Cerita ini hanyalah karangan fiktif belaka, jika ada kesamaan tempat dan kejadian, berarti othor adalah cenayang yang hebat yang bisa menerawang. eyaaa ... canda kaleee.
Blurb:
"Eh ... asal loe tahu saja, mau ngambek mau nggak, gue tetep tampan kok!" kilah Rey.
"Kan kalau loe ngambek, loe nggak tampan Rey! Jadi jangan ngambek ya, biar tampan!" rayu Jihan lagi seraya mengerjapkan kedua matanya.
"Idih!! Loe bilang gue tampan juga nggak ikhlas buat apa?" timpal Rey.
"Ihh ... loe kok ngeselin sih! Kan gue udah nglakuin apa yang loe mau. Masa iya gara-gara gue salah sebut loe marah dan ga bantu gue, jahat loe!" rengek Jihan dengan mimik sedih dan kesal.
Rey yang di angkat adik oleh Julia sang mama dari Jihan, tidak pernah akur sedikitpun dengan gadis itu, bukan tak akur benci hanya tak akur karena belum saling mengerti.
Setting tempat bukan di indo ya, trus agama juga ga othor cantumin, takute nanti bertentangan dengan norma/ajaran yang ada, anggap aja ini cerita fiktif yang ada di dunia novel halu dan ga mungkin ada di dunia nyata.
Pict from Google, editing by Din Din
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon din din, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Permintaan maaf
"Lalu bagaimana dengan Tisa? Loe lupa kalau masih pacaran sama dia?" tanya Jihan yang teringat akan status Rey.
"Sepertinya hubungan gue dengan Tisa udah berakhir sesaat sebelum loe jatuh ke sungai. Mungkin itu yang bikin Tisa marah serta sampai membuat masalah dengan loe," ungkap Rey.
"Begitu, ya!"
"Hu um."
Karena Jihan sudah pulih sepenuhnya, gadis itu sudah diizinkan pulang di hari berikutnya. Namun tentu saja dia menolak pulang, karena apa? Pastinya tidak rela jika para perawat terus melirik atau bersikap centil pada Rey, sehingga Jihan menjadi posesif bahkan ia rela menunggui pemuda itu 1x24 jam full.
Aduh, bener-bener nih Jihan. Maklumlah, namanya juga pasangan baru.
"Iya, Rey besok sudah boleh pulang. Mamah kesini besok saja, aku disini yang akan menjaganya." Jihan tengah melakukan panggilan dengan Julia.
Begitu panggilan itu selesai, Jihan duduk di kursi sebelah ranjang Rey, ia mengambil sebuah apel kemudian mengupasnya untuk pemuda yang kini berstatus pacarnya.
"Je, Loe udah boleh pulang dua hari yang lalu, tapi loe ga pulang. Memangnya loe ga capek dan bosen disini terus? Udah gitu tidur disini pasti ga nyaman," ujar Rey.
"Nggak kok, gue seneng disini," ucap Jihan, tangan dan matanya masih fokus dengan apel yang ia kupas. Hingga ia teringat akan sesuatu. "Tunggu! Apa jangan-jangan loe nyuruh gue pulang biar bisa ngrayu tuh para perawat. Ngaku nggak! Iya 'kan!" Jihan menatap tajam kepada Rey seraya menunjuk pisau ke arahnya.
"Ya ampun, Je! Pikiran loe negatif mulu. Gue seneng loe disini, tapi loe juga baru sembuh. Gue cuman khawatir sama loe," jelas Rey.
Jihan bangkit kemudian berpindah duduk di tepian ranjang, ia memotong apel tanpa melihat, tatapannya masih menyelidik ke dalam mata pemuda di hadapannya, membuat Rey sampai menelan saliva karena sorot mata Jihan yang tidak biasa.
"Oke, gue percaya." Jihan langsung mengalihkan pada apel di tangannya.
Rey tersenyum lega, ia membuka mulutnya ketika Jihan menyuapinya dengan sepotong apel.
"Pokoknya gue nggak rela kalau loe tebar pesona sana-sini, jadi kurangin tuh jiwa narsis loe yang akutnya minta ampun." Jihan mengunyah kasar potongan apel yang ada di mulutnya karena kesal.
"Iya, My honey bunny sweetie," seloroh Rey.
"Idih, jangan panggil gue gitu! Jadi merinding gue kalau loe bilang kayak gitu." Bahu Jihan bergidik lalu tertawa yang kemudian di ikuti oleh Rey.
Beberapa menit kemudian terdengar suara ketukan yang dibarengi dengan suara pintu terbuka. Jihan menengok ke arah pintu, raut wajahnya langsung berubah membuat Rey penasaran. Gadis itu langsung berpindah posisi duduk, ia mensejajari Rey dan menautkan jari jemari mereka, membuat Rey semakin bingung.
Suara derap langkah pelan terdengar, itu bukan sepasang kaki tapi dua. Rey terkejut melihat Arya dan Tisa datang kesana, di tatapnya Tisa yang terlihat tertunduk bersembunyi di balik bahu Arya.
"Rey, bagaimana kabarmu?" tanya Arya yang sudah berdiri di ujung ranjang.
"Sudah lebih baik, besok boleh pulang," jawab Rey dengan seulas senyum.
"Ada yang ingin Tisa sampaikan ke kalian," ucap Arya seraya meraih tangan Tisa menggesernya agar bisa berdiri tepat disisnya.
Jihan mempererat tautan jemarinya, matanya menatap tajam wajah Tisa yang terlihat guratan rasa takut. Rey melirik Jihan, ia tahu pasti gadis itu masih marah dengan apa yang Tisa lakukan.
Tisa memberanikan diri, ia maju satu langkah tepat berada di depan Arya. Satu tangan ia gunakan untuk memeluk lengan lainnya, menggigit bibir bawahnya sebelum mengucapkan kata yang ingin ia sampaikan. Tisa meraup udara sebanyak-banyaknya dan ia mulai membuka mulutnya.
"Aku mau minta ma'af pada kalian, aku tahu jika tindakanku memang keterlaluan, tapi aku benar-benar tidak bermaksud melakukan itu sungguh itu tidak sengaja. Aku harap kalian mau mema'afkan tindakanku, jikalau memang aku pantas dihukum, maka hukum saja!" Pundak Tisa bergetar, ia masih menundukan kepala.
Rey menoleh pada Jihan, gadis itu memalingkan wajahnya.
"Je!"
"Apa?" tanya Jihan dengan nada sedikit tinggi.
"Ma'afkan dia, ya!" pinta Rey.
Rey mengangkat tautan jari jemari mereka kemudian ia mencium punggung tangan gadis itu mencoba untuk membujuknya. Jihan akhirnya menoleh, ditatapnya mata pemuda itu sebelum ia mengalihkannya ke arah Tisa.
"Karena Rey yang minta. Oke, gue maafin loe!" Jihan akhirnya memberi maaf pada Tisa.
Tisa langsung mendongakkan kepala menatap Rey dan Jihan dengan rasa tidak percaya, ia kemudian menoleh pada Arya yang sudah memegang pundaknya.
"Terima kasih," ucap Tisa. Jelas ada rasa lega tersirat di raut wajah gadis itu, sebenarnya Tisa bukanlah gadis yang jahat hanya saja karena terbakar cemburu sesaat membuatnya lupa diri dan melakukan hal di luar nalar.
"Gue mau izin sama loe, Rey!" Arya mensejajari Tisa, ditautkannya jari jemari mereka.
"Apa?" tanya Rey bingung.
"Izin agar gue bisa bersama Tisa," ucap Arya.
Rey mengulas senyumnya, lalu ia berkata, "Hubungan antara gue sama Tisa awalnya hanyalah sebuah kesalahan, dan gue pun udah bilang sama dia kalau kasih kebebasan buat dia milih mana yang ingin ia lakukan."
"Maaf ya, Sa! Loe cuman buat pelampiasan sesaat gue buat menutupi rasa cemburu gue pada Jihan," imbuh Rey yang kemudian menatap Jihan yang merona karena ucapannya.
Senyum Arya maupun Tisa sama-sama mengembang, akhirnya mereka bisa secara terbuka memperlihatkan hubungan mereka.
"Ya, kalian yang udah punya pasangan. Nggak mikirin gue yang jomblo, ya?" tanya Jason yang ternyata sudah berada di dalam ruangan itu.
"Jas!" sapa Rey, ia menatap Jihan yang terlihat sedikit canggung dengan kedatangan Jason.
"Gimana keadaan, loe?" tanya Jason yang langsung duduk di tepian ranjang berhadapan dengan Jihan. Ia menatap bagaimana Jihan menggenggam erat jemari Rey sebelum akhirnya ia mengulas senyum.
"Sudah baikan," jawab Rey singkat.
Teman, kekasih, dan mantan duduk bersama. Deg-degan nggak sih? Kalau aku sih, iyes!
Akhirnya Jason mengajak berbincang biasa, mencoba menghilangkan rasa canggung di antara mereka. Bagaimanapun tidak mudah bagi dirinya berhadapan dengan mantan yang kini jadi kekasih temannya, begitu pula dengan Jihan yang berhadapan dengan mantan dan kekasihnya adalah teman mantannya. Duh, ribet banget 'kan? Tapi itu sudah menjadi keputusan Jason untuk merelakan, seharusnya kini tidak masalah bagi dirinya.
*
*
*
*
*
*
*
*
Note Author:
Terima kasih atas dukungannya, Saya sangat menghargai setiap like koment kalian, karena like koment itu adalah sebuah Mood Booster untuk saya. lope lope sekebon duren dan petai 😘😘
Oh ya, kalau berkenan vote seikhlasnya ya ... hiji pun Alhamdulillah, eh ... lupa, minimal 10 ya 😂😂😂. Dah gitu aja, makasih🙏🙏🙏.