Aliora Amerta gadis cantik 19 tahun. Hidupnya berubah ketika pamannya berhutang besar pada Saga. Untuk melunasi hutang itu, Liora dipaksa menikah dengan Saga, pria yang sangat ditakutinya.
Sagara Verhakc berusia 27 tahun. Di dunia bisnis ia dikenal sebagai CEO jenius dan juga kejam.Ia adalah CEO muda dari perusahaan besar, namun di balik itu semua, Saga juga dikenal sebagai sosok mafia yang kejam, dingin, dan tak tersentuh. Namanya bukan hanya dihormati—tapi ditakuti.
Vero Vortelov sosok pria dingin berusia 28 tahun, Varo dikenal sebagai mafia berpengaruh di kota Los Angeles , bagian Amerika.Namun di balik semua itu, Varo memiliki satu sisi yang jarang terlihat—loyalitas terhadap keluarganya, terutama adiknya, Selena
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Helena Fox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 35
Hari-hari di mansion Varo mulai terasa… berbeda Masih dijaga Masih terkunci. Namun tidak setegang sebelumnya.
Pagi itu, Liora duduk di lantai kamar. Beberapa kertas berserakan di depannya. Pensil di tangannya bergerak pelan.Menggambar.
Garis sederhana Bunga.Langit. Hal-hal kecil.
" Ini jauh lebih hidup...." Gumannya
Pintu terbuka tanpa suara.
Varo masuk Langkahnya tetap tenang. Namun kali ini tidak langsung bicara.
Matanya tertuju pada lantai. Dan berhenti.
“Kamu ngapain.” Tanyanya.
Liora sedikit kaget. Refleks menutup kertas itu.
“…gambar.” Jawabnya pelan.
Varo mendekat Melihat gambaran liora Ia tidak berkata apa-apa beberapa detik.
Namun jelas itu bukan sesuatu yang biasa ia lihat. “Kamu punya hobi aneh.” Komentarnya datar.
Liora mengerutkan kening “Ini bukan aneh.” Balasnya pelan.
“Ini… biasa.”
Varo menatapnya Lama.
“Duniaku tidak punya ‘biasa’ seperti itu.” Jawabnya singkat.
Sunyi.
Liora ragu sejenak Namun ia mencoba lagi Cara yang sama.
“Kalau aku minta sesuatu lagi…” ucapnya pelan.
Varo mengangkat alis. “Lagi?”
Liora mengangguk kecil. “…aku mau lihat luar.”
DEG.
Varo diam. Tatapannya berubah sedikit.
Lebih tajam.
“Bukan kabur.” Cepat Liora menambahkan.
“Aku cuma… mau lihat kota. Dari mobil juga gak apa-apa.”
Sunyi.
Beberapa detik. Varo berjalan sedikit menjauh. Seolah berpikir.
Biasanya jawabannya jelas.
Tidak.
Namun kali ini ia menghela napas pelan.
“…siapkan mobil.” Katanya akhirnya.
DEG.
Mata Liora sedikit membesar. “Beneran?”
Varo melirik. “Jangan buat aku berubah pikiran.”
“…iya!” Jawab Liora cepat. Untuk pertama kalinya nada suaranya sedikit hidup
Beberapa saat kemudian mobil hitam melaju.
Liora duduk di dalam Menatap keluar jendela. Matanya mengikuti lampu kota.
Orang-orang Jalanan. Semuanya terasa sangat menyenangkan bisa melihat pemandangan kota lagi.
Hal-hal sederhana.Yang terasa jauh dari hidupnya selama ini.
Varo duduk di samping.
Diam. Namun sesekali melirik.Ia melihat ekspresi itu.
Rasa kagum.
Rasa bebas Meski hanya sedikit. Hal yang tidak pernah ia pikir penting.
“Kamu senang?” Tanyanya tiba-tiba.
Liora menoleh.
Sedikit kaget. Namun mengangguk. “Iya…” Bisiknya.
Sunyi.
Varo kembali melihat ke depan. Namun ada sesuatu yang berubah Bukan hanya rencana Bukan hanya dendam. Ada rasa… ingin melihat itu lagi.
Ekspresi itu. Namun ia cepat menutupnya.
“Kamu tetap tidak akan ke mana-mana.” Ucapnya dingin.
Seolah mengingatkan.
DEG.
Liora menunduk. “…aku tahu.”
Namun kali ini ia tidak terlihat sepenuhnya putus.Karena setidaknya ia menemukan cara Untuk bertahan.
Dan di sisi lain Varo mulai sadar Bahwa gadis ini tidak seperti yang ia bayangkan. Bukan hanya “milik Saga”.
Bukan hanya “alat balas dendam”.
Tapi sesuatu yang perlahan mengganggu ketenangannya sendiri. Dan itu bisa jadi masalah Karena jika perasaan itu tumbuh maka tujuannya akan goyah.
Namun untuk sekarang ia membiarkan. Sedikit. Dan itu saja sudah cukup mengubah segalanya.
***
Malam di Los Angeles dipenuhi cahaya.
Gemerlap. Hidup.Namun di dalam mansion Varo tetap sunyi.
Dingin.
Varo berdiri di balkon lantai atas. Menatap kota yang ia kuasai Biasanya pikirannya penuh rencana. Perhitungan.
Dendam. Namun malam ini berbeda. Bayangan itu kembali muncul.
Liora.
Tertawa kecil di taman. Menatap kota dari balik kaca mobil. Meminta hal-hal sederhana. Hal yang… tidak masuk dalam dunianya.
Varo menghela napas pelan. Tangannya mengepal di pagar balkon.
“…aneh.” Gumamnya.
Seharusnya ia hanya perlu menggunakan Liora.
Memancing Saga. Menghancurkannya. Namun sekarang ia mulai melihat lebih dari itu. Langkah kaki terdengar di belakang.
“Bos.” Salah satu anak buahnya datang. Leo yang jadi tangan kanan nya.
“Orang-orang sudah siap untuk tahap selanjutnya.”
Varo diam. Beberapa detik.
“Batalkan.” Jawabnya datar.
DEG.
Leo langsung terkejut. “Bos?”
Varo menoleh. Tatapannya tajam. “Ganti rencana.”
“Apa maksud Anda?”
Varo tersenyum tipis. Namun dingin.
“Kalau menghancurkan dia… terlalu cepat.” Langkahnya mendekat.
“Lebih menarik… kalau aku ambil miliknya.”
DEG.
Tatapannya mengeras. “Dia ambil adikku.” Suaranya rendah.
“…aku ambil miliknya.”
“Perempuan itu?”
Varo tidak menjawab.
Namun diamnya cukup. Mulai saat itu Liora bukan hanya alat. Tapi… target.
***
Sementara itu di kota lain Mansion Saga berubah. Bukan lagi dingin Tapi mencekam.Suara tembakan kembali terdengar.
DOR!
Seorang anak buah jatuh. Tidak bergerak.
“Cari dia!” Suara Saga menggema Penuh amarah.
Tidak ada yang berani menatap Tidak ada yang berani salah. Namun tetap selalu ada yang salah.
DOR!
Tembakan lagi. “Berapa lama lagi kalian butuh?!” Geramnya.
Ben berdiri di samping Menunduk. Namun wajahnya tegang. Ia tahu ini sudah di luar kendali. Sejak Liora hilang Saga berubah Lebih kejam. Lebih tidak stabil.
Segala hal kecil bisa jadi alasan kematian.
“Kalau dia kenapa-kenapa—” suara Saga menurun.
Namun justru lebih berbahaya. “…aku bunuh kalian semua.”
Sunyi.
Mencekam. Tangannya mengepal.
Kuat.
Untuk pertama kalinya Saga merasa sesuatu yang tidak ia suka. Kehilangan kendali.
Dan itu membuatnya semakin brutal.
***
Di sisi lainmansion Varo. Berbeda. Liora duduk di taman. Rumput hijau dengan Angin sejuk. Langit terbuka.
Ia menarik napas panjang Lebih tenang.
Untuk pertama kalinya sejak lama dadanya tidak sesak. Tidak ada tatapan tajam setiap detik. Tidak ada tekanan di setiap gerakannya.
Ia masih dijaga. Masih tidak bebas.
Namun tidak terasa seperti dikurung.
Ia berdiri. Berjalan kecil. Menyentuh daun. Senyum kecil muncul.
Tanpa sadar.
“Aku… lebih hidup di sini…” bisiknya pelan.
Namun ia tidak tahu Di kejauhan seseorang memperhatikan.
Varo.
Tatapannya tidak seperti sebelumnya. Tidak hanya dingin. Ada sesuatu yang lain. Keinginan.
Dan perlahan rencananya berubah. Bukan lagi sekadar balas dendam. Tapi memiliki.
Dan bagi pria seperti Varo itu sama berbahayanya dengan Saga. Karena jika Saga mengurung dengan obsesi Varo akan memiliki dengan cara yang lebih halus.
Namun tetap tidak memberi jalan keluar. Dan Liora tanpa sadar kembali berada di tengah permainan yang sama. Hanya… dengan cara yang berbeda.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...................... ...