NovelToon NovelToon
CINTA YANG SALAH

CINTA YANG SALAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Konflik etika / Selingkuh / Cinta Terlarang / Identitas Tersembunyi / Wanita Karir
Popularitas:540
Nilai: 5
Nama Author: Taurus girls

cinta? bagi ku, cinta itu adalah suatu rasa yang memang tidak pandang kepada siapapun rasa itu akan berlabuh, rasa itu akan bersemayam, dan bahkan rasa itu kepada siapa akan menetap. yang aku tahu, aku mencintai mu, aku mencintai dia dengan tulus dan penuh ikhlas. walau aku tahu kemungkinan aku dan dia akan bersatu dan akan hidup bersama sebagai pasangan suami istri sangatlah tipis. aku berusaha melupakannya, tapi sulit. dia masih saja ada dalam hati dan pikiran ku. aku mencintai mu, dia yang ada di hati ku sampai detik ini. rasa cinta yang sebenarnya dari awal sudah jelas sangatlah SALAH.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taurus girls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16

"Tidak. Dia masih kuliah. Dia belum tahu masalah rumah tangga seperti ini," lirihnya dan memilih untuk tidur bersama dua anaknya.

Esok hari.

Niya terbangun dari tidurnya, dia melihat sisi kanan kirinya. Terlihat Arfi dan Zona masih terlelap pulas. Niya terduduk meraih ponsel dan melihat jam dilayar.

"Sudah jam lima pagi,"

Walau masih sedikit mengantuk, Niya tetap bangun karena harus menyiapkan sarapan untuk suami dan anak anaknya. Niya turun dari ranjang, membenarkan selimut Zona dan Arfi yang merosot dilutut lebih dulu sebelum keluar dari kamar ini.

Niya menguap setelah ada di luar kamar di depan pintu kamar Anaknya. Sesekali mengucek kedua mata, Niya berjalan menuju dapur, menyempatkan mencuci muka sebelum memulai rutinitas paginya.

Pukul lima lebih empat puluh lima menit, Niya sudah selesai masak dan cuci piring. Masakan seadanya, ala kadarnya sisa sayuran kemarin. Dia menaruh sarapan diatas meja makan. Kemudian berjalan menuju kamarnya dengan suami. Niya membuka pintu tanpa mengetuknya lebih dulu. Sedikit was was jika mas Riyan bakal marah tapi, kosong. Kamar ini kosong, tidak ada siapapun.

"Mas Riyan!" panggilnya, karena kamarnya masih gelap. Niya menekan saklar yang ada dekat pintu. Lampu menyala terang.

"Mas!"

Niya melangkah lebih masuk lagi dia berjalan ke sisi ranjang. "Ya Allah Mas! Kenapa kau tidur dilantai?"

Niya menutup mulutnya, tentu saja kaget saat melihat mas Riyan tidur diatas lantai padahal ranjang juga sangat luas karena hanya mas Riyan seorang yang tidur disitu.

Niya mendekati mas Riyan lalu mengguncang bahunya. "Mas Riyan, bangun Mas!"

Riyan menggeliat sambil menggumam. Perlahan kedua matanya itu terbuka. Menyipit saat merasa silau karena cahaya lampu. perlahan Riyan terduduk sambil mengucek kedua matanya.

"Mas, kenapa kau tidur dilantai?" tanya Niya lagi karena suaminya masih saja diam mungkin belum sepenuhnya sadar dari rasa kantuk.

Perlahan kesadaran Riyan mulai penuh. Dia menatap Niya yang terlihat khawatir. Riyan meneguk ludah teringat mimpinya tadi.

"Niya, barusan aku mimpi,"

"Mimpi apa? Ayo bangun dan pindah kekasur. Dingin lho disitu, tapi ini juga sudah pagi. Sudah hampir jam enam,"

Niya memaksa suaminya untuk berdiri agar dipindah kekasur atau malah mau langsung mandi saja supaya segar.

Tiba tiba Riyan memeluknya, membuat Niya tersentak kaget. "Mas, kau kenap---"

"Jangan tinggalkan aku, Niya."

Riyan memotong ucapan Niya, memeluk Niya erat, tidak peduli jika istrinya akan marah karena kemungkinan dia masih marah karena perlakuannya kemarin.

"Aku bermimpi kau pergi meninggalkanku bersama pria lain. Aku tidak mau Niya. Aku tidak mengizinkan kau pergi dariku. Aku mencintaimu Niya, aku mencintaimu,"

Bagai mendapat air ditengah panasnya gurun. Niya, dia yang mengira jika suaminya sudah tak lagi menyayanginya kini tersenyum, hatinya menghangat mendengar kalimat pengakuan dari suaminya yang entah sadar atau tidak dia mengucapkannya.

"Mas, itu...itu kau sadar berkata seperti itu?"

Masih belum percaya sepenuhnya dengan apa yang didengarnya barusan. Niya ingin memastikannya sekali lagi.

Riyan menggeleng masih dengan memeluk Niya erat erat. "Aku seratus persen sadar, Sayang,"

Riyan melepas pelukannya pada Niya. Tiba tiba mengecup kedua pipi Niya dengan lembut. Cium hangat yang sangat Niya rindukan karena beberapa hari terakhir tidak pernah dia dapatkan.

"Kau merasakannya kan?"

Niya mengangguk kaku.

Riyan tersenyum. "Maaf, maafkan aku sudah berbuat kasar padamu Niya. Aku minta maaf,"

Niya menunduk menyembunyikan senyum dibibirnya. Tak bohong jika Niya merasa senang suaminya sudah sadar akan sikapnya kemarin.

Niya menatap Riyan. "Aku sudah memaafkanmu, Mas. Jangan ulangi lagi." Niya tersenyum tipis yang dibalas pelukan hangat dari Riyan.

"Ingatkan aku jika aku seperti itu lagi,"

Niya mengangguk dibalik punggung mas Riyan. "Kita sarapan dulu Mas." sambil menghirup bau parfum Mas Riyan. Aroma yang selalu menenangkannya.

Riyan melepas pelukan. Menatap Niya lembut. "Ayo, tapi aku ingin mandi dulu."

Niya mengangguk lalu keluar dari kamar menuju kekamar anaknya. Ingin membangunkan mereka. Niya berjalan pelan menuju kamar anak-anaknya. Hatinya masih hangat, degupnya masih kencang karena pelukan dan ucapan Mas Riyan tadi.

Aku mencintaimu, Niya.

Kalimat itu terus berputar dikepalanya, seperti lagu yang tidak mau berhenti.

Dia membuka pintu kamar Arfi dan Zona. Dua malaikat kecilnya masih meringkuk, saling berhadapan. Niya tersenyum. Setidaknya pagi ini dimulai dengan damai.

"Arfi, Zona, bangun Sayang. Sudah pagi," bisik Niya sambil mengusap kepala mereka bergantian.

Arfi menggeliat, matanya membuka setengah. "Bunda..." gumamnya, lalu kembali memejamkan mata.

Zona yang lebih dulu bangun, duduk sambil kucek mata. "Bunda, Ayah dimana?"

"Ayah lagi mandi, Sayang. Nanti kita sarapan bareng, ya?" Niya membantu Zona turun dari ranjang.

Dikamar mandi, suara air dari shower terdengar. Riyan mandi. Niya menyiapkan seragam Arfi dan Zona, menatanya diatas kasur. Pikirannya melayang.

Mimpi Mas Riyan... aku pergi dengan pria lain. siapa?

Tok. Tok. Tok.

Suara ketukan pintu depan membuat Niya tersentak. Siapa pagi-pagi begini?

Niya penasaran. Dia berjalan cepat keruang depan, membenarkan dasternya. Saat membuka pintu, didepan pintu berdiri seorang perempuan. Cantik, rambut sebahu, dandan rapi meski jam masih menunjukkan pukul 06.10 pagi. Ditangannya ada map coklat.

"Selamat pagi Niya. Suamimu ada?" Suara perempuan itu tegas, tapi sopan.

Niya mengangguk kaku. "Iya. Ada perlu apa?"

Perempuan itu tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai kematanya. "Aku datang untuk menyerahkan surat resmi PHK dan sisa hak Bapak Riyan."

Niya terdiam dia tidak bisa berkata apapun. Hatinya berdenyut sakit mendengar jika mas Riyan dipecat oleh Pak Ramli. Niya ingin tahu alasannya tapi mas Riyan tidak memberitahunya. Tidak mungkin juga Niya bertanya pada Si Luna Luna ini. Wanita yang telah membuat suaminya hilang akal dan berani menyakiti istrinya sendiri.

Dari dalam kamar mandi, suara air berhenti. Sepertinya Riyan sudah selesai mandi.

"Mana Riyan?" tanya Luna lagi karena Niya hanya diam saja dengan sorot mata yang tidak ramah. Luna paham, mungkin Niya tidak menyukainya karena kejadian kemarin itu. Tapi masa bodoh. Itu bukan urusannya.

"Mas Riyan!" panggil Niya, suaranya sedikit berteriak.

tak lama Riyan muncul sudah dengan pakaian santainya. Sempat terkejut melihat Luna yang ada dirumahnya, tapi hanya sebentar. Lebihnya rasa marah lebih mendominasi.

"Mau apa kesini? Mau menertawakanku karena sudah berhasil membuatku dipecat?" nada suara yang berbeda dari kemarin. Sampai Niya mengerut bingung.

Bukannya mas Riyan ada hubungan sama Luna ya? Kok sekarang kaya lagi marahan gitu. Kaya musuhan?

Luna didepan pintu mengangkat satu alisnya, menatap Riyan dengan tatapan... kasihan? Atau mengejek?

"Sepertinya kau belum siap menerimaku ya," ucap Luna pelan ada kekehan kecil disana. Dia menyodorkan map coklat itu ke tangan Riyan yang berat. "Tolong terima ini. Didalam ada surat PHK dan slip gaji terakhir. "

Riyan menerima map coklat itu dengan kaku. Antara percaya dan tidak percaya bahwa pak Ramli benar benar memecatnya.

"Bye bye Riyan," Luna melambai centil lalu pergi dengan kekehan kecil yang mengejek. Seolah puas melihat Riyan menderita.

Niya membeku. Tapi dia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. "Semalem... Mas Riyan keluar. Apa... apa kau nemuin dia?" Pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Niya. Dia harus tahu.

"Bukan urusanmu,"

Riyan menatap Niya kesal. Kemudian memberikan map coklat dan slip gaji pada Niya. Riyan pergi, meninggalkan Niya yang terpaku dengan map coklat ditangan dan kepala penuh badai.

"Mas Riyan dingin lagi sama aku?"

1
Apple
kaget
Apple
mood riyan gmpg goyah btuh tgurN krs
Apple
krj aja niya biar bs pny uang sendiri
Apple
eits riski minta pap wahwah
Apple
kok luna bisa sama nino?
Apple
cari solusi dong jgn asal mnyimpulkn
Apple
sbr niya kamu kuat dan hebT smngat y
Apple
sbr niya kamu kuat dan hebT smngat y
Apple
kasihan Niya. itu riyan knp lgsg pcy aja sama luna
Apple
nah pasti bakal ada ribut ribut nih.
Apple
surat apaan sih
Apple
ngapain malu Riyan jangan tinggi ego dan gengsi
Apple
kalo cemburu tinggal ngomong nggak usah pake acara ngambek ngambekan wkwkwk
Apple
cemburu bilang bos/Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Apple
pesan apaan?
pesan dari siapa?
Apple
bagus
Apple
siapa yang ngikutin Deni.
Apple
kaget soalnya lagi ngeliatin kamu Niya
Apple
hahaha zona lucu dan bikin gemes
Apple
keluarga yang bahagia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!