Gisel (23 tahun) adalah definisi "matahari" berjalan: ceria, blak-blakan, dan punya selera humor yang terkadang sedikit ‘nakal’. Hidupnya jungkir balik saat ia dipaksa menikah dengan Dewa, CEO dingin yang aura intimidasi-nya bisa membekukan ruangan. Dewa bukan cuma sekadar duda kaya, ia adalah pria yang menutup rapat hatinya demi mendiang istrinya dan ketiga anaknya yang super nakal.
Mampukah ocehan ceplas-ceplos Gisel mencairkan gunung es di hati Dewa? Dan bagaimana jadinya jika si gisel positive vibes ini harus menghadapi tiga anak tiri yang siap mengujinya, sementara sang suami masih bayang-bayang masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Pelarian Sejenak sang Ibu Muda
Tentu, mari kita sesuaikan alurnya. Di sini Gisel murni ingin melepas penat bersama sahabatnya, sementara Dewa bergerak secara profesional dan senyap di balik layar.
Pagi itu, Dewa benar-benar membuktikan ucapannya sebagai pria yang memegang janji. Namun, ia tidak membawa urusan sensitif ini ke kantor utamanya untuk menjaga kerahasiaan. Dewa telah mengatur pertemuan khusus di kantor firma hukum ternama milik rekan kepercayaannya. Di sana, para pengacara senior sudah mulai menyusun berkas pidana untuk menyeret kakak tiri Hana ke penjara.
Sementara itu di rumah, Gisel merasa otaknya butuh penyegaran setelah drama semalam. Ia ingin sejenak menjadi "Gisel yang biasa", bukan detektif atau ibu sambung yang serius.
"Bi, titip pesan ya. Kalau Mas Dewa atau anak-anak pulang, bilang aku main ke rumah Maya," ucap Gisel sambil memakaikan sepatu kecil ke kaki Diego.
"Iya, Bu," jawab Bibi ramah.
Kediaman Maya
Gisel mengetuk pintu apartemen Maya dengan semangat. Begitu pintu terbuka, ia langsung berseru, "Maya! I'm back!"
Maya muncul dengan kaus oblong dan rambut dicepol, matanya langsung berbinar melihat sahabatnya. "Wis! Ibu muda kita akhirnya muncul juga! Eh, siapa ini cowok imut manis yang digandeng?" tanya Maya sambil berjongkok di depan Diego.
Diego yang mewarisi sifat kaku tapi menggemaskan dari Dewa langsung memajukan bibirnya. "Tante, aku bukan cowok imut!" protes Diego.
Gisel langsung menyenggol lengan Maya. "Heh! Jangan panggil gitu, cuma aku yang bisa manggil dia imut. Ganti panggilannya!"
Maya tertawa renyah, ia tidak tahu apa-apa soal masalah Hana atau penyelidikan Dewa. Baginya, Gisel hanya sedang mampir untuk bergosip seperti biasa. "Oh, maaf-maaf. Kalau begitu, cowok tampan ini siapa namanya?"
"Diego, Tante," jawab Diego dengan gaya cool versi mini.
Maya langsung berdiri dan merangkul Gisel masuk. "Alamak! Berhasil ternyata lo menaklukan anak si Tuan Es sampai nempel begini," bisik Maya heboh. "Ayo masuk! Gue baru beli camilan banyak. Kita quality time!"
Gisel bernapas lega. Di sini, di rumah Maya, ia bisa tertawa lepas tanpa harus memikirkan berkas hukum atau luka lebam Hana untuk sementara waktu. Ia membiarkan Diego bermain dengan koleksi action figure milik Maya, sementara ia mulai menumpahkan cerita-cerita konyolnya tentang "usaha" yang disalahartikan tempo hari.
"Lo beneran ngira disuruh kerja bakti di kantor?" Maya tertawa sampai tersedak keripik. "Gisel, Gisel... pantesan laki lo makin stres punya istri modelan lo!"
Sambil mengunyah keripik di sofa Maya, Gisel mulai menumpahkan curhatannya tentang kejadian kemarin pagi. "May, lo bayangin deh. Si Mas Duda itu bilang, 'tergantung usaha gue. Makanya gue udah rapi mau ngantor, eh malah dilarang," cerita Gisel dengan wajah polos bin bingung.
Maya yang tadinya sedang minum es teh, langsung tersedak. Tawanya pecah seketika, menggelegar di seluruh penjuru apartemen. "Hahahaha! Aduh Gisel... lo bener-bener ya!"
Maya tertawa sampai memegangi perutnya yang kaku. "Otak lu ini sebenarnya mesum parah kalau lagi ngegodain dia, tapi kenapa giliran kata-kata kode buat mesum beneran, datanya nggak ke-download di otak lu?" ejek Maya habis-habisan.
Gisel mengerucutkan bibirnya kesal. "Ih, kok ketawa lu persis sama Raka sih! Dia juga ngakak sampai menyembur tuh susu!"
"Raka?" Maya menghentikan tawanya sejenak, menatap Gisel tak percaya. "Sel, lo mah bener-bener deh... masa iya kalah peka sama bocah,Si raka aja paham!"
Maya mendekat, merangkul bahu Gisel dengan ekspresi sok serius. "Nih, dengerin baik-baik, Ibu Muda. Kalimat 'tergantung usahamu' itu kalau diucapin malem-malem, di tempat tidur, berduaan doang, itu artinya dia lagi pengen."
Gisel mengedip-ngedipkan matanya. "Pengen apa? Pengen? Pengen makan?" tanya Gisel dengan kepolosan yang hakiki.
Maya menghela napas panjang, lalu membisikkan satu kata tepat di telinga Gisel. "S-E-X," bisik Maya pelan tapi tegas.
"APA?!" Gisel berteriak kaget sampai meloncat dari sofa. "Maksudnya... anu?!"
"Ssttt! Berisik! Ada Diego di sana!" Maya membekap mulut Gisel dengan panik sambil menunjuk Diego yang untungnya masih asyik main game di pojokan.
Wajah Gisel mendadak berubah merah padam, semerah tomat matang. Ia teringat bagaimana ia malah menantang Dewa untuk mandi bareng. "Aduh... malu banget! Pantesan Raka ketawa sampai mau mampus, pantesan Mas Dewa mukanya kayak kepiting rebus!"
Gisel langsung menelungkupkan wajahnya di bantal sofa Maya. "May... gue mau pindah planet aja boleh nggak? Gimana gue mau ketemu Mas Dewa nanti malem?"
Maya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. "Makanya, Sel, kalau suami kode itu di tangkap, bukan malah minta loker!"