NovelToon NovelToon
PESONA PERAWAT IBUKU

PESONA PERAWAT IBUKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / CEO
Popularitas:33.3k
Nilai: 5
Nama Author: uutami

Dita, seorang Caregiver yang merawat dengan sepenuh hati majikannya yang lumpuh, Bu Diana. sampai, suatu hari, Bu Diana meminta sesuatu yang membuat Dita menahan napasnya...

"Menikahlah dengan Tama, Dit. Aku tak mau Tama menikah dengan wanita binal itu... kamu harus selamatkan anakku, seperti kamu menyelamatkan aku..."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 35

Pagi itu, rumah sederhana di ujung kampung tampak berbeda.

Tenda biru berdiri kokoh di halaman. Kursi-kursi plastik berjajar rapi. Aroma masakan dari dapur belakang bercampur dengan wangi bunga melati yang menghiasi pelaminan.

Suasana ramai, tapi tetap terasa khidmat.

Dita duduk di depan, mengenakan kebaya putih sederhana. Riasannya tidak berlebihan, namun justru membuat wajahnya terlihat semakin tenang… dan berkelas.

Di sampingnya, Tama.

Pria itu mengenakan setelan rapi. Sikapnya tegap, sorot matanya tenang. Tidak banyak bicara, tapi kehadirannya cukup membuat orang-orang segan.

Di kursi tamu, Sari duduk dengan wajah kaku.

Matanya tidak lepas dari pasangan di depan sana.

“Pengusaha…” gumamnya pelan, hampir tidak terdengar.

Tangannya tanpa sadar mengelus perutnya.

Tatapannya turun sebentar, lalu kembali ke arah pelaminan.

Dalam pikirannya berputar satu pertanyaan yang sama sejak tadi.

“Kenapa orang seperti dia… mau menikah dengan Dita?”

Ia mencibir tipis.

“Pasti ada apa-apanya…”

Namun saat ia melirik ke samping—

Matanya menangkap sosok Bakri.

Pria itu berdiri di pojokan, sedikit jauh dari keramaian.

Dan…

Matanya sedang tertuju ke arah Dita.

Sari langsung menegang.

Rahangnya mengeras.

“Tuh kan…” bisiknya kesal. “Masih saja dilihat…”

Ia memalingkan wajah dengan cepat.

“Dasar laki-laki…”

Nada suaranya dipenuhi rasa tidak suka.

“Sudah punya istri… masih saja lihat mantan…”

Tangannya mengepal di atas pangkuan.

“Memang tidak ada yang benar dari laki-laki,” lanjutnya dalam hati. “Tidak Bakri… tidak juga yang lain…”

Matanya kembali melirik ke arah pelaminan.

Dan kali ini… ia menatap Dita dengan tajam.

“Dan kamu…” gumamnya pelan. “Masih saja jadi penggoda…”

Namun—

Sebuah suara tiba-tiba menyela dari sampingnya.

“Bu…”

Sari menoleh.

Seorang ibu-ibu setengah baya duduk tidak jauh darinya. Wajahnya terlihat santai, tapi matanya tajam.

“Iya?” jawab Sari singkat, sedikit ketus.

Ibu itu tersenyum tipis.

“Kali ini jangan direbut lagi ya yang punya Dita.”

Kalimat itu seperti tamparan.

Sari langsung menatapnya tajam.

“Maksudnya apa?”

Ibu itu mengangkat bahu santai.

“Ya… sudah cukup si Bakri saja dulu.”

Sari terdiam.

Dadanya langsung berdesir.

Wajahnya memerah… bukan karena malu, tapi karena kesal.

“Itu urusan saya,” balasnya cepat.

“Memang,” sahut ibu itu ringan. “Tapi satu kampung juga tahu kok ceritanya.”

Sari menggertakkan gigi.

Tangannya mengepal lebih kuat.

Ingatan lama itu muncul begitu saja.

Dulu…

Ia memang merebut Bakri dari Dita.

Bukan karena cinta yang besar.

Tapi karena keadaan.

Karena ia hamil duluan.

Dan Bakri tidak punya pilihan selain menikahinya.

Sari memalingkan wajah.

Tidak ingin mendengar lagi.

Namun suara ibu itu masih terdengar pelan,

“Kadang ya, Bu… yang direbut itu belum tentu benar-benar milik kita.”

Sari langsung berdiri.

Kursinya sedikit bergeser keras.

Ia tidak menjawab.

Tidak juga menoleh.

Ia hanya berjalan menjauh dengan napas yang tidak teratur.

Di depan sana—

Ijab kabul baru saja selesai.

Suara “sah” menggema.

Tepuk tangan mulai terdengar.

Namun entah kenapa…

Suara itu terasa jauh di telinga Sari.

Yang ia rasakan sekarang hanya satu hal—

Tidak nyaman.

Acara tidak berlangsung lama.

Setelah beberapa waktu, suasana mulai lengang.

Tama berdiri di dekat mobil hitam yang terparkir rapi di depan rumah.

Ia berbicara dengan Bu Diana.

“Langsung ke kota saja, Ma,” katanya tenang.

Bu Diana mengangguk.

“Iya. Di sana lebih nyaman.”

Dita yang berdiri di samping mereka terlihat sedikit canggung.

Matanya sesekali menoleh ke arah rumah.

Ke arah nenek Supinah.

“Nek…” suaranya pelan saat mendekat.

Nenek Supinah tersenyum hangat.

“Hati-hati ya, Nduk.”

Dita mengangguk.

Tangannya meraih tangan neneknya, mencium dengan penuh hormat.

“Dita pamit…”

“Jaga diri baik-baik. Ikut suami.”

“Iya, Nek…”

Beberapa warga juga ikut mendekat.

Suasana haru mulai terasa.

Namun Tama tetap berdiri tenang, menunggu tanpa tergesa.

Saat semua sudah selesai—

Ia membuka pintu mobil untuk Dita.

“Masuk.”

Nada suaranya lembut, tapi tegas.

Dita sedikit terkejut.

“Ah… iya…”

Ia masuk perlahan.

Bu Diana menyusul.

Tak lama—

Mobil itu melaju meninggalkan kampung.

Sari berdiri di kejauhan.

Matanya mengikuti mobil itu sampai hilang dari pandangan.

Rahangnya masih mengeras.

“Cepat sekali pergi…” gumamnya.

Namun jauh di dalam hatinya…

Ada rasa yang sulit ia jelaskan.

Antara kesal…

dan tidak terima.

Perjalanan menuju kota terasa panjang.

Dita lebih banyak diam.

Tangannya saling menggenggam di pangkuan.

Sesekali ia melirik ke arah Tama.

Pria itu fokus ke depan.

Tenang.

Seolah semua ini adalah hal biasa baginya.

Berbeda dengan Dita.

Semuanya terasa asing.

Cepat.

Dan… menegangkan.

Sesampainya di rumah—

Dita langsung terdiam.

Rumah itu besar.

Jauh berbeda dari rumahnya di kampung.

Halaman luas.

Interior rapi.

Dan suasana yang terasa… dingin.

“Masuk,” kata Tama singkat.

Dita mengangguk pelan.

“Iya…”

Tubuhnya terasa lelah.

Hari ini terlalu panjang.

Ia bahkan belum sempat mencerna semuanya.

Begitu masuk—

Bu Diana langsung berkata,

“Istirahat saja dulu. Kamu pasti capek.”

“Iya, Bu…”

Dita mengangguk cepat.

Ia berniat menuju kamar tamu.

Namun—

“Dita.”

Langkahnya terhenti.

Ia menoleh.

Bu Diana menatapnya dengan ekspresi datar.

“Kamarmu bukan di sana.”

Dita mengernyit.

“Eh… terus di mana, Bu?”

Bu Diana menunjuk ke arah lorong dalam.

“Di kamar Tama.”

Deg.

Jantung Dita langsung berdetak lebih cepat.

“Di… kamar Tama?” ulangnya pelan.

“Iya. Sekarang kamu sudah istrinya.”

Dita terdiam.

Wajahnya langsung memerah.

“Ta-tapi…”

“Sudah,” potong Bu Diana. “Tidak usah canggung.”

Dita menelan ludah.

Ia mengangguk pelan.

“Iya, Bu…”

Langkahnya terasa berat saat berjalan ke arah kamar itu.

Tangannya memegang beberapa barang kecil.

Semakin dekat—

Semakin terasa gugup.

Ia berhenti di depan pintu.

Diam beberapa detik.

Menarik napas.

Lalu mengangkat tangan.

Tok.

Tok.

Suara ketukan pelan terdengar.

Tidak ada jawaban.

Dita menelan ludah lagi.

Tangannya menyentuh gagang pintu.

1
partini
hemmmm ayo kenapa ada sesuatu yang bisa bangun gicuhhhh
kymlove...
kenapa?? jangan2 tama ada masalah😰
Yunita Asep
kasian Dita.. y thorr..
Yunita Asep
songongnya si sari, ngerasa gk punya dosa banget.. ih..
Yunita Asep
iya tu si Bakei erangkt desa, gk cocok...
Yunita Asep
kok masih nebeng am nnek rumahnya y si sari bakri..
Yunita Asep
gila tu si perempuan jalang.. amit2 dah..
Ibrahim Efendi
modusnya, ganti rugi gagal nonton 🤭😁
Ibrahim Efendi
rasakno!!!!! 😁
Ibrahim Efendi
udaaahhh... ngaku aja 😁
Ibrahim Efendi
biar kau panas 😁
Ibrahim Efendi
gak rela dia, ma 🤭
Ibrahim Efendi
mama diana lagi bikin Tama cemburu. biar sadar... 🤭🤭🤭
Ibrahim Efendi
yessss!!!!!! akhirnyaaaaa...... caught in the act...👍💪🤭
Ibrahim Efendi
wih! mantap juga idemu Butet!!...👍👍👍
Ibrahim Efendi
cewek liar...
Ibrahim Efendi
first step. menuju lunak. sentuh hatinya. itu resep manjur.
Ibrahim Efendi
baru bab 1 udah seru. kesabaran diuji 💪
sunaryati jarum
Semoga kecanggungan kamu dan Tama segera cair
partini
semoga ga cuma kamu aja dit yg cepat cinta tamanjuga harusnya sebelum Kunti bogel datang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!