Kisah romansa antara Sulthan Aditama, CEO perusahaan emas yang tampan, dingin, dan hidup dalam kemewahan, dengan Nurlia, gadis sederhana yang bekerja keras sebagai pelayan restoran demi menghidupi adiknya setelah orang tua mereka meninggal.
Berawal dari pertemuan tak terduga dan insiden kecil, Sulthan mulai tertarik pada ketulusan, keramahan, dan kekuatan mental Nurlia yang berbeda dari wanita-wanita elit yang biasa ia temui. Perlahan, pria yang hatinya beku itu mulai mencair. Ikuti perjalanan cinta mereka yang harus melewati rintangan perbedaan status sosial, rasa minder, dan cemoohan orang lain demi membuktikan bahwa cinta sejati bisa menyatukan dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MrRabbit_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Hidangan lezat di hadapan Sulthan sudah tandas tak bersisa. Pria itu pun merasa kenyang dan tenaga kembali pulih sepenuhnya. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi, sudah saatnya dia bergerak menuju kantor untuk memimpin rapat dan mengurus berbagai urusan penting di Aditama Group.
Sebelum pergi, Sulthan tidak langsung keluar begitu saja. Dia menekan tombol panggil pelayan yang ada di meja.
Tak lama kemudian, pintu terbuka dan Nurlia masuk dengan senyum manis yang selalu siap menyapa.
"Ada yang bisa dibantu lagi Tuan?" tanya Nurlia lembut, matanya berbinar-binar menatap kekasihnya.
Sulthan berdiri tegap, merapikan sedikit bajunya agar terlihat rapi. Dia menatap Nurlia dalam-dalam, tatapan yang penuh rasa memiliki dan kasih sayang.
"Aku mau berangkat ke kantor dulu ya, Nur," ucap Sulthan.
"Iya Tuan. Hati-hati di jalan ya," jawab Nurlia sopan.
"Kamu juga begitu," balas Sulthan cepat, suaranya terdengar sangat lembut dan perhatian. "Jangan terlalu capek-capek bekerja ya. Kalau ada yang berani ganggu atau nakal sama kamu, langsung kabari aku. Dan yang paling penting... hati-hati selalu, dimanapun kamu berada."
Nurliapun tersenyum lebar, wajahnya berseri-seri mendengar nasihat itu. Rasanya hangat sekali di hati diperlakukan begitu manis dan dilindungi oleh pria sehebat Sulthan.
"Iya Tuan... saya janji. Makasih ya perhatiannya," jawab Nurlia manja sedikit, membuat hati Sulthan semakin meleleh.
"Sama-sama sayang. Sampai jumpa nanti," pamit Sulthan terakhir kali, lalu melangkah keluar dari ruangan VIP dengan gagah.
Di luar restoran, Pak Didik sudah siap dengan mobil mewah hitam yang mesinnya sudah dinyalakan. Pintu belakang dibukakan dengan sopan.
"Mari Tuan," ucap Pak Didik.
Sulthan masuk dan duduk bersandar nyaman di jok empuk. Cklek... Pintu ditutup rapat, memisahkan dunia luar dengan ruang pribadinya yang tenang.
"Ke kantor seperti biasa Pak Didik," perintah Sulthan.
"Siap Tuan," jawab sopan itu, lalu mobil pun melaju membelah jalanan kota Surabaya yang mulai padat.
Di dalam mobil yang berjalan halus itu, Sulthan memejamkan matanya sejenak, bersandar rileks. Namun, bayangan wajah Nurlia terus saja menghiasi pelupuk matanya.
"Cantik sekali... polos sekali gadis itu," batin Sulthan tersenyum sendiri.
Dia terbayang senyum malu-malu Nurlia saat menyatakan mereka adalah kekasih, terbayang cara bicara Nurlia yang lembut, dan terbayang tubuh ramping serta wajah ayu gadis itu yang begitu memikat hati.
Rasa cinta yang besar itu bercampur dengan hasrat alami seorang pria yang sedang jatuh cinta. Perlahan tapi pasti, rasa hangat mulai menjalar di seluruh tubuhnya.
Dan tanpa dia sadari...
Ada perubahan yang terjadi di bagian bawah tubuhnya.
Celana bahan yang dikenakan Sulthan tiba-tiba terasa semakin sesak. Tonjolan besar dan keras mulai muncul dan menonjol jelas di selangkangannya.
Burungnya Sulthan sedang ereksi penuh!
Benda itu berdiri tegak kaku, membesar dan memanjang, menekan kain celananya hingga terlihat bentuknya yang sangat gagah dan mengintimidasi. Hanya dengan membayangkan wajah dan senyum Nurlia saja, hasrat pria itu langsung terangsang dengan cepat dan kuat.
"Uuhh..." Sulthan menghela napas panjang tertahan, tangannya secara refleks ingin mengatur posisi duduk agar lebih nyaman, tapi justru sensasinya makin terasa.
"Dasar kau tidak tahu malu... baru juga ingat wajahnya sudah begini," gumam Sulthan dalam hati sambil tersenyum nakal.
Dia membayangkan betapa nikmatnya nanti jika dia bisa memiliki Nurlia sepenuhnya, jika gadis polos itu bisa ada di dalam pelukannya dan melayani hasratnya yang besar ini. Rasa ingin memiliki dan rasa gairah bercampur menjadi satu, membuat perjalanan menuju kantor pagi ini terasa begitu panas dan berdebar.
•••
Mobil mewah itu akhirnya berhenti tepat di halaman parkir gedung megah Aditama Group. Pintu dibuka, dan Sulthan turun dengan wajah yang kembali tampak tegas dan wibawa layaknya seorang Bos Besar. Meski di dalam hati dan pikirannya masih bergelora rasa cinta dan hasrat pada Nurlia, tapi di luar dia harus tetap terlihat profesional.
"Pak Didik, mobilnya diparkirkan saja. Nanti kalau ada keperluan baru panggil," perintah Sulthan singkat.
"Siap Tuan," jawab sopir itu sigap.
Sulthan pun melangkah masuk ke lobi, menaiki lift pribadi yang langsung membawanya ke lantai paling atas, ruangan kerja utamanya.
Ting...
Pintu lift terbuka. Suasana di ruangan sekretaris dan asisten terlihat sepi. Biasanya mereka duduk rajar bekerja, tapi hari ini...
Saat Sulthan melangkah masuk menuju ruangannya, matanya langsung menangkap pemandangan yang tak terduga di sudut ruangan yang agak tertutup lemari arsip.
Juniarta dan Putri sedang asyik bermesraan!
Mereka berdua sedang saling berpelukan erat, wajah mereka saling menempel dan bibir mereka sedang terkunci dalam ciuman yang sangat mesra dan dalam. Putri terlihat memejamkan mata memanjakan kekasihnya, dan Juniarta pun terlihat begitu hanyut dalam kenikmatan, seolah dunia milik berdua saja.
"Ehem... EHEM!!"
Sulthan berdeham keras sekali untuk memberi tahu kehadirannya.
BRUK!!
Jantung Juniarta dan Putri seakan copot! Mereka langsung terpisah dengan kaget bukan main. Wajah mereka memerah padam, napas mereka tersengal-sengal karena panik setengah mati.
"Bo... Bos!!" seru Juniarta terbata-bata, langsung berdiri tegak sempurna seperti prajurit yang ketahuan bolos.
Putri langsung membetulkan rambutnya dan bajunya yang agak berantakan, wajahnya tertunduk malu luar biasa. "Ya ampun... ketahuan Bos nih... gimana nih?" batin Putri panik.
Mereka siap-siap dimarahi habis-habisan atau bahkan dipecat karena berani bermesraan di jam kerja dan di tempat kerja.
Tapi...
Sulthan hanya berdiri di sana, menatap mereka berdua dengan tatapan datar, lalu dia menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan dua anak buahnya itu. Sudah bisa ditebak, sejak mereka resmi pacaran, pasti mereka jadi sering begini.
"Dasar kalian berdua... baru juga jadi pacar, kelakuannya sudah kayak suami istri saja," omel Sulthan, tapi nadanya tidak terdengar marah, justru ada nada geli sedikit.
"Ma-maaf Bos... kami... kami tadi cuma..." Juniarta masih mencoba mencari alasan.
"Sudah sudah, tidak usah diteruskan," potong Sulthan santai sambil berjalan melewati mereka menuju kursi kebesarannya. "Saya tidak mau tahu kalian mau pacaran atau mau apa, itu hak pribadi kalian. Tapi ingat, ini kantor, bukan hotel."
Sulthan duduk dengan nyaman di kursi kulit empuknya, lalu mengambil sebuah pulpen hitam di atas meja. Dia memainkannya dengan jari-jarinya secara acak, menatap kedua bawahannya itu.
"Yang penting pekerjaan tidak boleh terbengkalai. Kalau kerjaan kalian rapi dan target tercapai, kalian mau pacaran sepuasnya juga tidak masalah bagi saya," ucap Sulthan bijaksana. "Tapi kalau sampai ada kesalahan karena kebanyakan mikirin cinta-cintaan, jangan salahkan saya yang marah besar. Mengerti?"
Juniarta dan Putri menghela napas lega luar biasa. Mereka saling pandang lalu mengangguk sangat patuh.
"Siap Bos! Mengerti Bos! Makasih banyak Bos!" jawab mereka serempak.
"Sudah sana lanjutkan pekerjaan kalian. Jangan berdiri terus kayak patung," perintah Sulthan sambil tersenyum tipis, lalu kembali fokus memainkan pulpennya, meski sebenarnya pikirannya masih melayang entah ke mana, membayangkan wajah kekasihnya tersayang, Nurlia.
Setelah mendapatkan izin dan teguran ringan dari Bos, suasana di ruangan itu kembali terasa aman. Juniarta dan Putri bekerja dengan semangat baru. Tangan mereka bergerak cepat menyelesaikan tugas-tugas yang menumpuk. Data diinput, laporan diperiksa, dan berkas-berkas penting disusun rapi.
Tidak butuh waktu lama, pekerjaan yang tadinya terlihat banyak pun akhirnya tuntas juga.
"Job done, Put!" seru Juniarta sambil menghela napas lega, matanya menatap kekasihnya dengan tatapan yang mulai berubah menjadi nakal dan penuh hasrat.
Putri yang sedang merapikan berkas, menoleh dan tersenyum menggoda mengerti betul arti tatapan kekasihnya itu. "Selesai semua ya Mas?"
"Sudah dong, beres semua," jawab Juniarta berbisik. "Sekarang waktunya kita istirahat sebentar... istirahat yang nikmat."
Tanpa perlu bicara panjang lebar lagi, Juniarta langsung menarik tangan Putri menuju arah kamar mandi dalam yang ada di area ruangan mereka, tempat yang cukup privat dan kedap suara.
Pintu kamar mandi ditutup rapat dan dikunci.
Di dalam sana, suasana langsung berubah menjadi panas dan liar. Dengan gerakan cepat dan penuh gairah, Juniarta langsung melepaskan ikat pinggangnya, menurunkan resleting celananya, dan membiarkan burung besarnya keluar dengan gagah dan tegak kaku.
"Sayangku... ayo sini," ajak Juniarta parau.
Putri yang sudah terbiasa dan sangat menyukai 'mainan' kekasihnya itu, tidak perlu disuruh dua kali. Dengan wajah yang memerah namun penuh kemesraan, dia pun langsung berlutut di hadapan Juniarta.
"Mmm... Mas..." rengek Putri manja.
Dengan mulutnya yang mungil dan lidahnya yang lincah, Putri mulai mengulum burung besar itu dengan sangat nikmat. Dia memanjakan tuannya dengan sepenuh hati, membuat Juniarta menghela napas panjang dan memejamkan mata menikmati sensasi luar biasa di pagi hari itu.
Sementara itu, di ruangan utama yang terpisah pintu.
Sulthan duduk tenang di kursi kebesarannya. Layar komputer besar di hadapannya menyala terang menampilkan data-data keuangan, grafik penjualan emas, dan laporan stok barang.
Jari-jarinya yang lentik mengetik cepat sesekali, atau menggerakkan mouse untuk mengecek detail angka-angka penting. Wajahnya tampak sangat serius, fokus, dan profesional layaknya seorang CEO sejati.
Tidak ada yang tahu, bahwa di balik wajah dingin yang sedang memimpin perusahaan raksasa itu, sebenarnya dia baru saja dimabuk cinta, dan bahkan tadi di mobil saja dia sampai terangsang hebat hanya karena membayangkan wajah Nurlia.
Namun sekarang, Sulthan benar-benar bekerja. Dia memastikan semua berjalan lancar, sementara di ruangan sebelah, dua orang kepercayaannya sedang asyik menikmati waktu berdua dengan cara mereka sendiri.
•••
Beberapa jam kemudian.
Sulthan menatap layar monitor. Jari-jarinya menggerakkan mouse, mengecek satu per satu laporan yang masuk. Angka-angka penjualan emas hari ini terlihat stabil dan memuaskan. Berkas-berkas di meja juga sudah ditandatangani dan diselesaikan semuanya.
Sulthan melirik jam dinding. Jarum panjang dan pendek tepat bertemu di angka 12. Pukul 12 siang.
"Hhh... sepi sekali rasanya," gumam Sulthan.
Pekerjaan yang biasanya menumpuk dan memakan waktu seharian, hari ini terasa begitu cepat selesai. Tidak ada rapat mendadak, tidak ada masalah besar yang harus diselesaikan, dan rasanya tidak ada lagi urusan penting yang harus ditangani di kantor.
Pikiran Sulthan langsung melayang pada satu tujuan.
"Daripada duduk diam di sini bosen mati, mending aku pulang saja sekarang. Istirahat sejenak di rumah, lalu sore harinya... aku akan mampir ke rumah Nurlia!"
Ide itu membuat wajahnya langsung berseri-seri. Membayangkan bisa datang ke rumah kecil gadis itu, melihat lingkungan tempat tinggalnya, dan mungkin bisa bertemu Adelia juga, rasanya sangat menyenangkan.
"Ya sudah, pulang!" putus Sulthan mantap.
Dia segera mematikan layar komputernya, merapikan meja kerja, lalu berdiri dan mengambil jasnya. Dengan langkah santai, dia keluar dari ruangan.
"Jun, Putri, saya pulang duluan ya. Kantor kalian pegang saja," teriak Sulthan singkat sebelum menekan tombol lift.
"Siap Bos! Hati-hati Bos!" jawab Juniarta dan Putri serempak dari luar.
Ting... Lift turun membawa sang CEO pergi meninggalkan gedung perkantoran itu.
Ketikan mendengar suara pintu lift tertutup dan memastikan Bos sudah benar-benar pergi, suasana di ruangan atas itu langsung berubah total.
Tidak ada lagi batasan, tidak ada lagi rasa takut, dan tidak ada yang perlu ditutup-tutupi.
"Bos pergi!!" seru Juniarta dengan nada heboh dan lega.
Mata mereka berdua saling bertemu, dan percikan api hasrat langsung meledak kembali. Ruangan yang luas, mewah, dan dingin itu kini menjadi tempat bermain pribadi mereka berdua yang bebas dan privat. Tidak ada yang akan mengganggu, tidak ada yang akan melihat.
"Sayangku... sekarang waktunya kita puasin hasrat kita ya," ajak Juniarta parau, suaranya berat penuh gairah.
Putri hanya mengangguk manja, wajahnya memerah padam tapi matanya bersinar liar.
Tanpa membuang waktu, Juniarta langsung menarik tubuh kekasihnya itu. Pakaian kerja mereka satu per satu dilucuti, berserakan di lantai karpet tebal. Tubuh mulus Putri dan tubuh bidang Juniarta kini tampak telanjang bulat bebas.
"Mas... ahhh..." rengek Putri manja saat tangan besar kekasihnya mulai menjelajahi setiap lekuk tubuhnya.
Mereka tidak lagi di kamar mandi, tapi kini mereka melakukannya di ruangan yang luas itu. Juniarta membaringkan tubuh Putri di atas sofa besar yang empuk, atau bahkan di atas meja kerja yang luas.
Juniarta menancapkan burung besarnya dengan gagah dan penuh kekuatan ke dalam lubang kenikmatan Putri.
GLEUK!
"Aaahhh MASSS!!" jerit Putri panjang lebar menikmati sensasi penuh yang luar biasa itu.
Mereka bercinta dengan sangat liar dan bebas. Suara desahan, erangan, dan bunyi gesekan tubuh terdengar jelas memenuhi ruangan yang tadinya hening. Juniarta mengocok Putri dengan ritme yang cepat dan kuat, memanjakan kekasihnya sepuas hati.
Putri memejamkan mata, mencengkeram bahu Juniarta, merasa dirinya adalah wanita paling bahagia di dunia saat itu. Mereka menikmati hubungan seksual mereka dengan bebas, puas, dan tanpa rasa takut sedikitpun, karena Bos Besar mereka sudah pulang dan meninggalkan mereka berdua sendirian di surga kecil itu.