Cinta Tapi Menyakitkan, adalah kisah sebuah rumah tangga Anindita Putri dan Elnino Karisma.
El menikahi Anin karena ingin melupakan istrinya yang meninggalkan dirinya begitu saja. Sementara Anin karena sudah jatuh cinta pada El, akhirnya mau dinikahi.
Saling menyakiti bermula ketika Anin tahu bahwa El sudah pernah menikah, dan belum menceraikan istri pertamanya. Pernikahan untuk El adalah sebuah cara untuk melupakan istri pertamanya, dan belum memiliki perasaan cinta pada sosok Anin yang membuat Anin sangat tersakiti.
Anin berusaha untuk bangkit sendiri, dalam sakit hatinya, tiba-tiba banyak sosok pria dengan tulus mencintai Anin dan membuat Anin merasa di cintai, tapi dalam kondisi Anin tidak bisa bercerai dengan El.
Penasarankan bagaimana akhirnya kisah cinta Anin dan El? Akankah El kembali pada istri pertamanya, atau akan tetap bertahan dengan Anin, dan mencintainya?
Yuuuk baca Novel ini sampai akhir 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Felicialetha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bandara
Waktu sudah menunjukan pukul 7 malam, tepat pesawat yang ditumpangi Rais dan Anin tiba di Bandara. Tanpa Anin tahu, Pak Hendra juga El sudah menunggu di pintu kedatangan.
Rasa berdebar tak karuan jelas terasa dalam hati El, ia takut Anin tak akan lagi menerimanya.
Mata El dan Pak Hendra terus mencari-cari, hingga akhirnya terlihat Anin dengan dress berwarna merah maroon dengan motif bunga kecil, membuatnya sangat terlihat cantik, dan Rais dengan jeans chino juga kaos berwarna hitam sangat membuatnya terlihat casual.
"Nin.." ucap Pak Hendra sembari menghampiri Anin dan Rais yang sedang berjalan itu.
Anin terhenyak kaget dengan melihat ayahnya bersama El ada di Bandara. Begitu juga dengan Rais yang terkaget dengan kehadiran El.
"Nin.." sapa El dengan suara lirih
"Papa kenapa kesini?" tanya Anin tanpa menghiraukan El yang menyapanya
Pak Hendra mendekati Anin, mengelus lembut kepala putrinya itu. Rais hanya terdiam, ia sangat salah tingkah di hadapan El.
"Papa mau jemput kamu.. Kita ngobrol dulu sebentar yaa disana" ucap Pak Hendra sembari menunjuk cafe yang ada di sebrang Bandara itu
"Is kita ngobrol dulu ya.." lanjut ucap Pak Hendra pada Rais
"Iya Pak.." jawab Rais singkat
Anin berjalan bersama dengan Pak Hendra, Rais mengikuti dibelakang mereka, begitu juga dengan El, tak ada sepatah katapun diantara mereka.
Sesampainya di cafe, Pak Hendra langsung mengajak duduk disebuah kursi berempat paling pojok berharap tak banyak orang yang medengar percakapan mereka.
Pak Hendra mempersilahkan semuanya untuk duduk.
Pak Hendra di tengah antara Anin dan El, sementara Rais disamping Anin.
"Maaf Pak, apa yang mau dibicarakan ya?" tanya Rais sebenarnya ia ingin pergi tak mau mendengar bila akan melukai perasaannya
"Tentang Anin dan El.." jawab Pak Hendra menatap dalam kearah Anin
"Kalau begitu saya pamit saja, ini pasti bersifat keluarga sekali.." ucap Rais berusaha untuk menghindari
"Jangan Is.." ucap Anin merengek, sembari menahan tangan Rais agar tidak pergi
"Tunggu Is.. Kamu sudah masuk dalam permasalahan ini saya rasa, kamu juga harus tahu" ucap Pak Hendra juga menahan Rais
Rais kembali duduk di samping Anin, ia benar-benar tak habis pikir Anin akan seperti itu dihadapan El yang masih suaminya itu.
El menatap tajam pada Rais yang ditahan pergi oleh Anin. Tak lama seorang pelayan datang dengan membawakan 4 minuman.
"Langsung saja yaa.. Nin apa benar kamu hamil? Hamil anak El?" ucap Pak Hendra memulai pembicaraannya
Anin begitu tercengang mendengar pertanyaan Papanya itu, ia tak tahu harus bagaimana.
"Jawab Papa jujur Nin.." lanjut ucap Pak Hendra
Anin masih saja terdiam, kali ini ia menundukan pandangannya karena tak mampu menatap Papanya itu, karena Pak Hendra selalu tahu kebohongan dari mata anaknya itu.
"Sayang, apa benar kamu hamil?" tanya El memastikan karena Anin hanya terdiam, sembari memegang tangan Anin yang tersimpan di atas meja itu
Anin seketika melepaskan genggaman El, ia merasa tak sudi jika harus kembali disentuh oleh El.
"Iya aku lagi hamil, usia kandungan aku kini 12 minggu.." jawab Anin dengan suara getirnya
Pak Hendra terdiam tak mampu lagi berkata-kata, begitu juga dengan El. Ia tak tahu harus senang atau sedih, karena terlihat jelas Anin sangat membencinya sekarang.
"Nin kenapa gak bilang sama Papa? Kamu tahukan wanita hamil itu tidak boleh bercerai, itu tidak sah!" ucap Pak Hendra penuh kesedihan
"Maafin Anin Paa.. Anin sudah egois, Anin mementingkan diri Anin sendiri, hanya memikirkan rasa sakit hati Anin.. Anin gak sanggup untuk berbagi suami, Anin juga tahu Erina lebih berhak atas El ayah kandungnya!" ucap Anin dengan mendengus kesal
"Tapi kamu juga lagi hamil anak aku Nin! Anak kita butuh orangtuanya Nin.." ucap El memperjuangkan kebersamaanya
"Aku gak bisa kita sama-sama lagi, El! Rasa kecewa aku sudah membelenggu rasa buat kamu El!" ucap Anin dengan mata berkaca-kaca
"Bukan begitu Nin, tapi memang tidak boleh bercerai saat kamu sedang hamil beginin Nin.. Kamu tidak boleh stres juga kasihan anak kalian.." ucap Pak Hendra menengahi
Rais hanya bisa terdiam, ia jadi salah tingkah diam diantara pembicaraan sensitif ini.
"Aku terlalu sakit, Pa untuk kembali sama El.." ucap Anin menangis dalam pelukan Papanya itu
Pak Hendra terus menenangkan Anin yang ada dalam pelukannya itu. Rais tak mampu rasanya melihat Anin menangis tersedu-sedu seperti itu, hatinya sangat sakit rasanya, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa.
"Maafin aku, sayang.. Aku janji untuk memperbaiki semua kesalahan ini, Aku janji akan lebih mengutamakan kamu" ucap El sembari berusaha memegang tangan Anin namun tetap Anin tak ingin disentuh oleh El
"Tolong sayang, demi anak kita.." lanjut ucap El
Anin masih menangis sesegukan dalam pelukan ayahnya itu. Sementara Rais menahan rasa cemburunya yang mulai terasa panas membakar.
"Nin, bertahan dulu yaaa setidaknya sampai kamu melahirkan.. Sekaligus kesempatan waktu untuk memperbaiki semuanya" ucap Pak Hendra ingin mempertahankan rumah tangga Anin dan El
Rais semakin merasakan panas yang membara dalam hatinya, benar saja semua ini membuatnya sakit.
"Is.. Kamu relakan kalau Anin memberikan waktu untuk El sampai Anin melahirkan, setelah itu semua keputusannya ada pada Anin.." ucap Pak Hendra pada Rais
"Kamu harus mengerti, Anin tidak mungkin bercerai dalam keadaan hamil begini, Is.." lanjut ucap Pak Hendra
"Iya Pak, Rais sangat paham. Rais gak apa-apa kok Pak, yang terpenting semua kebaikan untuk Anin. Rais juga bahagia kalau Anin bahagia.." jawab Rais dengan perasaan sesak di dadanya
"Tapi aku sayang kamu Is.. Kamu selalu bisa menjaga hati aku.." ucap Anin tiba-tiba dengan air mata yang masih membasahi pipinya
"Aku tahu, Aku tak pantas memiliki kamu Is.. Karena Aku sudah bekas istri orang lain, bahkan sedang hamil. Jika waktu bisa diputar, Aku ingin lebih cepat bertemu kamu lagi, Is.." lanjut Anin sembari memegang tangan Rais
Rais menatap dalam mata Anin yang masih terus mengalirkan air matanya. Akhirnya ia mendengar balasan perasaannya dari Anin, walau kini tak mungkin lagi untuk memiliki Anin seutuhnya.
Rais mencoba tersenyum untuk menenangkan Anin.
El langsung terbakar api cemburunya, wajahnya memerah mendengar ucapan Anin itu. Tangannya mengepal seketika, mencengkram kuat seolah meluapkan emosinya.
Hatinya merasa tak terima dengan kenyataan ini, tapi ia juga harus sadar, ia sudah lebih dulu menghancurkan perasaan Anin.
"Nin bahagialah.. Aku iklaskan kamu.. Kamu harus bisa berdamai dengan diri kamu sendiri, demi anak kamu.. Aku janji sama kamu, aku bakal selalu ada buat kamu, walau kita gak akan bisa lagi bersama. Aku akan selalu menjadi sahabat kamu.. Aku janji" ucap Rais matanya menahan berat air mata yang mulai menggenang.
Anin hanya terdiam rasanya tak mampu untuk berkata apapun, rasanya tak ingin jauh dengan Rais.
Namun kenyataan harus membuatnya berjauhan dengan Rais.
"Aku pamit.. Kamu baik-baik ya, jaga diri dan kehamilan kamu.. Sehat-sehat" ucap Rais sembari memaksakan senyumnya dengan berat ia berusaha melepaskan genggaman tangan Anin yang sangat erat itu
"Pak, saya pamit.." ucap Rais pada Pak Hendra, lalu menyalami Pak Hendra dengan sopannya, walau tangan kirinya masih digenggam Anin dengan erat
"Saya pamit" ucap Rais pada El, lalu bersalaman dengan El
"Makasih yaaa Bro.." ucap El sembari menerima jabatan tangan Rais itu
Rais hanya mengangguk, ia masih berusaha untuk melepaskan tangan Anin yang menggenggam erat tangannya itu.
"Aku pulang ya Nin.." ucap Rais lalu berhasil melepaskan genggaman tangan Anin dan berjalan menjauh dari hadapan Anin, Pak Hendra dan El sembari menarik koper miliknya itu
Air mata Anin masih saja mengalir, rasanya ia tak mampu untuk kehilangan sosok Rais, sosok yang mampu membuat hatinya bangkit lagi, sosok yang membuat dirinya merasa di cintai seutuhnya itu.
El terus saja memperhatikan Anin yang sangat bersedih itu, hatinya seperti ditusuk-tusuk merasakan sakitnya kejujuran perasaan Anin pada Rais.
Pak Hendra terus berusaha menenangkan Anin, dan mendekapnya erat. Ia sungguh merasa bersalah menjauhkan Anin dengan Rais, namun apalah daya ini memang yang seharusnya ia lakukan.
Pak Hendra lalu mengajak Anin dan El untuk pulang kerumahnya. Mau tidak mau Anin harus kembali menjalani kisah rumah tangganya dengan El.
Sesampainya dirumah, Anin langsung masuk kedalam kamarnya. Tubuhnya terasa sangat lelah, ia membaringkan tubuhnya itu.
Sementara El terduduk diruang tamu, ia merasa canggung terhadap Anin.
"Pa.. Kita makan malam dulu ya, Papa mau makan apa? Biar El pesan lewat send food.." ucap El pada Pak Hendra yang baru saja membawakan segelas air minum untuk El
"Papa apa aja El.. Sana kamu perhatikan istri kamu" ucap Pak Hendra memberi kode agar El dan Anin segera berbaikan
El mengangguk, dengan perasaan canggungnya ia langsung menghampiri Anin di kamarnya itu. El terduduk disamping Anin.
"Sayang.. Kita makan malam dulu yuu, kamu pasti belum makan.." ucap El dengan lembut, memaksakan kecanggungannya pada Anin
"Aku mau sop Kaki sapi" jawab Anin datar, mengungkapkan keinginannya
El mengangguk, lalu dengan cepat mencarinya di restoran yang ada di aplikasi send food.
Tak butuh waktu lama, El sudah mendapatkannya dan segera memesan 3 bungkus sop kaki sapi.
"Sop Kaki sapi aja yang? Apa mau tambah yang lainnya?" tanya El sebenarnya merayu agar Anin mau berhadapan dengannya
"Hemmm.." jawab Anin dengan singkatnya
El hanya tersenyum mendengar jawaban Anin.
"Kenapa mesti lapar sih.. Anak ku sayang, kenapa ada kemauan juga lagi ini lidah.. Biarin deh sama ayahnya ini" ucap Anin sembari mengelus perutnya yang masih datar itu
20 menit berlalu, kurir send food lalu datang membawakan pesanan El. Tanpa Anin tahu, El memesan makanan lainnya juga. Membuat Anin semakin merasa tertarik dengan semuanya itu.
Anin melahapnya tanpa menghiraukan El, ia melupakan malunya karena memang sangat lapar, semenjak hamil, nafsu makan Anin meningkat drastis.
Malam semakin larut, Pak Hendra sudah beristirahat di kamarnya. Rumah yang hanya memiliki dua kamar itu memaksa untuk Anin harus rela berbagi kamar kembali dengan El yang masih suaminya itu. Tentu saja El sangat senang, namun tidak dengan Anin. Anin begitu merasa tersiksa harus tidur bersama kembali dengan El di kasur yang tidak terlalu besar itu. Anin memilih segera memejamkan matanya dan membelakangi El begitu saja.
"Sayang, aku tahu kamu belum nyenyak.." ucap El mencoba membuka obrolan
"Maafin aku ya sayang, aku janji bakal lebih baik lagi. Aku gak mau kehilangan kamu, dan anak kita.. Walau kemarin aku sempat memilih Elvira tapi cinta aku tetap buat kamu.." lanjut ucap El
Anin terdiam, tapi telinganya mendengar semua ucapan El dengan baik.
"Kamu tahu gak? Elvira juga yang membuat aku membatalkan untuk bercerai dengan kamu.. Dia sudah sadar untuk merelakan aku dengan kamu, dia bilang dia juga akan tetap baik-baik saja tanpa aku seperti dulu.. Dia juga yang sudah memberi tahu akan kehamilan kamu.." ucap El panjang lebar
Anin mendengarkannya baik-baik, ia begitu tercengang dengan pernyataan El itu. Ia tak menyangka bahwa Elvira yang melakukan itu semua. Ingin rasanya ia bertanya akan penasarannya, tapi ia ragu. Anin terus memilih untuk tidur.
"Kamu pasti lelah sekali bukan? Ya sudah.. Selamat tidur sayang.." ucap El dengan mesranya