NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Seragam Pelayan

Rahasia Di Balik Seragam Pelayan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi / Pembantu / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:51.6k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

-Spin off 'NOVEL PURA-PURA JADI SUPIR'-

Sepuluh tahun mendekam di penjara mengubah Bianca Adytama dari nona muda angkuh menjadi wanita yang haus akan ketenangan. Membuang nama besarnya, ia pergi ke sebuah desa di Jawa Barat dan menyamar sebagai pelayan bernama Gita.
Di sebuah villa mewah milik seorang juragan perkebunan, Gita berharap bisa hidup tenang. Namun, kedatangan Arlan Dirgantara—putra sulung sang juragan yang baru bercerai—mengacaukan segalanya.
Arlan tidak buta. Ia tahu Gita bukan pelayan biasa. Gerak-geriknya terlalu elegan, bicaranya terlalu cerdas, dan sorot matanya menyimpan rahasia gelap. Dari rasa penasaran menjadi obsesi, Arlan mulai menjerat Gita dalam permainan cinta yang menegangkan.
Sanggupkah Bianca mempertahankan penyamarannya saat masa lalu yang ia kubur mulai tercium oleh pria yang terobsesi memilikinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Matahari mulai condong ke barat, melemparkan gurat cahaya keemasan yang menembus sela-sela rimbunnya daun teh di lereng perbukitan. Kabut tipis sisa hujan subuh tadi masih menggantung rendah di batas cakrawala, menciptakan pemandangan yang menawan sekaligus sunyi.

Di dalam ruang kerja utamanya, Arlan Dirgantara berdiri menghadap ke jendela besar. Tangan kanannya menempelkan gawai ke telinga, sementara tatapannya lurus mengarah ke ujung perkebunan tempat para pekerja mulai menyelesaikan petikan terakhir hari itu.

Suara Doni di seberang lini telepon terdengar agak berderit, terganggu oleh sinyal pegunungan yang timbul tenggelam. Ada nada kebingungan sekaligus keseriusan yang mendalam dari asisten kepercayaannya itu saat membacakan laporan terbaru yang dikirim langsung oleh tim intelijen korporasi dari Surabaya.

"Ada fakta baru yang baru saja terungkap, Arlan," ujar Doni, menjeda kalimatnya sejenak untuk membalik halaman berkas di mejanya. "Ini mengenai keterkaitan antara Gita Ivara dan pihak Adytama Properti. Hasil penelusuran kami di lapangan menunjukkan bahwa Gita sebenarnya tidak mengenal sosok Bianca Adytama secara langsung. Hubungan itu terjadi melalui pihak ketiga."

Arlan sedikit mengernyitkan dahi. Ketegangan di bahunya yang bidang tampak mengeras.

"Pihak ketiga? Siapa?"

"Pak Haryo, Ar. Selama Gita mendekam di lembaga pemasyarakatan wanita di Surabaya beberapa tahun lalu, Pak Haryo secara berkala mengunjunginya. Pria tua itu tidak sekadar berkunjung, dia mendidik Gita. Dia mengajarkan banyak hal padanya, mulai dari manajemen bisnis, analisis keuangan, hingga seluk-beluk hukum dalam dunia korporasi. Kedekatan mereka sangat personal, hingga akhirnya Pak Haryo secara informal menjadikan Gita sebagai anak angkatnya. Itu sebabnya dokumen krusial yang menyelamatkan proyek kita pagi ini bisa keluar melalui jalur hukum Pak Haryo."

Arlan terdiam. Pikirannya berputar cepat, mencoba mencerna informasi tersebut. Penjelasan Doni terasa masuk akal dan menjawab mengapa seorang pelayan biasa seperti Gita memiliki ketajaman taktis yang begitu rapi saat menyusun laporan mingguan, atau saat menghadapi Mahendra tadi pagi. Didikan langsung dari seorang pengacara senior sekelas Pak Haryo tentu bukan hal yang sembarangan. Sisi skeptis Arlan sedikit melunak, digantikan oleh rasa kagum yang samar atas ketegaran wanita itu untuk bangkit dari masa lalunya yang kelam di balik jeruji besi.

"Lalu, bagaimana dengan Bianca Adytama sendiri?" tanya Arlan lagi, suaranya berat dan penuh penekanan. Sisi posesifnya tetap menuntut kejelasan penuh atas setiap nama yang berputar di sekitar kehidupan pelayannya.

"Sosok putri bungsu itu... benar-benar seperti bayangan, Ar," jawab Doni dengan nada frustrasi yang tidak bisa disembunyikan.

"Kisahnya ada, namanya tertulis dalam struktur kepemilikan aset kuno keluarga, tetapi sosok fisiknya tidak pernah terendus kabarnya. Tidak ada satu pun foto masa mudanya yang tersisa di media massa, bahkan di kalangan elite Surabaya pun tidak ada yang tahu pasti di mana dia berada sekarang. Dia sengaja dihapus dari peredaran publik."

Doni menarik napas pendek sebelum melanjutkan, "Informasi tambahan mengenai internal mereka, pimpinan utama Adytama Properti yaitu Haris Adytama sudah lama pensiun. Pria tua itu memilih tinggal menyendiri di Malang untuk mengelola perkebunan pribadinya. Selama masa vakum itu, perusahaan dipimpin oleh Kirana Adytama bersama suaminya, Raditya Mahardika, selama lima tahun. Setelah masa jabatan Kirana selesai, kendali operasional dialihkan kepada Bram, mantan asisten pribadi Raditya yang kini menjabat sebagai pimpinan utama. Silsilah dan pergeseran kekuasaan mereka sangat tertutup."

Arlan menjauhkan gawai itu sedikit dari telinganya begitu Doni menyelesaikan kalimat terakhir. Pria itu terdiam seribu bahasa, bersandar pada tepian meja jati besarnya yang kokoh. Dadanya berdesir janggal. Silsilah keluarga Adytama ternyata jauh lebih rumit, gelap, dan penuh rahasia dari yang pernah dia duga.

Sesungguhnya, ada letupan rasa penasaran yang besar di dalam diri Arlan untuk terus mengulik kehidupan mereka lebih jauh. Sebagai seorang pria yang terbiasa memegang kendali, dia benci ketidaktahuan. Dia ingin memastikan tidak ada benang merah tersembunyi yang bisa membahayakan ketenangannya, atau membahayakan Gita yang kini mulai menempati posisi khusus di hatinya.

Akan tetapi, Arlan memilih untuk menahan diri. Dia menghentikan ambisinya untuk menggali lebih dalam. Dia tidak mau mengusik privasi keluarga besar itu secara serampangan.

Bagaimana pun, Raditya Mahardika sendiri adalah sahabat karibnya semasa mereka menempuh pendidikan di luar negeri bersama. Mereka tumbuh bersama sejak usia remaja, saling memahami tabiat masing-masing di dunia bisnis yang kejam. Mengusik urusan domestik keluarga Adytama sama saja dengan mengundang konflik tidak perlu dengan sahabatnya sendiri.

"Cukup sampai di situ, Doni," potong Arlan akhirnya, suaranya kembali dingin dan datar. "Hentikan penyelidikan tentang keluarga Adytama. Jangan sentuh area itu lagi. Fokus saja pada pemulihan nama baik proyek kita pasca-penangkapan Mahendra."

"Baik, Tuan Arlan. Dimengerti."

Panggilan itu berakhir. Arlan memasukkan kembali gawainya ke dalam saku kemeja. Pikirannya tentang Bianca Adytama mungkin bisa dia tekan, tetapi kecurigaannya terhadap Gita Ivara justru semakin menajam. Ada sekat tak kasatmata yang dipasang wanita itu di antara mereka, sebuah benteng pertahanan yang kuat yang membuat Arlan merasa tertantang sekaligus cemas. Rasa trauma akibat pernikahan masa lalunya dengan Stella yang hanya mengejar harta membuatnya waspada, tetapi ketenangan dewasa dan keanggunan alami yang dipancarkan Gita setiap kali menyeduhkan teh hangat untuknya adalah candu yang tidak bisa dia tolak.

Langkah kaki Arlan membawanya turun ke lantai bawah. Villa mewah itu terasa begitu lengang setelah badai ketegangan pagi tadi. Aroma kayu manis dan cengkeh menguar dari arah dapur bersih, menandakan bahwa aktivitas sore hari telah dimulai.

Di sana, Bianca sedang berdiri membelakangi pintu masuk, fokus menata beberapa toples rempah di rak atas. Baju pelayan yang dikenakannya tampak sangat bersahaja, kain katun kelabu dengan celemek putih bersih yang diikat rapi di pinggang rampingnya. Kendati demikian, cara wanita itu menegakkan punggung, gerakan tangannya yang teratur saat meraih toples, tetap memancarkan aura berkelas seorang wanita terhormat yang tidak bisa disembunyikan oleh pakaian semurah apa pun.

Bianca yang sekarang bukan lagi gadis manja dan arogan seperti sepuluh tahun lalu di Surabaya. Penjara dan kesunyian telah menempa dirinya menjadi sosok yang sangat tegar, tenang, dan mandiri. Motivasi hidupnya kini sederhana: dia hanya ingin mencari kedamaian batin, hidup dari keringatnya sendiri tanpa sepeser pun menyentuh harta dinasti keluarganya sebagai bentuk penebusan dosa masa lalu yang terus menghantui tidurnya.

Arlan tidak bersuara. Dia memilih berdiri di ambang pintu, bersandar pada kusen kayu sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Matanya yang tajam dan elang mengunci setiap gerak-gerik Bianca dengan intensitas yang kian posesif.

Setelah mendengar laporan Doni tentang bagaimana Gita dididik oleh Pak Haryo, cara Arlan menatap wanita itu kini berubah. Ada rasa ingin memiliki yang teramat kuat, sebentuk proteksi ekstrem yang lahir dari ketakutan jika suatu hari nanti wanita ini memutuskan untuk pergi dari vilanya.

Merasa ada sepasang mata yang mengawasinya dengan lekat, Bianca menghentikan gerakannya. Dia memutar tubuhnya perlahan, lalu menundukkan kepala sedikit dengan sopan begitu mendapati sang tuan rumah sedang memperhatikannya tanpa berkedip.

"Tuan Arlan," suara Bianca mengalun tenang, jernih, dan begitu dewasa. "Ada yang bisa saya bantu? Teh sore Anda sedang saya persiapkan."

Arlan tidak langsung menjawab. Dia menegakkan tubuhnya, melangkah maju dengan ritme yang lambat namun penuh penekanan. Setiap langkah kakinya menciptakan ketegangan di dalam ruangan dapur yang sunyi itu. Jarak di antara mereka terkikis hingga menyisakan dua jengkal saja. Arlan bisa mencium aroma sabun mawar yang lembut dari tubuh Bianca, bercampur dengan kehangatan uap air dari teko yang mulai mendidih.

"Doni baru saja menghubungiku," kata Arlan, suaranya bariton rendah, terdengar sangat intim namun sarat akan intimidasi yang halus. Tangan kanannya bergerak lambat, meraih seuntai rambut kecil yang terlepas dari gulungan rambut Bianca, lalu menyelipkannya ke belakang telinga wanita itu dengan gerakan yang teramat protektif.

"Dia memberi tahu banyak hal tentang hubunganmu dengan Pak Haryo di Surabaya."

Bianca tidak bergerak mundur. Sepasang matanya yang jernih menatap langsung ke dalam manik mata Arlan dengan ketegaran yang matang. Riak kepanikan sama sekali tidak terlihat di wajahnya, menunjukkan betapa sempurnanya dia menguasai emosinya di bawah tekanan pria sedingin Arlan.

"Pak Haryo adalah orang baik, Tuan. Beliau adalah guru sekaligus orang tua bagi saya selama masa-masa sulit," jawab Bianca, suaranya stabil tanpa getaran sedikit pun. "Jika informasi itu membuat Anda merasa tidak nyaman memiliki pelayan dengan latar belakang seperti saya, saya bersedia mengemas barang-barang saya sore ini juga."

Mendengar kata 'pergi', rahang Arlan seketika mengeras. Cengkeraman tangan kirinya mendadak berpindah ke pinggang Bianca, menarik tubuh wanita itu selangkah lebih dekat hingga menempel pada dadanya yang bidang. Sisi posesifnya yang liar bergejolak hebat, meruntuhkan wibawa dingin yang selama ini dia agungkan.

"Jangan pernah berpikir untuk melangkah keluar dari gerbang perkebunan ini, Gita," desis Arlan, suaranya serak dan sarat akan emosional yang mendalam. Tarik-ulur perasaan di antara mereka terasa begitu menyesakkan dada.

"Aku tidak peduli siapa Pak Haryo, dan aku tidak peduli dengan masa lalumu di Surabaya. Mulai hari ini, pengawasan di vila ini akan kuperketat. Kamu berada di bawah perlindunganku, mutlak. Aku tidak akan membiarkanmu menghilang dari pandanganku bahkan untuk satu detik pun."

Bianca merasakan hulu hatinya berdenyut perih. Sentuhan Arlan begitu hangat dan protektif, sebuah bentuk ketulusan dari seorang pria yang sebenarnya sangat terluka oleh masa lalu namun memilih untuk menaruh seluruh kepercayaannya yang tersisa pada sosok pelayannya. Keinginan Bianca untuk mandiri dan menjauh dari intrik kekuasaan kini berbenturan keras dengan ego posesif Arlan yang ingin mengurungnya dalam sangkar emas kenyamanan ini.

"Perlindungan yang berlebihan... terkadang terasa sama persis dengan jeruji besi, Tuan Arlan," tutur Bianca lirih, matanya menatap Arlan dengan kedewasaan yang penuh dengan teka-teki, sebelum dia menurunkan pandangannya secara anggun, memutus kontak mata di antara mereka.

***

1
ms. S
cemburu bilang aja Arlan . tidak perlu mbulet🤭
Del Vina
kata aura berkelas di ulang terus thor🙏🤭
✦͙͙͙*͙*ᴍs.ʀ͠ᴇɴᴀ✨: makasih, nanti aku cek lagi 🤭
total 1 replies
@Tie
ealah arlan
gita br keluar penjara kq km kurung lg dlm rmh
💟노르 아스마💟
beghhh...ngekang banget sih 😄😄😄
Mukeseh
🤣🤣🤣
@Tie
nasibnya mahendra gmn thor
apa dipenjara jg sama spt stell
Mundri Astuti
ngomong" napa jadi muter" y thor si Arlan dan Bianca, ga da kemajuan
Tangsah Jagad: pertanyaan yg sama
total 4 replies
💟노르 아스마💟
lahhh ...provokatornya gk di habisin itu
Mukeseh
setela salah lawan woe setela setela 🤣🤣
Anonim
😍😍
Anonim
Mantap
ryuka
duuhhh bianca gimana cara nya arlan biar kamu luluhhh 🫠🫠🫠🤭🤭🤭
merry yuliana
jd dejavu sm.kirana yak..
Anonim
😍😍😍😍
Del Vina
cerita bagus cuma alurnya lambat
Tangsah Jagad
gak mungkin Raditya gak ngasih tau kalo di tanya arlan
Mukeseh
hubhihi 🤣🤣🤣🤣 othor pintar bikin q deg deg pyor 😂
Mundri Astuti
Arlan kamu main ke rumah Raditya, sapa tau ada foto keluarga Kirana dan keluarganya
Anonim
😍😍😍😍
@Tie
bianca kabur aja yg jauh ke luar negeri sekalian, kl msh di indo gk aman
mkn maen rahasia arlan makin posesif
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!