Abram adalah pemuda yang baik hati dan suka membantu, tapi sejak ia mengalami penyakit kulit, semua masyarakat menjauh. Hingga akhirnya ia di usir dari tempat tersebut dan pingsan di pinggir jalan setelah kesandung sebuah batu krikil aneh.
Tapi hari itu, ada seseorang menemukannya dan ia di bawa ke rumah sakit, sayangnya nyawanya tak tergolong lagi.
Tapi batu kerikil itu terkena darah Abram dan menjadikan Abra sehat kembali dan menjadi dia tabib dewa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
...Happy Reading...
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
Saat jarum terakhir tertancap, Abram menutup matanya sejenak dan mulai mengeluarkan energi penyembuhannya.
Sebuah cahaya hijau lembut namun terasa hangat dan kuat mengalir keluar dari ujung jari Abram, merambat melalui jarum-jarum akupunktur itu, dan masuk menembus pori-pori kulit Pak Aris.
Seketika itu juga, tubuh Pak Aris bergetar hebat. Di bawah kulitnya, terlihat jelas pergerakan aneh seolah-olah ada sesuatu yang bergerak di bawah daging.
Nanah-nanah hitam dan cairan kotor yang telah menginfeksi seluruh aliran darah dan ototnya mulai ditarik oleh energi hijau tersebut, berkumpul menjadi satu aliran yang besar menuju satu titik tertentu.
Abram memilih tumit kaki kiri sebagai jalan keluarnya. Itu adalah bagian tubuh yang paling jauh dari organ-organ vital, sehingga resiko kerusakan pada organ dalam bisa diminimalisir sepenuhnya.
"AKHHHHHHHHHH!!!"
Jeritan kesakitan Pak Aris memecah keheningan ruangan.
Ia mencengkeram seprai tempat tidurnya dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Keringat dingin bercucuran membasahi seluruh tubuhnya. Rasa sakit itu bukan sekadar tusukan jarum, tapi seperti ada ribuan jarum panas yang merobek daging dari dalam untuk mengeluarkan kotoran itu.
Di tumit kiri Pak Aris, kulitnya perlahan membengkak dan berubah warna menjadi kehitaman. Cairan kental berwarna hijau gelap dan kuning pekat mulai memancur keluar dari pori-pori yang dibuka oleh energi Abram.
Nanahnya semakin banyak, terus mengalir deras tanpa henti seolah tak ada habisnya.
Melihat jumlah cairan yang mulai menetes ke lantai, Abram melihat ke arah Dokter Rahmat yang sejak tadi berdiri mematung di sudut ruangan, menyaksikan proses luar biasa itu dengan mata terbelalak.
"Dokter Rahmat, tolong siapkan sebuah ember atau baskom besar. Aku butuh wadah untuk menampung ini," kata Abram tanpa melepaskan konsentrasinya.
"Ba-Baik! Segera!" Dokter Rahmat segera bergegas keluar dan memerintahkan suster untuk mengambilkan ember besar.
Tidak lama kemudian, ember itu sudah tersedia di samping tempat tidur.
Bau yang mulai menyebar sangat menyengat. Itu bukan sekadar bau nanah biasa, melainkan bau busuk yang sangat tajam, bercampur bau busuk yang membuat tenggorokan siapa saja yang menciumnya akan terasa ingin memuntahkan isi perut.
"Semua orang, tolong keluar dari ruangan ini sekarang! Bau racun ini sangat berbahaya jika terhirup terlalu lama, dan baunya akan membuat kalian semua muntah. Keluar dan tunggu di luar saja!" seru Abram dengan tegas
Perawat-perawat yang sudah mulai meringis menahan bau itu segera keluar dengan patuh.
Tapi, Dokter Rahmat justru tetap berdiri di tempatnya. Ia menutup hidungnya dengan sapu tangan, tapi matanya tetap tak lepas memandang proses pengobatan yang menentang segala logika medis itu.
"Saya tidak apa-apa, Abram. Sebagai dokter, saya ingin melihat sampai akhir. Saya penasaran... saya ingin membuktikan sendiri bagaimana ilmu non-medis ini bisa bekerja seajaib ini. Saya akan bertahan di sini," kata Dokter Rahmat dengan suara teredam.
Abram menghela napas, tapi tidak memaksa. "Baiklah, kalau Dokter bersikeras."
Adnan menusuk tumit pak Ardi dengan jarum akupunturnya.
"Aaaaaaaaaaaaaa!" Teriak pak Aris kesakitan
Dan Cairan hitam itu terus mengalir deras ke dalam ember, memenuhinya setengah bagian, sementara Pak Aris semakin lemah namun wajahnya terlihat sedikit lebih lega seiring keluarnya racun dari tubuhnya.
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
di tunggu kelanjutannya