Cinta sejati itu mengikhlaskan, merelakan dan melepaskan. Membiarkan bahagia orang yang kita cintai. Meskipun bahagianya dengan orang lain dan bukan bersama kita. Manusia hanya bisa berencana tapi tetap Allah yang menentukan bagaimana ke depannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shofiyah 19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Asya berada di kamarnya sendirian. Saat ini Alif sedang bergabung dengan para lelaki yang sibuk ngopi sambil ngobrol ringan. Keluarga Alif sudah pamit pulang 1 jam yang lalu.
"Duh pengantin baru kok malah di sini nggak nemenin istri," gurau Raffa
"Iya Gus. Sengaja mau ikut kumpul," ucap Alif sambil tersenyum
"Jangan panggil gus. Dia sekarang abangmu," ucap abi kepada menantu barunya
"Iya benar, Lif. Kamu sekarang sudah menjadi adikku," ucap Raffa
"Iya, B-Bang," ucap Alif kikuk
"Kamu istirahat aja. Pasti Asya sudah menunggu," ucap abi sambil tersenyum
"Iya adik ipar. Sana istirahat!," ucap Raffa
"Kalo gitu Alif permisi dulu, assalamualaikum," pamit Alif
"Waalaikumsalam," jawab semua orang
Asya sudah mengganti pakaiannya dengan piyama tidur. Ia duduk di depan meja rias sambil memakai skincare malamnya.
Tok tok tok
"Assalamualaikum," ucap Alif dari luar kamar
Asya tersenyum mendengarnya. Ia berdiri untuk membukakan pintu kamarnya.
"Waalaikumsalam," ucap Asya sambil membukakan pintu
Alif terkejut melihat Asya tanpa mengenakan hijab. Asya terkekeh pelan lalu menyeret tangan suaminya itu untuk masuk.
"Kok udah ke sini? Katanya mau gabung sama abi dan yang lainnya," ucap Asya
"Disuruh istirahat sama semuanya," ucap Alif tersenyum kikuk
"Ganti baju dulu," ucap Asya sambil menyodorkan piyama kepada Alif
"Iya," ucap Alif sambil menerimanya
Alif masuk ke dalam kamar mandi. Asya menyenderkan tubuhnya di ranjang. Ia mengangkat panggilan video call dari Rania.
'Ih katanya lamaran kok langsung akad aja' Rania kesal
"Mau gimana lagi itu permintaan Mas Alif," ucap Asya sambil tersenyum
'Cie mas sekarang nih panggilannya' goda Rania
"Sekarang kan dia suami aku," ucap Asya
Ceklek. Pintu kamar mandi terbuka menampilkan Alif yang sudah memakai piyama. Ia berjalan menuju Asya yang berada di ranjang.
"Siapa?," tanya Alif
"Ayo sini. Aku kasih tau siapa yang video call," ucap Asya terkekeh
Alif menganggukkan kepalanya. Ia duduk di samping Asya.
'Aliiiiiiff lo emang jahat nggak ngasih tau gue' pekik Rania
"Salah lo sendiri masak skripsi revisi mulu," ejek Alif
'Otak gue nggak encer seperti otak lo anjir' kesal Rania
"Direbus aja biar meleleh," ucap Alif terkekeh
'Gue nggak nyangka lo secepat itu nikah sama Asya' ucap Rania
"Gue nggak mau nanggung dosa terlalu lama. Takut juga nanti kalo bidadari satu ini diambil orang," ucap Alif sambil mencium puncak kepala Asya
Asya tersenyum malu dengan perlakuan suaminya. Alif terkekeh pelan melihat istrinya tersipu.
'Woy jangan umbar kemesraan di depan jomblowati dong' kesal Rania
"Lo mending sama Rifky aja deh. Kalian serasi tau," ucap Alif
'Dia nggak peka' ucap Rania
"Perjuangkan di sepertiga malam," celetuk Asya
'Ih Asya sejak kamu pulang tuh aku sering bangun kesiangan' celetuk Rania
"Emang istriku ini alarm buat lo" sinis Alif
'Iyalah ning Asya terbaik pokoknya' Rania terkekeh
"Lo udah tau identitas istri gue?," tanya Alif
'Gue nggak ngasih tau lo karena ya menurut gue kalian itu sepadan. Lo kan santri juga' kekeh Rania
"Emang dasar sepupu laknat lo," cibir Alif
Asya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Ia sudah terbiasa melihat keduanya debat.
'Ya udah gue tutup ya. Jangan lupa bikinin gue ponakan haha. Assalamualaikum' ucap Rania
"Waalaikumsalam," jawab Alif dan Asya
Panggilan sudah diakhiri oleh Rania. Keheningan tercipta di kamar pengantin baru itu.
"Ning," panggil Alif
"Kalo kamu panggil ning berarti aku panggil gus," cibir Asya
"Maunya dipanggil apa?," tanya Alif terkekeh
"Terserah asal jangan ning," ucap Asya yang menunduk
"Ya udah aku panggil ay saja gimana?," tanya Alif sambil mengangkat dagu istrinya
Tatapan keduanya bertemu. Alif tersenyum memandang seorang wanita yang sudah halal baginya.
"Terserah Mas saja," ucap Asya pelan
"Mas? Itu terdengar sangat manis," ucap Alif lalu memeluk Asya
Asya menikmati dekapan suaminya itu. Menghirup aroma maskulin di tubuh suaminya.
"Aku masih nggak nyangka kalo kamu itu anak dari guruku," ucap Alif terkekeh
"Apalagi aku yang nggak pernah tau kalo kamu mondok di pesantren abi," ucap Asya lembut
Alif melepaskan pelukannya. Ia mencium lembut kening istrinya. Asya memejamkan matanya menikmati perlakuan lembut suaminya.
"Maaf ya aku nggak bilang kalo mau sekalian akad," ucap Alif terkekeh
"Kaget tau denger permintaan kamu di depan keluarga besar," ucap Asya sambil tersenyum
"Kita adakan resepsi setelah lulus ya," ucap Alif sambil mengelus kepala Asya
"Iya Mas," jawab Asya
"Udah malem tidur yuk," ucap Alif
Asya berbaring menghadap suaminya. Alif membawa Asya dalam dekapannya.
Skip
Jam menunjukkan pukul 3 pagi. Alif terbangun lalu melihat wanita cantik dalam dekapannya. Ia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Asya menggeliat dalam tidurnya. Ia meraba di sampingnya yang kosong. Suara air gemercik terdengar di kamar mandi.
Pintu kamar mandi terbuka. Alif tersenyum melihat Asya sudah bangun.
"Mau tahajud bareng?," tanya Alif yang mengambil perlengkapan sholat
"Iya tungguin aku, Mas," ucap Asya lalu ke kamar mandi
Alif menggelar 2 sajadah. Ini pertama kali dalam hidupnya sholat tahajud ditemani pasangan halalnya.
Mereka sholat dengan begitu khusyu'. Alif berdoa dan Asya mengaminkan. Alif berbalik lalu Asya mencium punggung tangan suaminya. Alif mencium kening Asya.
"Terima kasih Ay sudah menerimaku sebagai imam kamu," ucap Alif tulus
"Bimbing aku ya Mas jika salah arah. Jangan pernah bosan menjalani hari denganku," ucap Asya sambil tersenyum
"Tentu saja Ay. Kita sama-sama belajar dalam rumah tangga ini," ucap Alif lembut
"Semoga kita bisa mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah," ucap Asya
"Aamiin," jawab Alif sambil mengelus kepala Asya
Allahu akbar Allahu akbar
Adzan subuh berkumandang. Alif pamit kepada Asya untuk sholat di masjid.
Setelah sholat subuh, Asya berkutat di dapur dengan umi dan kak Lisa. Ia membantu memasak makanan pagi ini.
"Pengantin baru kok udah di dapur aja," goda Lisa sambil mengaduk sup
"Ih apa sih kak," ucap Asya
"Kak Lisa kan benar. Biasanya pengantin baru lagi anget-angetnya," ucap umi terkekeh
"Abiiii tolongin adek dibully terus nih," rengek Asya yang bergelayut pada lengan abi yang baru ke meja makan
"Udah punya suami kok masih ngadu ke abi," cibir Raffa
Abi mengelus kepala Asya dengan sayang. Alif tersenyum melihat pemandangan itu.
"Jangan cemburu ya Alif soalnya Asya dari kecil emang manja sama abi," ucap umi terkekeh
"Bener banget tuh tapi herannya waktu mondok kok jadi mandiri banget deh," ucap Raffa yang sudah duduk
"Iyalah orang di pondok dilatih banget mandirinya," ucap Asya sambil mengambilkan nasi dan lauk untuk Alif
"Yang bikin sebel itu kalo adek nggak mau dikunjungi abi dan umi," sinis umi
"Ih umi sebenarnya adek itu rindu banget nggak bisa jauh dari kalian. Tapi kan adek harus belajar mandiri saat itu karena adek nggak mungkin bergantung terus menerus dengan kalian. Apalagi seorang wanita setelah menikah kan harus mengikuti kemanapun suaminya pergi," jelas Asya
Alif tersenyum mendengar kalimat bijak istrinya. Ia merasakan kehangatan dalam keluarga Fauzi ini. Alif bersyukur bisa diterima baik di keluarga ini.