NovelToon NovelToon
Reality Bender

Reality Bender

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:295
Nilai: 5
Nama Author: Rendy_Tbr

Reality Bender – Sang Penguasa Kehampaan

"Di dunia di mana cahaya matahari adalah hukum, mampukah ketiadaan menjadi penyelamat?"
Dikhianati oleh kekaisaran yang ia bela dan diburu oleh takdir yang haus darah, Fang Han terbangun dengan kutukan yang mustahil: Inti Kehampaan. Kekuatan ini tidak hanya menghapus musuhnya, tetapi perlahan mengikis ingatan, emosi, dan kemanusiaannya sendiri. Setiap langkah menuju puncak kekuasaan adalah langkah menuju kegelapan abadi di mana ia terancam melupakan wajah orang-orang yang ia cintai.
Dari pelarian maut di Puncak Kun-Lun hingga menjadi tawanan di Benteng Obsidian yang mengerikan, Fang Han harus memilih: menjadi senjata pemusnah massal bagi musuhnya, atau menguasai Pedang Shatter-Fate untuk memutus rantai takdir dunia.
Ikuti perjalanan epik penuh pengorbanan, pengkhianatan politik, dan cinta yang melampaui dimensi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rendy_Tbr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PEMBUNUH DALAM BAYAYANGAN

Mereka mulai berlari menuruni jalan setapak yang terjal. Setiap langkah Fang Han kini terasa lebih ringan, seolah pedang Sunya Long memberikan dorongan energi statis yang meningkatkan kecepatannya.

Untuk menghindari pasukan besar di jalur utama, Mu Chen mengarahkan Fang Han melalui sebuah celah sempit di tebing barat yang dikenal sebagai Jalan Napas Terakhir. Jalan ini sangat berbahaya karena dipenuhi oleh gas beracun yang keluar dari retakan bumi, namun bagi Mu Chen yang seorang alkemis, itu adalah tempat yang aman.

Namun, harapan mereka untuk lewat tanpa gangguan sirna saat mereka mencapai sebuah gua sempit yang menjadi satu-satunya jalan keluar.

Di sana, telah menunggu tiga sosok dengan pakaian seragam berwarna abu-abu gelap dengan lambang awan berdarah di dada mereka. Mereka adalah pembunuh bayaran dari Sekte Awan Hancur, sebuah kelompok yang dikenal karena teknik mematikan mereka yang menggunakan racun dan bayangan.

"Berhenti di sana, bocah," ucap salah satu dari mereka, pria dengan tubuh jangkung yang memegang sepasang belati yang meneteskan cairan hijau.

"Serahkan kotak kayu itu dan pedang di punggungmu, maka kami akan memberikan kematian yang cepat. Jika tidak, kami akan membiarkanmu membusuk perlahan di gua ini."

Mu Chen berbisik dengan gemetar, "Han-er, mereka adalah Tiga Iblis Awan. Kekuatan mereka adalah Sinkronisasi Bayangan. Mereka bisa membagi luka yang mereka terima kepada lawannya."

Fang Han melangkah maju, tangannya perlahan memegang gagang Sunya Long.

"Aku baru saja mengalahkan seekor naga purba dan membunuh seorang penghianat ratusan tahun. Kalian pikir gertakan murahan kalian akan berhasil?"

Salah satu pembunuh, wanita dengan rambut pendek yang tajam, tertawa mengejek.

"Naga itu sudah lemah, dan Si Penelan Cahaya itu sudah kuno. Kami adalah pembunuh era baru! Jurus Rahasia: Jaring Bayangan Berdarah!"

Seketika, bayangan ketiga pembunuh itu memanjang dan melilit kaki Fang Han dan Mu Chen. Fang Han mencoba mengayunkan pedangnya, namun ia merasakan rasa perih di dadanya sendiri saat pedangnya menebas bayangan itu.

"Ingat apa yang kukatakan, Han-er!" teriak Mu Chen yang kini juga merintih karena kakinya terasa seperti disayat.

"Luka mereka adalah lukamu! Jangan menyerang mereka secara langsung dengan kekuatan fisik!"

Fang Han mendengus, ia merasakan darah mulai keluar dari pori-pori kulitnya meskipun ia tidak terkena serangan fisik. Teknik ini sangat misterius dan unik; ia menggunakan hubungan simbiotik antara bayangan dan tubuh asli untuk memantulkan rasa sakit.

Sret!

Si pria jangkung menebas lengannya sendiri dengan belatunya, dan seketika lengan Fang Han mengeluarkan darah yang sama banyaknya.

"Ugh!" Fang Han berlutut satu kaki. Ini adalah pertarungan yang sangat tidak adil. Semakin dia membiarkan musuhnya melukai diri sendiri, semakin cepat dia mati.

"Hahaha! Lihatlah dia! Sang pembunuh naga sedang merangkak seperti cacing!" ejek pembunuh ketiga, seorang pria tambun yang memegang cambuk berduri.

Fang Han menenangkan pikirannya. Ia menutup matanya, memasuki kondisi keheningan yang ia pelajari dari Segel Inti Sukma. Ia tidak lagi fokus pada rasa sakit di tubuhnya, melainkan fokus pada getaran energi di sekitarnya melalui Sunya Long.

"Pedang ini bisa memotong eksistensi... bayangan adalah eksistensi yang bergantung pada cahaya..." batin Fang Han.

Ia menyadari bahwa teknik Tiga Iblis Awan ini memiliki satu kelemahan fatal: mereka membutuhkan "hubungan" yang stabil antara bayangan mereka dan bayangan Fang Han. Hubungan itu dijaga oleh frekuensi energi gelap yang tipis.

"Mu Chen! Lemparkan bom cahaya paling terang yang kau miliki!" teriak Fang Han tiba-tiba.

Mu Chen yang cerdas langsung mengerti. Ia merobek kantong obatnya dan melemparkan dua bola kristal berisi bubuk fosfor murni.

BLAAARRR!

Cahaya putih yang sangat menyilaukan memenuhi gua sempit itu. Untuk sepersekian detik, semua bayangan di tempat itu menghilang karena intensitas cahaya yang berlebihan.

"SEKARANG!"

Fang Han tidak menyerang tubuh fisik mereka. Ia mengayunkan Sunya Long dalam gerakan melingkar, melepaskan gelombang energi abu-abu yang bertujuan untuk "menghapus" sisa-sisa energi bayangan yang masih tertinggal di udara sebelum mereka sempat terbentuk kembali.

"Nirwana Sunya: Pemutus Ikatan Kehampaan!" bisik Fang Han

Suara jeritan yang menyayat telinga terdengar. Tiga pembunuh itu terlempar ke belakang, namun kali ini Fang Han tidak merasakan sakit sedikit pun. Sebaliknya, ketiga pembunuh itu memuntahkan darah dalam jumlah besar karena teknik mereka hancur berkeping-keping di tingkat akar energinya.

Eksekusi Dingin Sang Naga Kehampaan

Tanpa memberi mereka kesempatan untuk pulih, Fang Han melesat maju. Gerakannya kini dibantu oleh api biru dari Sunya Long, membuatnya tampak seperti bayangan biru yang mematikan.

Jleb!

Pedang tulang itu menembus dada si pria jangkung. Tidak ada darah yang keluar, karena pedang itu langsung menghisap seluruh energi kehidupan musuhnya. Dalam hitungan detik, pembunuh itu berubah menjadi mumi kering yang hancur menjadi debu.

"Satu..." gumam Fang Han.

Dua pembunuh lainnya mencoba melarikan diri, namun Fang Han mengayunkan pedangnya secara vertikal, menciptakan tebasan energi abu-abu yang memanjang sejauh sepuluh meter.

"Tebasan Naga Sunyi!"

Gelombang energi itu membelah gua menjadi dua, sekaligus menghapus keberadaan kedua pembunuh sisanya. Mereka lenyap begitu saja, tidak meninggalkan jejak selain bau hangus yang aneh.

Mu Chen mendekati Fang Han dengan gemetar, ia menatap pedang Sunya Long dengan ngeri.

"Fang Han... pedang itu... dia benar-benar lapar. Aku tidak pernah melihat senjata yang bisa menghapus nyawa secepat itu."

Fang Han menyentuh bilah pedangnya yang kini kembali putih bersih, tidak ada setetes darah pun yang menempel.

"Dia hanya melakukan apa yang perlu dilakukan, Mu Chen. Di dunia ini, jika kau tidak memiliki taring untuk menggigit kembali, kau akan ditelan hidup-hidup."

Fang Han membantu Mu Chen berdiri. "Ayo, kita sudah terlalu lama di sini. Cahaya bommu tadi pasti sudah menarik perhatian pasukan lain di luar gua ini."

Mereka keluar dari gua dan disambut oleh pemandangan yang mengerikan di kaki gunung. Ribuan prajurit dengan berbagai panji keluarga dan sekte telah mengepung seluruh area keluar Puncak Menangis. Di barisan paling depan, terlihat Zuo Chen yang masih hidup dengan zirah baru meski tanpa meridian berdiri di samping seorang pria paruh baya yang memiliki aura sangat kuat—ayahnya, sang Penguasa Kota.

"Lihatlah... pencuri itu sudah keluar dari lubangnya!" teriak Zuo Chen dengan penuh dendam.

Fang Han menatap ribuan musuhnya dengan tatapan datar. Ia mencengkeram gagang Sunya Long dengan kuat, api biru mulai menyala kembali di lengannya.

"Mu Chen, berikan aku kotak bunga itu," perintah Fang Han.

"Kau mau apa, Han-er?" tanya Mu Chen bingung.

"Aku akan menerjang mereka semua. Kau tetaplah di belakangku. Kita tidak akan lari lewat jalan tikus lagi. Kita akan pulang melalui jalan utama, melewati mayat-mayat mereka."

Sosok Fang Han berdiri sendirian menantang ribuan prajurit di kaki gunung. Angin kencang meniup jubah hitamnya, dan pedang tulang di tangannya mulai mengeluarkan raungan naga yang rendah namun mematikan. Fajar baru saja menyingsing, namun bagi pasukan di bawah sana, hari ini akan menjadi malam abadi yang paling gelap.

"Dunia ini meremehkan seorang pelayan toko obat selama terlalu lama," bisik Fang Han sambil melangkah maju menuju lautan musuh.

"Hari ini... aku akan menunjukkan kepada kalian semua apa artinya kehampaan yang sejati."

1
BlueHeaven
Cover novelnya mirip putra pria solo😭
Rendy Tbr: Hihihi.. 😄 Waahhh.. Mantap donk.. 👌
total 1 replies
anggita
visual gambarnya oke👌
Rendy Tbr: Terima kasih ka 👌😊
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!