Di tengah kaku dan dinginnya protokol Keraton Amarta, Arya Wijaya, sang Raja muda, merasa hidupnya hanyalah pengabdian tanpa warna. Segalanya berubah saat ia bertemu dengan Sekar, seorang guru taman kanak-kanak yang juga seorang pelukis berbakat. Sekar adalah perwujudan dari keanggunan yang bersahaja—lembut dalam tutur kata, ceria dalam bersikap, dan memiliki jiwa bebas yang dituangkannya ke atas kanvas. Bagi Arya, Sekar adalah jendela menuju dunia yang lebih manusiawi. Namun, bagi tembok keraton, Sekar hanyalah rakyat jelata yang dianggap tak layak bersanding dengan takhta. Saat Arya dihadapkan pada tuntutan perjodohan politik demi stabilitas kerajaan, ia harus memilih: mempertahankan mahkota yang hampa, atau memperjuangkan cintanya pada sang pelukis yang telah mewarnai kembali hatinya. Sebuah kisah tentang benturan antara tradisi yang kaku dan cinta yang tulus, di mana keanggunan seorang wanita biasa diuji di hadapan kemegahan istana yang penuh intrik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebulan dalam Penantian yang Sunyi
Waktu bergulir seperti pasir yang meluncur di sela jari—cepat, namun meninggalkan rasa kasar yang menyakitkan. Sebulan telah berlalu sejak malam kelam itu, dan Keraton Amarta seolah kehilangan separuh cahayanya. Meskipun roda pemerintahan tetap berputar di bawah kepemimpinan Gusti Prabu Arya Wijaya, suasana di dalam tembok istana terasa lebih dingin dan senyap.
Arya tidak membiarkan kedukaannya melumpuhkan negara. Sebaliknya, ia bekerja lebih keras dari sebelumnya. Setiap pagi, ia duduk di pendopo, mendengarkan keluhan petani tentang irigasi atau pedagang pasar tentang pajak. Ia menjadi raja yang lebih peka, karena ia melihat setiap wajah rakyatnya sebagai wajah yang dicintai Sekar.
Namun, di sela-sela rapat menteri atau kunjungan ke desa, tatapan Arya sering kali menerawang jauh. Setiap kali lonceng menara berdentang, ia berharap bahwa itu adalah kabar bahwa Sekar telah kembali.
“Keadilan telah tegak, Paman,” ucap Arya suatu sore kepada Ki Ageng Suro setelah menyelesaikan sengketa tanah rakyat. “Tapi apa gunanya keadilan jika orang yang paling ingin kutunjukan tentang indahnya keadilan ini masih terlelap?”
“Terus berdoa, Gusti Prabu,” jawab Ki Ageng. “Percayalah Nimas Sekar akan menemukan jalan kembali dengan doa tulus dari, Gusti.”
Kondisi Sekar di dalam peraduan semakin menyayat hati. Sebulan tanpa asupan makanan yang layak, hanya bergantung pada tetesan bubur cair, dan jamu penguat jantung dan air suci yang disuapkan para tabib, membuat tubuhnya berubah drastis.
Kini, Sekar tampak begitu rapuh. Pipi yang dulunya merona segar saat tertawa kini cekung dan pusat pasi. Tangannya yang biasanya lincah menari di atas kanvas kini tinggal tulang yang dibalut kulit tipis yang transparan, memperlihatkan urat-urat biru yang halus. Ia tampak seperti patung pualam yang sangat mudah hancur jika tersentuh.
Setiap kali Arya masuk ke kamar itu, hatinya hancur melihat tulang selangka Sekar yang menonjol dan napasnya yang begitu pelan, nyaris tak kentara. Sekar tidak lagi tampak seperti manusia yang tidur, melainkan seperti bayangan yang perlahan-lahan memudar dari dunia nyata.
Arya tidak pernah melewatkan satu malam pun tanpa bersimpuh di samping ranjang Sekar. Di saat seluruh penghuni istana telah terlelap, sang Raja Amarta akan melepaskan mahkotanya, duduk di lantai, dan menggenggam tangan dingin kekasihnya.
“Sekar… ini sudah sebulan,” bisik Arya, suaranya sesak karena lelah dan tangis yang tertahan. “Lihatlah dirimu… kau semakin kurus. Tidakkah kau rindu padaku? Tidakkah kau rindu membuatkanku masakan sederhanamu itu? Tidakkah kau rindu pada anak-anak di bawah pohon kamboja?”
Arya menempelkan dahi Sekar ke dahinya sendiri, membiarkan air matanya membasahi bantal sutra tempat Sekar berbaring. Ia tidak lagi berdoa meminta takhta yang kuat atau harta melimpah.”
“Gusti…” lirih Arya dalam doanya. “Hamba menyerahkan segala kekuasaan hamba, ambillah segala kejayaan Amarta jika itu harganya, tapi hamba memohon… kembalikan nyawa ke dalam raga ini. Jangan biarkan melati ini gugur sebelum ia sempat melihat betapa luas taman yang telah hamba siapkan untuknya.”
Tabib kepala sering menggelengkan kepala saat memeriksa denyut nadi Sekar yang kian melemah. “Semangat hidupnya seolah sedang bersembunyi di tempat yang sangat jauh, Gusti,” lapor Tabib dengan sedih.
Meski begitu, Arya menolak untuk tetap menyerah. Ia memerintahkan agar kamar Sekar selalu dipenuhi dengan bunga melati segar dan suara alunan kecapi yang lembut, berharap frekuensi cinta dan keindahan bisa memanggil Sukma bisa memanggil sukma Sekar pulang. Sebulan memang sudah berlalu, namun bagi Arya, setiap detik adalah pertempuran untuk menjaga api harapan agar tetap menyala di tengah badai keputusasaan yang kian menerjang.