayang Astri juga sudah ganti no kontaknya.

Sementara Arya pun harus kembali ke kot a Bandung, karena juga sudah selesai wisuda.

“Gak mungkin juga aku ke rumah Astri, males ketemu abangnya

yang songong.” Gerutu Arya.

Entah berap cangkir kopi yang sudah dihabiskan Arya waktu

itu. Yang jelas dalam asbaknya sudah penuh dengan punting rokok. Sudah hamper dua

bungkus Arya menghabiskan rokok, saat sedang menulis Arya memang seperti

lokomotif yang selalu mengepilkan Asap. Dilihatnya jam di dinding sudah

enunjukkan pukul 02.30. mata Aryapun sudah menyempit seakan sudah tak mampu

membuka mata sempurna.

Arya kemudian mematikan layar monitor lap topnya, sambil

menyalakan rokok terakhir menjelang tidur. Pikiranya justru jauh melayang,

bingung menghadapi sikap Dimas,Hendra dan Astri. Kepulan asap rokok dari mulut

Arya seakan membawa angan Arya kea lam lamunanya. Sungguh kasihan Astri, aku

sahabatnya tapi tak bisa berbuat apa apa.

Memang abangnya keterlaluan menilai Dimas dan menghina Dimas

seperti itu. Namun tak seharusnya juga Dimas mengambil keputusan sepihak

begitu. Yang tentu saja sangat melukai Astri sahabatnya. Arya jadi ingat jasa

Astri saat mendamaikan kesalah pahaman Arya dan kekasihnya ifah, siti Nafiah

yang biasa dipanggil Ifah. Betapa gigihnya Astri menjelaskan pada Ifah, jika

dirinya dengan Arya tidak ada hubungan lebih dari sekedar teman.

Sampai akhirnya Astri mengaakui Dimas sebagai pacarnya untuk

meyakinkan Ifah. Meski akhirnya Dimas dan Astri pun akhirnya saling jatuh cinta,

dan mereka jadi pacar beneran. Namun saat Astri yang membutuhkan bantuan, apa

yang kamu lakukan Dimas ? kamu hanya pasif saja tanpa melakukan tindakan

apapun.

“Maafkan aku Astri, otakku buntu menghadapi kesombongan

abang kamu dan keangkuhan Dimas pacar kamu.” Bisik hati Arya.

Jadi beneran nih, kamu akan diam saja tanpa melakukan upaya

membantu Astri, dan kamu besuk akan kembali ke bandung dengan membiarkan Astri

menyimpan luka ? kata hati Arya. Pada akhirnya sama saja, Arya pun sama

angkuhnya tidak mau kerumah Astri hanya karena malas ketemu Hendra abangnya.

Arya berangkat tidur setelah hisapan terakhir rokok

ditanganya, mata yang sudah tak kuat lagi serta badan yang juga cape membuat

arya langsung tertidur dikamar kosnya.

Esuk pagi saat bangun pun Arya langsung berkemas, berangkat

pulang ke bandung tanpa menemui Astri sahabatnya yang membutuhkan bantuanya

lebih dulu. Sejak saat itupun Arya tak lagi pernah bertemu dengan Astri maupun

Dimas. Persahabatan yang dulu begitu dekat sekarang seakan lenyap ditelan waktu

dan perubahan.

Flashback off

********

Saat jam pulang kantor, Asih masih berada dimeja kerjanya

untuk mempelajari format laporan yang menjadi tugasnya. Tiap hari dia harus

mengirimkan progress report keuangan perusahaan berdasarkan laporan masuk tiap

hari. Dan cut off laporan masuk jam 15.00 jadi setelah jam itu Asih baru bisa

melakukan rekapitulasi dan melaporkan via email setelah melakukan ricek.

Sementara Aster yang dihari pertama kerja sudah membuat

heboh, sekarang mempunya sahabat baru Anisa. Karyawan yang pro dengan Aster. Tapi

yang kontra dengan Aster justru jumlahnya lebih banyak. Ya begitulah dunia

kerja bagi yang tidak bisa berisikap dewasa, bersaing dengan cara tidak sehat. Saling

menjatuhkan lawan untuk mengangkat dirinya sendiri. Bukan dengan menunjukkan

hasil atau prestasi dirinya.

Untunglah Aster sudah terbiasa hidup di lingkungan orang

orang yang workaholic sehingga semua omongan nyinyir tidak dia tanggapi. Yang penting

berusaha keras untuk memberikan hasil yang terbaik, tidak perduli omongan orang

orang yang hasut, prinsip Aster.

“Aster, kamu mau pulang ke mana ?” Tanya Anisa.

“Eem aku ke daerah cempaka putih deket sini kok Nisa, kamu kemana ?” Tanya balik

Aster.

“Owh, aku kos di dekat perusahaan ini aja, jalan kaki juga

sampai kok.” Sahut Anisa.

“Wah enak dong, mang kamu asli mana nisa ?” Tanya Aster.

“Aku Asli dari jawa timur, belum lama juga bekerja disini. Jadi

cari kos yang deket perusahaan saja biar deket.” Jawab Anisa.

“Ikut gabung sama aku saja yuk, kita tinggal bertiga nanti,

aku kamu dan Asih. Karyawan baru masuk tadi juga barengan Aster, tapi dia di

bagian Administrasi.” Kata Asih.

“Gampang besuk kalo udah terima gajian baru mikir pindah

kos, gak enak juga terlalu dekat.dirumahpun keingat pekerjaan terus.” Kata Nisa.

Aster jadi terdiam, mau bilang itu rumah bokapnya juga gak enak tapi gak bilang

merasa kasihan juga sama Nisa. Tinggal sendirian seorang cewek lagi.

“mang kamu berapa bulan kerja disini ?” Tanya Aster.

“Baru enam bulan jalan, dan sewa rumah kos, enam bulan

juaga. Jadi memang bulan ini habis rencana mau cari tempat lain, tapi waktunya

agak susah jarang liburnya.” Jawab Anisa.

“udah pindah tempatku aja besuk gak usah mikir yang lain

lain.” Kata Aster.

“gimana besuk aja Aster, kita lihat situasi dan kondisi ?”

jawab Nisa.

“Maksutnya gimana ?” Tanya Aster gak faham maksut Nisa.

“Ya aku kan anak pertama, adik adik aku masih sekolah, jadi

sebagian hasil kukirimkan buat tambah biaya sekolah adik ku.” Jawab Nisa.

Aster semakin takjub dengan Nisa, selain tutur katanya halus

dia kagum dengan Nisa yang rela menyisihkan uang gajianya untuk membantu orang

tuanya membiyayai adiknya.

“Maaf Nisa, jangan tersinggung ya Aster mau nawarin kamu

tinggal sama Aster. Bukan kos di tempat lain, tapi Aster minta tolong ditemeni

karena Aster tinggal hanya berdua dengan Asih dirumah orang tua Aster.” Kata Aster

hati hati.

“Owh gitu, gak enak ah malah ngrepotin kalian nanti.” Jawab Nisa.

“Gak lah, kan aku yang minta tolong, soalnya kalo malem

hanya berdua suka takut.” Kata Aster berbohong demi kebaikan.

“Lah mango rang tuamu kemana Aster ?” Tanya Nisa.

“Orang tuaku masih, ada tugas diluar kota jadi gak tinggal

di situ.” Jawab Aster, berbohong lagi gak mau mengatakan orang tuanya diluar

Negeri.

“Serius kah kamu Aster, kan kita ini baru saja kenal. Masa kamu

langsun percaya begitu saja ?” kata Nisa.

“Ya emang sih kita baru kenal, tapi kita kan bekerja

dikantor yang sama. Kalo kamu jahat data diri kamu ka nada di perusahaan ini. Jadi

Aster bisa cari kamu kemanapun.” Jawab Aster sambil tersenyum.

“Ya gak gitu juga maksutku, biasanya kalo baru kenal kan

masih cuek masa bodo. Kok kamu baru kenal sehari sudah nawarin aku tinggal

dirumah kamu, itu maskutnya.” Jawab Nisa.

“Ya feeling saja sih kalo itu, yang jelas aku salut sama

kamu yang mau bantu orang tuamu biayayai sekolah adik adikmua.” Jawab Aster.

“Eeh mendingan kita lanjutkaan ngbrolnya di kos aku yuk,

lebih bebas. Kan sudah selesai kerjaan kita, dan sudah waktunya jam pulang

kantor.” Ajak Nisa.

“Wah gimana ya, kan aku nunggu Asih juga, kasihan alo

ditinggal sendiri nati.” Awab Aster menolak halus.

“Tungguin di kos aku saja, kan berhadapan langsung dengan pintu

keluar masuk perusahaan ini. Nanti kalo Asih pulang juga pasti kelihatan kok.” Bujuk

Nisa.

“Hmm boleh juga, tapi bilangin asih dulu yuk, sekalian

kalian kenalan biar makin akrab nanti.” Ajak Aster.

“Boleh, ayuk !” jawab Nisa.

Aster dan Nisa menuju ke ruangan Asih, dan Aster

memperkenalkan Nisa serta bilang kalo Aster nunggu didepan pintu gerbang

bersama Nisa.

“Asih sebentar lagi juga selesai kok, paling gak sampai

20menit lagi. Gak papa kalin tunggu di depan.” Kata Asih.

Aster dan Nisa berjalan keluar, dan menuju ke kos an Nisa. Sesampai

di kos an Nisa Aster dan nisa mencuci muka dulu sebelum melanjutkan ngobrol.

“Kasihan nisa, tinggal sendirian apa apa sendirian. Kalo pas

gak enak badan gimana nanti.” Bisik Aster ketika dikamar mandi. Saat Aster

keluar nisa sudah menghindangkan teh manis dan beberapa camilan.

“Kamu gak takut tinggal sendirian begini Nisa ?” Tanya Aster.

“Takut apa Aster ?” Tanya Nisa balik.

“Ya bukan takut yang aneh aneh, takut kalo pas lagi gak enak badan apa apa

sendiri kalo mau kedokter misalnya kan jadi repot Nisa ?” jawab Aster.

“Ya habis bagaimana lagi Aster, namanya hidup diperantauan

seorang diri ya apa apa kan harus mandiri.” Jawab Nisa.

“Makanya udah temenin Aster saja yuk, mala mini juga kamu

ikut Aster aja.” Desak aster.

Sementara nisa masih terdiam bingung antara menerima atau

menolak. Kalo menerima takut merepotkan Aster kalo menolak juga gak enak.

“Gimana Nisa, mau gak nenmenin Aster, biar kita ada teman

ngobrol nanti.” Kata Aster.

“Ya tapi jangan malam ini juga Aster, masak mendadak begitu.”

Sahut Nisa.

“Maksut Aster malam ini bukan pindahanya, tapi kamu ikut

saja dulu. Pindahan mah gampang kapan saja bisa.” Sahut Aster.

“Iya deh, nanti Nisa ikut Aster.” Jawab Nisa tak lagi dapat

mengelak.

“Btw, kamu ada foto keluarga gak, katanya punya adik. Cowok

apa cewek Nisa ?” Tanya Aster.

Kemudian Nisa menunjukan foto bapak ibunya juga kedua

adiknya.

“Wah adikmu cakep cakep ya, yang cewek cantik kayak kamu

yang cowok juga ganteng. Udah kelas berapa dia Nisa ?” Tanya Aster.

“Yang cowok baru masuk kuliah, sedang adiknya baru kelas Satu

SMA.” Jawab Nisa.

“Wah hebat ya orang tuamu pasti bangga punya anak anak

seperti kalian Nisa.” Sanjung Aster.

“Ah gak juga Aster, aku hanya orang biasa, ya begitulah

kehidupan kami di dusun. Bapakku kerja di perusahaan swasta, ibuk jualan dipasar.

Kalo aku gak ikut nbantuin biaya adik adik kan kasihan orang tuaku. Memang Aster

gak punya adik ya ?” Tanya Nisa.

“Owh gak punya Nisa, Aster gak punya saudara kandung.” Jawab

Aster.

“Owh anak tunggal, ya wajarlah, pasti dimanja sama orang

tuanya.” Sahut Nisa.

“Gak juga kok Nisa, Aster malah terbiasa dididik mandiri

dari dulu. Sewaktu masih kecil ya mang dimanja, tapi ketika sudah remaja mulai

didik mandiri sama orang tua Aster, meski anak tunggal juga.” Jawab Aster.

“Btw Aster dah punya pacar belum ?” Tanya Nisa.

“Belum Nisa, masih pingin Fokus mengejar karir dulu. Kalo Nisa

sendiri sudah punya pacar ?” Tanya balik Aster pada Nisa.

“Gimana ya, ada sih yang deket tapi belum lama kenal juga,

sama sama karyawan perusahaan tempat kita bekerja. Tapi belum ada komitmen

apapun. Hanya sering say hello lewat chat atau kadang orangnya main kesini.” Jawab

Nisa.

“Ya gak papalha, kan wajar cowok cewek saling suka Nisa. Berarti

lagi nunggu di tembak nih ?” goda Aster.

“Ya gak begitu juga sih, tapi yang aku takutkan kalo aku

ikut kamu nanti dia jadi gak boleh dating dong Aster.” Kata Nisa.

“Siapa yag bakal melarang, asal tahu waktu dan tahu batas

kalo dia mau main silahkan saja.” Jawab Aster.

“Ya kalo itu pasti lah Aster, Nisa juga harus tahu batas,

main kesinipun Nisa ijinin kalo gak lewat jam 21.00 lewat itu harus pulang. Dan

juga ketemunya diluar gak boleh masuk. Sesuai aturan kos begitu.” Jawab Nisa.

“Owh jadi kos juga ada aturanya ya ?” Tanya Aster.

“Ya harus lah, kalo gak jadi pergaulan bebas kan bahaya

Aster.” Jawab Nisa.

Saat mereka sedang ngoborol, tampak Asih keluar dari pintu

gerbang perusahaan.

“Itu Asih, ajak sini dulu Aster.” Ucap Nisa.

“Owh iya, biar Aster samperin dulu.” Kata Aster.

Kemudian ster meminta Asih untuk menunggu sebentar di kos an

Nisa, sementara Aster mengambil kendaraanya dibawa keluar dari perusahaan

diparkir agak jauh dari kos an Nisa.

“Lah Aster mana Asih, kok kamu sendirian ?” Tanya Nisa.

“Aster baru mengambil kendaraanya Nisa, wah Asih jadi

ngerepotin Nisa nih ?” ucap Asih.

“Gak papa asih, Cuma air aja kok. Eeh Asih ni pasti dari

sunda ya dari logatnya kelihatan banget, Asih ?” ucap Nisa.

“Ah masa sih, mang Nisa tahu dari mana ?” Tanya Asih.

“Nisa ada kenalan orang Sunda juga, dari bandung katanya. Teman

satu kerja juga.” Jawab Nisa.

“Ehmm cocok kamu ya Nisa ?” Tanya Asih.

“Ehmm belum sih baru pedekate aja.” Jawab Nisa.

“Owh jadi cowok yang kamu ceritakan tadi dari bandung ?” Tanya

Aster mengejutkan Asih dan Nisa.

“Iih Aster kebiasaan datang datang langsung nyahut, bikin

kaget aja.” Kata Asih.

“Nisa gak kaget kok, apa Asih juga lagi inget cowoknya jadi

kaget sama kedatangan Aster ?” goda Nisa.

“Ya bisa jadi sih, tapi nisa perlu tahu Asih ini cowoknya

adalah sepupu aku. Jadi kalo dia macam macam disini bisa aku kick nanti.” Canda

Aster.

“Emangnya Aih cewek apaan kali Aster, Andi aja dah cukup

bagi Asih. Gak aka nada yang lain !” jawab Asih.

“Owh jadi nama cowok Asih itu Andi ya, wah kalian bakalan

jadi suadara dong nanti. Asih panggil Aster kakak atau adik nanti ?” gurau Nisa

yang langsung bisa akrab dengan Asih juga.

“Andi tu adik sepeupu Aster, jadi Asih nanti panggil aku

Kakak Nisa.” Jawab Aster.

“Wah kayaknya harus belajar dari sekarang nih, Asih panggil

Aster kakak biar nanti gak canggung Asih.” Kata Nisa.

“Nisa iih bisa aja, tambah deh orang yang ngejahilin Asih

sekarang,” kata Asih.

“bercanda Asih, eeh kalian pingin makan apa ? Kan belum pada

makan kan, mau aku masakin mie instan atau masak nasi goreng aja ?” Tanya Nisa.

“Emm kayaknya gak usah lah, yuk jadi ikut ketempatku

sekarang saja Nisa. Soal makan nanti gampanglah kita cari sambil jalan saja.”

Ucap Aster.

“Diih disini saja makan nya, biar agak irit kalo jajan kan

boros Aster.” Ucap Nisa.

“Aah gak tiap hari kok, hitung hitung sukuran Aster dan Asih

sudah mulai kerja hari ini Nisa.” Kata Aster.

“Yaudah tapi aku pamit ibu kos dulu, biar gak kena marah

nanti.” Ucap Nisa, kemudian berjalan menuju sebuah rumah untuk berpamitan.

Setelah itu mereka berangkat kerumah Aster, Nisa sempat

kaget tahu Aster mengendarai mobil yang masih baru. Nisa jadi berpikir, jangan

jangan Nisa ini anak orang kaya. Padahal bapaknya berpesan jangan deket deket

orang kaya nanti kamu jadi berubah pola pikirnya. Ya begitulah orang dusun yang

saking berhati hatinya kadang dalam menasehati anak sukka berlebiahn begitu.

Tapi setidaknya, itu sangat berpengruh juga bagi Nisa,

sehingga Nisa tampak menjadi agak kaku dengan Aster dan Asih.

“Mau cari makan apa sekarang ?” Tanya Aster.

“Apa aja deh, Asih ma apa aja ok.” Jawab Asih.

“Nisa ada usul apa nih ?” Tanya Nisa.

“Ah aku mah tadi udah makan dikantor masih kenyang.” Jawab Nisa.

“Ah Nisa gak Asik kalo gitu, bantu pilih menu dong biar

rame.” Pinta Aster.

“Nisa kan jarang jajan keluar disini jadi gak tahu menu

jajan disini.” Jawab Nisa.

“Yaudah Aster lagi pingin makan nasi goreng kambing, gak ada

yang pantang kan ?” Tanya Aster.

“Mang ada sekitar sini Aster ?” Tanya Asih.

“Ya nyari lah gak harus sekitar sinijauhhan dikit gak papa

nanti pulang langsung tidur kan enak.” Jawab Aster.

“Yaudah cari lewat aplikasi sja yg paling deket mana ?” kata

Aster sambil pegang kemudi.

Biar Asih yang cari kamu pegang kemudi saja Aster. Biar dibantuin

Nisa nyari.” Kata Asih.

“Owh iya, bagus dah ingetin Aster lagi pegang kemudi.” Jawab

Aster.

Nisa hanya diam, dlam hatinya gelisah, berpikir berapa uang

yang harus dikeluarkan untuk makan sementara dia harus menghemat untuk bisa

mengirim rumah agak banyak, biar aiknya bisa beli buku.

“Udah dapet belum Asih ?” Tanya Aster.

“Belum nih, Nisa udah dapet belum ?” Tanya Asih.

“Belum juga, ni kayaknya servernya error dari tadi belum

masuk.” Ucap NIsa.

“Ah ini sudh ada Aster, ni denahnya gak jauh kok.” Kata Asih.

“Ok kita cabut kesana yuk.” Ucap Aster membalikkan arah

kendaraanya menuju lokasi.

Sesaat kemudian sampailah mereka kelokasi yang dituju,

sampai disana cukup banyak yang antri pesananan.

“Kayaknya memang enak nih laris banget, gak papa antri

sebentar sambil pesan minuman dulu gih, pesan sendiri sendiri. Ayuk nisa jangan

sungkan, anggp kali ini Aster dan Asih sukuran karena diterima kerja. Jadi mala

mini ster traktir deh.” Kata Aster seakan mampu melihat kegelisahan Nisa. Mungkin

jug karena sudah mendengr perjuangan nisa untuk membiayai aik adiknya.

Belum sempat minuman yang dipesan diminum tiba tiba Aster

dikejutkan dengan kedatangan seorang laki laki yang langsung menepuk pundaknya.

“Hai apa kabar, maaf aku dulu terus pulang ke bandung jadi

gak sempat nyari kamu. Dan sekarang aku bru sempat kembali kesini mau mencri

kamu, eeh malah ketemu disini.” Ucap laki laki itu tanpa member kesempatan

Aster ngomong.

Aster yang paling tidak suka dicolek lelaki jadi spontan

marah.

“Kamu jadi orang sopan dikit bisa gak sih, mang siapa kamu

berani berani nyolek gue. Lo pikir gue cewek murahan, haa….” Kata Aster sambil

melotot.

Laki laki itu jdi bingung mendengar jawaban Aster yang

sangat marah dan melotot memandang mukanya tanpa berkedip.

Bahkan seisis penghuni warung pun kaget melihat kearahan

Aster, termasuk Nisa sahabat barunya.

Bersambung.

1
Meti Erpianti
Kecewa
Spurwani Nci
aster mirip seprti astri sahabat ny
Mr.Cho
👍
Mr.Cho
👍👍👍
Mr.Cho
👍👍
Mr.Cho
👍👍👍
Mr.Cho
👍
Mr.Cho
👍👍👍👍👍
Mr.Cho
👍👍👍👍
Mr.Cho
👍👍👍
Mr.Cho
👍
Mr.Cho
👍👍👍
Mr.Cho
👍
Mr.Cho
mantap
Mr.Cho
keren
Mr.Cho
semangat pak RT
Syahrul
Hai kak aq mampir lgi nih. Like sudah mendarat. Seperti biasa setiap nulis jangan lupa buat kopi sma indomie biar makin semangat.

Salam dari "Re Life" jangan lupa mampir yah 😁


selamat kak novelnya sudah tamat. tpi jika blh ngasih masukan, lebih baik dilanjutkan saja. sayang klo novel bagus seperti ini ditamatkan. minimal target selanjutnya yaitu mencari like serta popularitas dri para reader hehehe
💞 Lily Biru 💞
lanjut
💞 Lily Biru 💞
semangat kak abu
Abu Alfin
makasih Endah..
🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!