Demi membebaskan Ayahnya yang dijebak ke penjara, Kanaya terpaksa setuju dijadikan jaminan perusahaan dan menikah dengan Arkananta, CEO angkuh dari kalangan terpandang.
Hidup Kanaya hancur seketika. Di saat ia harus menghadapi pernikahan kontrak yang dingin, ia justru mendapati kekasihnya berselingkuh. Penderitaannya memuncak saat ia dinyatakan hamil, namun di saat yang sama ia mengetahui fakta pahit. Arkan-lah pria yang telah menjebak ayahnya demi bisa memilikinya.
"Kita cerai! Aku bukan barang yang bisa kamu beli!"
Kanaya memilih pergi membawa kandungannya. Namun, sang CEO tidak tinggal diam. Ia akan melakukan apa pun untuk menyeret kembali wanita yang dianggap sebagai miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gendis Pitaloka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan Di Balik Data
"Sudah selesai membaca dongengnya, Naya?"
Suara Arkan yang berat bergema di ruangan yang sempit itu, tepat saat Naya baru saja mencabut kartu memori dari terminal komputer. Jantung Naya seolah berhenti berdetak. Ia berbalik dengan kaku, menyembunyikan kartu itu di balik telapak tangannya yang berkeringat.
"Kenapa diam? Kamu terlihat seperti baru saja melihat hantu," ucap Arkan sambil melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya.
"Aku hanya sedang mencari berkas pajak Ayah, seperti yang kita sepakati," jawab Naya, berusaha keras menjaga suaranya agar tidak bergetar.
"Berkas pajak? Di terminal server utama? Sejak kapan kamu jadi ahli IT yang tahu cara menembus enkripsi perusahaanku, Naya?"
"Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan."
"Jangan bermain bodoh denganku! Kamu pikir kartu akses perak yang diberikan Janu itu asli? Kamu pikir asistenku itu sebodoh itu untuk mengkhianatiku demi wanita sepertimu?"
Naya memucat. "Jadi... Janu menjebakku?"
"Janu tidak menjebakmu. Aku yang menyuruhnya memberikan kartu itu padamu. Aku ingin tahu seberapa jauh 'istri jaminanku' ini berani melangkah untuk menusuk suaminya sendiri," Arkan menginjak kartu memori itu dengan sepatu pantofelnya hingga hancur berkeping-keping. "Dan kamu melakukannya dengan sangat sempurna, Naya. Kamu baru saja memberikan alasan bagiku untuk menghancurkan ayahmu malam ini juga."
"Jangan, Arkan! Tolong, jangan bawa-bawa Ayah!" teriak Naya, harga dirinya runtuh seketika.
"Kenapa? Bukankah kamu tadi merasa sangat hebat saat menyalin data itu? Kamu pikir kamu bisa keluar dari sini, menyerahkan data itu ke polisi, dan melihatku membusuk di penjara?" Dengar baik-baik. Data yang kamu salin tadi adalah data palsu. Sebuah umpan. Dan kamu baru saja menelannya bulat-bulat."
Naya terengah, matanya membelalak. "Kamu... kamu merencanakan ini semua sejak awal?"
"Tentu saja. Aku butuh bukti bahwa kamu bukan sekadar istri yang tidak berdaya, tapi ancaman yang nyata. Dan dengan bukti rekaman CCTV di ruangan ini, aku bisa melemparmu ke penjara dengan tuduhan pencurian data rahasia negara. Pilihannya sekarang ada padamu, Naya. Mau menyerah atau mau aku telepon pengacara ayahmu dan menyuruhnya berhenti bekerja sekarang juga?"
"Apa maumu, Arkan? Katakan saja!"
"Mudah. Aku mau kamu menandatangani dokumen baru. Kontrak yang menyatakan bahwa seluruh aset ayahmu yang tersisa—termasuk rumah tua itu—menjadi milik Arkan Group secara permanen. Dan kamu... kamu akan tetap menjadi pajanganku sampai aku bosan. Tidak ada lagi tawar-menawar soal ruang arsip atau kebebasan."
Naya tertawa getir, air matanya akhirnya jatuh. "Kamu benar-benar iblis."
"Iblis yang menyelamatkan hidupmu, jangan lupa itu," sahut Arkan.
"Mbak, saya minta maaf..."
Suara Janu terdengar lirih saat Naya keluar dari ruang arsip dengan langkah gontai. Janu berdiri di lorong, wajahnya penuh penyesalan, namun ia tidak berani mendekat.
"Jangan bicara padaku, Janu. Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau, kan? Ibumu tetap aman, sementara aku tenggelam," ucap Naya tanpa menoleh.
"Pak Arkan mengancam saya, Mbak. Saya tidak punya pilihan."
"Semua orang punya pilihan, Janu. Kamu hanya memilih pilihan yang paling nyaman buatmu," Naya terus berjalan menuju lift.
Di dalam lift, Arkan menyusulnya. Ia berdiri di samping Naya.
"Jangan pasang wajah pemakaman seperti itu. Kita punya tamu malam ini. Relasiku dari Singapura akan datang ke apartemen untuk makan malam."
"Kamu baru saja menghancurkan hidupku dan sekarang kamu memintaku menjamu tamumu?" Naya menatap Arkan dengan kebencian murni.
"Kamu lupa? Kamu adalah 'Istri Jaminan' yang sempurna. Tugasmu adalah membuat mereka terkesan. Kalau kamu gagal, kamu tahu konsekuensinya." Oya, satu lagi. Jangan mencoba bicara pada siapa pun di acara nanti. Aku akan memasang alat penyadap di pakaianmu."
"Kenapa kamu tidak bunuh saja aku sekarang?"
"Karena membunuhmu itu membosankan. Aku lebih suka melihatmu hidup, bernapas, tapi jiwamu mati di bawah kendaliku. Itu jauh lebih memuaskan."
Malam itu di apartemen, suasana kembali kaku. Sofia, ibu Arkan, sudah ada di sana untuk memastikan semuanya berjalan sesuai standar Arkan.
"Lihat matamu, sembab seperti habis menangis di pasar. Bersihkan itu! Malu-malu saja kalau tamu dari Singapura melihatmu seperti ini," tegur Sofia saat melihat Naya keluar dari kamar.
"Aku lelah, Tante. Biarkan aku istirahat malam ini saja," pinta Naya.
"Tante? Sudah berapa kali kubilang panggil aku Ibu Mertua! Dan tidak ada kata istirahat. Kamu itu jaminan, bukan ratu di rumah ini! Cepat ke dapur, pastikan pelayan menyiapkan wine yang benar. Arkan tidak suka kesalahan sekecil apa pun."
"Sudah siap, Sayang?" Arkan melingkarkan tangannya di pinggang Naya, sebuah sentuhan yang membuat Naya merasa mual.
"Jangan panggil aku begitu. Tidak ada orang lain di sini," desis Naya.
"Oh, ada Ibu di ruang tamu. Dan sebentar lagi tamu kita datang. Mulailah berlatih, Naya. Aku mau senyum yang lebih lebar dari semalam. Tunjukkan pada mereka bahwa kamu adalah wanita paling bahagia karena telah menikahiku."
"Kamu benar-benar sakit, Arkan."
"Mungkin. Tapi aku sakit yang kaya raya dan berkuasa. Dan kamu adalah milikku."
Tamu dari Singapura, Mr. Chen dan istrinya, akhirnya tiba. Makan malam berlangsung penuh kepalsuan. Naya duduk di sana, menyahut setiap pertanyaan dengan jawaban yang sudah ia hapal di luar kepala. Ia memuji kecerdasan Arkan, ia menceritakan betapa perhatiannya Arkan padanya, sementara tangannya di bawah meja terus meremas serbet hingga kukunya memutih.
"Kalian benar-benar pasangan yang serasi. Arkan, kamu beruntung mendapatkan istri yang begitu rendah hati meskipun datang dari keluarga yang... ya, kita tahu sendiri masalahnya," ucap Mr. Chen sambil tertawa kecil.
"Tentu, Mr. Chen. Naya adalah berlian yang butuh sedikit asahan untuk bersinar di lingkungan kita," balas Arkan sambil mencium tangan Naya.
Setelah tamu pulang, Sofia langsung mendekati Naya. "Lumayan. Setidaknya kamu tidak mempermalukan kami malam ini. Tapi besok, jangan harap kamu bisa santai. Aku akan membawamu ke penjahit langgananku. Kamu butuh banyak pakaian baru agar tidak terlihat seperti rakyat jelata setiap kali keluar rumah."
"Aku tidak butuh pakaian baru, Tante. Aku cuma butuh ketenangan," sahut Naya.
"Jangan lancang! Kamu bicara pada siapa?" Sofia mengangkat tangannya, hendak menampar Naya.
"Ibu, cukup," Arkan menahan tangan ibunya. "Biarkan dia masuk kamar. Dia sudah melakukan tugasnya malam ini."
Sofia mendengus. "Kamu terlalu lembek padanya, Arkan. Wanita seperti dia harus diberi pelajaran agar tahu siapa majikannya."
Sofia pergi meninggalkan apartemen dengan penuh amarah. Kini tinggal Arkan dan Naya di ruang tengah yang luas itu.
"Terima kasih untuk aktingmu malam ini," ucap Arkan sambil melonggarkan dasinya.
"Puas?" tanya Naya singkat.
"Hampir. Aku akan lebih puas kalau besok kamu menandatangani surat penyerahan aset itu tanpa banyak drama."
"Aku akan menandatanganinya. Tapi ingat satu hal, Arkan. Kamu mungkin bisa memiliki hartaku, rumahku, dan tubuhku. Tapi kamu tidak akan pernah memiliki rasa hormatku. Bagiku, kamu tetaplah pria kecil yang hanya bisa menang dengan cara menjebak orang lain."
"Rasa hormat tidak bisa membeli saham, Naya. Dan bagiku, ketakutanmu jauh lebih berharga daripada rasa hormatmu"
"Belum selesai, Arkan," bisik Naya pada kesunyian. "Kamu pikir kamu sudah menang karena kamu memegang kartuku? Kamu lupa... aku masih punya satu hal yang tidak kamu miliki. Aku tidak punya beban lagi sekarang. Dan orang yang tidak punya apa-apa untuk dihilangkan adalah orang yang paling berbahaya."
Naya akan menandatangani surat itu besok. Ia akan mengikuti semua permainan Arkan. Ia akan menjadi "Istri Jaminan" yang paling patuh sedunia. Sampai saat pria itu benar-benar lengah, dan Naya akan memastikan bahwa kali ini, tidak akan ada umpan palsu lagi.
"Mari kita lihat, seberapa lama iblis sepertimu bisa bertahan di atas tahta yang dibangun dari penderitaan orang lain."