Di dunia di mana gerbang dimensi terbuka dan monster mulai menginvasi bumi, garis antara pahlawan dan penjahat menjadi kabur. seorang pria yang terjebak dalam takdir sebagai antagonis, raja naga kehancuran terbangun di tubuh manusia bumi bernama voltra.
Sang Raja Naga Kehancuran, entitas yang ditakdirkan menjadi villain sejati, kini terjebak dalam raga manusia yang lemah. Alih-alih menghancurkan dunia, ia justru terikat oleh tanggung jawab yang tak pernah ia bayangkan: seorang adik perempuan dan kewajiban menjadi seorang Hunter.
Terjebak dalam dilema antara identitas aslinya sebagai penghancur dan peran barunya sebagai kakak sekaligus pembasmi monster. Memilih antara harapan atau kehancuran?.
-LATAR CERITA DI INDONESIA
-KARAKTER PENTING ADA ILUSTRASI
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Natelashura7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 26 perubahan diri
Nenek tua tengah membawa gerobak berisi beberapa barang, sepertinya ia mengumpulkan barang-barang itu entah untuk apa. Namun tubuhnya tidak lagi kuat untuk mendaki sebuah tanjakan yang lumayan terjal. Bagi orang lain itu hal biasa, namun di mata voltra ada hal berbeda.
"Jiwa yang mengutuk dirinya sendiri" Batin voltra merasakan aura wanita tua itu.
Saat sang nenek tidak kuat untuk mendaki, voltra memegang bagian belakang gerobaknya dan mendorong membuat wanita tua terkejut. Wanita tua itu tersentak, jemarinya yang keriput mencengkeram erat pegangan gerobak yang berkarat. Ia menoleh perlahan, napasnya tersengal, menatap sosok Voltra yang berdiri kokoh di belakang beban hidupnya.
"Nak... tidak perlu," bisiknya dengan suara parau yang terdengar seperti gesekan daun kering. "Beban ini... memang harus kupikul sendiri" Lanjutnya tersenyum.
Voltra tidak melepaskan tangannya. Ia bisa merasakan hawa dingin yang merembes dari kayu gerobak itu—bukan dingin karena cuaca, melainkan dingin yang berasal dari penyesalan yang membeku. Di mata Voltra, barang-barang rongsokan di dalam gerobak itu tampak diselimuti kabut hitam tipis; simbol dari memori-memori yang terus menyalahkan diri sendiri.
"Beratnya bukan berasal dari besi-besi tua ini, Nek" ucap Voltra datar, namun nadanya tidak menghakimi.
Dengan satu dorongan yang mantap, gerobak itu bergerak maju dengan ringan, seolah gravitasi tak lagi berlaku. Mereka mendaki tanjakan terjal itu bersama-sama. Wanita tua itu terdiam, matanya berkaca-kaca melihat betapa mudahnya tanjakan yang tadinya mustahil itu kini terlampaui.
Sesampainya di jalan yang rata, Voltra melepaskan pegangannya. Wanita itu meletakkan penyangga gerobaknya dan berbalik sepenuhnya menghadap Voltra. Matanya menyimpan duka yang dalam, seolah ia sedang menjalani hukuman yang ia ciptakan sendiri.
"Nak aku punya permen kesukaan cucu ku" ucap nenek tua memberikan satu permen.
"Tapi mereka sudah mati bukan" ujar voltra memegang permen itu.
"Benar. Sejak monster bermunculan dari yang namanya gate, seluruh keluarga anak dan cucuku semuanya tewas" ucap nenek tua sambil mengangguk. "Aku... Aku marah, kenapa mereka meninggalkan ku sendirian dan aku tidak ingin mati agar tidak bertemu mereka" Lanjutnya penuh kebencian.
"Inilah kenapa dia mengutuk dirinya sendiri. Mana ditubuh nenek ini meningkatkan daya hidupnya karena keinginan kuat itu, tapi.... " batin voltra melihat.
"Membenci seseorang begitu lama sama saja dengan merindukan mereka bukan?" Tanya voltra pada nenek itu.
Mendengar pertanyaan Voltra, tangan nenek itu gemetar hebat. Permen di telapak tangannya hampir saja terjatuh jika Voltra tidak segera mengambilnya. Keheningan yang mencekam menyelimuti jalanan sepi itu, hanya menyisakan suara deru angin yang membawa bau karat dari gerobak tua tersebut.
Nenek itu tertegun. Matanya yang semula penuh kebencian kini mulai berkaca-kaca, memantulkan bayangan Voltra yang tampak begitu tenang sekaligus mengintimidasi.
Voltra menatap aliran mana di dalam tubuh wanita itu. Secara teknis, nenek ini seharusnya sudah meninggal bertahun-tahun yang lalu. Namun, kehendak untuk membenci telah memicu mana di atmosfer untuk terus memompa jantungnya, memberinya vitalitas paksa yang menyakitkan.
Mana tersebut tidak memulihkan sel tubuhnya, melainkan hanya "mengunci" kondisinya agar tidak bisa mati. Tubuhnya menua, namun nyawanya tertahan oleh rantai kebencian.
"Manusia memang egois" Batin voltra.
"Cinta seorang Ibu pada anaknya tidak terbatas bukan" ucap voltra menyentuh bahu sang nenek. "Keluarga mu juga pasti menyesal meninggalkan mu sendirian" Lanjutnya berucap.
Mata sang nenek membulat sempurna, lalu air mata turun ketika ia mengingat momen kebersamaan tentang keluarga nya. Bagaimana mereka tumbuh, makan bersama, bermain dengan cucu kecilnya dan lain sebagainya.
"Nenek" Teriak seorang anak kecil.
Sebuah suara familiar ia dengar, dibelakang voltra ia melihat keluarganya terbalut oleh sebuah cahaya keemasan. Mereka mengulurkan tangan pada sang nenek, voltra hanya diam seolah-olah memberi jalan padanya. Saat sang nenek terus berjalan ia melirik ke punggung voltra.
"Tuan... Terimakasih" Ucapnya tersenyum bahagia. "Tolong tetaplah disisi manusia" Lanjutnya.
Setelahnya jiwa sang nenek keluar dan berkumpul bersama keluarganya. Cahaya keemasan itu perlahan memudar, menyisakan kesunyian yang amat dalam di tanjakan tersebut. Tubuh ringkih sang nenek kini bersandar lemas pada gerobak tuanya. Tidak ada lagi napas yang tersengal, tidak ada lagi pancaran kebencian yang tajam. Wajahnya kini tampak begitu tenang, garis-garis keriputnya tidak lagi menyiratkan beban, melainkan sebuah kedamaian yang telah lama hilang.
Voltra masih berdiri di sana, menatap tubuh yang kini tak bernyawa itu. Di tangannya, sebutir permen pemberian sang nenek masih tergenggam. Mana yang tadi mengunci paksa kehidupan sang nenek telah menguap ke atmosfer, kembali menjadi bagian dari alam. Tanpa sokongan emosi yang meluap-luap, raga tua itu akhirnya tunduk pada hukum alam yang semestinya. Voltra menatap ke arah jalan setapak di mana bayangan keluarga sang nenek menghilang.
"Tetaplah di sisi manusia..."
Kalimat itu bergema di pikiran Voltra. Sebuah permintaan yang ironis bagi sosok seperti dirinya yang sering memandang manusia sebagai makhluk penuh ego dan kontradiksi. Voltra mendekati gerobak tua itu. Barang-barang rongsokan yang tadi tampak seperti beban kutukan, kini hanyalah tumpukan besi tua biasa. Kabut hitam yang menyelimutinya telah sirna seiring perginya penyesalan sang pemilik.
Voltra membuka bungkus permen yang diberikan sang nenek. Ia memasukkannya ke dalam mulut. Rasa manis yang sederhana mungkin sudah kedaluwarsa atau murah namun bagi Voltra, ada rasa lain di sana. Rasa dari sebuah "harapan" yang diberikan oleh seseorang yang baru saja melepaskan "kebencian".
Ia mendorong gerobak itu ke tepi jalan, memastikan benda itu tidak menghalangi jalan bagi pengembara lain, lalu menyelimuti tubuh sang nenek menggunakan jaketnya, sang Raja naga memegang tangan nenek tua untuk terakhir kali.
"Semoga kau bahagia lautan akhir" ucap voltra setelahnya ia berjalan pergi.