NovelToon NovelToon
“Senja Yang Kembali Pulang”

“Senja Yang Kembali Pulang”

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: penulis handal wakakkak

Sinopsis

Alya Maheswari percaya satu hal: cinta pertamanya sudah mati.

Lima tahun lalu, ia meninggalkan kota kecilnya dengan hati yang hancur dan mimpi yang hampir padam. Ia memilih kuliah di luar kota, membangun hidup baru, dan berjanji tak akan pernah kembali ke tempat yang menyimpan terlalu banyak kenangan.

Namun takdir punya caranya sendiri.

Saat ibunya sakit, Alya terpaksa pulang. Dan di kota yang penuh senja itu, ia kembali bertemu dengan Arka Pratama — pria yang pernah menjadi rumahnya… dan juga luka terbesarnya.

Arka bukan lagi pemuda ceroboh yang dulu ia kenal. Kini ia lebih tenang, lebih dewasa, dan menyimpan sesuatu yang belum pernah sempat ia katakan.

Di antara rahasia masa lalu, kesalahpahaman yang belum selesai, dan perasaan yang ternyata tak pernah benar-benar pergi… apakah cinta mereka benar-benar sudah berakhir?

Atau justru, senja hanya menunggu untuk kembali pulang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penulis handal wakakkak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Perjamuan Terakhir di Carlton dan Pilihan yang Mengakar

Malam itu, Unit 3B berubah menjadi pusat gravitasi kecil di Nicholson Street. Aroma rendang yang pekat bersatu dengan wangi melati, menciptakan sebuah atmosfer yang tidak pernah dibayangkan Alya saat pertama kali menginjakkan kaki di Melbourne. Ibu duduk di antara Mr. Henderson dan Mrs. Higgins, berkomunikasi dengan bahasa isyarat dan senyuman yang jauh lebih efektif daripada kamus bahasa Inggris mana pun.

Arka berdiri di dapur kecilnya, mengamati pemandangan itu sambil menyesap kopi hitamnya. Ada rasa puas yang aneh melihat musuh bebuyutannya, Mr. Henderson, kini sedang mencoba mengunyah lengkuas yang ia pikir adalah daging sapi, sambil tetap berusaha terlihat sopan di depan Ibu.

"Bang," bisik Alya, menyelinap ke samping Arka. "Lihat deh. Mr. Henderson beneran makan bumbunya."

Arka tertawa kecil, melingkarkan lengannya di bahu Alya. "Biarkan saja. Itu hukuman karena dia sudah berani jadi agen ganda buat pria jaket kulit kemarin. Tapi lihat Ibu, Al. Beliau kelihatan sepuluh tahun lebih muda."

Alya menatap Ibunya. Benar kata Arka. Di bawah cahaya lampu kuning apartemen mereka, kerutan di dahi Ibu tampak melunak. Tidak ada ketakutan akan paket misterius atau telepon gelap dari Jakarta. Di sini, Ibu hanyalah seorang tamu kehormatan di sebuah rumah yang dibangun dengan susah payah.

Setelah para tetangga pulang dengan perut kenyang dan hati yang lebih ringan, suasana kembali menjadi domestik dan intim. Ibu duduk di sofa baru mereka, membuka tas kecilnya yang selalu ia bawa. Beliau mengeluarkan sebuah bungkusan kain beludru merah yang sudah agak kusam.

"Al, Arka... sini duduk dekat Ibu," panggil Ibu.

Alya dan Arka duduk di karpet oats di bawah kaki Ibu. Cali, si kucing, ikut meringkuk di antara mereka, seolah tahu ada percakapan penting yang akan dimulai.

"Ibu sudah lihat semuanya. Apartemen ini, tembok hijau ini, cara Arka jagain kamu, dan cara kamu memimpin orang-orang di kantor besar itu," Ibu membuka bungkusan beludru itu. Di dalamnya ada sepasang cincin emas tua dan sebuah sertifikat tanah yang sudah menguning.

"Ini tabungan almarhum Bapak buat kalian. Ibu tadinya mau kasih ini saat kalian nikah, tapi saat itu keadaan lagi kacau karena... dia," Ibu tidak menyebut nama laki-laki itu, seolah nama itu adalah kutukan. "Ibu simpan ini karena Ibu pikir kalian akan butuh modal buat lari. Tapi sekarang Ibu sadar, kalian nggak lari lagi."

Ibu menyerahkan bungkusan itu kepada Arka. "Pakai ini buat beli rumah yang beneran di sini. Bukan apartemen sewa. Ibu mau tahu kalau anak Ibu punya akar yang dalam di tanah ini. Jangan pikirkan Ibu di Jakarta. Ibu sudah minta adikmu buat jual rumah lama kita dan pindah ke rumah yang lebih kecil di dekat pesantren. Ibu mau tenang di sana."

Alya merasakan tenggorokannya tercekat. "Tapi Bu, itu kan harta satu-satunya Ibu..."

"Harta Ibu itu ketenangan kalian, Al," potong Ibu lembut. "Ibu nggak mau kalian pulang ke Jakarta hanya karena merasa punya beban buat jagain Ibu. Pulanglah kalau kalian rindu baunya hujan di sana, bukan karena terpaksa. Melbourne ini... ternyata cantik. Ibu titip Alya ya, Ka."

Arka memegang tangan Ibu, matanya berkaca-kaca. "Ibu nggak perlu kasih ini, Arka bakal usahain semuanya sendiri—"

"Terima, Ka. Ini restu. Bukan cuma uang," kata Ibu tegas namun penuh kasih.

Malam itu, kemistri di antara mereka bertiga mencapai titik emosional yang paling dalam. Tidak ada lagi rahasia. Arka menceritakan bagaimana dia hampir kehilangan akal saat Alya diancam, dan Alya mengakui betapa seringnya dia menangis di kamar mandi kantor karena merindukan masakan Ibu. Mereka tertawa dan menangis di bawah atap Unit 3B, sementara angin musim dingin Melbourne mengetuk-ngetuk jendela, mencoba masuk namun gagal karena hangatnya cinta di dalam sana.

..

Keesokan paginya, saat Alya sedang merapikan barang-barang Ibu untuk persiapan pulang besok, dia menemukan sebuah kotak kayu kecil di bawah ranjang tempat Ibu tidur. Kotak itu terkunci, tapi ada secarik kertas tertempel di atasnya dengan tulisan tangan Ibu: "Buka kalau Ibu sudah di pesawat."

Rasa penasaran Alya memuncak. Namun, dia menghormati pesan itu. Dia menyimpan kotak itu di dalam lemarinya—lemari yang dulu ia kira berhantu, tapi kini menjadi tempat menyimpan harta paling berharga dalam hidupnya.

Sore itu, mereka menghabiskan waktu terakhir di St. Kilda Pier. Mereka berjalan di sepanjang dermaga, melihat pinguin-pinguin kecil yang mulai keluar dari celah bebatuan saat matahari terbenam.

"Al," panggil Arka saat mereka berdiri di ujung dermaga, membelakangi cakrawala yang berubah warna menjadi ungu dan jingga.

"Ya, Bang?"

"Ibu bener. Kita harus berhenti merasa jadi pendatang. Besok, aku bakal mulai cari rumah permanen di daerah Fitzroy atau Northcote. Sesuatu yang punya halaman kecil buat Ibu kalau beliau datang lagi, dan tempat buat Cali lari-lari."

Alya menatap suaminya, lalu menatap Ibunya yang sedang asyik memotret pinguin dengan ponselnya. "Aku setuju, Bang. Tapi temboknya harus ada yang warna hijau mint lagi ya?"

Arka tertawa, menarik Alya ke dalam pelukannya. "Tentu saja. Hijau mint itu warna kemenangan kita."

Sabtu pagi di Bandara Tullamarine terasa lebih berat daripada saat kedatangan. Saat Ibu melangkah masuk ke pintu keberangkatan, beliau memeluk mereka berdua sekali lagi.

"Ingat pesan Ibu. Jangan biarkan masa lalu menang hanya karena kalian lupa cara berbahagia," bisik Ibu sebelum menghilang di balik kerumunan.

Saat mobil Arka melaju keluar dari bandara, Alya langsung membuka kotak kayu misterius itu. Di dalamnya, tidak ada perhiasan atau uang tambahan.

Hanya ada sebuah buku harian lama milik almarhum Bapak, dan di halaman tengahnya, terselip sebuah foto kecil. Foto itu adalah foto Arka saat masih remaja, sedang berdiri di depan rumah Alya, memegang kuas cat yang masih basah. Di bawah foto itu ada tulisan tangan Bapak: "Anak ini yang bakal jagain Alya. Dia sudah mulai ngecat pagar kita sejak umur 17 tahun tanpa diminta."

Alya menangis sesenggukan. Ternyata, Arka sudah menjadi "rumah" baginya jauh sebelum Melbourne, jauh sebelum pengkhianatan di stasiun, dan jauh sebelum tembok hijau mint itu ada.

"Kenapa, Al?" Arka bertanya cemas sambil tetap fokus menyetir.

Alya menggeleng, tersenyum di balik air matanya. Dia menggenggam tangan Arka yang ada di atas persneling. "Enggak apa-apa, Bang. Aku cuma baru sadar kalau aku nggak pernah salah pilih alamat buat pulang."

Di luar, langit Melbourne cerah membentang. Musim dingin mungkin belum usai, tapi bagi Alya dan Arka, setiap sudut kota ini sekarang adalah milik mereka. Perang sudah berakhir, dan pembangunan yang sesungguhnya baru saja dimulai.

1
pembaca sejati
izinnnnnnnn
pembaca sejati
👍
putra Damian
izinnn
putra Damian
🙏🙏
putra Damian
k
putra Damian
lanjut ka
pembaca sejati
baguss
penulis handal wakakkak
👍
penulis handal wakakkak
besok saya pastikan saya akan kembali ke solo sebagai rakyat bisa.
ahh pria solo itu lagii🤣🤣
penulis handal wakakkak
yang suka romace mampir yok
penulis handal wakakkak
haraheta
pembaca sejati
??
pembaca sejati
komitmen apaan?
pembaca sejati
👍
penulis handal wakakkak
lanjut ga sih tapi nulis dulu wkwkwk🤣
pembaca sejati: patah jari
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!