Tak punya pilihan lain, selain mengikuti apa yang sahabatnya Fani minta. yaitu menikah dengan Fauzan yang notabennya adalah suami Fani.
Fauzan adalah masa lalunya dan Kemala bersama Fauzan memiliki memori yang bisa di katakan tidak baik-baik saja. tetapi Kemala menerimanya dan dia rela menjadi istri kedua supaya sahabatnya itu bersemangat kembali dan mau menjalani perawatan atas penyakitnya, yaitu kanker payudara.
pernikahan yang cukup pelik dan Kemala kira kalau dirinya dan Fauzan tidak akan sejauh itu. mereka hanya menikah demi permintaan Fani saja, akan tetapi tidak untuk Fauzan dan Fauzan menuntut supaya Kemala mau melakukan tugasnya sebagai istri betulan, termasuk melayaninya di atas ranjang.
cekidokttt mohon dukungannya untuk karya saya yang kesekian, terimakasih😊🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Acaciadri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
“Banyak sekali den, nyonya, mangganya.“Ujar Bi Lia takjub tatkala kedua majikannya pulang dan membawa sekarung mangga muda, Kemala tersenyum lebar sambil menganggukan kepalanya dan Fauzan menghela nafasnya panjang.
Tentu saja banyak, sebanding lah dengan resiko uang yang di keluarkan serta hampir seluruh tubuh yang bentol-bentol dan merah-merah.
“Iya bi, kalau bibi mau ambil, ambil sepuas bibi, ya? Oh ya, bagikan juga ke tetangga dan orang-orang sekitar ya. Maaf saya ngerepotin lho bi.“Ujar Kemala dan masih tersenyum hangat.
Bi Lia mengangguk dan balas tersenyum hangat”Baik nya, tapi saya gak papa ngambil beberapa?.“Tanyanya memastikan.
“Gak papa atuh bi, lagian saya cuman mau beberapa buah aja kok.“
Bi Lia mengangguk lagi namun tatapannya malah berpindah pada Fauzan sang manukan yang membayarnya dan memperkerjakannya dan Bi Lia meminta izin dengan tatapan matanya.
“Ehm mas kasih izin lah, lagian saya cuman mau beberapa aja kok!!.“Ujar Kemala sambil sedikit menyenggol lengan sang suami__Fauzan menghela nafasnya dalam. Pengorbanannya untuk memgambil buah mangga ini bisa di katakan cukup sangat besar sekali__bukan hanya materi yang tidak murah itu, tetapi juga dengan hampir seluruh tubuhnya. Meski begitu, apa yang di katakan Kemala pun ada benarnya juga.
Fauzan mengangguk dan Kemala tersenyum lebar pun dengan Bi Lia.
“Yaudah, makasih ya.“Timpal Kemala yang di angguki Fauzan, istrinya menjadi lebih jinak setelah Fauzan menuruti ngidamnya. Ngomong-ngomong apakah harus begini terus supaya mereka tidak adu mulut?.
*****
Dua buah mangga sudah habis Kemala makan dan sama sekali wanita itu tak terlihat sedikit pun meringis keasaman dengan mangga-mangga yang masih muda itu__beda halnya dengan Bi Lia yang mengikuti cara Kemala makan yang hanya buah mangganya saja dan Bi Lia harus menyerah setelah suapan ketiga, katanya tak kuat. Apalagi Bi Lia punga riwayat lambung.
Sedang Fauzan, pria itu memilih untuk memperhatikan sang istri dengan lekat dan ikut tertawa kecil saat istrinya terlihat lahap memakan mangga-mangga muda hasil petikannya sendiri.
“Mau makan nasi? Saya ambilkan.“Ujar Fauzan yang mampu memecah konsentrasi Kemala yang sedang anteng memakan mangganya. Kontan Kemala pun menggelengkan kepalanya dan membuat Fauzan menghela nafasnya panjang.
“Dari tadi makan mangga terus.“Ujarnya pelan namun sanggup benar-benar menghentikan kunyahannya.
“Den maaf, tapi kalau orang ngidam memang seperti itu kok. Gak usah khawatir den..“Bi Lia ikut bersuara tatkala melihat pelupuk sang nyonya sudah berair dan siap menangis, Fauzan menghela nafasnya. Benarkah begitu? Sungguh Fauzan tidak tahu menahu soal fakta yang satu ini.
“Janji yang terakhir.“Tukas Kemala tak ingin sang suami sampai mengamuk, terlebih kepada Bi Lia__walau sejujurnya memakan mangga muda yang ternyata enak dan mungkin tidak akan berhenti, andai Fauzan tidak bersuara. Tetapi Kemala pun tahu kalau terus-terusan juga tidak baik.
“Eum bi maaf, tapi kalau boleh. Saya mau bubur ayam, tapi tanpa ayam ya.“Ujar Kemala yang membuat bi Lia dan Fauzan sama-sama menaikan sebelah alis mereka. Bubur ayam tanpa ayam? Kalau begitu seharusnya bilanh bubur biasa saja kan? Ahhh, andai Kemala tak sedang hamil, mungkin Fauzan akan berteriak keras di hadapannya.
“Baik nya.“Sahut Bi Lia sambil mengulum senyumnya. Bi Lia setidaknya pernah mengandung dan sangat berpengalaman tentang mengidam, hingga dia pun tak berisik dan segera melaksanakan titah sanga majikan yang memang sedang mengidam itu.
****
Angin bertiup cukup kencang dan malam ini tiba-tiba turun hujan di sertai dengan petir yang beberapa kali sanggup membuat sosok perempuan itu menutup kedua telinganya menggunakan kedua tangannya, wajahnya tertunduk dan tubuhnya genetar karena takut.
Sebuah rasa hangat yang terasa menghantar tubuhnya membuatnya mendongak lalu menemukan sosok pria yang sudah menjadi suaminya yang ternyata pelakunya__wajahnya terlihat datar dan tanpa ekspresi tapi perlakuannya itu lho sanggup membuat hati Kemala lumer seketika.
Tatapan mereka bertemu dan suara jantung Kemala di dalam sana berdebar begitu kencang sekali__sekian lama tak bertemu atau berinteraksi intim seperti ini. Waktu boleh berjalan, tetapi sumpah demi apapun Fauzan sama sekali tidak berubah di matanya, dia masih tetap datar namun tampan dan mempesona sekali, satu lagi romantis.eh
Fauzan menggenggam tangan Kemala dan saat itu fokus Kemala teralih pada genggaman tangan mereka yang terasa erat, hangat dan membuat jantungnya di dalam sana kebat-kebit, andai waktu bisa berhenti, sudah Kemala lakukan__momen seperti ini dulu pernah ia harapkan, namun tisak terjadi karena keegoisannya. Tapi saat ini Tuhan seolah menjawab do'a-do'anya yang diam-diam sepalu ia untaikan, meski dengan cara yang lain, yaitu menjadi istri keduanya.
Bolehkah Kemala egois? Setidaknya menikmati waktu kebersamaan merela yang entah sampai kapan ini.
“Ayo.“Ucap Fauzan dan Kemala pun mengangguk, keduanya berjalan keluar dari halaman super market__memang Kemala yang ada awalnya meminta ingin jalan-jalan di malam hari, katanya sih ingin membeli beberapa bacaan. Namun jalan-jalan itu ternyata bukan hanya jalan-jalan, nyatanya Kemala pun meminta ingin membeli benerapa buah dan camilan, hingga waktu pun terasa berjalan cukup cepat dan sampai turun hujan di sertai hujan, angin dan juga petir dan kabar buruknya, Kemala sangat takut dengan suara petir, tetapi untungnya da Fauzan yang seolah paham dengan dirinya.
Sebuah jaket kini terlihat memayungi kepalanya dan untuk Fauzan sendiri. Dia menbiarkan tubuhnya kebasahan begitu saja.
“Mas, kenapa memayungi saya dan membiarkan tubuh mas sendiri kehujanan seperti itu?.“Tanya Kemala dengan mengeraskan nada suaranya, hujan masihlah cukup besar dan suara akan teredam dengan suara hujan. Makanya Kemala mengeraskan nada suaranya.
Fauzan menoleh, langkah kakinya menyesuaikan dengan langkah kaki Kemala yang pelan.
“Menurutmu?.“Tanyanya balik dan seketika membuat kedua pipi Kemala merona karena malu sekaligus terharu. Tetapi otaknya seakan menentang hal itu__Kemala tidak mau kegeeran, barang kali memang perlakuan Fauzan yang baik begini bukan hanya kepadanya, tetapi kepada wanita yang lainnya.
“Tapi mas__.“
“Fauzan.“Ucap seseorang yang membuat ucapan Kemala terpotong dan di saat itulah baik Kemala maupun Fauzan sama-sama menoleh pada sosok yang memanggil nama Fauzan.
Seketika Kemala menarik dirinya dari cengkraman Fauzan tatkala sepasang netranya menemukan sosok wanita yang amat di kenalnya, dia adalah Dea. Salah satu teman kuliahnya pun teman Fani__dan Dea juga salah satu yang hadir di pesta pernikahan Fani dan Fauzan.
Tatapan Dea kini tertuju pada Fauzan dan juga Kemala. Jelas sekali dadi sorot matanya wanita itu merasa curiga dengan Fauzan dan Kemala, Kemala yang sadar pun cepat berucap..
“Ahh, kami gak sengaja ketemu di mall..hehe begitulah De.“Ujarnya mengkonrfimasi, Kemala tak mau kalau sampai ada gosip-gosip buruk tentangnya dan Fauzan.
Dea menganggukan kepalanya beberapa kali, walau terlihat seolah dia meragukan ucapan Kemala. Pasalnya jelas sekali bagaimana perlakuan Fauzan yang rela memayungi Kemala dengan jaketnya, sedangkan dia sendiri kehujanan. Belum lagi tatapannya yang lembut dan penuh kasih sayang.
Apa meteka punya hubungan yang lebih dari teman? Itulah kecurigaan Dea.
“De, ngapain kamu di sini?.“Tanya Fauzan yang berhasil membuat atensi Dea pun teralih pada sosok pria yang tadi ia sebut namanya.
“Biasa, jalan-jalan sama temen. Kamu sendiri? Kok bisa barengan sama Mala? Dan di mana istri kamu?.“Tanya Dea yang terdengar menekankan kata istri, seolah-olah mengingatkan Fauzan kalau dia sudah punya istri di rumah.
“Kebetulan kami ketemu di sini juga dan Fani yang menyuruh saya untuk ke sini.“Bohong Fauzan yang malah membuat Dea berspekulasi buruk.
“Oh ya? Kok bisa kebetulan sekali ya? Apalagi kamu mau-maunya meminjamkan jaket kamu untuk memayungi Mala dan Fani, tumben kamu gak bawa dia? Biasanya juga kalau bepergian, apalagi ke super market begini. Fani itu kan doyan banget belanja.“Tutur Dea sambil memberi tatapan tajam pada Kemala dan seolah memperingatkan Kemala__Dea memang snagat membenci yang namanya perselingkuhan, karena dia adalah korban dari papa yang selingkuh. Makanya ia punya emosi yang bisa di katakan kurang stabil, apalagi melihat bau-bau penghianatan yang jelas di depan matanya ini, mana ucapan Fauzan terasa agak janggal pula dan gesture keduanya menunjukan hal yang sebaliknya dati ucapan Fauzan tadi.
lanjut Thor 👍👍
lanjut Thor 👍👍👍
lanjut Thor 👍👍👍
good job thor 👍👍👍♥️♥️♥️
lanjut 👍👍👍