Demi cinta, Hanum menanggalkan kemewahan sebagai pewaris tunggal Sanjaya Group. Ia memilih hidup sederhana dan menyembunyikan identitas aslinya untuk mendampingi Johan, pria yang sangat membenci wanita kaya. Lima belas tahun lamanya Hanum berjuang dari nol, membangun bisnis otomotif hingga Johan mencapai puncak kesuksesan.
Namun, di tengah gelimang harta, Johan lupa daratan. Ia terjebak dalam perselingkuhan dengan sekretarisnya sendiri. Luka Hanum kian mendalam saat pengabdiannya merawat ibu mertua yang lumpuh justru dibalas pengkhianatan, sang ibu mertua malah mendukung perselingkuhan putranya.
Kini, demi masa depan si kembar Aliya dan Adiba, Hanum harus memilih,tetap bertahan dalam rumah tangga yang beracun, atau bangkit mengambil kembali tahta dan identitasnya sebagai "Sanjaya" yang sesungguhnya untuk menghancurkan mereka yang telah mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari pembalasan part 2
Di balik pintu ganda yang megah, Hanum dan Alvaro berdiri berdampingan. Suara riuh rendah dari dalam aula terdengar seperti deburan ombak yang siap menerjang. Hanum merasakan jemarinya bergetar hebat. Tanpa aba-aba, Alvaro meraih tangannya Hanum dan menggenggamnya erat. Ia terkejut merasakan telapak tangan Hanum yang sudah sedingin es dan berkeringat.
"Num, kamu gugup?" bisik Alvaro lembut, mencoba menyalurkan ketenangan melalui genggamannya.
Hanum menarik napas panjang, mencoba mengisi paru-parunya yang terasa sesak. "Sedikit, Kak. Rasanya jantungku ingin melompat keluar," jawabnya jujur.
"Lihat aku, Num," Alvaro menatap matanya dalam-dalam. "Hari ini, dunia akan tahu siapa kamu sebenarnya. Aku, Papah, dan anak-anak ada di belakangmu. Majulah sebagai pemenang."
Pintu besar itu perlahan terbuka. Cahaya lampu kristal yang menyilaukan menyambut mereka. Moderator mengumumkan dengan suara menggelegar, "Hadirin sekalian, inilah Presiden Direktur baru Sanjaya Grup, Putri Hanum Sanjaya!"
Gemuruh tepuk tangan memenuhi ruangan. Hanum melangkah anggun, diapit oleh Tuan Sanjaya di sisi kiri dan Alvaro di sisi kanan. Ia menebar senyum profesional yang mempesona ke arah para pemegang saham dan tamu undangan.
Namun, di baris terdepan, suasana seketika membeku. Johan dan Monica mematung seolah waktu berhenti berputar. Johan merasa seperti disambar petir di siang bolong, dadanya sesak, dan matanya melotot tak percaya. Wanita yang berdiri di atas panggung itu, wanita yang memancarkan aura kekuasaan dan kemewahan adalah Hanum. Mantan istrinya yang ia buang, ia rendahkan, dan ia sebut sebagai pembawa sial.
"Mas... i... itu bukannya Mbak Hanum, mantan istrimu?" bisik Monica dengan suara bergetar hebat, wajahnya pucat pasi.
"I... iya sayang... ini tidak mungkin. Pasti wanita itu hanya mirip!" gumam Johan terbata-bata, namun hatinya tahu persis bahwa itu adalah Hanum.
Hanum kini berdiri di balik podium. Dari ketinggian itu, ia menatap langsung ke arah Johan. Tatapannya tajam, penuh dengan api peperangan yang selama ini ia pendam. Ia melihat bagaimana kedua lutut Johan tampak lemas dan wajah pria itu hancur dalam sekejap. Ada rasa puas yang luar biasa merambat di hati Hanum.
"Selamat siang semuanya," suara Hanum bergema dengan tenang dan berwibawa melalui pengeras suara. "Nama saya Hanum Sanjaya. Sebagai putri tunggal dari Bapak Sanjaya, hari ini saya resmi mengemban amanah sebagai Presiden Direktur Sanjaya Grup."
Mendengar pengakuan itu, Johan nyaris jatuh dari kursinya. Penyesalan menghujam jantungnya seperti belati. Selama ini ia menganggap Hanum wanita miskin yang tak punya apa-apa, itulah sebabnya ia berani menginjak-injaknya. Ia teringat kembali masa remajanya dulu, trauma saat ayahnya meninggalkannya demi wanita kaya, yang membuatnya membenci wanita ningrat karena dianggap jahat dan munafik. Itulah alasan mengapa Hanum menyembunyikan identitasnya hanya untuk dicintai apa adanya.
Namun kini, kebohongan yang ia bangun sendiri telah berbalik menghancurkannya. Pria yang dulu meremehkan itu kini harus mendongak, melihat wanita yang ia sia-siakan berada di puncak dunia, sementara ia sendiri hanyalah butiran debu di hadapan kekaisaran Sanjaya.
Pidato Hanum mengalir dengan sempurna, tajam, dan penuh visi. Setiap kata yang keluar dari bibirnya seolah menjadi tamparan keras bagi Johan yang duduk membeku di kursinya. Setelah sesi formal berakhir, suasana berubah menjadi ramah tamah. Para investor berebut untuk menyalami sang Presdir baru.
Alvaro tetap setia di samping Hanum, bertindak sebagai tameng sekaligus pendukung. Dari sudut matanya, ia melihat Johan yang masih tampak linglung, berusaha mengumpulkan sisa-sisa harga dirinya yang sudah hancur berantakan.
"Num, tamu kita sepertinya ingin bicara," bisik Alvaro sambil melirik ke arah Johan yang mulai melangkah ragu mendekati panggung.
Hanum menarik napas dalam, membetulkan posisi jasnya. "Biarkan dia datang, Kak. Aku ingin melihat sedekat apa penyesalannya."
Johan mendekat dengan wajah yang pucat pasi, diikuti Monica yang tampak gelisah di belakangnya. Johan menelan ludah berkali-kali sebelum akhirnya berani bersuara.
"Hanum..." suara Johan bergetar, sangat jauh dari nada angkuh yang biasanya ia gunakan. "Jadi... selama ini kau adalah putri Tuan Sanjaya? Kenapa? Kenapa kau membohongiku selama bertahun-tahun?"
Hanum menatap Johan dengan tatapan datar, seolah pria di hadapannya hanyalah orang asing yang tak sengaja lewat.
"Aku tidak membohongimu, Johan. Aku hanya ingin dicintai sebagai layaknya manusia, bukan karena harta Papah ku," jawab Hanum dengan nada dingin. "Dan ternyata benar, saat aku tidak memiliki apa-apa di matamu, kau menunjukkan wajah aslimu yang menjijikkan."
Monica mencoba ikut campur dengan suara yang dipaksakan manis, meski tangannya gemetar. "Mba Hanum, selamat ya. Mas Johan hanya terkejut saja. Kami ke sini sebenarnya ingin membicarakan kerja sama perusahaan Go Green..."
Hanum memotong kalimat Monica dengan tawa kecil yang terdengar sangat merendahkan. "Kerja sama? Dengan pria yang menyebutku pembawa sial dan mengusirku seperti sampah? Asisten Adam!"
Adam segera mendekat. "Iya, Bu Presdir?"
"Batalkan semua rencana pertemuan dan kerjasama dengan perusahaan Go Green. Aku tidak ingin perusahaan Sanjaya memiliki kaitan apa pun dengan pria yang tidak memiliki integritas seperti Tuan Johan yang terhormat ini" perintah Hanum tegas, suaranya cukup keras hingga terdengar oleh beberapa kolega di sekitar mereka.
Wajah Johan memerah padam, antara malu dan marah. "Hanum, kau tidak bisa melakukan ini karena masalah pribadi! Ini bisnis!"
Alvaro melangkah maju satu langkah, menempatkan dirinya sedikit di depan Hanum dengan aura yang mengintimidasi. "Ini bukan masalah pribadi, Tuan Johan. Ini soal standar kualitas mitra kerja. Dan Anda... jelas tidak masuk dalam kualifikasi kami."
Johan terdiam. Ia menatap Hanum yang kini digandeng oleh Alvaro dengan protektif. Rasa cemburu, penyesalan, dan kehinaan bercampur aduk di dadanya. Ia teringat bagaimana dulu ia membenci wanita kaya, namun kini ia menyadari bahwa kebenciannya itulah yang membuatnya kehilangan berlian paling berharga dalam hidupnya.
"Ayo Kak, tidak perlu membuang waktu dengan orang yang sudah tidak relevan di hidup kita," ucap Hanum sambil memutar tubuhnya, meninggalkan Johan dan Monica yang berdiri terpaku di tengah keramaian, sadar bahwa pintu kejayaan yang mereka impikan baru saja tertutup rapat untuk selamanya.
Di balik punggungnya, Hanum merasakan debaran jantung yang aneh saat lengannya bersentuhan dengan lengan Alvaro. Ia menang hari ini, namun ia tahu, perang yang sebenarnya kini ada di dalam hatinya sendiri terhadap pria yang baru saja menyelamatkan harga dirinya itu.
*
*
Di dalam ruangan Presiden Direktur yang megah, keheningan menyelimuti sejenak setelah keriuhan di ballroom mereda. Hanum berdiri menatap pemandangan kota, namun pikirannya tertuju pada kehancuran yang baru saja ia mulai. Alvaro masuk dengan langkah tenang, menutup pintu rapat-rapat.
"Semuanya berjalan sesuai rencana, Num," ucap Alvaro sambil menyandarkan tubuhnya di tepi meja kerja Hanum. "Aku baru saja mendapatkan laporan dari tim legal. Karena kegagalan proyek mereka dan hutang-hutang tersembunyi yang kita beli melalui perusahaan bayangan, saham Go Green akan menjadi milikmu sepenuhnya dalam waktu singkat. Kau sekarang adalah pemegang kendali atas hidup Johan."
Alvaro menatap Hanum dengan saksama, mencoba membaca apa yang ada di pikiran wanita itu. "Apa yang akan kau lakukan selanjutnya? Dengan satu tanda tangan, kau bisa membubarkan perusahaan itu hari ini juga."
Hanum berbalik perlahan, sorot matanya tajam dan tak menyisakan sedikit pun belas kasihan. "Membubarkan mereka sekarang terlalu mudah, Kak. Aku masih belum puas membalaskan dendamku kepada Johan."
Hanum melangkah mendekati Alvaro, suaranya terdengar dingin dan bergetar karena emosi yang tertahan selama bertahun-tahun.
"Aku ingin Johan dan wanita tidak tahu diri itu bersujud di atas kakiku, Kak! Aku ingin mereka merasakan hinaan yang sama, bahkan lebih dari apa yang mereka berikan padaku dulu," tegas Hanum. "Kalau tidak, semua aset Go Green akan aku ambil seluruhnya tanpa sisa, karena pada dasarnya, semua modal awal yang ia gunakan dulu adalah milikku!"
Alvaro terdiam sejenak, lalu sebuah senyuman bangga terukir di wajahnya. Ia melihat Hanum yang sekarang bukan lagi Hanum yang menangis di kursi belakang mobil, melainkan singa betina yang siap menerkam siapa pun yang telah menyakitinya.
"Aku akan menyiapkan segala sesuatunya, Num," balas Alvaro dengan nada kagum. "Apapun yang kau butuhkan untuk membuat mereka berlutut, aku akan memastikannya terjadi. Aku sangat bangga melihatmu sekuat ini."
Hanum menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran di dadanya. Di balik ambisi balas dendamnya, ia merasa aman karena tahu ada Alvaro yang selalu berdiri sebagai pelindungnya, meski kini tembok di hatinya masih begitu tinggi.
Bersambung...