Agus adalah seorang pemuda yang hidup dalam jeratan ekonomi. Di rumahnya yang sederhana, ia harus berbagi beban dengan ayahnya, Marjuki, yang mulai sakit-sakitan, dan ibunya, Asmah, yang hanya bisa pasrah pada keadaan. Di tengah rasa sepi, Agus mengunduh sebuah aplikasi jodoh dan bertemu dengan Nor Rahma.
Bagi Agus, Rahma adalah sosok yang terlalu sempurna. Rahma memiliki pekerjaan tetap, pendidikan yang baik, dan paras yang menawan. Hubungan mereka yang bermula dari layar ponsel berlanjut ke arah yang lebih serius. Namun, tantangan muncul saat Rahma meminta bukti keseriusan berupa komitmen untuk melamar dan membangun masa depan yang stabil.
Agus terjepit. Di satu sisi, ia sangat mencintai Rahma. Di sisi lain, pendapatannya sebagai pekerja serabutan tidak pernah cukup untuk menabung, apalagi membiayai pernikahan yang layak. Keluarga Agus tidak memiliki simpanan sama sekali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Jarum jam dinding di kantor gudang yang berdebu itu perlahan bergeser melewati angka sebelas. Bagi sebagian besar penduduk kota, jam ini adalah awal dari mimpi-mimpi indah di balik selimut yang hangat. Namun bagi Agus, setiap detik yang terlewati terasa seperti tetesan asam yang membakar luka lukanya. Ia baru saja menyelesaikan satu jam pertama yang penuh siksaan, dan kini ia berdiri di ambang jam kedua, sebuah periode di mana tubuh manusia biasanya mulai memberontak terhadap paksaan fisik yang melampaui batas.
Agus berdiri bersandar pada pilar beton gudang yang dingin. Napasnya terdengar berat dan pendek, memenuhi rongga dadanya dengan aroma oli dan karat yang tajam. Keringat yang bercampur dengan debu hitam kini telah membentuk aliran lumpur kecil yang mengalir dari dahi hingga ke dagunya, lalu menetes ke lantai semen. Ia menoleh ke arah pergelangan kaki kirinya. Perban kain yang membalutnya kini sudah tidak lagi berwarna putih kusam, melainkan kemerahan karena rembesan darah dari luka yang terbuka kembali akibat pergerakan yang dipaksakan.
Rasa sakit itu kini tidak lagi berupa kejutan listrik, melainkan sebuah denyutan konstan yang berat dan panas. Seolah olah ada sebuah jantung kedua yang berdetak di pergelangan kakinya, mengirimkan rasa perih yang konsisten setiap kali ia mengambil napas. Agus mencoba menggerakkan jari-jari kakinya, namun ia hampir tidak bisa merasakannya lagi. Mati rasa yang aneh mulai menjalar dari telapak kaki hingga ke tulang kering, sebuah tanda bahaya yang dikirimkan oleh syaraf-syarafnya yang sudah hancur.
"Gus! Jangan sandaran terus! Barang di pojok utara itu belum disentuh!" teriak Bang Kumis. Suara mandor itu terdengar lebih serak sekarang, namun tetap penuh dengan otoritas yang tidak bisa dibantah. Bang Kumis berdiri di dekat pintu masuk, memegang sebotol air mineral dan sebatang rokok yang asapnya membubung tertiup angin laut.
Agus memejamkan mata sejenak, mengumpulkan sisa-sisa tekad yang masih tersisa di dasar jiwanya. Ia mendorong tubuhnya menjauh dari pilar beton, hampir kehilangan keseimbangan saat kaki kanannya yang sudah gemetar hebat dipaksa menopang seluruh berat badannya. Ia meraba kayu penyangganya di pojok gudang, namun ia teringat ancaman Bang Kumis, “Di sini tidak ada tempat buat orang pincang.” Dengan berat hati, ia membiarkan kayu itu tetap di sana. Ia harus terlihat kuat, meskipun di dalamnya ia merasa sedang sekarat.
Ia melangkah menuju pojok utara gudang. Langkah-langkahnya kini tidak lagi berbentuk langkah normal, melainkan sebuah seretan yang lambat dan menyakitkan. Sret... sret... sret... Suara itu bergema di langit-langit gudang, seolah olah sedang menghitung mundur harga dirinya yang tersisa.
Di pojok utara, tumpukan peti kayu yang jauh lebih besar menantinya. Ini adalah komponen mesin penggerak kapal, baja padat yang beratnya mungkin mencapai lima puluh kilogram per peti. Agus menatap tumpukan itu dengan pandangan yang mulai kabur. Di bawah cahaya lampu bohlam yang remang-remang, peti-peti itu tampak seperti monster yang siap menghimpitnya.
Ia membungkuk, menumpukan kedua tangannya pada pinggiran peti kayu yang kasar. Serpihan kayu yang tajam langsung menusuk telapak tangannya, namun Agus sudah terlalu mati rasa untuk merasakannya. Ia menarik napas panjang, menahan oksigen di dalam paru-parunya, lalu mulai mengangkat.
"Ugh..." Agus mengerang pendek.
Peti itu terangkat beberapa sentimeter dari lantai. Agus bisa merasakan otot-otot di sepanjang tulang belakangnya menegang hingga terasa seperti akan putus. Tulang belikatnya berderit saat peti itu ia naikkan ke pundak kanan. Untuk sesaat, seluruh beban itu menekan saraf di lehernya, membuat pandangannya seketika gelap gulita. Ia harus berhenti selama tiga detik, memejamkan mata, dan menggigit lidahnya sendiri agar kesadarannya tidak hilang.
Saat penglihatannya kembali, ia mulai melangkah. Setiap inci pergerakannya adalah sebuah kemenangan kecil atas rasa sakit. Ia melewati barisan kontainer yang berkarat, berjalan menuju cahaya lampu truk di luar. Di tengah jalan, ia melihat sebuah genangan air laut yang masuk dari celah dinding. Ia harus melangkahinya. Saat kaki kirinya dipaksa untuk sedikit terangkat, rasa panas di sendinya meledak. Agus hampir saja terjatuh lagi, namun ia berhasil menyeimbangkan diri dengan menyandarkan peti itu sejenak pada tumpukan karung goni di sampingnya.
Ia berhenti untuk mengatur napas. Jantungnya berdegup sangat kencang, memukul mukul dinding dadanya seolah ingin keluar. Agus menatap ke arah laut yang gelap di kejauhan. Di sana, di balik cakrawala yang hitam, ia membayangkan Nor Rahma. Ia membayangkan Rahma yang mungkin sedang terbangun karena haus, lalu mengecek ponselnya dan mendapati pesannya tetap tak terbalas.
Rahma... andai kau tahu bau keringat ini. Andai kau tahu bagaimana karat ini masuk ke pori-pori kulitku. Apakah kau masih akan menyebutku sebagai laki-laki yang sempurna?
Pikiran itu membuatnya merasa sangat sedih. Ia merasa sedang membohongi Rahma. Ia membiarkan Rahma mencintai seorang laki-laki yang hanya punya otot dan kemelaratan, sementara Rahma layak mendapatkan seseorang yang hidupnya sebersih kemeja putih Pak Hadi. Namun, di saat yang sama, pikiran tentang Rahma pulalah yang membuatnya kembali menegakkan punggung. Ia tidak ingin uang dua juta itu menjadi noda dalam hubungan mereka. Ia ingin mengembalikannya dengan keringatnya sendiri, seberapa pun mahal harga yang harus ia bayar.
Agus kembali memikul peti itu. Ia sampai di bak truk dan menyerahkannya pada kuli penata barang.
"Pelan-pelan, Goblok! Ini barang mahal!" bentak kuli penata barang itu karena Agus menjatuhkan peti sedikit terlalu keras.
Agus tidak memedulikannya. Ia berbalik dan berjalan kembali ke dalam gudang.
Pukul 11.30 malam. Tengah malam sudah dekat. Tubuh Agus kini sudah melampaui fase lelah; ia berada di fase di mana ia bergerak secara otomatis, seperti sebuah mesin yang sudah aus namun tetap dipaksa beroperasi. Pakaiannya kini sudah tidak bisa lagi dibedakan warnanya, semuanya berwarna abu-abu kusam karena perpaduan debu pelabuhan, oli, dan sisa semen yang mengering.
Ia mendekati tumpukan selanjutnya, namun tiba-tiba kepalanya terasa sangat ringan. Bumi seolah olah berputar di bawah kakinya. Agus harus berpegangan pada rak besi di sampingnya agar tidak tersungkur. Ia menyadari satu hal, ia belum makan apa pun yang bergizi selama hampir tiga puluh jam. Nasi remes pemberian ibunya tadi siang hanya mampu bertahan beberapa jam di perutnya. Sekarang, tubuhnya mulai membakar sisa-sisa lemak dan ototnya sendiri untuk mencari energi.
"Haus..." bisiknya pelan.
Ia melihat ke arah botol air mineral milik Bang Kumis yang tergeletak di meja kantor gudang. Agus ingin meminta sedikit, namun harga dirinya melarang. Ia lebih baik menelan ludahnya yang pahit daripada harus meminta-minta pada pria yang sejak tadi menghinanya.
Ia kembali mengangkat sebuah kardus. Kali ini lebih ringan, namun ukurannya panjang, membuatnya sulit untuk diseimbangkan. Saat ia sedang berjalan keluar, suara sirine pelan terdengar dari arah laut.
Seketika, seluruh aktivitas di gudang berhenti. Lampu-lampu bohlam di dalam gudang dimatikan oleh salah seorang anak buah Bang Kumis. Keheningan yang sangat mencekam mendadak menyelimuti pelabuhan lama.
"Patroli laut!" bisik Bang Kumis dengan nada tajam. "Semuanya diam! Jangan ada suara! Matikan mesin truk!"
Agus terdiam di posisinya, memeluk kardus panjang itu di dadanya. Ia berdiri di tengah kegelapan yang pekat, hanya diterangi oleh sisa cahaya bulan yang tertutup awan. Rasa sakit di kakinya seolah-olah berteriak minta diperhatikan, namun Agus harus berdiri mematung. Jika ia bergerak sedikit saja dan kayu yang ia pijak berderit, seluruh kuli di sini akan berada dalam masalah besar.
Dalam kegelapan itu, Agus merasakan keringat dingin mengucur deras di punggungnya. Ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang terdengar sangat keras di telinganya. Di sampingnya, seorang kuli lain menahan napasnya hingga wajahnya memerah.
Sirine itu terdengar semakin dekat, lalu perlahan menjauh menuju arah dermaga utara. Setelah lima menit yang terasa seperti selamanya, Bang Kumis memberikan isyarat untuk melanjutkan pekerjaan. Lampu kembali dinyalakan.
"Cepat! Selesaikan sisa barangnya! Sebelum mereka putar balik!" perintah Bang Kumis.
Agus kembali bergerak. Namun, saat ia melangkah, ia menyadari sesuatu yang mengerikan. Kaki kirinya sudah tidak bisa lagi menapak. Sendinya seolah-olah terkunci oleh rasa sakit yang sudah mencapai puncaknya. Ia terpaksa menyeret kakinya dengan seluruh kekuatan panggulnya. Sret... sret...
Setiap langkah kini adalah sebuah taruhan nyawa. Agus menyadari bahwa waktu menuju jam satu pagi masih tersisa satu setengah jam lagi. Di kepalanya, ia mulai menghitung lima ratus ribu rupiah, lima ratus ribu rupiah. Angka itu adalah satu satunya alasan mengapa ia belum jatuh pingsan di lantai gudang yang kotor ini.
Ia memikul peti selanjutnya. Kali ini, air matanya benar-benar jatuh. Bukan karena ia cengeng, tapi karena tubuhnya sudah tidak sanggup lagi menahan siksaan ini. Air mata itu bercampur dengan debu hitam di pipinya, menciptakan garis bening yang janggal di wajahnya yang penuh luka. Di tengah malam yang menghakimi ini, Agus baru menyadari satu hal kemiskinan adalah sebuah penjara yang tidak memiliki pintu keluar, dan ia sedang mencoba mendobrak dindingnya dengan pundak yang sudah hampir hancur.