NovelToon NovelToon
SENJA TAK BERTUAN

SENJA TAK BERTUAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dokter / Penyelamat
Popularitas:183
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Yasmin selalu percaya bahwa kerapuhannya adalah kutukan, hingga Arya datang membawa kepastian di bawah senja. Di sana, mereka mencuri satu petak langit untuk saling memiliki. Namun, ketika ikrar telah terucap dan senja mulai meredup, semesta seolah menagih kembali kebahagiaan yang mereka dapatkan.

Dan, ketika kegelapan itu datang...

Yasmin tersadar satu hal, mereka tidak sedang memiliki senja, hanya sedang meminjamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SELESAI

Hujan tidak turun, namun udara di ruangan itu terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Arya berdiri mematung, menatap lembaran foto dirinya bersama Yasmin.

​Arya tertawa sumir. Tawa yang lebih mirip ringisan luka. Selama ini, ia menaruh Yasmin di atas alas yang paling tinggi. Ia memuja perempuan itu karena ia yakin Yasmin adalah pengecualian—sebuah rasa di tengah dunia yang ia anggap penuh kepalsuan. Ia mengira Yasmin adalah pelabuhan terakhir yang tidak akan pernah mengkhianatinya.

​"Aaaaaaaarghhh!"

​Suara teriakan itu pecah, menggema di setiap sudut ruangan yang kini terasa mencekam. Urat-urat di leher Arya menegang, wajahnya memerah padam menahan ledakan emosi yang membakar dadanya. Napasnya memburu, pendek dan kasar, seperti banteng yang terluka.

​Praaaang!

​Bingkai foto kayu yang semula berdiri manis di atas meja rias itu meluncur deras, menghantam lantai pualam dengan dentuman keras. Kaca pelindungnya hancur berkeping-keping, memuncratkan serpihan tajam ke segala arah.

​Di balik pecahan itu, nampak potret Yasmin yang tengah tersenyum lebar—senyum yang dulu menjadi dunianya, namun kini terasa seperti ejekan yang paling kejam. Arya menatap tajam robekan foto itu. Salah satu serpihan kaca menggores punggung tangannya hingga darah segar mulai menetes, namun ia tak bergeming.

​Rasa perih di kulitnya sama sekali tak sebanding dengan rasa hancur di dalam dadanya. Baginya, bukan hanya bingkai itu yang pecah, melainkan seluruh masa depan yang pernah ia susun rapi di kepalanya.

​"Setia?" desisnya dengan suara serak, nyaris berbisik namun penuh penekanan.

​Ia mengepalkan tangan kuat-kuat. Ruangan itu kini sunyi, hanya menyisakan suara detak jam dinding dan isak tangis Yasmin yang sayup-sayup terdengar dari balik pintu yang tertutup. Arya memejamkan mata rapat-rapat, mencoba mengusir bayangan pengkhianatan yang terus berputar seperti kaset rusak di benaknya.

Sungguh, ​ia benci kenyataan ini. Ia benci karena ternyata ia telah memberikan hatinya pada orang yang salah. Dan yang paling ia benci, ia masih bisa merasakan sesak yang luar biasa meski ia sudah mencoba bersikap mati rasa.

****

​"Bodoh! Benar-benar bodoh!"

​Umpatan itu terus bergema di dalam kepala Yasmin, menghantam kesadarannya berulang kali seperti palu yang godam. Ia menatap kosong ke arah jalanan dan menyisakan keheningan di antara keramaian jalanan yang terasa mencekik.

​Rasa sesal itu datang terlambat, merayap dingin dari ujung kaki hingga menyesakkan dada. Ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri, mengapa ia begitu ceroboh? Mengapa ia membiarkan langkahnya tergelincir ke dalam lembah gelap yang sejak awal sudah ia tahu akan menguburnya hidup-hidup?

​Air matanya kini bukan lagi sekadar bentuk pembelaan diri, melainkan murni luapan rasa benci pada ego yang sempat ia agungkan.

​"Aku yang menghancurkan rumah yang susah payah aku bangun sendiri," bisiknya pelan, nyaris tak terdengar. "maafin aku, Mas."

​Ia teringat betapa dulu Arya memandangnya sebagai sosok yang paling suci, tempat pria itu pulang setelah lelah menghadapi dunia. Namun kini, di mata Arya, ia tak lebih dari sampah yang harus dibuang. Penyesalan itu semakin terasa getir saat ia sadar bahwa ia telah menukar emas dengan perunggu, ia menukar kesetiaan yang tulus dengan sebuah keterpaksaan yang kini hanya meninggalkan abu.

​Yasmin lalu jatuh tergeletak lemas di jalan. Rasa sakit di lututnya tak terasa, kalah telak oleh rasa hancur di mentalnya. Ia merasa seperti pecundang yang baru saja kehilangan segalanya dalam satu pertaruhan konyol. Seharusnya ia berhenti saat nuraninya mulai memberi peringatan, namun ia justru memilih terus melangkah hingga akhirnya kini benar-benar terhempas ke dasar jurang yang ia gali sendiri.

Kamu adalah satu-satunya orang yang tidak pernah menatapku dengan sebelah mata. Saat dunia menganggapku bukan siapa-siapa, kamu datang dan memberiku harga diri. Kamu mencintaiku dengan cara yang paling tulus, cara yang bahkan tidak pernah bisa aku berikan pada diriku sendiri.

​Air mata Yasmin mengalir deras, membasahi pipinya yang kusam. Ia teringat bagaimana Arya selalu menjadi pelindung, menjadi rumah yang hangat di tengah badai. Namun kini, rumah itu telah ia bakar dengan tangannya sendiri.

Sekarang, aku kehilangan kamu dalam duka yang paling dalam. Aku menghancurkan lelaki yang paling menghargai kehadiranku. Dan, senja itu... ia mulai menutup rapat, seolah-olah semesta pun setuju bahwa tidak ada lagi hari esok untuk kita. Harapan yang kita bangun, impian-impian kecil tentang masa depan yang sering kita bicarakan sebelum tidur... semuanya habis. Gelap.

​Ia meremas dadanya yang sesak. Rasa kehilangan itu menghujam jantungnya lebih tajam dari sekadar pengusiran Arya tadi.

Aku tidak hanya kehilangan kekasih, aku kehilangan kompas hidupku. Dan yang paling menyakitkan adalah menyadari bahwa aku tidak punya hak untuk memintamu kembali. Aku telah terhempas, dan senja ini adalah saksi bahwa aku benar-benar sendirian di dasar jurang yang aku gali dengan kebodohanku sendiri. Maafin aku, Mas. Maafin aku!

****

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!