NovelToon NovelToon
Bara'S Kitchen: Sepotong Kisah Di Setiap Gigitan

Bara'S Kitchen: Sepotong Kisah Di Setiap Gigitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / Horor / Slice of Life / Komedi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: W. Prata

“Orang bilang, masakan Bara bisa bikin orang menangis, jatuh cinta, atau mati. Tergantung niat pemesannya.”

Bara Mahendra, koki pelit yang terjebak masa lalu, hanya ingin hidup tenang dan cuan. Namun, di *Bara's Kitchen*, ketenangan adalah mitos. Bersama Lintang, admin Gen Z gila konten, dan Mang Ojak dengan mobil bututnya, Bara harus menghadapi pesanan-pesanan tak masuk akal.

Siapkan nyali sebelum mencicipi. Karena di dapur ini, kenyang saja tidak cukup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W. Prata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ARC 6 - CH 34 : Nikah

"Kalian... sudah mengganggu... tidurku..."

Suara berat dan serak itu menguar dari bibir Bude Sumi. Bola matanya memutih, menatap lurus menembus jiwa Bara yang duduk kaku di atas kasur. Hawa di dalam kamar itu mendadak sedingin es balok, diiringi bau anyir darah yang mencekik paru-paru.

Lintang merapatkan tubuhnya ke ibu Bara, menutup mulutnya rapat-rapat dengan tangan bergetar.

Mbah Yai Harun melangkah maju dengan tenang. Sesepuh desa itu mengetukkan tongkat bambu kuningnya ke lantai satu kali. Tuk. "Mereka sudah keluar dari tanahmu, Mbah Petruk. Lepaskan raganya," tegur Mbah Yai dengan nada datar namun sarat wibawa.

Sosok di dalam tubuh Bude Sumi itu menyeringai miring, memperlihatkan gigi-giginya yang entah mengapa terlihat lebih runcing. Lehernya berderak patah-patah saat menoleh menatap Mbah Yai.

"Mereka... mengotori tanahku..." geram entitas itu, suaranya menggema aneh. "Bukan hanya datang saat surup... Laki-laki dan perempuan... berduaan di batas larangan. Darah... harus dibayar darah..."

Tuduhan itu sukses membuat mata Lintang membelalak sempurna. Hatinya mencelos. Pantangan desa ini ternyata bukan sekadar jam berkunjung, tapi juga perkara membawa lawan jenis ke area keramat.

"Mereka anak kota, Mbah. Tidak tahu adat dan larangan desa ini," Mbah Yai Harun mencoba bernegosiasi, suaranya melembut meminta kemakluman. "Beri mereka ampunan. Saya jamin mereka tidak akan pernah kembali ke sana."

"TIDAK!" Bude Sumi meraung marah. "Hukum tetap hukum! Atau... aku akan mengambil nyawa gadis itu!" Tangan keriput Bude Sumi terangkat, menunjuk lurus ke arah Lintang yang langsung merosot lemas ke lantai.

"Jangan sentuh dia!" bentak Bara tiba-tiba.

Entah mendapat keberanian dari mana, sang koki tiran itu memaksakan diri berdiri dari kasur. Meski kakinya masih gemetar dan wajahnya sepucat kapas, Bara memasang badan, menutupi pandangan makhluk itu dari Lintang.

Mbah Yai Harun segera menengahi sebelum makhluk itu semakin murka. "Lalu apa tebusannya, Mbah? Apa syaratnya agar kau mau melepaskan anak-anak ini?"

Bude Sumi terdiam sejenak. Kepalanya miring ke kanan. Seringai mengerikan itu kembali mengembang.

"Nikahkan mereka," desis makhluk itu pelan namun tajam. "Lalu... bawa seserahan... ke rumahku. Hanya... mereka berdua. Baru hutang lunas..."

Di sudut ruangan, Lintang nyaris berhenti bernapas. Otaknya mengalami korsleting parah.

“Nikah?! Sama Mas Bara?!” jerit Lintang dalam hati. Di satu sisi, ada letupan kebahagiaan kecil yang tak bisa dia sangkal. Bohong kalau dia bilang tidak pernah menaruh hati pada bosnya yang galak tapi bertanggung jawab itu. Impiannya untuk bersanding dengan Bara tiba-tiba terkabul. “Tapi... ya Tuhan, masa iya kita nikah gara-gara diancam setan?! Belum lagi syarat gila yang harus kembali berdua ke goa terkutuk itu. Ogah! Mending gue potong gaji seumur hidup daripada balik ke sana!” batinnya menangis histeris.

Di sisi lain, Bara yang mendengar syarat itu justru terdiam dengan rahang mengeras.

Anehnya, pemuda itu tidak terlihat sekaget Lintang. Sisa-sisa ingatan masa kecilnya di desa ini tiba-tiba bermunculan. Dulu, saat dia masih SD, pernah ada kejadian serupa. Sepasang muda-mudi dari kampung sebelah tersesat di hutan bambu kuning. Mereka akhirnya ditemukan hidup, tapi seminggu kemudian langsung dinikahkan secara mendadak dan diwajibkan membawa sesaji ke bukit. Kini, mitos usang itu menghantam telak kehidupannya sendiri.

Bara menarik napas panjang. Dia menatap lurus ke arah mata putih Bude Sumi. Hitungan matematis dan logika kapitalisnya harus dia singkirkan demi menyelamatkan nyawa mereka berdua.

"Saya setuju," ucap Bara tegas, membuat ibunya di ambang pintu nyaris pingsan jika tidak ditahan Mang Ojak.

Lintang mendongak, menatap punggung tegap bosnya dengan mata berkaca-kaca tak percaya.

"Tapi," lanjut Bara, suaranya tak kalah dingin. "Di agama yang saya dan Lintang anut, pernikahan itu ada aturannya. Kalau perempuan menikah tanpa izin dan kehadiran bapak kandungnya maka pernikahannya tidak sah. Zina."

Bara menunjuk ke arah Lintang tanpa menoleh. "Bapaknya Lintang ada di kota. Kalau kami dipaksa nikah malam ini juga tanpa wali, pernikahannya cacat. Syaratmu nggak akan pernah terpenuhi secara sempurna. Beri saya waktu. Saya akan bawa dia ke kota, minta izin ke bapaknya, lalu kami akan penuhi janjinya."

Mbah Yai Harun tersenyum tipis mendengar argumen cerdas dari pemuda itu. Sang kiai lalu menatap Bude Sumi, menerjemahkan dan memperkuat negosiasi Bara dengan bahasa Jawa halus dan ancaman spiritual secara tersirat.

Entitas di dalam tubuh Bude Sumi itu terdiam lama. Napasnya terdengar memburu. Ia seolah menimbang-nimbang logika hukum agama yang baru saja dilemparkan oleh manusia arogan di depannya.

"Tiga purnama..." geram makhluk itu akhirnya. "Jika purnama ketiga tidak ada seserahan di mulut goa... aku sendiri yang akan datang menjemput nyawa kalian..."

Setelah memberikan ultimatum mengerikan itu, terdengar embusan napas panjang dan kasar dari mulut Bude Sumi. Asap tipis mengepul dari ubun-ubunnya, melesat keluar menembus celah jendela.

Bude Sumi langsung kehilangan kesadaran, tubuhnya ambruk ke lantai.

"Alhamdulillah," Mbah Yai Harun mengusap wajahnya. Hawa di kamar itu perlahan menghangat kembali. "Mang Ojak, bantu angkat Bude Sumi ke tikar."

Bara langsung merosot duduk di tepi kasur. Kakinya benar-benar sudah tak sanggup menopang berat badannya. Dia menoleh ke arah Lintang yang masih terduduk memeluk lutut di sudut ruangan. Keduanya saling bertatapan dalam keheningan yang canggung dan sarat akan ketegangan.

Status mereka kini bukan lagi sekadar bos tiran dan kasir bawel. Mereka baru saja terikat sebuah perjanjian pranikah.

[TIGA HARI KEMUDIAN]

Suasana pagi di desa itu terasa jauh lebih sibuk dari biasanya.

Bukan karena ada hajatan, melainkan karena Bara harus mengurus banyak hal sebelum mereka benar-benar bisa kembali ke kota. Ada rentetan prosesi selamatan kecil-kecilan (tolak bala) yang disarankan Mbah Yai Harun, membersihkan sisa energi negatif di rumah, hingga memastikan ibunya benar-benar aman dan tidak diganggu lagi.

Bara merogoh kocek cukup dalam untuk membiayai semua ritual desa itu, sesuatu yang biasanya akan dia maki-maki sebagai "pemborosan budget operasional". Namun kali ini, uang ratusan ribu itu dia keluarkan tanpa protes sepeser pun.

Tepat pukul sembilan pagi, mesin si putih mobil kesayangan mereka sudah menyala di pekarangan rumah.

"Ibu beneran nggak apa-apa Bara tinggal di sini?" tanya Bara untuk kesekian kalinya. Dia berdiri di teras, merapikan jaketnya.

"Iya, Le. Ibu aman di sini. Mbah Yai juga udah janji bakal sering mampir ngecek," ibunya tersenyum menenangkan, lalu melirik ke arah Lintang yang baru saja masuk ke kursi penumpang tengah. Ibu Bara tersenyum penuh arti. "Kamu yang hati-hati di kota. Ngomong baik-baik sama bapaknya Neng Lintang. Niatmu baik, insya Allah dilancarkan."

Bara hanya berdehem canggung, memalingkan wajahnya yang sedikit memerah. "I-iya, Bu. Bara berangkat dulu."

Bara mencium tangan ibunya, lalu melangkah menuju mobil. Kali ini, dia membiarkan Mang Ojak mengambil alih kemudi, sedangkan dia duduk di kursi penumpang depan, membiarkan Lintang duduk sendirian di barisan tengah agar gadis itu bisa beristirahat.

"Siap, Bos?" tanya Mang Ojak. Asisten paruh baya itu mencoba mencairkan suasana. "Udah siap ketemu calon mertua euy."

"Diem lu, Mang. Gue potong gaji lu kalau masih ngebahas itu," ancam Bara dengan nada datar khasnya, meski kali ini ancaman itu sama sekali tidak terdengar menyeramkan.

Di kursi tengah, Lintang menahan senyum tipis, menyembunyikan wajahnya di balik bantal leher.

Bara menginjak pedal gas. Si Putih perlahan bergerak meninggalkan pekarangan, melaju membelah jalanan desa yang mulai ramai oleh warga yang pergi ke sawah.

Dalam perjalanan menuju kota, Bara menatap lurus ke arah jalanan aspal. Pikirannya bercabang dua. Satu sisi memikirkan bagaimana cara menjelaskan situasi absurd ini kepada ayah Lintang tanpa terlihat seperti orang gila. Di sisi lain, sebuah dendam lama masih menunggu untuk diselesaikan di ibu kota.

Sang koki tiran itu menarik napas panjang. Kota X sudah menunggunya, dan kali ini, dia tidak akan kalah.

1
yumin kwan
alurnya ga bosenin... ada horornya, ada komedinya, yang pasti ada romantisnya, buanyak..
yumin kwan
ga sabar lihat raka bakal diapain ma Bara... 🤭
yumin kwan
asyik... uda berdebar debat si bos 🤭😍
yumin kwan
kok jadi cerita horor sih.... padahal cerita keseharian dapur Bara sudah ok....
W. Prata: Wkwk sabar Kak Yumin! Ini demitnya cuma cameo bentar doang kok buat ngedorong Bara ngambil keputusan besar. Next bab udah otw balik ke kota buat ngurusin Bara's Kitchen lagi. Ditunggu kelanjutannya ya! thanks udah setia baca yaa...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!