Chen Khu adalah anak ke dua dari tiga bersaudara, hidup bahagia di sebuah desa terpencil dikaki gunung Wutan. Keluarga Chen merupakan keluarga petani yang terkenal ramah bagi penduduk desa. Chen Khu bocah berusia 7 tahun, yang suka membantu. Meskipun usianya terbilang masih muda, tetapi dia cukup ringan tangan untuk membantu sesamanya. Dia bercita-cita, suatu saat jika sudah besar nanti, dia ingin menjadi seorang tabib agar bisa membantu orang - orang miskin yang sakit. Akan tetapi semua tidak berjalan seperti apa yang diimpikannya, sampai suatu malam ketikan sekelompok pendekar aliran hitam datang menghancurkan desanya. kedua suadarax dibunuh dengan kejam, ayahnya di tangkap untul di jadikan budak, sedangkan ibunya tewas ketika berusaha menyelamatkan dia dan adiknya. Satu hal yang tetap ada dalam pikirannya yaitu, tato KALAJENGKING MERAH yang ada di lengan pendekar yang membunuh ibu dan saudaranya. Dengan berlinang air mata dan sekuat tenaga dia berlari kedalam hutan gunung Wutan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khalid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#35. Murid Sekaligus Guru
Chen Khu yang sudah menjadi murid Sekte Kuda terbang menjalani hari - harinya tidak seperti murid sekte pada umumnya, dia diperintahkan oleh gurunya untuk banyak membaca. Meskipun demikian, Chen Khu tidak perna melupakan pesan Lee Han untuk terus memperdalam ilmu beladirinya. Untuk itu Chen Khu terbang ke hutan untuk menjalani latihannya.
Sejak penyerangan yang terjadi beberapa minggu yang lalu.. Xie Annchi diam - diam mempunyai keinginan untuk memperdalam ilmu pedang, sebab ilmu pedang yang diajarkan sektenya hanya sebagai pelengkap untuk jurus andalan mereka.
Suatu hari ketika Chen Khu ingin ke hutan untuk berlatih, Xie Annchi tiba - tiba menahannya.
"Sepertinya hari ini Kakak tidak akan ke perpustakaan yaah..? tanya Xie Annchi yang sebenarnya sudah mengetahui jadwal latihan kakak seperguruannya itu.
"Iyaa.. kakak hari ini akan ke hutan " jawab Chen Khu singkat, sebab Chen Khu tidak berani berlama - lama menatap wajah putri gurunya itu.
"Bolehkah aku ikut bersama kakak hari ini..? " ucap Xie Annchi dengan tatapan penuh permohonan lalu melirik ayahnya yang sedang duduk di beranda rumah sambil menikmati secangkir teh.
Dada Chen Khu berdetak kencang, dia tidak menyangka akan di tatap seperti itu oleh Xie Annchi, disamping itu permintaan putri gurunya itu juga bisa dibilang aneh, sebab Xie Annchi sudah mengetahui jika Chen Khu akan berlatih ilmu pedang sedangkan itu tidak sesuai dengan apa yang diajarkan oleh sekte Kuda Terbang, apalagi jurus - jurus yang dilatih oleh Chen Khu bukanlah jurus pedang milik sektenya.
Chen Khu kemudian menoleh pada gurunya yang ternyata sedang memperhatikan mereka. Xie Jiang kemudian menganggukan kepala seperti mengijinkankan keinginan putrinya.
"Baiklah.. kamu boleh ikut kakak hari ini, berarti kita ke hutannya sambil berjalan kaki saja" ujar Chen Khu tidak berani menolak keinginan gurunya.
"Bukankah itu akan memakan waktu yang agak lama..?? bagaimana kalau aku ikut kakak terbang saja ..?? Ujar Xie Annchi.
Jantung Chen Khu berdebar tidak karuan.. bagaimana tidak.. jika Chen Khu membawa Xie Annchi terbang, itu berarti dia harus merangkulnya, dan jangankan merangkul.. menatap wajah Xie Annchi saja dia tidak berani berlama - lama.
"Aku lebih baik menghadapi pendekar level 7 daripada harus menghadapi hal seperti ini " gumam Chen Khu dalam hati sambil menggaruk - garuk kepalanya.
"sudahlah..turuti saja keinginan putriku itu ..aku akan menemui ketua sekte dulu.. " ujar Xie Jiang sambil berdiri.
Mendengar hal itu Xie Annchi tampak kegirangan, berbeda dengan Chen Khu yang perasaannya malah bercampur aduk tidak karuan.
"Tapi bagimana aku akan membawamu..?? ujar Chen Khu dengan lutut yang mulai terasa lemas, seolah Chen Khu terkena Aura kekuatan pendekar yang jauh diatasnya.
"Yaa.. kakak harus memegangku seperti ini " ucap Xie Annchi sambil menarik tangan Chen Khu dan melingkarkan dipinggangnya.
Keringat dingin mengaliri wajah Chen Khu.. ini pertama kalinya secara sadar dia menyentuh seorang gadis, meskipun terpaut dua tahun. Aroma wangi Putri gurunya itu merasuki hidungnya dan membuat Chen Khu mematung.
"Aaah...!! Kenapa aku tidak pingsan dalam kondisi seperti ini.. " gerutu Chen Khu dalam hati.. dia masih belum mampu berkata sepatah katapun.
"Kalau seperti ini terus.. kapan kita latihannya..?? "ucap Xie Annchi tidak sabar...membuyarkan lamunan Chen Khu yang sejak tadi mematung.
Tanpa menjawab sepatah katapun, Chen Khu menghentakkan kakinya di tanah dan melesat ke udara.
"waaah... aku baru pertama kali merasakan yang namanya terbang..!! " ujar Xie Annchi kegirangan..
Rambut Xie Annchi yang panjang terurai bergerak mengikuti angin yang menerpanya, membuat semerbak aromanya terus menyerang saluran pernapasan Chen khu, hampir membuat Chen Khu kehilangan konsentrasi, sampai akhirnya Chen Khu mendaratkan kakinya pada lokasi yang biasa dia gunakan untuk berlatih.
Chen Khu segera melepaskan tangannya dan langsung duduk bersila sambil menutup matanya.. Xia Annchi yang menyaksikan itu terkejut.
"Kakak... kakak kenapa..?? "ucap Xie Annchi sambil menggoncang - goncangkan tubuh Chen Khu..
"sa.. saya tidak apa - apa.. saya hanya akan memulihkan tenaga dalam yang baru saja terpakai untuk terbang " jawab Chen khu agak terbata - bata berusaha menutupi gejolak perasaannya.
Xie Annchi kemudian mencari tempat untuk duduk sambil menunggu Chen Khu yang sedang memulihkan tenaga dalamnya, atau lebih tepatnya memulihkan jiwanya yang terguncang setelah kejadian tadi.
Setelah beberapa menit menenangkan diri, Chen Khu kemudian berdiri lalu mengeluarkan pedang halilintar miliknya.
"pertama kamu perhatikan gerakan saya, baru setelah itu kamu boleh mencobanya " ujar Chen Khu perlahan.
Setelah menarik nafas panjang Chen Khu kemudian mulai mengayunkan pedangnya. Awalnya gerakannya lambat, memberi waktu pada Xie Annchi untuk mengingatnya, dan seiring berjalannya waktu, gerakan Chen Khu yang mulai larut pada tarian pedangnya menjadi sangat cepat yang bahkan tidak bisa diikuti oleh mata Xie Annchi.
Xia Annchi sangat takjub dengan kelihaian Chen Khu memainkan pedangnya,meskipun matanya belum mampu mengikuti sebagian gerakan Chen Khu yang sangat cepat tapi dia tetap memperhatikan dengan seksama.
Sampai akhirnya Chen Khu berhenti dan langsung menyarungkan pedangnya.
"Itu semua gerakan dasar..kamu sekarang boleh mengulanginya!!" ujar Chen Khu lalu mengeluarkan sebuah pedang dari dalam jubahnya dan diberikan pada Xie Annchi.
Xie Annchi kemudian mengulangi gerakan yang telah diperlihatkan oleh Chen Khu yang sempat terekam dalam ingatannya, sampai pada saat Chen Khu melakukan gerakan cepat Xie Annchi akhirnya mematung.
"Kenapa tidak dilanjutkan..?? " tanya Chen khu.
"gerakan kakak tadi terlalu cepat, aku tidak bisa melihatnya apalagi mengingatnya " jawab Xie Annchi.
Mendengar jawaban Xie Annchi Chen Khu kemudian tersadar kalau Ilmu Pedang Halilintar yang diperoleh dari kitab Dewa Naga Khayangan tidak boleh dipelajari oleh wanita.
"apa yang kulakukan..??!! bagaimana aku bisa lupa tentang hal itu.?! gerutu Chen Khu dalam hati.
"Aah.. aku lupa.. kalau ilmu ini tidak boleh dipelajari oleh wanita, Lee Han pernah mengatakannya padaku " ujar Chen Khu lalu mengeluarkan sebuah kitab yang diberikan Lee Han yang terpajang pada dinding goa saat akan berpisah, dari dalam jubahnya.
"KITAB TARIAN DEWA PEDANG"
Meskipun belum pernah melatih ilmu pedang dari kitab yang dikeluarkannya, tapi Chen Khu pernah membacanya dan merasa kalau Xie Annchi akan cocok dengan kitab itu, meskipun ilmu yang diajarkan dalam kitab itu tidak setinggi kita Dewa Naga Khayangan.
Chen Khu kemudian memberikan kitab tersebut pada Xie Annchi untuk dipelajari. Chen Khu merasa, Xie Annchi akan mampu berlatih sendiri dengan kitab tersebut dengan tingkatan pendekar yang dimilikinya saat ini.
"Sungguh aneh.. berlatih bersama dengan kitab yang berbeda " Chen Khu membatin.
harta rampasan perang dibahas tiap kali mwnang, mosok gak pwenah ambil harta rampasan tapi reeus menwrus keluarkan koin dlm jml besar buat ganti rugi... padahal murid sekte kere...