Menikah dengan Aris (28 tahun), seorang bos pertambangan yang wajahnya setampan aktor film tapi sedingin es di kutub utara, seharusnya membuat hidup Maya (24 tahun) tenang. Namun, pindah ke rumah mewah di pinggiran kota justru menjadi awal dari kegilaan hidupnya.
Aris itu aneh. Dia posesifnya bukan main, tapi bukan ke sesama manusia. Dia melarang Maya keluar rumah lewat magrib bukan karena cemburu, tapi karena takut Maya "disapa" oleh penghuni pohon kamboja depan rumah. Dia memasang CCTV di setiap sudut, bukan untuk maling, tapi untuk memantau pergerakan bayangan putih yang hobi duduk di ruang tamu mereka.
Maya yang aslinya penakut tapi hobi ngelawak dan hobi menebar gombalan "maut" ke suaminya yang kaku itu, mulai merasa ada yang tidak beres. Apalagi para tetangga—Geng Gibah Bu RT—mulai nyinyir. Mereka bilang Maya itu tumbal pesugihan Aris karena Aris kaya raya tapi istrinya seperti dikurung di istana berhantu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
perjamuan tanah merah
Aris menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang gelap, jauh dari lampu pemukiman. Mesin mobil mati total, dan kali ini, instingnya mengatakan bahwa ini bukan sekadar kerusakan teknis. Udara di dalam kabin mendadak berubah menjadi sangat padat, seperti air yang memenuhi paru-paru.
Maya tidak lagi menangis. Ia duduk mematung dengan mata yang terbuka lebar, namun pupil matanya mengecil hingga hanya menyisakan titik hitam kecil di tengah putih mata yang memerah.
"Mas... dingin..." bisik Maya. Suaranya bukan lagi suara manusia. Itu adalah suara serak yang keluar dari kerongkongan yang seolah penuh dengan pasir.
Aris menoleh, dan jantungnya seakan berhenti. Di bawah cahaya remang dari dasbor yang berkedip, ia melihat kulit wajah Maya perlahan mulai retak-retak. Bukan luka berdarah, tapi retakan kering seperti tanah yang dilanda kekeringan panjang. Dari sela-sela retakan itu, muncul ujung-ujung akar berwarna hitam yang bergerak pelan, mencoba mencari jalan keluar.
*Krak... krak... krak...*
Suara itu datang dari jendela samping. Aris tidak berani menoleh, tapi ia bisa merasakan kehadiran sesuatu di sana. Secara perlahan, sebuah wajah mulai menempel di kaca jendela. Itu adalah wajah Pak Bambang, tetangga yang baru meninggal. Namun, wajah itu sudah membusuk sempurna; rahang bawahnya hilang, dan dari lubang mulutnya yang menganga, keluar ratusan ulat tanah yang menggeliat jatuh ke bodi mobil.
"Dia... tidak boleh... lahir..." gumam suara Pak Bambang, terdengar seperti suara dari dalam kubur yang dalam.
Tiba-tiba, seluruh pintu mobil terkunci dengan suara *ceklek* yang keras. Aris mencoba menarik tuas pintu, namun tuas itu terasa panas membara, membakar kulit telapak tangannya.
"Aris... lihat aku..." Maya memutar lehernya ke arah Aris. Gerakannya tidak alami; lehernya berputar hingga hampir 180 derajat dengan suara tulang yang patah berkali-kali. *Krek... krak...*
Mata Maya kini sepenuhnya hitam. Dari mulutnya, keluar cairan kental berwarna merah kehitaman yang baunya lebih busuk dari bangkai mana pun. Cairan itu mulai membanjiri jok mobil, merendam kaki mereka. Aris melihat ke bawah, dan di dalam cairan itu, ia melihat potongan-potongan kain kafan yang compang-camping bergerak-gerak seperti lintah.
"Maya! Sadar!" Aris mencengkeram bahu Maya, mencoba mengguncang tubuh istrinya.
Namun, Maya justru mencengkeram tangan Aris dengan kekuatan yang tidak masuk akal. Kuku-kuku Maya memanjang dan menghitam, menancap dalam ke daging lengan Aris hingga darah mengucur. Aris merintih, namun ia tidak melepaskan dekapannya.
Tiba-tiba, atap mobil mulai melesak ke bawah secara perlahan, seolah ada beban ribuan ton tanah yang ditumpahkan di atas mobil mereka. Suara tanah yang berjatuhan terdengar jelas di atas kepala mereka. *Sruuukk... sruuukk...*
Mereka sedang dikubur hidup-hidup di dalam mobil tersebut oleh kekuatan gaib yang tak terlihat.
Danu, yang biasanya menjadi pelindung, kini meringkuk di sudut jok belakang dengan tubuh yang mengecil dan transparan. Ia tidak bisa berbuat apa-apa; kekuatan yang menyerang mereka kali ini jauh lebih tua dan lebih murni dari sekadar hantu kiriman. Ini adalah **Karma Tanah**, tuntutan dari bumi yang merasa terusik oleh keberadaan janin di rahim Maya.
Dalam kegelapan yang hampir total, Aris merasakan tangan-tangan dingin mulai keluar dari dalam sandaran jok mobil. Tangan-tangan itu kecil, pucat, dan sangat banyak—seperti tangan bayi-bayi yang mati sebelum dilahirkan. Tangan-tangan itu mulai merayap di sekujur tubuh Maya, mencoba masuk ke dalam perutnya melalui pori-pori kulit.
Maya mulai menjerit melengking, suara yang bukan berasal dari pita suara manusia. Tubuhnya kejang-kejang hebat. Aris melihat perut besar Maya mulai bercahaya merah redup, dan di dalamnya, tampak bayangan janin mereka yang sedang dicengkeram oleh tangan-tangan kecil tersebut.
"TIDAK!" raung Aris.
Tanpa peduli lagi dengan keselamatannya, Aris menggigit lidahnya sendiri hingga darah memenuhi mulutnya. Ia menyemburkan darah itu ke arah wajah "Maya" yang sedang kerasukan.
*CIIIIAAAAKKKK!*
Jeritan itu memekakkan telinga. Ruangan di dalam mobil mendadak meledak oleh energi negatif. Kaca-kaca mobil pecah ke arah luar, dan tekanan tanah di atas mereka menghilang seketika.
Hening kembali. Tapi hening yang ini jauh lebih mengerikan. Aris terengah-engah, memeluk Maya yang lemas tak berdaya. Ia melihat ke luar jendela yang hancur. Di sekeliling mobil mereka, di tengah kegelapan hutan, berdiri ribuan sosok putih yang terbungkus kain kafan. Mereka semua berdiri diam, menghadap ke arah mobil, tanpa wajah, tanpa suara.
Salah satu dari mereka melangkah maju. Kain kafannya penuh noda tanah merah yang masih basah. Sosok itu berhenti tepat di samping pintu Aris, lalu menjatuhkan sesuatu ke dalam mobil.
Sebuah koin kuno yang berkarat dan berbau darah.
"Bayar... atau bawa dia kembali..." bisik sosok itu sebelum akhirnya menghilang menjadi debu hitam yang tertiup angin.
Aris menatap koin itu dengan tangan gemetar. Ia menyadari bahwa pelarian ini tidak ada gunanya. Mereka tidak sedang dikejar; mereka sedang ditagih . Dan nyawa bayinya adalah mata uang yang diinginkan oleh para penghuni kegelapan itu.
kurang keras bantingnya, butuh parutan gk? ni aq ada
mayan buat marut kuyang🤣🤣🤣🤣