mengisahkan
Arsya Wiraguna,seorang arsitek sukses dengan masa lalu kelam ,
dan Klara asmara dengan seorang desainer periang yang membawa luka masa kecil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Mengejar Mimpi
Jakarta memasuki bulan November dengan curah hujan yang tinggi. Tapi di rumah Menteng, air hujan yang mengguyur atap sirap hanya menjadi musik pengiring kebersamaan mereka. Dua bulan telah berlalu sejak pameran Rara, dan keluarga ini menemukan ritme baru—ritme di mana kenangan dan harapan berjalan beriringan.
Pagi itu, hujan deras mengguyur sejak subuh. Rara duduk di ruang keluarga dengan kanvas baru, melukis pemandangan hujan dari jendela. Asmara—kini 4,5 tahun—duduk di sampingnya dengan kertas dan krayon, meniru kakaknya. Kiki—kini 3 tahun—duduk di pangkuan Lastri, sesekali mengintip lukisan Rara.
"Kak, hujan digambar gimana?" tanya Asmara serius.
"Garis-garis miring. Kayak gini." Rara memberi contoh.
Asmara mencoba, tapi garisnya malah jadi lingkaran-lingkaran. "Kak, susah."
"Nggak apa-apa. Latihan terus, nanti bisa."
Kiki ikut minta, "Kiki mau gambar!"
Lastri memberinya kertas dan krayon. Kiki mencoret-coret dengan semangat, tidak peduli hasilnya. Yang penting ikut-ikutan.
Melati muncul dari kamarnya dengan pakaian olahraga. "Ma, Melati berangkat les tari dulu, ya. Nanti jemput jam 11."
Kalara yang sedang menyiapkan sarapan menoleh. "Hujan deras, Nak. Nanti telat."
"Nggak apa-apa, Ma. Melati naik payung. Om Arsya kan mau antar?"
Arsya yang baru turun mengangguk. "Iya, Om antar."
"Nanti pulangnya jemput, ya, Om?"
"Iya. Om janji."
Melati berlari ke pintu, tapi di tengah jalan ia berhenti. Ia kembali ke ruang keluarga, memeluk Rara. "Kak, doain Melati ya. Latihan lomba."
Rara tersenyum. "Kakak doain. Kamu pasti bisa."
Melati mencium pipi Rara, lalu berlari ke pintu. Asmara berteriak, "Kak Melati, semangat!"
Kiki mengikuti, "Semangat, Kak!"
Melati melambai, lalu pergi dengan Arsya.
Les tari Melati diadakan di sanggar langganannya di Kemang. Ia sudah dua tahun menari di sana, dan gurunya—Mbak Wulan—sangat yakin dengan bakatnya. Lomba tari tingkat nasional akan digelar bulan depan, dan Melati terpilih mewakili DKI Jakarta.
"Melati, hari ini kita latihan koreografi untuk lomba," kata Mbak Wulan. "Kamu sudah hafal gerakannya?"
"Sudah, Mbak. Tapi masih ada yang kurang."
"Apa yang kurang?"
Melati berpikir. "Ekspresinya. Kata Mbak, tari itu bukan cuma gerak, tapi juga perasaan."
Mbak Wulan tersenyum. "Kamu mengerti. Hari ini kita fokus ke ekspresi."
Melati berlatih dengan sungguh-sungguh. Setiap gerakan, setiap hentakan, setiap mimik muka, ia coba maksimalkan. Ia mengingat pesan Eyang Kusuma—tampil dengan hati.
Di sela istirahat, Melati duduk sendirian di pojok ruangan. Ia membuka ponsel, melihat foto Eyang di galeri.
"Eyang, doain Melati ya. Melati mau menang buat Eyang."
Ia menyimpan ponsel, lalu kembali berlatih dengan semangat baru.
Sementara itu, di rumah Menteng, Rara menyelesaikan lukisan hujannya. Ia menatap hasilnya—cukup bagus, tapi ada yang kurang. Ia menambahkan satu detail: di jendela, sosok Eyang Kusuma duduk di kursi malas, menatap hujan.
"Bagus, Kak," puji Asmara yang melihat.
"Makasih, Dek."
"Kak, kenapa Eyang digambar?"
Rara tersenyum. "Biar Eyang selalu ada."
Asmara mengangguk, lalu kembali ke gambarnya. Kali ini ia menggambar Eyang dengan dinosaurus—kombinasi yang menarik.
Kiki sudah bosan menggambar. Ia berlari ke dapur, mencari Lastri.
"Tante, Kiki mau bantu masak!"
Lastri tertawa. "Kamu mau bantu apa?"
"Kiki mau aduk!"
Lastri memberi Kiki mangkuk kecil berisi adonan kue. Kiki mengaduk dengan semangat, meskipun lebih banyak tumpah daripada diaduk. Tapi Lastri sabar—ia tahu ini bagian dari belajar.
Kalara datang, ikut membantu. "Tante, nanti sore ada pesanan?"
"Ada, 50 kotak untuk acara arisan. Tapi sudah hampir selesai."
"Tante hebat. Usaha Tante makin maju."
Lastri tersenyum. "Ini berkat kalian. Tanpa keluarga ini, saya tidak akan begini."
Kalara memeluknya. "Tante juga keluarga."
Siang harinya, hujan reda. Arsya menjemput Melati dari sanggar. Di mobil, Melati bercerita dengan semangat.
"Om, hari ini Mbak Wulan puji Melati! Katanya ekspresi Melati bagus!"
"Wah, hebat. Kamu pasti menang lomba."
"Melati harap, sih. Tapi pesaingnya banyak. Ada dari Bandung, Surabaya, Medan..."
"Yang penting kamu sudah berusaha. Om bangga sama kamu."
Melati tersenyum. "Om, Melati boleh minta sesuatu?"
"Apa?"
"Nanti kalau lomba, Om dan Tante Nad datang, ya. Dan Rara, dan Ma, dan Ayah, dan Asmara, dan Kiki. Semua."
Arsya tertawa. "Semua pasti datang. Itu sudah janji keluarga."
Melati berjingkrak di kursi.
Di rumah, Raka baru pulang dari kafe. Ia membawa oleh-oleh—kue-kue manis dari kafenya. Asmara dan Kiki langsung berebut.
"Ayah, Asmara mau yang cokelat!"
"Kiki mau yang stroberi!"
"Semua dapat. Jangan rebutan."
Mereka duduk manis, menikmati kue masing-masing. Raka duduk di samping Kalara.
"Kara, gue dapat kabar."
"Kabar apa?"
"Ada investor yang tertarik buka cabang kafe di Bali. Mereka tawarin gue buat jadi partner."
Kalara terkejut. "Bali? Serius?"
"Iya. Mereka udah lihat konsep kafe gue, suka. Mereka mau ekspansi ke sananya."
"Lo ambil?"
Raka menghela napas. "Gue masih mikir. Bali jauh. Gue nggak mau ninggalin kalian lama-lama."
Kalara meraih tangannya. "Ra, ini kesempatan bagus. Lo udah kerja keras. Jangan sia-siakan."
"Tapi..."
"Kita bisa atur. Lo bolak-balik Bali-Jakarta. Sekali-sekali kita ke Bali. Anak-anak juga seneng."
Raka tersenyum. "Lo yakin?"
"Aku yakin. Mimpi lo juga mimpi kita."
Raka memeluknya. "Makasih, Kara. Lo luar biasa."
Asmara yang melihat langsung lari memeluk mereka berdua. "Ayah, Mama, pelukan keluarga!"
Kiki ikut, "Kiki mau!"
Rara dan Melati yang lewat ikut bergabung. Terbentuk pelukan besar di ruang keluarga.
Lastri dan Arsya yang melihat dari kejauhan tersenyum.
Minggu berikutnya, Raka terbang ke Bali untuk bertemu investor. Ia hanya pergi tiga hari, tapi Asmara dan Kiki sudah merengek minta ayah pulang.
"Ayah di mana?" tanya Kiki setiap malam.
"Ayah kerja di Bali, Sayang. Nanti pulang."
"Bali jauh?"
"Cukup jauh. Tapi ayah akan cepat pulang."
Kiki cemberut, tapi lupa saat diberi es krim.
Rara memanfaatkan waktu tanpa Raka untuk fokus melukis. Ia mendapat pesanan khusus dari seorang kolektor yang melihat karyanya di pameran—lukisan rumah tua dengan pohon beringin. Harganya lumayan, cukup untuk membeli peralatan lukis baru.
"Ma, Rara dapat pesanan!" teriaknya bangga.
Kalara memeluknya. "Hebat, Nak. Kamu sudah jadi pelukis profesional."
"Belum profesional, Ma. Masih belajar."
"Tapi sudah dapat pesanan. Itu awal yang baik."
Rara tersenyum. Ia langsung bekerja, melukis dengan tekun.
Melati terus berlatih setiap hari. Lomba semakin dekat, dan ia semakin gugup. Suatu malam, ia tidak bisa tidur. Ia turun ke ruang keluarga, menemukan Lastri masih terjaga, menjahit.
"Tante, Melati nggak bisa tidur."
"Kenapa, Nak?"
"Melati takut. Lomba minggu depan."
Lastri menepuk sofa di sampingnya. "Sini, duduk."
Melati duduk, memeluk bantal.
"Dulu, waktu Tante masih muda, Tante juga sering ikut lomba. Bukan tari, tapi lomba masak."
Melati menoleh. "Tante ikut lomba masak?"
"Iya. Tante pernah menang, pernah kalah. Tapi yang Tante ingat bukan menang atau kalahnya. Yang Tante ingat adalah persiapan, latihan, dan dukungan orang-orang di sekitar."
Melati diam, meresapi.
"Kamu sudah latihan keras, Nak. Kamu sudah punya keluarga yang mendukung. Apapun hasilnya, itu sudah kemenangan."
Melati memeluk Lastri. "Makasih, Tante."
"Sama-sama. Sekarang tidur. Besok latihan lagi."
Melati mengangguk, lalu naik ke kamar.
Hari lomba tiba. Taman Ismail Marzuki dipenuhi penari dari berbagai daerah. Melati duduk di ruang tunggu, jantungnya berdebar kencang. Keluarganya datang semua—Rara, Asmara, Kiki, Kalara, Raka (yang baru pulang dari Bali), Arsya, Nadia, Lastri. Mereka duduk di barisan depan, siap memberi semangat.
"Kak Melati, semangat!" teriak Asmara.
"Kakak hebat!" teriak Kiki.
Melati tersenyum dari balik panggung. Ia melambai, lalu fokus pada dirinya sendiri.
Saat namanya dipanggil, ia naik panggung dengan percaya diri. Musik mulai. Ia menari dengan sepenuh hati—setiap gerakan, setiap hentakan, setiap mimik, ia persembahkan untuk Eyang, untuk Pak Willem, untuk keluarganya.
Penonton terpaku. Ada yang menangis, ada yang tersenyum. Tarian Melati bukan hanya tarian—itu adalah cerita tentang kehilangan, tentang harapan, tentang cinta.
Tarian usai. Tepuk tangan bergemuruh. Melati membungkuk, tersenyum lebar. Ia melihat keluarganya bertepuk tangan, menangis, tertawa.
Pengumuman pemenang dilakukan setelah semua peserta tampil. Melati duduk tegang di antara keluarganya. Satu per satu nama disebut. Juara harapan, juara ketiga, juara kedua...
Dan saat juara pertama disebut, nama itu adalah Melati Asmara.
Melati tidak percaya. Ia menatap keluarganya, yang sudah berdiri sambil berteriak. Ia naik ke panggung, menerima piala dan piagam. Air matanya jatuh.
"Saya persembahkan ini untuk keluarga saya," katanya ke mikrofon. "Terutama untuk Eyang Kusuma dan Pak Willem, yang sudah mengajarkan saya arti cinta. Terima kasih."
Tepuk tangan makin riuh.
Malam harinya, mereka merayakan di rumah Menteng. Pizza dan es krim, seperti biasa. Asmara dan Kiki paling senang. Rara memeluk Melati lama.
"Ti, kamu hebat."
"Makasih, Kak. Kakak juga hebat."
Raka memeluk putrinya. "Ayah bangga. Ibu juga pasti bangga."
Melati tersenyum. "Ini untuk keluarga."
Semua mengangkat gelas.
Desember tiba. Tahun baru hampir tiba. Rara mendapat pesanan lukisan kedua. Melati mulai latihan untuk lomba berikutnya. Raka memutuskan menerima tawaran investor, dan akan membuka cabang kafe di Bali tahun depan. Arsya dan Nadia sibuk dengan proyek hotel di Ubud.
Suatu malam, sebelum tahun baru, mereka berkumpul di ruang keluarga. Rara menunjukkan lukisan terbarunya—seluruh keluarga di halaman belakang, dengan pohon beringin besar, dan di langit, dua bintang bersinar terang.
"Bintang itu Eyang dan Pak Willem," kata Rara.
"Cantik," puji Lastri.
"Rara kasih judul 'Rumah yang Bernyanyi'."
Mereka menggantung lukisan itu di dinding, di samping foto-foto lama. Rumah Menteng, dengan segala kenangan dan harapannya, terus bernyanyi.
Tahun baru tiba. Mereka merayakan di halaman belakang, dengan kembang api kecil dan makanan berlimpah. Asmara dan Kiki berlarian dengan bunga api. Rara dan Melati duduk di samping orang tua mereka, menikmati malam.
"Tahun depan, kita akan sibuk," kata Raka. "Kafe di Bali, lomba tari, pameran lukisan..."
"Tapi kita akan selalu bersama," sahut Kalara.
Arsya mengangkat gelas. "Untuk keluarga."
"Untuk keluarga," sahut semua.
Malam itu, mereka duduk bersama hingga larut. Langit Jakarta cerah, bintang-bintang bertaburan. Dan di langit itu, ada dua bintang yang bersinar paling terang.
Seperti tersenyum.
Seperti menjaga.
Seperti berkata, "Kami bangga padamu, anak-anakku."
Bersambung...