NovelToon NovelToon
Trigger Between Us

Trigger Between Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Luo Aige

Soren Ravensdale-seorang assassin yang tak pernah gagal menjalankan misinya kini harus menerima kenyataan pahit ketika sahabat yang ia percaya-Vera, justru mengkhianatinya. Bukan hanya itu, Vera juga terlibat dalam pembunuhan adik angkatnya, Ellian Sorrel dan ternyata semua telah direncanakan atas perintah langsung dari ketua mereka sendiri.

Janji bahwa keluarga para anggota akan aman ... ternyata hanyalah kebohongan.

Dengan luka tembak di perutnya, Soren memilih mengakhiri hidupnya dengan kepercayaannya yang hancur dan terjun ke dasar jurang. Namun bukannya mati, ia justru terbangun di tubuh seorang gadis rapuh dengan wajah yang sangat mirip dengannya.

Yang kini statusnya adalah menjadi istri seorang Letnan Kolonel yang dingin dan penuh rahasia.

Dari seorang assassin menjadi seorang istri, apakah Soren benar-benar bisa berhenti dari dunia yang sudah menelan hidupnya atau justru kehidupan barunya hanya akan menyeretnya kembali ke lingkaran kejahatan yang lebih gelap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luo Aige, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kuda Hitam

Suara derap kuda dan langkah hewan terus bersahutan di dalam hutan Westmere yang lebat. Arvian, Leon, dan David sudah berpencar ke arah masing-masing untuk mencari buruan mereka sendiri, sementara Caelum tetap bergerak mengikuti Aveline yang berada sedikit di depan jalur utama. Dari awal, pria itu memang tidak punya niat untuk ikut berburu seperti peserta lain. Pandangannya terus fokus pada jalur sempit di antara pepohonan, memastikan arah yang ia lalui tidak keluar dari rencana yang sudah ditentukan sebelumnya.

Di dalam kepalanya, perintah Marquis Edmund kembali terngiang dengan jelas.

‘Kau hanya perlu mengarahkannya ke sisi danau. Pastikan dia berada di sana.’

Sejak perintah itu diberikan, Caelum sudah mengatur banyak hal tanpa meninggalkan jejak yang mencolok. Beberapa jalur sengaja ditutup dengan ranting besar, semak yang dirusak, dan arah langkah yang perlahan mengarahkan siapa pun yang lewat ke satu titik akhir, yaitu danau yang berada di bagian dalam hutan Westmere.

Aveline sempat menoleh sesaat ke belakang di tengah perjalanan. Ia sudah menyadari sejak awal bahwa dirinya diikuti, tetapi ia tidak langsung bereaksi. Hingga akhirnya, ketika mereka sudah mendekati area yang mulai terbuka menuju danau, Caelum tidak lagi menyembunyikan dirinya. Ia muncul dengan jelas di jalur belakang Aveline, seolah tidak ada lagi kebutuhan untuk berpura-pura. Dan seperti yang sudah ia duga, Aveline akhirnya menghentikan kudanya tepat di depan jalur yang mengarah ke danau.

“Sepertinya kau benar-benar terobsesi padaku. Kau bahkan tidak pernah berhenti mengikuti arahku,” ujar Aveline dengan nada datar, sudut bibirnya sedikit terangkat, tidak menunjukkan emosi yang jelas.

Caelum mendengus pelan. “Aku hanya mengawasimu. Aku tidak ingin kau mempermalukan keluarga Grimwald karena tidak membawa satu pun hasil buruan. Itu saja.”

Aveline menatapnya beberapa detik sebelum menjawab. “Kau yakin itu hanya alasan mengawasi? Atau sebenarnya kau sedang merencanakan sesuatu yang lain?”

Ucapan itu membuat Caelum sempat terdiam. Ia tidak langsung menjawab, hanya menatap Aveline dengan ekspresi yang sedikit mengeras, seperti sedang menilai apakah gadis itu benar-benar hanya menebak atau memang sudah tahu sesuatu. Namun kemudian ia tertawa kecil, nada sinis muncul di ujung suaranya.

“Tidak ada bukti. Kau tidak bisa menuduh sembarangan.”

“Aku tidak butuh bukti untuk bertindak.” Aveline menjawab tanpa ragu. “Kalau aku mau, aku bisa menjadikanmu sebagai salah satu hewan buruan hari ini.”

Ucapan itu membuat wajah Caelum berubah tajam. Nada suaranya langsung naik. “Kau pikir kau siapa? Hari sudah hampir siang dan kau bahkan belum mendapatkan satu pun buruan.”

“Bahkan mengarahkan senjata dengan benar saja kau tidak mampu.” Setelah itu ia mendecak pelan, seolah percakapan itu tidak lagi penting baginya.

Setelah mengatakan hal itu, Caelum akhirnya menarik tali kudanya dengan kasar lalu pergi meninggalkan Aveline tanpa menoleh lagi. Sementara itu, Aveline hanya menarik napas pelan dan menatap ke arah kepergiannya dengan tatapan yang sulit dibaca.

Dalam pikirannya, Aveline yang asli memang dikenal sebagai seseorang yang membawa banyak masalah. Sifatnya yang terlalu lurus dan tidak peduli pada aturan membuatnya sering memicu permusuhan dari banyak pihak di sekitarnya. Namun Aveline tidak terlalu memikirkan hal itu lebih jauh.

Ia kembali melanjutkan perjalanan.

Di dalam hutan, ia mulai berburu seperti biasa. Tidak lama setelah itu, seekor kelinci liar muncul di antara semak. Gerakannya cepat, tetapi Aveline lebih cepat. Ia menangkapnya tanpa kesulitan berarti dan mengikatnya di pelana kudanya. Perjalanan berlanjut, dan kali ini ia menemukan seekor burung hutan yang bertengger rendah di dahan pohon. Satu lemparan kecil membuatnya jatuh, cukup untuk menjadi buruan kedua.

Beberapa waktu kemudian, ia mengejar seekor rusa muda yang berlari di antara celah pohon. Hewan itu cukup cepat dan beberapa kali hampir lolos dari jalurnya, tetapi Aveline memotong arah larinya dan menjatuhkannya setelah pengejaran singkat. Buruan ketiga berhasil didapatkan tanpa banyak kesulitan.

Buruan keempat jauh lebih sulit. Seekor rusa jantan dewasa muncul di area terbuka, bergerak dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi dari hewan sebelumnya. Aveline harus memacu kudanya cukup lama melewati jalur menurun dan semak rapat sebelum akhirnya berhasil menjatuhkan hewan itu setelah pengejaran yang lebih panjang dan melelahkan.

Kini empat hasil buruan sudah tergantung di pelana kudanya. Namun sejak awal, Aveline tidak pernah benar-benar berniat memenangkan kompetisi ini. Ia hanya mengikuti alur perburuan untuk mengisi waktu tanpa beban tujuan tertentu.

Tanpa terasa, jalur hutan mulai terbuka. Cahaya matahari jatuh lebih kuat di antara pepohonan yang mulai renggang, disertai suara air yang perlahan terdengar dari kejauhan. Saat ia bergerak lebih jauh, sebuah danau besar akhirnya muncul di hadapannya. Permukaan airnya berwarna hijau jernih karena pantulan cahaya dan pepohonan di sekitarnya, sementara angin membuat riak kecil di seluruh permukaan.

Aveline menghentikan kudanya di tepi danau, lalu turun dari pelana. Ia tidak langsung pergi jauh, hanya berjalan beberapa langkah ke arah pohon besar yang berada di dekat air dan duduk di bawahnya. Tangannya mengambil botol minum, lalu ia meneguknya perlahan sambil mengatur napas. Ia memang tidak terlalu memikirkan kompetisi ini sejak awal, jadi ia tidak merasa perlu terburu-buru.

Setelah beberapa saat beristirahat, Aveline kembali berdiri dan bersiap melanjutkan perjalanan. Namun saat ia hendak menaiki kembali kudanya, suara teriakan terdengar dari arah lain dan memecah ketenangan danau.

“Lepas!”

“Lepaskan aku!”

“Tolong!”

Tanpa menunggu lama, Aveline langsung melepas tali kudanya dan bergerak menuju sumber suara. Ia berlari mengitari sisi danau hingga akhirnya melihat sekelompok orang berjubah hitam yang menutupi wajah mereka, sementara di tengah mereka terdapat seorang gadis yang terlihat ketakutan.

“Sabrina?” Aveline mengernyit saat mengenali wajah gadis itu.

Tanpa menunggu penjelasan apa pun, Aveline langsung bergerak masuk ke dalam situasi itu. Ia menghantam salah satu pria pertama dengan serangan cepat yang membuat orang itu langsung tersungkur. Pria kedua mencoba menyerang dari samping, tetapi Aveline memutar tubuhnya dan menangkis serangan itu sebelum memukul balik dengan keras ke arah tubuh lawan. Pria itu jatuh, tetapi dua lainnya langsung masuk bersamaan.

Pertarungan terjadi dalam jarak dekat. Aveline tidak membuang gerakan, setiap serangan dibalas dengan pukulan atau tendangan yang langsung mengenai titik lemah lawan. Salah satu dari mereka sempat mencoba menarik Sabrina, tetapi Aveline bergerak lebih cepat dan memukul tangan orang itu hingga pisaunya terlepas. Situasi menjadi semakin kacau ketika salah satu penyerang hampir menusuk Sabrina, tetapi Aveline langsung menendang tangan penyerang itu hingga senjatanya jatuh.

Di saat yang sama, Sabrina berteriak panik.

“Lady, awas!”

Aveline sempat menghindar, tetapi tidak sepenuhnya tepat waktu. Sebuah belati berhasil menggores punggungnya dan meninggalkan luka panjang. Sabrina langsung panik melihat itu, sementara para penyerang tiba-tiba berhenti bergerak.

Aveline memegang bahunya sambil mengernyit. Ada sesuatu yang tidak sesuai dengan situasi ini. Kenapa mereka berhenti?

Namun sebelum ia sempat memikirkan lebih jauh, rasa pusing tiba-tiba menyerang kepalanya. Tubuhnya mulai kehilangan keseimbangan dan refleksnya melemah. Tangannya secara otomatis memegangi pelipis, tetapi itu tidak cukup untuk menahan efek yang masuk ke tubuhnya.

“Lady?!”

Sabrina berteriak panik sambil berusaha mendekat, tetapi Aveline sudah lebih dulu jatuh ke tanah dan kehilangan kesadaran.

Di saat itulah salah satu pria bertopeng perlahan membuka penutup wajahnya dan tersenyum tipis.

“Kakak?!” Suara Sabrina langsung pecah saat melihat wajah Darius muncul di hadapannya.

Sabrina terpaku. Ia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Sebelumnya ia hanya mengikuti kakaknya yang mengajaknya jalan-jalan, lalu tiba-tiba berada di tengah hutan dekat danau tanpa penjelasan yang jelas, dan sekarang semua berubah menjadi kekacauan seperti ini.

Darius melirik sekilas ke arah tubuh Aveline yang tidak sadarkan diri, lalu memberikan perintah dengan suara datar.

“Bawa dia ke Velmire.”

“Baik, Tuan.”

Sabrina langsung menggeleng panik. “Tidak! Kakak tidak boleh melakukan ini! Apa kau lupa bahwaady pernah menyelamatkanku, kenapa kau melakukan ini padanya?!”

“Diam.” Suara Darius terdengar lebih tajam saat ia melangkah mendekat. “Dan lakukan apa yang aku perintahkan.”

Sabrina mundur dengan air mata yang mulai jatuh. “Kenapa kau seperti ini?”

Darius menatapnya dingin. “Siapa kakakmu? Kenapa kau begitu membelanya?”

“Tidak! Kalian tidak boleh membawanya!” Sabrina berteriak sambil mencoba menghalangi orang-orang yang mulai mengangkat tubuh Aveline.

Namun Darius lebih cepat menarik pergelangan tangannya dengan kuat. “Lepaskan aku!”

“Lepaskan!”

“Bawa dia sekarang!” perintah Darius akhirnya.

Sabrina terus berusaha melawan, tetapi tenaganya jelas kalah. Air matanya jatuh saat ia menatap tubuh Aveline yang mulai dibawa pergi.

Dengan suara bergetar ia berkata pelan, “Kau … berubah.”

~oo0oo~

Hari semakin sore. Cahaya matahari mulai turun perlahan di balik garis pepohonan hutan Westmere, membuat bayangan panjang menyapu area kompetisi yang sejak tadi dipenuhi para bangsawan. Namun hingga saat ini, belum ada satu pun peserta yang benar-benar kembali dengan hasil yang lengkap di tangan mereka. Suasana paviliun masih dipenuhi bisik-bisik kecil, sebagian orang mulai kehilangan kesabaran karena menunggu terlalu lama tanpa kepastian.

Elowen sempat mengalihkan pandangannya ke paviliun sebelah, tempat Marquis Edmund duduk dengan tenang tanpa banyak bergerak sejak awal acara dimulai. Tidak ada ekspresi yang mudah ditebak dari wajah pria itu, seolah ia memang sudah memperkirakan semua yang akan terjadi di hutan tersebut.

“Aku jadi penasaran. Bangsawan mana yang akan sampai duluan?” Lady Celine menyandarkan punggungnya di kursi, lalu tersenyum tipis sambil menatap ke arah jalur hutan yang mulai semakin gelap.

Lilian tersenyum remeh, seolah pertanyaan itu bahkan tidak layak dipertimbangkan. “Sudah jelas, kakakku yang akan menang.”

“Bukankah kau terlalu percaya diri?”

“Tidak. Aku hanya mengatakan hal yang sudah pasti,” balas Lilian dengan nada ringan, namun penuh keyakinan.

“Lady Lilian terlihat sangat yakin sekali. Aku jadi penasaran, kudeta seperti apa yang sedang direncanakan oleh keluarga kalian,” sindir Celine dengan santai, namun cukup tajam untuk didengar orang sekitar. Ucapannya membuat Lilian langsung menoleh dengan tatapan tajam, seolah hendak membalas tanpa ragu. Namun beberapa detik kemudian ia memilih diam. Ia tahu, jika ia menyangkal dengan terburu-buru, justru akan terlihat seperti sedang menutupi sesuatu.

Clarissa yang duduk tidak jauh dari mereka mengalihkan pandangannya ke arah jalur hutan yang kini semakin gelap. Angin sore bergerak pelan melewati area paviliun, membawa suara dedaunan yang bergesekan dari kejauhan. Dalam benaknya muncul satu nama yang sejak tadi belum kembali. Apakah Lady Aveline akan kembali membawa hasil buruannya? Pertanyaan itu terus berputar, meski ia berusaha menenangkannya sendiri.

Di sisi lain, Raja Leopold dan Pangeran Wilhelm masih memperhatikan area hutan tanpa mengalihkan pandangan. Wilhelm sejak tadi terlihat semakin tidak sabar. Ia bahkan menyandarkan tubuhnya ke sofa dengan posisi yang tidak nyaman, seperti seseorang yang dipaksa duduk terlalu lama di tempat yang tidak ia inginkan. Topeng yang ia pakai sejak awal acara juga mulai terasa semakin mengganggu, membuatnya beberapa kali menggerakkan rahangnya seolah ingin melepaskan tekanan di wajahnya.

“Benar-benar acara yang membosankan,” cibir Wilhelm akhirnya, suaranya cukup keras untuk membuat beberapa orang di dekatnya menoleh.

Raja Leopold mengalihkan pandangannya pelan ke arah adiknya. “Sepertinya kau memang tidak bisa menikmati apa pun yang sudah kusiapkan.”

“Kalau memang begitu, kenapa baru sekarang kau mendengarkannya?” balas Wilhelm tanpa menahan diri.

Leopold menghela napas singkat, tidak benar-benar marah, hanya lelah dengan sikap adiknya. “Maksudku, tidak ada satu pun hal di sini yang bisa membuatmu puas. Aku bahkan cukup terkejut kau bersedia datang. Jadi sebenarnya kenapa? Karena gadis itu?”

Kalimat itu membuat Wilhelm berhenti sejenak. Ia tidak langsung menjawab, tetapi dalam kepalanya nama Aveline muncul dengan sangat jelas. Gadis itu sejak awal memang berbeda. Bukan hanya cara bicaranya yang tidak mengikuti norma bangsawan, tetapi juga cara ia membawa dirinya di tengah situasi seperti ini. Bahkan saat berburu, ia tidak terlihat seperti seseorang yang sedang berusaha menyesuaikan diri. Ia justru terlihat seperti seseorang yang sudah tahu apa yang harus dilakukan sejak awal.

Wilhelm menatap jauh ke arah hutan. “Aku hanya ingin melihat sampai sejauh apa dia bisa bertahan.”

Leopold tidak menjawab lagi, hanya mengamati adiknya dengan tatapan yang sulit dibaca.

Tidak lama kemudian, suara teriakan dari salah satu bangsawan memecah suasana.

“Lihat! Mereka kembali!”

Seketika seluruh perhatian berpindah ke arah jalur hutan. Suara derap kuda mulai terdengar semakin jelas, menghantam tanah dengan ritme cepat yang menandakan mereka sedang mendekat. Beberapa orang langsung berdiri dari tempat duduknya, sementara yang lain mulai bertepuk tangan kecil sebagai bentuk antisipasi.

Tiga kuda muncul dari balik pepohonan dengan kecepatan tinggi, berusaha mencapai area paviliun seolah sedang mengejar sesuatu yang tidak terlihat. Tanah yang mereka lewati sedikit berdebu, dan suara napas kuda terdengar jelas bahkan dari jarak jauh.

Kuda cokelat menjadi yang pertama memasuki area lapangan utama. Caelum menarik tali kekangnya dengan tenang dan menghentikan laju kudanya tepat di garis awal. Ia turun dengan gerakan ringan, lalu menatap sekeliling dengan ekspresi yang nyaris tidak menunjukkan apa pun.

Lilian langsung tersenyum puas, lalu menoleh ke arah Celine. “Lihat, aku benar, kan?” ucapnya dengan nada kemenangan yang tidak ia sembunyikan.

Celine hanya mendengkus pelan, lalu memalingkan wajahnya seolah tidak ingin melanjutkan percakapan itu.

Tidak lama kemudian Arvian tiba, disusul oleh David. Keduanya menurunkan hasil buruan mereka dan menunjukkan bahwa mereka tidak pulang dengan tangan kosong. Namun satu hal langsung menjadi perhatian semua orang. Masih ada satu kuda yang belum kembali.

Aveline.

“Dia belum kembali?” tanya David sambil menatap jalur hutan yang kini semakin redup.

Suasana yang tadi cukup ramai perlahan menjadi sedikit lebih sunyi. Bahkan suara percakapan kecil di paviliun mulai berkurang.

Caelum melirik sekilas ke arah Marquis Edmund. Lalu, ia tersenyum tipis. “Sudah kukatakan sejak awal. Dia tidak akan bisa melakukan apa pun di sini. Mungkin saja tersesat di dalam hutan.”

Arvian tertawa kecil sambil menurunkan barang buruannya dari pelana. “Ya, apa yang bisa diharapkan dari seseorang seperti itu?”

Clarissa mengernyit pelan. Ia tidak langsung membantah, tetapi ada sesuatu yang membuat dadanya terasa tidak nyaman. Jalur hutan itu terlalu sunyi, jika ada orang yang tersesat.

Di sisi lain, Wilhelm masih berdiri di tempatnya. Matanya tidak lepas dari jalur hutan yang gelap, seperti sedang menunggu sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Napasnya pelan, tetapi fokusnya semakin tajam.

Beberapa saat kemudian, suara lain terdengar dari arah hutan. Kali ini bukan dari beberapa kuda sekaligus, melainkan hanya satu. Seekor kuda hitam muncul dengan kecepatan tinggi, namun gerakannya tidak stabil. Ia berlari tanpa arah yang jelas, seolah kehilangan kendali sepenuhnya.

Suasana langsung berubah. Para bangsawan yang berdiri di garis depan mundur secara refleks, beberapa bahkan berteriak ketika melihat kuda itu mendekat tanpa penunggang yang mengendalikannya. Debu naik dari tanah setiap kali kuda itu menginjakkan kaki, dan suara ringkikan terdengar tidak stabil.

Wilhelm tidak menunggu siapa pun bereaksi. Ia langsung melangkah ke depan, lalu berlari menuju kuda yang semakin mendekat. Dalam satu gerakan cepat, ia melompat dan berhasil naik ke punggung kuda itu. Tubuhnya sempat terguncang keras karena laju kuda yang tidak stabil, namun ia segera mengunci posisi dan menarik tali kekang dengan kuat.

Kuda itu meringkik keras, mengangkat kaki depannya, lalu mulai melambat meski masih tidak sepenuhnya tenang.

“Ck, ini benar-benar konyol. Kudanya kembali, tapi orangnya tidak ada,” ujar David sambil tertawa kecil, diikuti oleh Caelum dan Arvian yang ikut menanggapi dengan nada serupa.

Wilhelm tidak memperhatikan mereka. Matanya justru langsung tertuju pada pelana kuda itu. Ia turun perlahan, lalu melepaskan semua hasil buruan yang tergantung di sana dan menjatuhkannya ke tanah.

Seekor kelinci. Seekor burung hutan. Dan dua ekor rusa.

Jumlahnya cukup, bahkan lebih dari cukup untuk dianggap sebagai hasil yang baik. Tapi bukan itu yang membuat Wilhelm berhenti.

Ada sesuatu yang tidak beres.

Pandangan Wilhelm bergerak cepat ke arah hutan yang semakin gelap. Tangannya mengepal tanpa ia sadari, lalu tanpa menunggu siapa pun lagi, ia langsung berteriak memerintahkan kudanya.

Melihat itu, Raja Leopold langsung berdiri dari tempat duduknya. “Wilhelm! Apa yang kau lakukan?!”

Namun Wilhelm sama sekali tidak mendengarkan. Ia sudah memacu kudanya, melesat masuk ke dalam hutan yang semakin gelap, meninggalkan area paviliun tanpa keraguan sedikitpun.

Dia harus mencari Aveline.

.

.

.

Bersambung

1
Dede Dedeh
lanjutttt....... thor
Norris Yuniarty
seru2 thor😍😍😍
Norris Yuniarty
seru thor semangat💪💪💪
Dede Dedeh
lanjuttttttt
Norris Yuniarty
seru2 thor semangat episode selanjut y💪💪💪
Eka Putri Handayani
sedikit bingung tapi jika dibaca secara lebih cermat lagi aku udah mulai paham😄
Saelyn: Aku mikirnya pun kadang bingung nulisnya🤣
total 1 replies
Norris Yuniarty
seru sekali😍😍😍
Norris Yuniarty
mulai cemburu nich🤭🤭🤭
Norris Yuniarty
seru thor😍😍😍
Norris Yuniarty
semangat thor💪💪💪
Norris Yuniarty
seru thor😍😍😍
Norris Yuniarty
seru sekali thor😍😍😍
Norris Yuniarty
semangat thor💪💪💪
Norris Yuniarty
seru thor!!! 😍😍😍
Norris Yuniarty
seru2 let's go💪💪💪
Norris Yuniarty
seru2 cerita y😍😍😍
Norris Yuniarty
seru cerita y😍😍😍
Saelyn: Mksh😺
total 1 replies
Dede Dedeh
lanjut.......
Dede Dedeh
aku suka karakter cewek yg kuat....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!