NovelToon NovelToon
Nikah Rahasia: Jing Vs Sinting

Nikah Rahasia: Jing Vs Sinting

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

​“Eh, Jing! Sini lu!”
“Apaan sih, Sin? Dasar Sinting!”
​Di kantor, Jingga dan Sinta adalah musuh bebuyutan yang hobi cakar-cakaran. Namun di balik meja kerja, mereka menyimpan satu rahasia besar: Sebuah Buku Nikah.
​Terjebak perjodohan kolot, mereka terpaksa menikah secara rahasia dengan tiga aturan maut:
​Tetap jadi musuh di kantor.
​Jangan campuri urusan kekasih masing-masing.
​Dilarang jatuh cinta!
​Sanggupkah mereka menjaga rahasia saat cemburu mulai terasa lebih nyata daripada sekadar kontrak di atas kertas?
​"Pernikahan ini cuma bisnis, tapi kok gue pengen pecat pacar lu sekarang juga, ya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Meja Bersih Mendadak

Senin pagi sering kali terasa seperti medan perang bagi Sinta. Setelah akhir pekan yang dihabiskan untuk mengejar tenggat waktu laporan audit internal dan tumpukan aplikasi kredit usaha mikro yang menumpuk, pikirannya tertinggal di antara baris-baris angka yang tidak sinkron. Jumat sore lalu, ia meninggalkan meja kerjanya dalam kondisi yang mengenaskan—sebuah monumen dari keputusasaan dan kelelahan. Kertas-kertas berserakan, remah-remah biskuit yang terlupakan, tiga cangkir kopi kering yang menyisakan noda cokelat di dasar keramik, hingga tumpukan memo tempel yang menutupi hampir seluruh bingkai monitornya.

Ia melangkah masuk ke kantor dengan langkah berat, membawa beban mental tentang bagaimana ia harus merapikan kekacauan itu sebelum Adrian datang untuk memberikan pengarahan mingguan. Adrian adalah tipe pria yang memuja keteraturan; baginya, meja yang berantakan adalah tanda pikiran yang tidak disiplin.

Namun, saat Sinta sampai di depan kubikelnya, ia mematung.

Ia mengerjapkan mata, mengira mungkin ia salah masuk lantai atau salah kubikel. Namun, foto kecil ayahnya di sudut meja mengonfirmasi bahwa ini memang tempatnya. Meja itu... bersih. Benar-benar bersih.

Tidak ada lagi cangkir kopi kotor yang berjamur. Semuanya telah lenyap, kemungkinan besar sudah dicuci dan dikembalikan ke rak pantry. Kertas-kertas yang tadinya tumpah ruah kini tersusun rapi di dalam tray sesuai prioritas warna mapnya. Yang paling menakjubkan, monitor komputernya yang tadinya penuh debu dan bekas sidik jari, kini mengkilap seperti baru. Bahkan kabel pengisi daya ponselnya yang biasanya kusut melilit kaki meja, kini terikat rapi dengan pengikat kabel velcro kecil berwarna hitam.

Di tengah meja yang kini lapang itu, terdapat satu botol air mineral baru dan satu kotak kecil tisu basah antiseptik. Di atas tisu itu, terselip sebuah catatan kecil dari kertas memo kuning yang sangat ia kenali.

"Meja lu kayak kapal pecah. Gue nggak tahan liatnya pas gue dapet jatah audit lembur Sabtu malem kemarin. Anggap aja ini jasa kebersihan gratis, jangan dibiasain kotor lagi."

Sinta merasakan dadanya bergetar lembut. Sabtu malam? Itu berarti saat Sinta sedang tidur kelelahan di apartemen setelah mereka makan malam martabak bersama, Jingga sebenarnya berada di sini, di kantor yang sepi, menghabiskan waktu ekstranya bukan hanya untuk memeriksa laporan bank, tapi untuk membereskan sisa-sisa kekacauan hidup Sinta.

Ia menyentuh permukaan meja yang kini halus dan bebas debu. Rasa lelah yang ia bawa dari rumah tadi pagi seolah menguap begitu saja. Ada sesuatu yang sangat intim dalam tindakan merapikan meja kerja seseorang. Itu berarti Jingga menyentuh barang-barangnya, memahami alur kerjanya, dan dengan sabar membersihkan noda-noda yang ditinggalkan Sinta.

"Pagi, Sinta. Wah, tumben meja kamu rapi sekali hari ini," suara Adrian mengagetkannya.

Adrian berdiri di sana, tampak segar dengan kemeja slim-fit birunya. Ia menatap meja Sinta dengan pandangan puas. "Nah, begini kan enak dilihat. Saya jadi makin yakin kalau kamu memang sudah siap buat presentasi ke nasabah kakap siang nanti. Kedisiplinan itu dimulai dari hal kecil, Sin."

Sinta memaksakan sebuah senyum. "Iya, Mas. Tadi pagi-pagi sekali aku rapihkan."

Ia terpaksa berbohong. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa "suami rahasianya" dari Divisi Audit yang melakukannya. Saat Adrian pergi, Sinta menghela napas panjang. Pujian Adrian terasa kosong, karena pria itu memuji hasil akhirnya tanpa tahu bahwa ada tangan lain yang bekerja di balik layar untuk menjaganya tetap terlihat sempurna.

Sinta menoleh ke arah Divisi Audit. Di sana, di balik partisi kaca, ia melihat Jingga. Pria itu tampak sangat sibuk, kacamata bertengger di hidungnya, matanya tidak beralih dari layar monitor. Ia terlihat seperti auditor paling tidak peduli di dunia. Namun, Sinta tahu lebih baik. Ia tahu bahwa pria yang terlihat kaku itu memiliki sisi yang sangat lembut, yang hanya diperlihatkan melalui tindakan-tindakan sunyi di saat tidak ada orang yang melihat.

Ia mengambil ponselnya dan mengirim pesan singkat.

Sinta: "Meja gue cantik banget pagi ini. Makasih ya, Tuan Jasa Kebersihan. Sejak kapan lu jadi serapi itu?"

Beberapa menit kemudian, ponselnya bergetar di saku blazer-nya.

J: "Sejak gue sadar kalau istri gue ternyata aslinya jorok kalau lagi stres. Gue cuma nggak mau reputasi lu jatuh di depan Pak Adrian gara-gara meja yang kayak gudang barang bekas."

Sinta tertawa kecil tanpa suara. Ia bisa membayangkan wajah kaku Jingga saat mengetik itu, mungkin sambil sedikit menggerutu namun tangannya tetap lincah merapikan segalanya.

Kejadian meja bersih ini memberikan dampak psikologis yang besar bagi Sinta sepanjang hari. Ia merasa lebih fokus, lebih tenang, dan entah kenapa, merasa lebih terlindungi. Setiap kali ia mengambil bolpoin atau membuka map, ia teringat bahwa Jingga sudah menyentuh benda-benda itu untuknya. Ini adalah bentuk dukungan yang tidak pernah ia dapatkan dari siapa pun sebelumnya. Ayahnya selalu menuntut hasil, Adrian selalu menuntut citra, tapi Jingga... Jingga justru membereskan kekacauannya agar ia bisa melangkah lebih ringan.

Namun, di balik rasa tersentuh itu, Sinta juga mulai merasa ada yang aneh. Inisiatif Jingga yang semakin berani—masuk ke kubikelnya saat sepi, menyentuh barang-barangnya—menandakan bahwa dinding profesionalitas yang selama ini Jingga agung-agungkan mulai runtuh oleh perasaannya sendiri. Jingga tidak lagi sekadar "menjalani kontrak", dia mulai "merawat".

Saat jam makan siang, Sinta mendapati Luna sedang berdiri di dekat meja kerjanya, menatap botol air mineral dan tisu basah itu dengan tatapan curiga.

"Sinta, rapi banget ya sekarang," ucap Luna, nadanya terdengar manis namun ada duri di dalamnya. "Tadi pagi aku lihat Jingga bawa sampah banyak banget ke luar pas aku baru dateng pagi-pagi sekali buat ambil berkas. Aku tanya dia habis ngapain, dia bilangnya habis audit lembur. Tapi kok arahnya dari kubikel Divisi Kredit ya?"

Jantung Sinta berdegup kencang. Kebohongan baru harus segera dikonstruksi. "Oh, itu... kemarin aku emang minta tolong bagian office boy malem buat bersihin, mungkin Jingga cuma kebetulan lewat pas mereka lagi kerja."

Luna hanya tersenyum tipis, tidak tampak percaya sepenuhnya. "Ooh, begitu. Hebat ya, Jingga itu auditor tapi perhatiannya melebihi tugasnya. Sampai tahu banget mana yang perlu dibersihin."

Sinta merasa keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Perhatian Jingga yang tadinya terasa manis, kini mulai berubah menjadi risiko. Ia menyadari bahwa tindakan Jingga merapikan mejanya adalah sebuah tindakan yang sangat berisiko di tengah pengawasan Luna yang semakin tajam.

Sore harinya, saat kantor mulai sedikit lengang, Sinta berjalan melewati meja Jingga untuk menuju toilet. Saat jarak mereka cukup dekat dan tidak ada orang lain di sekitar, Sinta berbisik tanpa menghentikan langkahnya.

"Hati-hati. Luna curiga."

Jingga tidak mendongak, jemarinya tetap menari di atas kibor, namun ia menjawab dengan suara yang sangat rendah, hampir seperti gumaman. "Gue tahu cara ngatasin dia. Fokus aja sama kerjaan lu."

Kepercayaan diri Jingga entah kenapa membuat Sinta sedikit tenang, namun juga cemas. Ia menyadari bahwa mereka sedang berjalan di atas tali tipis. Di satu sisi, ada kenyamanan domestik yang mulai merembes ke kantor—perhatian kecil, meja yang rapi, teh hangat—dan di sisi lain, ada ancaman hancurnya reputasi jika kebenaran terungkap.

Malam itu di apartemen, Sinta mendapati meja makan sudah disiapkan. Jingga tidak memasak, tapi ia telah memesan makanan favorit Sinta dan menatanya dengan sangat rapi—persis seperti cara dia menata dokumen di meja kerja Sinta pagi tadi.

"Kenapa lu ngelakuin itu, Jingga?" tanya Sinta sambil duduk di depannya. "Maksud gue, beresin meja gue di kantor itu berisiko banget. Luna hampir liat lu."

Jingga meletakkan sendoknya, menatap Sinta dengan serius. "Gue cuma nggak mau lu makin stres, Sin. Gue liat lu Jumat sore itu udah kayak orang mau pingsan. Angka-angka itu nggak akan bener kalau lingkungan kerja lu kacau. Gue cuma pengen lu ngerasa... ada yang bantuin."

"Tapi itu bisa bahayain lu juga," sahut Sinta lembut.

"Gue auditor, Sinta. Risiko itu bagian dari pekerjaan gue. Dan kalau risikonya cuma dicurigai Luna demi bikin lu bisa kerja dengan tenang, gue rasa itu worth it."

Sinta terdiam. Kalimat itu terasa lebih romantis daripada puisi mana pun yang pernah ia baca. Ia menyadari bahwa "sentuhan" Jingga melalui meja yang bersih bukan hanya soal kebersihan fisik, tapi soal bagaimana Jingga mencoba merapikan kekacauan dalam hati Sinta.

Sinta diam-diam merasa tersentuh dengan inisiatif itu. Ia mulai merasa bahwa ia tidak lagi sendirian dalam menghadapi kejamnya dunia korporat. Ia punya seseorang yang akan diam-diam membersihkan jalannya saat ia sedang kelelahan.

Namun, kedamaian ini tidak akan berlangsung lama. Esok adalah hari ulang tahun Sinta, dan Adrian sudah merencanakan sesuatu yang megah di kantor—sebuah perayaan yang akan memaksa Jingga untuk kembali duduk di kursi penonton, melihat istrinya dipuja oleh pria lain di depan umum. Dan Sinta tahu, melihat reaksi Jingga belakangan ini, perayaan ulang tahun besok akan menjadi ujian yang jauh lebih berat daripada sekadar meja yang berantakan.

"Jingga," panggil Sinta saat mereka selesai makan.

"Ya?"

"Besok... besok jangan terlalu deket ya di kantor. Pak Adrian mau bikin acara buat ulang tahun gue."

Wajah Jingga mendadak mengeras. "Gue tahu. Gue udah denger kasak-kusuknya di grup kantor. Jangan khawatir, gue bakal jadi penonton yang baik."

Sinta bisa merasakan nada getir dalam suara Jingga. Ia ingin mengatakan sesuatu untuk menenangkan suaminya, tapi ia tidak tahu kata-kata apa yang tepat. Ia hanya bisa menatap meja yang kini bersih dan rapi, menyadari bahwa meskipun meja kerjanya sudah teratur, perasaan mereka justru semakin berantakan dan rumit.

Malam itu, Sinta tidur dengan perasaan campur aduk. Ia menyentuh permukaan meja kerjanya yang kini lapang di pikirannya, merasa bersyukur namun juga takut akan apa yang akan terjadi esok hari saat kemewahan Adrian beradu dengan perhatian sunyi Jingga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!