NovelToon NovelToon
Dipungut Dan Sembuh

Dipungut Dan Sembuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Penyesalan Keluarga / Pernikahan Kilat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Meymei

Seumur hidup, “mengalah” adalah satu-satunya pilihan yang dimiliki Rana. Bagi sang ibu, kebahagiaan Rani, adik tirinya adalah prioritas, sementara Rana hanyalah penanggung jawab yang wajib memenuhi segala ambisi sang adik. Bahkan setelah bekerja, Rana tidak benar-benar merdeka; setengah gajinya dirampas untuk kebutuhan rumah dan biaya sekolah Rani. Tak jarang, ia harus memeras keringat lebih keras saat sang ibu menuntut tambahan dana secara mendadak.
Di tengah pengabaian dan rasa bakti yang mencekik, Rana terbiasa membungkam suaranya sendiri. Hingga suatu hari, sebuah tawaran tak terduga datang dari sosok yang tak pernah ia sangka,
"Apa kamu mau aku lamar?” - Pradika Setya
Pertanyaan itu bagaikan oase di tengah kecamuk yang sedang Rana hadapi. Sanggupkah Rana menyambut uluran tangan itu untuk lepas dari jerat keluarganya atau akankah pernikahan tersebut justru membawa masalah baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meymei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pencarian Rahasia

Bu Retno yang telah membeli dua porsi pecel lele dari warung depan, melangkah masuk ke dalam rumah bersamaan dengan kedatangan Rani yang baru saja turun dari boncengan sepeda motor temannya.

"Ibu dari mana?" tanya Rani sambil melepaskan sepatu sekolahnya di teras.

"Beli pecel lele. Mbakmu tidak masak, katanya sakit," sahut Bu Retno ketus sembari menenteng plastik kresek berisi bungkusan kertas minyak.

"Ya sudah, ayo makan, Bu. Aku lapar sekali. Tadi di sekolah tidak sempat jajan, jadi perutku sudah keroncongan," keluh Rani manja.

"Ayo."

Kedua wanita itu melenggang masuk ke dalam rumah, langsung menuju ke arah dapur tanpa berniat sedikit pun untuk menengok kondisi Rana di dalam kamar. Mereka berdua duduk berhadapan dan mulai menikmati makan siang bersama.

Sementara itu, Rana yang berada di kamarnya yang terkunci, menajamkan telinganya lekat-lekat. Ia sengaja menempelkan sisi kepalanya ke permukaan dinding kayu rumah yang berdekatan dengan dapur, mendengarkan dengan saksama setiap patah kata percakapan antara Bu Retno dan Rani di sela aktivitas makan mereka.

"Bagaimana laptopnya, apa sudah selesai diperbaiki?" tanya Bu Retno di sela kunyahannya.

"Sudah dari lama, Bu," jawab Rani enteng.

Bu Retno menghentikan gerakan tangannya sejenak, menatap anak bungsunya heran.

"Benarkah? Kenapa Ibu tidak pernah melihatmu memakainya di ruang tengah? Kamu malah belakangan ini selalu pakai laptop hitam yang katanya dipinjami dari Veri itu."

"Hush! Bu, jangan keras-keras bicaranya. Nanti Mbak Rana dengar dari kamarnya," bisik Rani panik, nadanya terdengar sangat penuh rahasia.

Bu Retno mendengus meremehkan.

"Dia tidak akan dengar. Mbakmu itu sedang sakit dan tidur mendengkur sekarang di kamarnya. Sudah, cepat cerita."

"Syukurlah kalau tidur..." Rani mengembuskan napas lega sebelum melanjutkan penjelasannya dengan nada bangga.

"Kata Mas Veri, laptop baru miliknya itu jauh lebih cocok dan bagus kalau aku gunakan untuk keperluan tugas-tugas sekolah dan persiapan ujian. Makanya, Mas Veri berinisiatif menukarnya dengan laptop lamaku."

"Jadi, sekarang Veri pakai laptopmu, begitu?" tanya Bu Retno memastikan.

"Iya, Bu."

"Lalu kalau Rana tahu bagaimana?"

Rani terkekeh pelan, nada suaranya terdengar sangat merendahkan eksistensi kakaknya.

"Mbak Rana tidak akan pernah tahu, Bu. Lagipula itu kan laptop model baru keluaran tahun ini milik Mas Veri pribadi, dan Mbak Rana juga tidak akan hafal dengan bentuk fisik laptopku yang lama. Jadi aman saja."

Di dalam kamar yang temaram, Rana yang sedari tadi mendengarkan seluruh bait percakapan antara ibu dan anak tersebut, seketika membekap mulutnya sendiri rapat-rapat dengan kedua belah telapak tangannya. Dadanya naik turun tidak beraturan, menahan hantaman rasa perih yang teramat sangat, hingga air matanya merebak tanpa bisa dibendung lagi.

Ternyata... kenyataannya jauh lebih kejam dari dugaan kasarnya selama ini. Veri tidak hanya sekadar tidak memiliki minat atau prioritas untuk membawanya ke pelaminan, melainkan pria itu telah meletakkan seluruh hati dan perhatiannya secara utuh kepada Rani; adik kandungnya sendiri.

Lagi dan lagi, Rana harus ditampar oleh kenyataan pahit yang sejatinya telah lama ia endus melalui tanda-tanda kecil, namun selalu berusaha ia ingkari demi menjaga sisa kewarasan jiwanya. Ditindas oleh darah daging sendiri, dan kini dikhianati secara emosional oleh pria tempatnya menaruh harapan. Rana merasa dunianya benar-benar runtuh dan tak bersisa.

Rana tak sanggup lagi mendengar kelanjutan tawa riang dari arah dapur. Ia melangkah mundur dengan lunglai, menutup kedua telinganya rapat-rapat dengan bantal, lalu memejamkan matanya kuat-kuat, membiarkan kegelapan fana mengubur seluruh luka hatinya.

Saat Rana kembali membuka sepasang kelopak matanya yang terasa sembap, jam wecker di mejanya menunjukkan pukul enam sore tepat. Suara sayup-sayup lantunan ayat suci Al-Qur'an yang berkumandang merdu dari corong pengeras suara masjid desa menyambut indra pendengarannya, menandakan waktu magrib segera tiba.

"Ternyata... aku bisa tidur senyenyak dan selama ini," gumam Rana lirih, suaranya terdengar serak di tenggorokan yang kering.

Ia perlahan turun dari tempat tidur, mencoba meregangkan otot-otot tubuhnya yang masih terasa kaku. Baru saja ia sempat merapikan helai rambutnya yang berantakan di depan cermin, suara ketukan pintu yang beruntun dan kasar dari arah luar kembali mengejutkannya.

Tok! Tok! Tok!

"Rana! Mau sampai kapan tidurnya? Ini sudah malam, kamu tidak berniat masak untuk makan malam?!" teriak Bu Retno dari balik pintu.

Klik.

Rana memutar kunci dan membuka pintu kamarnya sedikit.

"Ada apa, Bu?"

"Ini sudah magrib, cepat keluar dan masak malam! Ibu dan adikmu sudah lapar," perintah Bu Retno tanpa belas kasihan.

Rana menarik napas dalam-dalam, mencoba mempraktikkan taktik defensif Rani kembali.

"Aku masih terasa sangat lemas dan pening, Bu. Kepala rasanya berputar. Sekali ini saja, tolong Ibu yang masak atau beli sayur masak di luar," mohon Rana dengan volume suara yang sengaja dibuat parau dan bergetar.

Bu Retno melotot, menatap anak sulungnya tajam.

"Jangan banyak alasan kamu! Wajahmu masih terlihat baik-baik saja begitu, kok!"

Rana membalas tatapan ibunya dengan pandangan sayu yang dalam.

"Kalau aku baik-baik saja, kenapa aku bisa tidur siang sampai jam segini, Bu? Ibu adalah orang yang paling tahu bagaimana jam tidurku dari dulu. Aku tidak pernah tidur sampai magrib kalau badanku tidak benar-benar tumbang."

Bu Retno seketika terdiam seribu bahasa. Kalimat Rana telak menghentikan protesannya. Benar juga, Rana seumur hidupnya adalah tipikal anak penurut dan tidak pernah berani berlama-lama di kasur, berbeda dengan Rani yang memang suka bermalas-malasan.

"Ya sudah, baiklah! Kali ini saja Ibu yang masak di dapur," cetus Bu Retno ketus, lalu berbalik badan dengan bersungut-sungut menuju area dapur.

Melihat punggung ibunya menjauh, Rana menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang sarat akan ironi. Ternyata... meniru gaya manja dan lemah milik Rani tidak buruk juga, pikirnya getir.

Rana kembali masuk ke dalam kamarnya yang sunyi dan mengunci pintu rapat-rapat. Ia duduk di tepi ranjang, mengambil ponselnya, dan menyalakan data seluler. Begitu layar berkedip, sebuah notifikasi pesan singkat dari Mbak Mutia langsung menyita seluruh perhatiannya.

Mbak Mutia: Rana, apa kamu benar-benar mau menikah dalam waktu dekat ini? Dengan siapa?

Rana sempat tersentak kaget menatap baris pertanyaan dari sepupunya itu. Namun, otaknya yang cerdas segera tersadar; berita ini pasti menyebar karena Budhe Sarti sudah pasti menceritakan obrolan telepon mereka siang tadi kepada Mutia.

Rana: Belum, Mbak. Aku tidak sedang dekat dengan siapa pun di sini. Aku bertanya tentang perwalian siang tadi hanya karena ingin tahu kebenaran tentang keberadaan Ayah kandungku saja.

Tak butuh waktu lama bagi layar ponselnya untuk kembali menyala. Mutia rupanya langsung membalas pesan tersebut dengan sebuah informasi yang seketika membuat jantung Rana berdegup kencang.

Mbak Mutia: Nama bapak kandungmu itu Tarmuji, Rana. Informasi tempat tinggal terakhir yang pernah kudengar dulu, beliau menetap di Kecamatan Sumberejo, Desa Glagah. Tapi jujur, aku sendiri tidak tahu apakah beliau sekarang masih berada di sana atau sudah pindah.

Rana menatap lama baris kalimat pesan itu dengan pandangan kosong. Jarak dari desanya saat ini menuju Kecamatan Sumberejo sebenarnya terhitung sangat dekat, hanya terpaut jarak beberapa kilometer saja dan bisa ditempuh dalam hitungan menit menggunakan kendaraan bermotor.

Namun, sebuah pertanyaan besar yang menyakitkan kembali menggores hatinya. Jika jarak mereka sedekat itu selama belasan tahun ini, kenapa... kenapa bapak kandungnya tidak pernah sekalipun datang berkunjung untuk mencarinya atau sekadar menanyakan kabarnya?

Rana: Jika jaraknya sedekat itu, kenapa Bapak tidak pernah sekalipun datang mencariku atau menjengukku seumur hidupku, Mbak?

Mbak Mutia: Aku tidak tahu urusan jelas dan masa lalu perceraian orang tuamu, Rana. Aku hanya tahu informasi sebatas itu saja. Kalau kamu memang berniat mencari kebenarannya, kamu hubungi Teguh. Minta dia untuk mengantarmu langsung ke sana besok pagi mumpung dia sedang libur kuliah.

Setelah mengirimkan balasan tersebut, status Mutia tampak langsung meninggalkan obrolan. Rana hanya bisa membeku menatap layar ponselnya yang perlahan meredup.

Satu kesimpulan pahit yang kini bersarang di dalam benaknya yang rapuh: dirinya mungkin memanglah sesosok anak yang dari awal tidak pernah diinginkan kehadirannya oleh siapa pun di dunia ini.

Makanya, sang ibu begitu membencinya dan memperlakukannya layaknya mesin pencari uang, sementara sang ayah kandung memilih pergi jauh dan tidak pernah memedulikan eksistensinya sama sekali.

Jika benar seperti itu, apakah ia memiliki cukup nyali dan keberanian untuk melangkah mencari sang ayah?

Malam itu, setelah melewati pergolakan batin yang melelahkan, Rana akhirnya memantapkan keputusannya. Ia harus mencari keberadaan Pak Tarmuji. Sama persis seperti apa yang telah ia lakukan kepada Veri kemarin; setidaknya ia harus berusaha untuk mencari kepastian. Apa pun hasil pahit yang menantinya di ujung jalan nanti, Rana bersumpah akan menerimanya dengan lapang dada.

Keesokan paginya, dengan menggunakan alasan medis yang logis; ingin melakukan pemeriksaan kesehatan ke rumah sakit agar bisa melakukan proses klaim uang kesehatan dari manajemen perusahaan, Rana berhasil mendapatkan izin keluar rumah dari Bu Retno. Ia pergi meluncur menuju Desa Glagah dibonceng sepeda motor oleh Teguh, adik kandung Mutia.

Perjalanan berlangsung cepat. Tak sampai dua puluh menit membelah jalanan pedesaan yang asri, motor Teguh melambat dan berhenti tepat di depan sebuah gardu beton yang usang, bertuliskan: DESA GLAGAH.

Rana sempat didera rasa ragu dan ketakutan yang luar biasa untuk turun dari motor. Namun, Teguh yang sejak awal sudah diberikan amanat ketat oleh kakaknya, dengan sigap langsung turun dari jok motor dan berjalan melangkah menghampiri seorang pemilik warung kelontong tua yang terletak persis di dekat gardu desa tersebut.

"Permisi, Mbah. Saya mau bertanya, apa di desa ini ada warga yang bernama Pak Tarmuji?" tanya Teguh sopan kepada sang pemilik warung yang rambutnya sudah memutih seluruhnya.

Wanita tua pemilik warung itu tampak berpikir sejenak, mengingat-ingat nama tersebut.

"Oh, Tarmuji... dia sudah pindah dari desa ini sejak lama sekali, Mas. Dulu, habis ketuk palu cerai dengan istrinya, rumah peninggalan orang tuanya di sini langsung dijual, lalu uangnya diserahkan ke mantan istrinya."

Rana yang mendengarkan dari atas motor, merasakan dadanya kembali berdenyut perih mendengar fakta sejarah kelam keluarganya.

"Kalau boleh tahu, apa Mbah tahu di mana alamat atau posisi Pak Tarmuji sekarang ini menetap?" kejar Teguh lagi.

"Waduh, kalau alamat pastinya saya kurang tahu, Mas. Tapi, coba saja Mas pergi bertanya langsung kepada teman dekatnya dulu semasa tinggal di sini, namanya Pak Ismail. Beliau kebetulan sekarang menjabat sebagai Ketua RT di lingkungan sini," jelas nenek tersebut ramah.

"Kalau boleh tahu, di mana letak rumah Pak Ismail, Mbah?"

"Mas tinggal lurus saja ikuti jalan aspal ini, nanti sampai ketemu pos kampling kayu di sebelah kanan jalan. Nah, rumah Pak Ismail itu letaknya persis ada di belakang pos kampling tersebut."

"Terima kasih banyak atas informasinya ya, Mbah."

Teguh kembali naik ke atas motor, menoleh sekilas ke arah Rana yang duduk di belakangnya dengan tatapan kosong.

"Bagaimana, Rana? Apa kita mau lanjut cari ke rumah Pak RT?"

Rana menganggukkan kepalanya pelan sebagai jawaban konfirmasi.

Namun sayang, sesampainya mereka di depan pagar rumah Ketua RT yang dimaksud, rumah bernuansa hijau itu tampak sepi dan terkunci rapat dari luar. Salah seorang warga yang kebetulan sedang melintas di depan jalanan menggunakan sepeda kayuh, menghentikan lajunya dan mengabarkan jika Pak Ismail beserta istrinya sedang pergi berkunjung ke rumah kerabat mereka di luar kota dan baru akan kembali lusa.

"Sayang sekali, Pak. Padahal kami datang dari jauh... Apa saya bisa meminta nomor yang bisa saya hubungi, Pak? Ini urusannya agak mendesak," tanya Teguh mencoba mencari peruntungan lain.

Warga tersebut menatap Teguh dan Rana dengan pandangan sedikit waspada dan menyelidik.

"Memangnya... Mas dan Mbaknya ini siapanya Pak Ismail? Ada urusan apa?"

"Saya Teguh, Pak. Kami ke sini sebenarnya sedang mencari informasi terkait keberadaan Pak Tarmuji, teman dari Pak Ismail," jawab Teguh jujur, berusaha mencairkan ketegangan.

"Oh... urusan cari Tarmuji toh," sahut warga tersebut, raut wajah kewaspadaannya seketika mencair, seolah-olah ia sangat paham dan maklum mengapa ada orang asing yang jauh-jauh datang mencari keberadaan pria bernama Tarmuji tersebut.

Tanpa banyak curiga lagi, warga itu segera merogoh sakunya mengambil ponsel polyponicnya dan mendiktekan angka demi angka nomor ponsel milik Pak Ismail yang tersimpan di kontaknya. Setelah selesai menyimpan nomor tersebut ke dalam daftar kontak ponselnya, Teguh mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dan berpamitan pergi dari sana.

Di tengah perjalanan pulang, karena melihat cuaca Bojonegoro yang kian terik membakar kulit, Teguh memutuskan untuk menghentikan laju sepeda motornya di depan sebuah kedai es kelapa muda pinggir jalan yang cukup teduh.

"Bu, pesan es kelapa mudanya dua porsi ya. Yang satu pakai setrup merah, yang satu lagi pakai gula merah," pesan Teguh lantang kepada penjual.

Rana yang sedari tadi bersikap layaknya sesosok raga yang kehilangan jiwanya, hanya bisa mengekor pasif di belakang langkah kaki Teguh, lalu duduk di atas bangku panjang dengan pandangan mata yang kosong menatap jalanan aspal.

Tanpa membuang banyak waktu lagi, Teguh langsung melakukan panggilan telepon ke nomor Pak Ismail yang baru saja didapatkannya. Pemuda itu berbicara dengan nada yang sangat sopan, menanyakan perihal keberadaan dan nasib terakhir dari pria bernama Tarmuji. Setelah beberapa saat terlibat dalam percakapan serius yang diselingi anggukan kepala, Teguh akhirnya mengakhiri panggilan telepon tersebut dengan helaan napas panjang.

"Rana... Pak Ismail bilang, Paklek Tarmuji sekarang ini sudah tidak tinggal di area Bojonegoro lagi. Beliau sekarang menetap di daerah Cepu, Jawa Tengah, posisinya dekat dengan area terminal bus yang lama," kata Teguh yang suaranya seketika membuyarkan seluruh lamunan panjang Rana.

Teguh menatap wajah sepupunya itu dengan pandangan prihatin.

"Bagaimana? Jarak dari sini ke Cepu tidak terlalu jauh. Apa kamu mau aku antar ke sana sekarang juga?"

"Aku..."

Lidah Rana mendadak terasa kelu untuk sekadar memproduksi satu patah kata jawaban. Pikiran kelam dan asumsi buruk tentang dirinya sebagai sosok anak yang tidak pernah diharapkan kembali merayap naik, menghantui setiap jengkal dinding kewarasannya. Jantungnya berdegup kencang oleh rasa ketakutan yang teramat akut.

Jika aku benar-benar nekat pergi ke Cepu menemui beliau... apakah bapak kandungku itu akan menerimaku dengan senyuman dan pelukan hangat sebagai putrinya? Atau... atau jangan-jangan beliau justru akan menolak kehadiranku secara kasar dan mengusirku dari hidupnya, sama seperti perlakuan yang biasa Ibu berikan kepadaku selama ini?

Rana meremas ujung jilbab mokanya dengan sangat kuat, berkejaran dengan waktu dan batinnya sendiri di bawah terik bayang-bayang masa lalu yang belum bertemu titik terang.

1
indy
jadi ikutan mbrebes mili
indy
wah nggantung nih...
Meymei: hihihi
total 1 replies
Meymei
siap😍
indy
kasihan rana, semoga berhasil kabur
indy
makin penasaran, lanjut kakak
indy
Semangat Rana, jangan lupa makan yang baik agar kuat dan sehat
Meymei
sabar kak, msh perlu proses 🤭
indy
owalah, ternyata Rana ikut memodali usaha Veri. Rana terima saja lamaran Pradika agar bisa segera keluar dari keluarga toksik
indy
semoga mereka benar berjodoh
indy
Alhamdulillah Rana selamat, tinggal tunggu action selanjutnya dari mas Pradika
indy
jangan sampai sapo yang datang dan mengajak rana duluan
Meymei: pantau terus kak 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!