NovelToon NovelToon
Cinta Tak Terungkap

Cinta Tak Terungkap

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:333.8k
Nilai: 4.9
Nama Author: an-nashihah

Namaku Hilya Nafisah. Lahir dari keluarga sederhana dipelosok desa. Mendapat jodoh diperantauan dengan orang kaya raya. Hidup berkecukupan, semua yang ku inginkan terpenuhi.

Namun hidup tidak selalu melulu tentang uang. Aku mendapat suami yang kaya harta namun miskin hati. Selalu cuek dan dingin serta selalu mengabaikan ku. Akankah aku kuat untuk terus bertahan? Memilih cinta atau harta?

dimanakah aku akan menemukan kunci bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon an-nashihah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makan Bakso

"Aku harap ini awal yang baik." Ucapku berharap.

"Baik untuk apa? Emang apa yang dimulai." Tanyanya bingung dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Ndok, ini baksonya sudah siap. Katanya suamimu sudah lapar." Panggil ibu dari luar. Cepat sekali ibu buat bakso, meskipun pentol baksonya emang sudah jadi sih.

"Iya , Bu." Jawabku sedikit teriak agar terdengar. Padahal bicara biasa juga dengar disuasana sehening pagi hari. Belum banyak yang mulai aktifitas, beberapa anggota keluarga yang lain memilih untuk naik ketempat tidur lagi, walau hanya untuk sekedar berbaring memaikan ponsel.

"Tu dipanggil ibu. Katanya lapar tadi." Kataku pada mas Faris. Tak memberi jawaban akan pertanyaannya tadi.

"Ya aku juga dengar ibu memanggil. Telingaku masih normal. "Jawabnya pelan dan duduk lebih mendekat padaku." Jawab dulu pertanyaan ku tadi. Baik dalam mengawali apa?" Tanyanya dengan nada serius.

"Mengawali hari lah." Ku berdiri dan melepas mukenah yang dari tadi masih aku pake. Serta melipat sajadah yang masih tergelar.

"Ayok makan dulu. Nanti kalo udah dingin lagi nggk enak." Ajakku pada mas Faris yang masih betah duduk dilantai.

"Ayuk." Beranjak untuk mengikutiku keluar dari kamar.

Ku lihat ibu masih asik sendirian didapur. Padahal biasanya istrinya bang Siddiq pagi-pagi sudah rajin menemani ibu memasak dan berberes.

"Mana baksonya,Bu? Katanya sudah siap?" Tanyaku saat mendekati ibu. Dan belum ada sajian bakso yang siap makan. Sedangkan mas Faris memilih duduk dikursi meja makan yang masih seruangan dengan dapur, yang memang lumayan besar untuk ukuran dapur didesa.

"Sudah matang semua. Kuah sudah mendidih, bakso juga sudah matang, dan mie juga sudah siap itu, bawang goreng ada dikulkas." Jelas ibu sambil menunjuk satu-persatu wadah yang disebutkan tadi. "Racikkan untuk suamimu dan daun seledri, sambal, kecap dan saos sudah ada dimeja." Lanjutnya lagi.

Perintah ibu membuatku garuk-garuk kepala. Aku mana pernah menyiapkan beginian? Biasanya langsung makan aja. Lagian ibu buat bakso juga baru kali ini. Jadi waktu dipanggil sudah siap ,kirain sudah tersaji dalam mangkok seperti makan di warung , kafe ,atau restauran.

Ku lirik mas Faris yang duduk dikursi sambil memaikan hp. Menunggu makanan tersaji. Aku mencoba meraciknya untuk mas Faris. Tak susah, karna semua sudah tersedia disini. Siap juga akhirnya. Dan ku letakkan dimeja depan mas Faris.

" Ayuk kemana, Bu?" Tumben Ayuk iparku yang rajin jam segini belum masuk dapur.

"Mau kemana lagi pagi-pagi begini?" Pertanyaan malah dijawab dengan pertanyaan lagi. Sebenarnya aku mungkin yang salah tanya. Karna memang ayukku itu bukan orang yang suka jalan-jalan atau keluar pagi hari.

"Maksudnya kok belum nampak." Ralatku pada pertanyaan.

"Tadi sudah kesini. Tapi sudah tak ada kerjaan lagi. " Jawabnya sambil mematikan kompor dan duduk bergabung denganku dan mas Faris.

"Kan ada yang rajin pagi-pagi sudah beres-beres." Jawabnya sambil tersenyum melihatku.

"Kamu nggk ikut makan?" Tanya mas Faris setelah membumbui bakso dengan kecap dan sambal,dan melihatku hanya duduk menemaninya.

"Ikutlah makan Temani suamimu! Jadi orang romantis sedikit lah." Malah ibu yang menjawab geregetan yang melihatku hanya duduk menemani.

"Aku belum lapar kok." Jawabku yang memang benar sih. Tak ada sedikitpun rasa lapar. Yang ada bahagia karna ternyata Iedul Fitri ini aku bisa merayakannya bareng suami, dan sikapnya mulai tak sedingin dulu.

"Kalian emang biasanya begini atau karna malu ada ibu nie?" Tanya ibu menyelidik, yang melihat ku dan mas Faris yang tak seromantis anak-anaknya yang lain.

"Ayok makan, ini porsi banyak lo." Mas Faris menggeser mangkok bakso yang sudah diaduk. Mengambil sendok lagi dari tempat yang memang sudah tersedia dimeja dan memberikannya padaku. Aku rada ragu untuk menerimanya.

"Udah jangan malu-malu. Ibu juga pernah muda kali. Lebih romantis lagi." Goda ibu kemudian berlalu meninggalkan kami saat aku sudah menerima sendok,dan ikut memakan bakso. Makan berdua dalam satu mangkok membuat kami duduk sangat dekat. Membuatku sport jantung saat mata kami saling bertemu.

"Mas kenapa jadi berubah gini?"Tanyaku disela-sela makan.

"Emang power ranger berubah? Aku masih tetap Faris." Jawabnya cuek tetap memakan dengan lahap. Memang bener-bener kelaparan suamiku ni.

"Sikap mas sedikit berubah ama aku. Biasany kayak menghindar kalo diajak bicara atau membahas sesuatu." Jelasku .

"Mas mau cari perhatian didepan keluarga besarku?" Tanyaku saat tak mendapatkan respon.

"Uhuk .... Uhuk." Kaget karna mendengar pertanyaan ku, membuat mas Faris tersedak. Cepat-cepat aku menuang air minum dalam gelas dan memberikan padanya.

"Hati-hati kalo makan. Masih banyak tu kalo mau nambah lagi." Nasehatku setelah memberinya minum.

"Kamu ingin tahu alasannya?" Tanyanya setelah batuknya mereda. Dan mangkok sudah kosong.

"Iya. Apa?" Memasang wajah penasaran, siap mendengarkan.

"Ambilkan lagi dulu baksonya. Aku belum kenyang." Perintahnya menunjuk mangkok kosong dengan dagunya. Membuatku mendengus kesal.

"Ini karna kelaparan atau memang enak sih?" Tanyaku sambil berdiri untuk meracikkan bakso lagi.

"Dua-duanya."

"ini. Masih banyak lagi kalo mau nambah. Ibu buat sepesial buat mas. Sebelumnya belum pernah bikin bakso." Ku letakkan bakso didepannya untuk mempersilahkan makan lagi.

"Sepesial buatan mertua. Sepesial buatan istri kapan ya?" Tanyanya sambil melihatku dan mengedipkan mata sebelahnya. Ah sungguh bikin gemes dan sekaligus pengen tertawa. Ternyata suamiku bisa ganjen juga ya.

"Aku tak pandai masak." Jujurku. "Trus tentang yang tadi apa alasannya?" Tanyaku mengingatkan.

"Beneran ingin tahu jawabannya?" Meletakkan lagi sendok yang dipegang.

"Hemm.." Lama-lama malas lah.

"Ya alasannya .... Karna disini aku tak akrab dengan yang lain untuk diajak bicara. Kenalnya cuma sama kamu. Jadi mu bicara ma siapa lagi kalo nggk sama kamu." Jawabnya sambil tertawa yang membuatku keki, dan beranjak untuk meninggalkannya untuk makan sendirian.

"Mau kemana?" Menarik tanganku untuk mencegahku pergi. Dan memintaku untuk duduk kembali.

"Mau mandi. Siap-siap untuk sholat Ied." Jawabku cemberut karna marah atas jawabannya tadi.

" Makan dulu. Tadi kamu cuma makan dikit lo." Menggeser kembali mangkok yang masih penuh.

"Aku sudah kenyang." Tolakku.

"Mau aku suap?" Tanyanya sambil menyodorkan sendok yang penuh kedepan mulutku.

"Nggk." Menepis sendok pelan. Baru tadi aku merasa bahagia dan berharap akan ada harapan untuk hubungan yang lebih baik. Eh langsung terjatuh dan pecah harapannya.

"Ya udah aku habisin aja. Tapi tungguin disini." Menarik kembali mangkok agar lebih dekat padanya, dan memakan dengan lahap. Aku hanya melihat tanpa minat bertanya lagi. Lagi sedih ,marah ,dan kecewa berkumpul jadi satu.

Setelah menemaninya makan kami mandi bergilir dan bersiap-siap untuk Sholat Ied yang diadakan dilapangan. Yang lain padahal mandi bareng dengan pasangan karna menghemat waktu mengantri. Maklum cuma ada satu kamar mandi.

Tapi aku?

1
Whatea Sala
Sepertinya lebih takut sama suami dari pada ke tuhan😁
Whatea Sala
Senang banget bertahan dan tersiksa,yang pasti sudah tau ujungnya semua buang2 waktu dan akan sia sia,jangan jadi orang bodoh dengan terus bertahan,cobalah sayangi dan hargai diri sendiri.
Wiwin Winarti
waw keren orang Bengkulu Rafflesia Arnoldi, bagus ceritanya, saya suka
Randa kencana
ceritanya sangat menarik
DearPE
Baper aku thor
DearPE
Udah gak tau mau ngomong apa yang pasti aku sukaaaa bangettt kak author baru sampai sini aja aku udah dibuat kehabisan kata-kata bacanya saking bagusnya
Wasiatik Atik
kasihan hilya
Afni Marlina
asyiik ceritanya semangat Thor
Elisa Damayanti
tamate mosok nggantung....
Agoes Feri SH
bonus chap donk thor
Nurhayati Yesha
ya Allah..sedih bget baca nya.dari SE kian purnama bru ada yg komen
Elisa Damayanti
y Allah kasihan nya si Aidan.... semoga cepat sembuh tuh ummi sm abinya..
Elisa Damayanti
g rampung2 cobaan ne hilya....
Agoes Feri SH
up donk
Agoes Feri SH
lagi othor
Agoes Feri SH
othor up donk
Elisa Damayanti
bang za payah nih....
Agoes Feri SH
othor up donk
Agoes Feri SH
lanjut thor
Agoes Feri SH
lanjut othor sayang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!