Gisel (23 tahun) adalah definisi "matahari" berjalan: ceria, blak-blakan, dan punya selera humor yang terkadang sedikit ‘nakal’. Hidupnya jungkir balik saat ia dipaksa menikah dengan Dewa, CEO dingin yang aura intimidasi-nya bisa membekukan ruangan. Dewa bukan cuma sekadar duda kaya, ia adalah pria yang menutup rapat hatinya demi mendiang istrinya dan ketiga anaknya yang super nakal.
Mampukah ocehan ceplas-ceplos Gisel mencairkan gunung es di hati Dewa? Dan bagaimana jadinya jika si gisel positive vibes ini harus menghadapi tiga anak tiri yang siap mengujinya, sementara sang suami masih bayang-bayang masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Rahasia di Lorong Sekolah
Sepuluh bulan berlalu, badai di rumah besar itu perlahan mereda. Gisel berhasil mencairkan kekakuan di sana. Raka kini sudah di ambang kelulusan SMA dan bersiap kuliah, sementara Alya naik ke kelas 1 SMA. Hal ini membuat Gisel harus ekstra ketat mengawasi mereka, terutama Alya yang mulai beranjak remaja.
Pagi itu di meja makan, Raka dengan wajah datarnya menyerahkan sebuah amplop kepada Gisel. Itu adalah surat undangan resmi acara kelulusan dari sekolahnya.
"Loh, Raka! Kenapa baru dikasih sekarang? Acaranya kan besok!" seru Gisel panik setelah membaca isinya. "Harusnya kasih tahu dari kemarin biar aku bisa ke salon dulu, luluran dulu, biar nggak malu-maluin kamu!"
Raka, yang kepribadiannya kini sudah jauh lebih cair, malah terkekeh melihat kehebohan ibu sambungnya. "Nggak usah aneh-aneh, Sel. Lo cantik kok meski nggak ke salon," goda Raka santai.
Dewa yang sedang menyesap kopinya langsung berdehem keras, menatap tajam ke arah putra sulungnya. "Raka, jaga bicaramu. Panggil dia Ibu," tegur Dewa tegas.
Namun, bukannya senang dibela, Gisel malah membela Raka. "Biarin aja sih, Mas. Aku mah bebas, sesuka mereka saja mau panggil apa. Asal nggak ada yang bikin sakit hati," ucap Gisel sambil mengedipkan mata ke arah Raka.
Hari Kelulusan, Pukul 08.50 WIB
Acara dimulai jam 9 pagi. Dewa, Gisel, dan si bungsu Diego sudah tiba di sekolah sepuluh menit sebelum acara dimulai. Suasana sangat ramai dengan para orang tua yang tampil elegan.
"Mas, duduk sini dulu ya bareng Diego. Aku mau cari Raka dulu sekalian lihat-lihat sekolahnya," ujar Gisel penuh semangat. Dewa hanya terdiam dan mengangguk, membiarkan istrinya yang aktif itu berkeliling.
Gisel berjalan menyusuri koridor kelas yang mulai sepi karena orang-orang sudah berkumpul di aula. Saat sampai di sudut lorong dekat ujung pintu laboratorium, ia melihat sebuah ruangan yang pintunya sedikit terbuka.
"Sedang apa mereka di sana?" bisik Gisel pada dirinya sendiri. Rasa penasarannya bangkit. Ia mengintip perlahan.
Matanya membelalak. Punggung itu... ia sangat mengenal postur tubuh itu. Di dalam ruangan yang remang, Gisel memergoki Raka—anak sulungnya yang terkenal dingin dan kaku itu—sedang mencium seorang gadis cantik berwajah pendiam.
"RAKA!" teriak Gisel spontan, suaranya melengking memecah kesunyian ruangan itu.
Raka dan gadis itu langsung meloncat mundur dengan wajah pucat pasi. Gisel berdiri di ambang pintu dengan napas memburu dan mata melotot, tak percaya bahwa "anak es"-nya ternyata punya sisi sedramatis itu di sekolah.
Sepertinya bakal jauh lebih seru dan lucu kalau Gisel langsung mengeluarkan jurus interogasi ceplas-ceplos-nya! Ini saat yang tepat untuk menunjukkan sisi smart sekaligus "ajaib" Gisel di depan pacar Raka yang pendiam itu.
"RAKA!" teriakan Gisel bergema di lorong sepi itu, membuat burung-burung di pohon luar jendela seolah ikut terbang kaget.
Raka dan gadis itu langsung meloncat mundur. Wajah Raka yang biasanya sedingin es kini berubah merah padam sampai ke telinga. Sementara si gadis, yang terlihat sangat manis dan polos, menunduk dalam-dalam sambil meremas ujung seragamnya.
Gisel melangkah masuk dengan gaya bos besar, melipat tangan di dada. "Wah, wah... Tuan Muda Raka. Ternyata di balik wajah kaku itu, kamu punya bakat jadi aktor drama romantis ya?"
"Sel, ini nggak seperti yang lo liat," sela Raka cepat, berusaha memungut kembali sisa-sisa harga dirinya yang tercecer.
"Nggak seperti yang aku liat? Mataku masih minus nol koma ya, Ka! Jelas banget tadi ada adegan 'tempel-tempel' bibir!" sahut Gisel ceplas-ceplos, membuat si gadis makin menunduk malu.
Gisel kemudian beralih ke gadis itu. Ia memutari si gadis layaknya detektif. "Hmm, cantik. Pinter ya? Juara kelas pasti. Namanya siapa, Manis? Kok mau sih sama cowok yang kalau ngomong cuma seirit pulsa begini? Dia nggak gigit, kan?"
"Na... Nama saya Hana, Tante," jawab gadis itu dengan suara sekecil cicit tikus.
"Tante? Duh, panggil Kakak atau Ibu dong, biar akrab," protes Gisel sambil menyenggol bahu Hana ramah. "Hana, kamu tahu nggak? Raka ini di rumah kalau makan sandwich aja harus rapi banget. Apa pas ciuman tadi dia juga minta izin pakai surat undangan?"
"Gisel! Cukup!" Raka menarik lengan Gisel, wajahnya sudah tidak karuan. "Jangan bikin dia takut. Kita cuma...
Dia mau lanjut kuliah di luar kota."
Gisel terdiam sejenak, matanya yang tadi jenaka kini melunak. Ia menatap Hana yang matanya mulai berkaca-kaca.
"Oalah... " gumam Gisel. Ia menepuk bahu Raka keras-keras. "Ya sudah, karena aku baik hati dan nggak mau Mas Dewa meledak di hari kelulusanmu, rahasia ini aman sama aku. Tapi ada syaratnya!"
Raka menatap Gisel curiga. "Apa?"
"Traktir aku makan enak.Gisel mengedipkan mata, membuat suasana yang tadi tegang jadi cair seketika.
Tepat saat itu, suara pengumuman dari aula terdengar. "Ayo cepat, acaranya mau mulai! Mas Dewa pasti sudah curiga aku lama banget cari kamu," ajak Gisel sambil menarik tangan Raka dan Hana keluar dari laboratorium.