seorang gadis muda yang harus benting tulang menghidupi kedua adik kembarnya setelah kedua orang tuanya meninggal. adik perempuannya sakit-sakitan, mengharuskannya bekerja lebih keras. saat pulang bekerja tak sengaja dia tertabrak mobil, dan ternyata yang menabrak itu adalah pemilik perusahaan tempat dia bekerja. saat itu lah pria pemilik perusahaan itu jatuh hati pada gadis itu. bukan hanya karena kecantikannya, tapi juga karena sifatnya yang baik dan sangat menyayangi adik-adiknya. namun saat melihat adik laki-laki gadis itu, dia mengingat seseorang di masa lalunya. tentang ayahnya yang pernah mengaku melakukan kejahatan sebelum dia meninggal. ayah pria itulah yang menjadi penyebab kematian kedua orang tua nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Pagi itu, sinar matahari yang menerobos masuk melalui jendela besar Mansion Maheswara terasa begitu menyilaukan, namun tak mampu menghangatkan suasana beku di dalamnya. Di kamar utama yang dulu milik ibunya, Dinda duduk mematung di depan cermin besar.
Seorang perias pengantin (MUA) terkenal yang disiapkan Alan sedang sibuk memulaskan kuas ke wajah Dinda. Namun, pekerjaan perias itu terus terhambat. Setiap kali foundation diratakan, bulir air mata jatuh membasahi pipi Dinda, merusak riasan yang baru saja menempel.
"Nona, mohon maaf... jika Nona terus menangis, riasannya tidak akan sempurna," ucap perias itu dengan nada sungkan dan sedikit takut.
Dinda hanya terdiam, tatapannya kosong menatap pantulannya sendiri. Di balik balutan kebaya putih modern yang sangat anggun dan mahal, ia merasa seperti seekor domba yang sedang dihias sebelum disembelih. Ketakutan itu merayap di setiap sarafnya—ketakutan akan sentuhan Alan. Ingatan tentang malam di apartemen itu terus berputar seperti kaset rusak, membuatnya merasa kotor di tengah kemewahan ini.
***
Dika berdiri di ambang pintu, mengenakan setelan jas hitam yang pas di tubuhnya yang tegap namun nampak kaku. Wajahnya yang muda terlihat jauh lebih dewasa karena gurat kemarahan dan kesedihan yang mendalam. Ia mengepalkan tangan di saku celananya saat melihat kakaknya diperlakukan seperti boneka porselen.
"Sudah selesai?" tanya Dika, suaranya parau.
Perias itu mengangguk cepat setelah melakukan touch-up terakhir untuk menutupi sembab di mata Dinda. "Sudah, Mas. Nona Adinda sudah siap."
Dika melangkah mendekat, berdiri di belakang kakaknya. Melalui cermin, mata mereka bertemu. Dika melihat kehancuran di sana, dan itu membuatnya ingin meledak. Hari ini, ia bukan hanya akan menyaksikan pernikahan kakaknya; ia adalah wali nikah sah yang akan menyerahkan Dinda kepada pria yang paling ia benci di dunia ini.
"Kak... kalau Kakak bilang 'tidak' sekarang, aku akan bawa Kakak lari lewat pintu belakang. Persetan dengan rumah ini, persetan dengan perusahaan Ayah," bisik Dika, hanya cukup untuk didengar Dinda.
Dinda menggeleng pelan, tangannya yang bergetar memegang tangan Dika. "Tidak, Dika. Ini sudah keputusan final. Kakak tidak mau kamu menanggung beban ini sendirian lagi. Biarkan Kakak yang mengakhiri semua penderitaan kita dengan cara ini."
Dika memejamkan mata, menelan ludah yang terasa pahit. Dadanya sesak. Ia merasa seperti pengkhianat karena akan menikahkan kakaknya sendiri demi sebuah fasilitas hidup. Namun, ia juga tahu, Dinda melakukan ini semua untuk melindunginya.
**
Di bawah, dua mobil mewah telah menunggu. Alan tidak menjemput langsung ke dalam kamar, ia menunggu di lokasi akad sesuai protokol yang ia buat sendiri untuk menjaga privasi Dinda hingga detik terakhir.
Dika membantu Dinda menuruni anak tangga satu per satu. Setiap langkah terasa seperti menuju tiang gantungan. Satpam dan ART yang disiapkan Alan menunduk hormat saat mereka lewat, namun bagi Dika, mereka semua nampak seperti sipir penjara.
Begitu sampai di dalam mobil, keheningan menyergap. Dika duduk di samping Dinda, terus menggenggam tangan kakaknya yang sedingin es.
"Jangan takut, Kak. Ada aku. Meski setelah ini dia suamimu, aku akan tetap di sini. Kalau dia menyakitimu lagi, aku yang akan pertama kali menghajarnya, tidak peduli seberapa kaya dia," janji Dika dengan nada yang sangat serius.
Dinda hanya mengangguk lemah, kepalanya bersandar di bahu adiknya. Air matanya kembali jatuh, membasahi kain jas Dika. Ia pasrah pada takdir yang telah ia pilih sendiri. Sebuah pernikahan tanpa restu Sofia, tanpa kehadiran Dita, dan tanpa cinta—hanya ada kontrak, dendam masa lalu, dan pengorbanan seorang kakak demi masa depan satu-satunya adik yang tersisa.
Mobil terus melaju, membelah jalanan kota menuju lokasi di mana Allandra Ryuga sudah menunggu untuk mengikat janji suci yang ironisnya, diawali dengan sebuah kehancuran.
**
Mobil mewah itu berhenti dengan mulus di pelataran sebuah bangunan bergaya kolonial yang privat, tempat yang telah disulap Alan menjadi saksi bisu penyatuan dua nasib yang bersimpangan. Dinda masih duduk di dalam, mengatur napasnya yang sesak, sementara Dika turun lebih dulu.
Saat Alan melangkah mendekat untuk menyambut calon istrinya, Dika menghadang jalan pria itu. Tatapannya tajam, tidak ada lagi ketakutan, yang ada hanyalah keberanian seorang laki-laki yang sudah tidak punya apa pun untuk dipertaruhkan.
"Tuan Alan, bicara sebentar. Berdua saja," ucap Dika dingin.
Alan menatap Dika sejenak, lalu mengangguk pada asistennya agar menjaga mobil Dinda. Mereka melangkah ke sudut area taman yang sepi, jauh dari jangkauan telinga para staf dan penghulu yang sudah menunggu di dalam.
Dika berdiri menyamping, menatap langit pagi yang terasa mencekam. "Punya rokok?" tanya Dika tiba-tiba.
Alan tertegun. Ia mengerutkan kening, menatap remaja di depannya yang masih mengenakan seragam SMA beberapa hari lalu. "Kau masih sekolah, Dika. Sejak kapan kau menyentuh barang seperti itu?"
Dika menoleh, sebuah senyum hambar tersungging di bibirnya. "Hanya untuk hari ini saja. Aku butuh sesuatu untuk menahan sarafku agar tidak meledak saat menjabat tanganmu di depan penghulu nanti."
Alan terdiam, lalu merogoh saku jasnya. Ia mengeluarkan sebungkus rokok mahal dan pemantiknya, lalu menyerahkannya pada Dika. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Dika menyalakan satu batang, menghisapnya dalam-dalam, lalu mengembuskan asapnya ke udara—seolah-olah asap itu membawa pergi sebagian beban di pundaknya.
**
Dika mematikan rokoknya setelah hanya dua kali hisapan, lalu membuangnya ke tanah dan menginjaknya dengan sepatu pantofelnya yang mengkilap. Ia berbalik sepenuhnya menghadap Alan.
"Dengar, Tuan Allandra Ryuga," ucap Dika, suaranya kini seberat batu. "Hari ini, aku akan menyerahkan satu-satunya harta yang aku miliki di dunia ini. Dinda bukan cuma kakak bagiku. Dia adalah ibu, ayah, dan sahabat sejak orang tua kami dibunuh oleh keadaan... atau mungkin oleh orang-orang sepertimu."
Alan tetap diam, mendengarkan dengan saksama.
"Aku tahu apa yang sudah kamu lakukan padanya. Aku tahu luka yang kamu torehkan tidak akan pernah hilang hanya dengan rumah atau perusahaan," lanjut Dika, melangkah maju hingga wajahnya hanya berjarak satu jengkal dari Alan. "Mulai detik ini, sayangi dia. Jangan biarkan dia menangis lagi karena ulahmu. Jika aku melihat ada satu saja tetes air mata kesedihan di wajahnya setelah hari ini... aku tidak peduli seberapa tinggi pangkatmu atau seberapa tebal dompetmu."
Dika mencengkeram kerah jas Alan, menariknya sedikit. "Aku akan menyeretnya pergi darimu, meski aku harus menghancurkan diriku sendiri bersamanya. Dia satu-satunya keluargaku yang tersisa. Jangan sakiti dia lagi."
Alan menatap mata Dika yang berkaca-kaca namun penuh ancaman. Ada rasa hormat yang muncul di hati Alan melihat keberanian remaja ini. Ia menyadari bahwa Dinda tidak benar-benar sendirian; ada seorang singa muda yang siap menerkamnya jika ia berbuat salah.
"Aku mengerti, Dika," sahut Alan dengan suara rendah dan sungguh-sungguh. "Aku tidak menjanjikan kebahagiaan instan, tapi aku bersumpah demi nyawaku sendiri... aku akan melindunginya. Aku tidak akan membiarkan siapa pun, termasuk ibuku, menyakitinya lagi."
Dika melepaskan cengkeramannya dengan kasar, merapikan kembali kerah jas Alan yang sedikit kusut. "Pegang ucapanmu. Karena kalau tidak, kematian Dita akan menjadi hutang nyawa yang harus kamu bayar padaku."
Dika berbalik, berjalan menuju mobil untuk menjemput Dinda. Ia membuka pintu mobil, mengulurkan tangannya pada kakaknya dengan senyum yang dipaksakan.
"Ayo, Kak. Waktunya kita selesaikan ini," bisik Dika.
Dinda menatap adiknya, menyadari ada aroma tembakau yang samar dari pakaian Dika, namun ia tidak bertanya. Ia tahu adiknya baru saja melewati pertempuran batin yang luar biasa. Dengan tangan yang bertumpu pada lengan Dika, Dinda melangkah keluar, menuju altar yang akan mengikatnya dalam takdir baru yang tak terelakkan.
***
Bersambung...