NovelToon NovelToon
Terikat Luka, Terlahir Cinta

Terikat Luka, Terlahir Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: M. ZENFOX

Erlangga Mahardika Pratama—seorang CEO muda yang dikenal dingin dan tak tersentuh—terbiasa mengendalikan segalanya dalam hidupnya. Hingga satu hari, sebuah kegagalan cinta menghancurkan pertahanannya, dan mempertemukannya dengan Zea Anindhita Kirana, gadis sederhana yang datang tanpa rencana… namun perlahan mengisi ruang kosong di hatinya.

Hubungan mereka tumbuh dalam diam—penuh tarik ulur, perbedaan dunia, dan luka yang belum sembuh. Di tengah kehangatan yang mulai tercipta, kebahagiaan itu justru direnggut oleh sebuah kebohongan kejam.

"Kadang, cinta datang bukan untuk dimulai... tapii untuk di perbaiki"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. ZENFOX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lapar

Malam sudah larut ketika Zea melangkah keluar dari ruang staf kebersihan di lantai dasar. Tubuhnya terasa remuk, tulang punggungnya seolah menjerit minta diistirahatkan setelah drama yang menguras emosi di lobby tadi. Zea kini berdiri di dalam lift menuju lantai penthouse, menatap pantulan dirinya yang kuyu di cermin lift.

"Orang aneh," gumam Zea sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. "Biasanya kan jadwal bersih-bersih unit itu pagi hari sebelum dia berangkat. Kenapa tiba-tiba disuruh datang malam-malam begini? Mana pakai instruksi 'secepatnya' lagi. Memangnya dia pikir aku ini jin yang bisa dipanggil kapan saja?"

Ya begitulah, tiba-tiba ia di datangi manajer yang bertanggung jawab atas shift malam, katanya ia di panggil untuk segera ke unit sang pemilik gedung.

Begitu pintu lift terbuka di lantai teratas, suasana sunyi dan eksklusif langsung menyambutnya. Zea melangkah menuju pintu, unit yang ukurannya mungkin setara dengan sepuluh rumah kontrakan ibunya. Dengan ragu, ia menempelkan kartu akses yang diberikan Langga sebelumnya.

Bip.

Pintu terbuka pelan. Zea melangkah masuk ke dalam ruangan luas yang didominasi warna monokrom. Ruang tamu itu gelap, hanya ada sedikit pendar cahaya dari lampu kota yang masuk melalui jendela kaca raksasa.

“Halo… Pak Langga?” panggil Zea pelan, suaranya menggema di ruangan yang sepi itu.

Tak ada jawaban. Zea mengernyit, merasa sedikit merinding. Ia melangkah lebih dalam, melewati meja makan kayu panjang menuju lorong kamar utama. Ia berpikir, mungkin Erlangga sudah tidur atau terjadi sesuatu padanya. Zea berhenti di depan pintu jati besar itu dan mengetuk perlahan.

Tok. Tok. Tok.

“Pak Langga? Saya sudah sampai.”

Masih hening. Zea mulai merasa cemas. Apakah pria itu pingsan karena terlalu lelah bekerja? Zea mencoba mengetuk lagi, kali ini jauh lebih keras, seolah sedang menagih hutang.

Tok! Tok! Tok!

“Pak Langga! Anda di dalam? Ini Zea!”

Klik.

Pintu mendadak terbuka dari dalam secara tiba-tiba. Zea sudah menarik napas siap untuk memprotes, namun oksigen di paru-parunya seolah mendadak menguap. Matanya membulat sempurna, nyaris keluar dari kelopaknya. Waktunya seakan berhenti saat itu juga.

Di depannya, berdiri Erlangga Maheswara dalam kondisi yang sangat tidak ramah bagi kesehatan jantung Zea. Rambut hitamnya masih basah kuyup, tetesan air mengalir turun melewati pelipis menuju bahunya yang kokoh. Dan yang paling mengejutkan, pria itu sama sekali tidak memakai baju. Dada bidangnya terekspos jelas, memperlihatkan otot-otot yang terbentuk sempurna, perut rata dengan garis-garis otot "roti sobek" yang nyata, dan handuk putih yang hanya melingkar rendah di pinggangnya.

“AKHHHH MESUMMM!!!” teriak Zea spontan.

Tanpa sadar, Zea mendorong dada Langga dengan kedua telapak tangannya. Kulit pria itu terasa sangat hangat dan sedikit basah. Dengan gerakan kilat, Zea langsung menutup kedua matanya rapat-rapat.

“KENAPA BUKA PINTU GAK PAKE BAJU?! PAKAIAN ANDA KE MANA?!” teriak Zea lagi, wajahnya sudah merah padam sampai ke telinga.

Langga yang terdorong satu langkah ke belakang hanya menatap Zea dengan raut datar andalannya. Ia mengusap tetesan air di dadanya dengan santai, seolah hal itu sangat normal.

“Lagian pintu saya kamu ketuk-ketuk terus. Saya baru selesai mandi, Zea,” jawab Langga dingin.

“Ya pakailah baju dulu! Minimal pakai handuk di bahu atau apa gitu!”

“Ini tempatku. Hakku mau buka pintu pakai baju atau tidak,” balas Langga pendek. Ia lalu menyipitkan mata, menatap Zea yang masih menutup muka. “Dan kenapa kamu yang histeris begitu? Lagipula, kamu sudah pernah lihat sebelumnya kan?”

Wajah Zea terasa seperti diletakkan di atas kompor menyala. “ITU BEDA KONDISI! Waktu itu kan anda menjadi bajingan, kalo sekarang namanya pelecehan visual!”

“Pelecehan visual?” Langga mendengus, sudut bibirnya sedikit terangkat. “Aku yang punya tubuh, kenapa kamu yang merasa dilecehkan? Harusnya aku yang protes karena kamu dorong-dorong sembarangan.”

“Cepat pakai baju! Saya tidak mau bicara sama orang setengah telanjang!”

“Baiklah, bawel. Tunggu di sofa. Jangan mengintip kalau tidak mau matamu bintitan,” kata Langga sebelum menutup pintu kamar kembali.

Beberapa menit kemudian, Zea sudah duduk di sofa ruang tamu. Tangannya masih memegangi pipinya yang terasa panas. Ia terus berusaha menghapus bayangan otot-otot Langga dari kepalanya.

“Ya Tuhan… tadi itu apa… kenapa perutnya bisa kotak-kotak begitu? Kayak habis digambar pakai penggaris,” bisik Zea pada diri sendiri. “Stop, Zea! Jangan mikir aneh-aneh! Ingat, dia itu bos galak, iblis berwajah tampan yang suka menyiksa batin! Jangan terpesona hanya karena roti sobek!”

“Ngapain ngelamun?”

“AAAAA—!” Zea terlonjak hingga hampir jatuh dari sofa.

Langga sudah berdiri tepat di sampingnya, kini sudah sopan dengan kaos hitam polos dan celana santai panjang. Aroma sabun dan parfum maskulin yang segar langsung memenuhi indra penciuman Zea.

“Bapak bisa tidak jangan muncul kayak hantu begitu?!” gerutu Zea sambil mengatur napas.

Langga duduk santai di sofa seberang, menyilangkan kaki dengan elegan. “Siapa yang suruh kamu melamun? Kenapa muka kamu masih merah? Kamu demam?”

“Enggak! Ini… ini karena AC Bapak terlalu panas!” bohong Zea asal.

“AC-ku di suhu 20 derajat, Zea. Kamu mau aku ganti pakai suhu freezer?” Langga menatapnya tajam, lalu suaranya berubah menjadi lebih serius. “Dengar. Mulai besok, jadwal kerjamu di sini berubah. Kamu bersihkan unit ini sore hari saja.”

Zea mengernyit bingung. “Kenapa? Pagi hari kan lebih tenang karena Bapak biasanya sudah di kantor. Saya tidak perlu sering-bertemu Bapak.”

“Justru itu alasannya,” potong Langga cepat. “Sore hari aku biasanya sudah pulang. Kalau ada hal-hal yang perlu dibantu secara mendadak, aku bisa langsung menyuruhmu.”

Padahal, jauh di lubuk hatinya, Langga hanya mulai merasa apartemen ini terlalu sunyi jika Zea tidak ada di sekitarnya. Namun, egonya terlalu tinggi untuk mengakui hal itu.

“Terus ada lagi?” tanya Zea pasrah.

“Satu lagi,” Langga menopang dagunya. “Mulai sekarang, kamu harus masak juga.”

Zea membelalak. “HA? Masak? Pak, di kontrak saya tertulis sebagai cleaning service, bukan chef pribadi!”

“Kamu adalah asisten rumah tangga kontrak saya. Tugasnya mencakup segala hal yang berhubungan dengan kenyamanan rumah ini,” sahut Langga dengan nada mutlak yang tidak bisa didebat. “Aku lapar. Rapat seharian membuatku tidak sempat makan siang.”

Zea mendesah frustrasi. “Tapi Pak, saya cuma bisa masak makanan sederhana. Tempe penyet, sayur kangkung, nasi goreng kampung. Tidak ada bahan-bahan mahal di masakan saya. Kalau rasanya tidak cocok dengan lidah orang kaya Bapak, jangan marahi saya.”

“Tidak masalah. Masak saja apa yang kamu bisa,” jawab Langga singkat.

Zea akhirnya menyerah. Ia berjalan menuju dapur yang sangat luas dan modern, penuh dengan peralatan canggih yang bahkan Zea tidak tahu cara menyalakannya. Ia membuka kulkas raksasa dua pintu itu dengan harapan besar. Namun, begitu pintu terbuka, Zea hanya bisa berdiri mematung.

Di dalam kulkas itu hanya ada deretan botol air mineral, beberapa kaleng minuman soda, dan satu kotak es batu. Tidak ada telur, tidak ada daging, bahkan sebatang seledri pun tidak ada.

Zea menoleh pelan ke arah Langga. “…Pak Langga.”

“Hmm?” sahut Langga tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.

“Bahan makanannya mana? Kulkas Anda ini lebih kosong daripada lapangan bola di tengah malam.”

Langga mengangkat wajahnya, menatap Zea dengan polos. “Memang tidak ada.”

Zea membeku. “TERUS SAYA MASAK APA?! MASAK KULKASNYA?! Atau Bapak mau saya buatkan sup es batu?”

Langga menghela napas, meletakkan ponselnya di meja. “Aku tidak pernah makan di rumah, Zea. Biasanya di kantor, di restoran, atau Rian yang membelikan. Aku tidak bisa masak, jadi untuk apa aku stok bahan makanan yang akhirnya cuma akan membusuk?”

Zea menatapnya dengan pandangan tidak percaya. “Terus sekarang nyuruh saya masak pakai kekuatan batin? Bapak pikir saya ini pesulap?”

Langga berdiri dari sofanya, merogoh saku celana dan mengambil kunci mobil serta dompetnya. “Supermarket di lantai dasar masih buka sampai jam 12 malam. Kita turun sekarang.”

Zea tertegun. “Kita? Bapak ikut juga?”

“Kenapa? Kamu mau belanja pakai uangmu sendiri?” tanya Langga sambil berjalan menuju pintu.

“Maksud saya, kenapa Bapak tidak kasih kartu saja ke saya? Saya bisa beli sendiri.”

Langga berhenti di depan pintu, menoleh sedikit dengan seringai tipis. “Kalau aku kasih kartu tanpa pengawasan, aku takut kamu malah beli peralatan dandan atau baju baru daripada beli bumbu dapur. Aku perlu memastikan uangku dipakai dengan benar.”

Zea langsung melotot, menunjuk wajahnya sendiri dengan emosi. “HEH! Bapak pikir saya ini tukang korupsi? Wajah saya ini wajah jujur, wajah orang baik-baik!”

“Koruptor di berita juga wajahnya tampak baik-baik sebelum tertangkap,” balas Langga santai sambil membuka pintu.

“DASAR MENYEBALKAN! TUBUH SETAN, HATI IBLIS!” teriak Zea sambil menyusul Langga masuk ke dalam lift.

Di dalam lift yang sempit, Zea berdiri di pojok, berusaha menjauh dari aroma maskulin Langga yang terasa mengintimidasi. Langga melirik Zea dari sudut matanya.

“Kamu tahu bedanya lengkuas dan jahe kan?” tanya Langga tiba-tiba.

“Tentu saja tahu! Saya ini anak dapur!” jawab Zea bangga.

“Baguslah. Karena kalau kamu salah beli, aku akan potong gajimu sepuluh persen per item,” canda Langga datar.

“BAPAK BENERAN IBLIS!”

Lift terbuka dengan bunyi denting halus. Mereka berjalan keluar menuju supermarket apartemen yang masih terang benderang.

1
ELVI NI'MAH
Bagus, aku suka happy ending, inginku ibunya langga menyukai zea
Nessa
lapor donk zea jangan diam aja
Nessa
yakin ni g tertarik kita liat aja nanti 🤭
Nessa
gimna nasib zea
Nessa
diihh sarah sombong kali
Nessa
erlangga 😤😤😤
Nessa
salut banget padamu zea, intinya bersyukur
Nessa
smngat zea
Nessa
ikut sedih 😢
Nessa
zea kenapa g minta erlangga menikahimu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!