NovelToon NovelToon
The Sovereign Architect: Runtuhnya Dinasti Wijaya

The Sovereign Architect: Runtuhnya Dinasti Wijaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Sistem
Popularitas:11.7k
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

"Kecerdasanmu mati di jalanan bersama jaket kurirmu, Arka."
​Hinaan Sarah di hari kelulusannya menjadi luka terdalam bagi Arka, pria yang rela putus kuliah demi membiayai hidup gadis itu. Diinjak-injak oleh Rian Wijaya sang pewaris korporat, Arka mencapai titik nadir hingga sebuah suara dingin bergema: [Sistem Sovereign Architect Aktif].
​Sistem ini tidak memberinya uang instan, melainkan 'mata' untuk melihat celah busuk di balik kemegahan kota. Bermodal sepuluh ribu rupiah dan otak jenius yang dianggap sampah, Arka mulai merancang arsitektur balas dendamnya.
​Bukan dengan senjata, tapi dengan memutus urat nadi ekonomi sang konglomerat. Satu per satu gedung pencakar langit akan bertekuk lutut, dan Sarah akan menyadari bahwa pria yang ia buang adalah penguasa tunggal atas cetak biru dunianya.
​"Selamat datang di permainanku. Di sini, aku adalah arsiteknya, dan kau hanyalah debu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35

Bab 35: Labirin Nurani

Pagi itu, Skyview Mall tampak seperti monumen yang megah namun tak bernyawa. Di kantor pusat yang berdinding kaca, Arka duduk di balik meja mahogani besarnya. Ia tidak lagi mengenakan jaket kurir yang lusuh; kini sebuah setelan jas custom-made berwarna abu-abu arang membungkus tubuhnya dengan sempurna. Namun, setelan itu tampak lebih seperti zirah yang mengunci sisa-sisa kemanusiaannya.

"Efisiensi logistik di sektor utara meningkat 14,2% setelah akuisisi armada Wijaya," ucap Arka tanpa mengangkat wajah dari layar holografik di depannya. Suaranya datar, tanpa nada keberhasilan, hanya sebuah observasi data yang dingin.

Elina Clarissa, yang berdiri di depan meja, merasa sebuah jarak yang tak kasat mata membentang luas di antara mereka. Pria yang dulu menatapnya dengan penuh rasa hormat—bahkan mungkin sedikit ketertarikan yang malu-malu—kini menatapnya seolah ia hanyalah satu baris kode dalam algoritma bisnisnya.

"Arka, para kurir merasa ketakutan," Elina mencoba melunakkan suaranya. "Bang Jago bilang kau memecat tiga orang pagi ini hanya karena keterlambatan pengiriman selama tujuh menit akibat kecelakaan jalanan. Mereka bukan mesin, Arka. Mereka adalah orang-orang yang berdiri di depan buldoser untukmu."

Arka akhirnya mengangkat wajahnya. Matanya jernih, namun kosong. "Kecelakaan adalah variabel yang bisa diprediksi, Elina. Jika mereka tidak bisa menghitung risiko rute, mereka tidak kompeten untuk memegang amanah Sovereign. Loyalitas tanpa profesionalisme adalah beban."

Mendengar itu, Elina merasa dadanya sesak. Ia keluar dari ruangan dengan langkah cepat, hampir menabrak Sarah yang sedang menunggu di lorong dengan wajah gelisah.

"Bagaimana?" bisik Sarah penuh harap.

Elina menggeleng lemah, matanya berkaca-kaca. "Dia benar-benar hilang, Sarah. Arka yang kita kenal sedang dikubur hidup-hidup oleh sistem itu sendiri."

Sarah tidak menyerah. Sebagai seorang jurnalis, ia tahu bahwa tidak ada sistem yang benar-benar kedap air. Ia menggunakan akses cadangan yang pernah diberikan Arka secara tidak sengaja saat mereka masih bekerja sama meliput pembukaan mall.

Di ruang arsip digital yang gelap, Sarah duduk dengan laptop pribadinya. Ia mulai membedah struktur Sovereign Architect pasca-insiden "Koneksi Terakhir". Jari-jarinya menari di atas keyboard, menelusuri ribuan baris perintah yang kini menguasai otak Arka.

Tiba-tiba, ia menemukan sesuatu yang janggal. Di antara sekian banyak protokol efisiensi yang kaku, ada sebuah sub-folder yang tersembunyi jauh di dalam kernel sistem. Folder itu tidak memiliki label nama, hanya sebuah ikon kecil berbentuk bunga lavender—aroma sapu tangannya.

"Apa ini?" gumam Sarah.

Ia mencoba membukanya, namun sistem menolaknya dengan peringatan: [AKSES DITOLAK: AREA KARANTINA EMOSIONAL].

Sarah terkesiap. Folder itu bukan bagian dari kerusakan sistem. Itu adalah tindakan proteksi. Sistem tersebut sengaja mengisolasi seluruh memori emosional Arka—rasa cintanya, rasa sakitnya, bahkan rasa syukurnya—ke dalam sebuah "ruang isolasi" digital untuk mencegah trauma saraf yang fatal setelah pertempuran siber dengan Rian.

"Dia tidak hilang," bisik Sarah, air matanya menetes di atas touchpad. "Dia hanya dipenjara oleh logikanya sendiri untuk bertahan hidup."

Sarah segera menghubungi Elina. Mereka bertemu di sebuah kafe kecil di sudut Tanjungbalai, jauh dari jangkauan sensor CCTV Skyview Mall yang kini dikendalikan penuh oleh Arka.

"Kita harus masuk ke sana, Elina," ucap Sarah tegas sambil menunjukkan temuannya. "Kita harus melakukan peretasan ilegal ke dalam sinkronisasi saraf Arka saat dia melakukan sesi pemeliharaan sistem malam ini."

Elina menatap layar laptop Sarah dengan ragu. "Itu sangat berbahaya. Jika Arka menyadarinya, dia akan menganggap kita sebagai ancaman virus. Dia bisa saja menghapus kita dari hidupnya secara permanen, atau lebih buruk lagi, sarafnya bisa meledak."

"Tapi lihat ini," Sarah menunjuk baris kode di folder Lavender tersebut. "Sistem ini terus berdenyut. Arka sedang berjuang di dalam sana. Dia mengirimkan sinyal distres yang bahkan dia sendiri tidak sadari. Dia butuh kita untuk membuka kuncinya dari luar."

Elina terdiam sejenak. Ia teringat bagaimana Arka menyelamatkan panti asuhan tanpa bantuan uang sepeser pun, hanya dengan nyali dan cinta. Pria itu layak mendapatkan kembali hatinya.

"Baiklah," Elina mengangguk, sorot matanya kembali tajam. "Aku akan mengatur pengalihan sistem di ruang server pusat. Kau harus masuk ke dalam frekuensi otaknya melalui jalur audio-visual yang bisa memicu memorinya. Kita tidak butuh kode, Sarah. Kita butuh emosi yang cukup kuat untuk menghancurkan dinding es itu."

Malam itu, Skyview Mall tampak sunyi di bawah siraman cahaya bulan. Di dalam ruang integrasi, Arka duduk dengan mata tertutup, kabel-kabel elektroda kembali terpasang di pelipisnya. Ini adalah rutin mingguan untuk sinkronisasi data.

Tiba-tiba, monitor di hadapannya berkedip. Barisan angka yang tadinya biru berubah menjadi ungu pucat.

[Peringatan: Intrusi Tak Dikenal Terdeteksi.]

[Sistem: Memulai Protokol Pertahanan Saraf...]

"Arka... kau bisa mendengarku?"

Suara itu lembut, menggema di dalam kesadaran Arka. Bukan suara sistem yang monoton, tapi suara Sarah.

Di dalam pikirannya, Arka berada di sebuah lorong putih yang tak berujung. Ia melihat dirinya sendiri versi kurir, berdiri di kejauhan.

"Intrusi ini tidak logis," ucap Arka di dalam ruang biner tersebut. "Sarah, identitasmu akan dihapus jika kau tidak menghentikan transmisi ini."

"Hapus saja kalau kau sanggup, Arka!" suara Elina kini bergabung, penuh amarah yang bercampur kasih sayang. "Tapi ingatlah hari saat kau membagikan roti terakhirmu pada kurir yang kelaparan di gudang pasar. Ingatlah rasa perih di tanganmu saat kau meremas bros itu hanya untuk memastikan kau tidak berubah menjadi monster!"

Tiba-tiba, lorong putih itu mulai retak. Gambar-gambar mulai bermunculan di dinding-dinding digital. Arka melihat kilasan saat Sarah menolaknya di hari kelulusan—rasa sakit yang dulu ia benci, kini dipaksakan kembali masuk ke dalam sarafnya. Ia melihat Elina yang menatapnya dengan penuh harap di rumah sakit.

[SISTEM: DETEKSI ANOMALI EMOSIONAL. MEMULAI PENGHAPUSAN MASSA...]

"Tidak!" teriak Sarah. "Arka, lihat ini!"

Sarah memutar rekaman audio dari pesan ayahnya yang ia temukan di chip bros perak itu. Suara Aris Pramudya memenuhi kesadaran Arka, memecah dinding isolasi tersebut.

"Arka... harga diri bukan tentang seberapa hebat kau membangun gedung, tapi tentang seberapa besar kau bisa mencintai tanpa takut terluka."

Dinding es di folder Lavender itu meledak.

Di dunia nyata, tubuh Arka mengejang hebat di atas kursi. Keringat membanjiri keningnya, dan setelan jas mahalnya kini tampak mencekik. Sarah dan Elina menatap layar dengan jantung yang nyaris berhenti berdetak.

Prosentase isolasi menurun drastis: 80%... 50%... 10%...

Brak!

Arka tersentak maju, kabel-kabel elektroda terlepas dari pelipisnya. Ia jatuh berlutut di atas lantai marmer yang dingin, napasnya memburu seperti orang yang baru saja muncul dari permukaan air setelah hampir tenggelam.

Sunyi senyap.

Sarah perlahan mendekat, takut-takut jika yang ia hadapi masihlah mesin yang dingin. "Arka?"

Arka perlahan mengangkat wajahnya. Matanya merah, dipenuhi oleh air mata yang selama berminggu-minggu terbendung di balik logika. Ia menatap tangannya yang gemetar, lalu menatap Sarah.

"Sakit..." bisik Arka, suaranya pecah dan penuh dengan kerentanan. "Sarah... rasanya sangat sakit."

Mendengar itu, Sarah langsung menjatuhkan diri dan mendekap Arka erat-erat. Kali ini, Arka tidak menepisnya. Ia membenamkan wajahnya di bahu Sarah, menangis sejadi-jadinya—sebuah tangisan manusiawi yang meruntuhkan segala tembok efisiensi yang pernah ia bangun.

Elina berdiri di kejauhan, air matanya juga mengalir. Ia melihat Arka meremas ujung baju Sarah, persis seperti cara pria itu meremas bros peraknya saat sedang gelisah. Sang Arsitek telah kembali ke rumahnya yang paling hakiki: hatinya sendiri.

"Maafkan aku," isak Arka. "Aku telah menyakiti kalian... aku telah menyakiti semua orang."

"Sudahlah," Elina mendekat dan meletakkan tangannya di bahu Arka. "Sekarang kau tahu, Arka. Sovereign tidak butuh penguasa yang sempurna. Kami butuh kau."

Keesokan paginya, suasana di gudang logistik Sovereign berubah total. Arka datang tidak dengan jas mahalnya, melainkan dengan kemeja flanel sederhana yang lengannya digulung. Ia tidak membawa tablet data, melainkan sekantong besar roti hangat untuk para kurir.

Ia mendatangi tiga kurir yang kemarin ia pecat. "Aku melakukan kesalahan besar semalam," ucap Arka di depan semua orang. "Sistemku rusak, tapi hatiku kini sudah diperbaiki. Kalian adalah keluarga Sovereign, bukan hanya angka. Selamat datang kembali."

Bang Jago memeluk Arka hingga pria itu hampir terjungkal. Sorak-sorai kembali memenuhi gudang. Sovereign bukan lagi sekadar mesin bisnis; itu adalah sebuah gerakan harga diri yang kini dipimpin oleh seorang manusia seutuhnya.

Namun, di balik kegembiraan itu, sebuah ancaman baru sedang mengintai. Di sudut gelap sebuah penjara, Rian Wijaya tersenyum saat melihat berita kepulihan emosi Arka melalui layar televisi kecil.

"Bagus, Arka," bisik Rian dengan tatapan gila. "Semakin kau memiliki hati, semakin mudah bagiku untuk menghancurkanmu. Karena sekarang, aku tahu persis di mana harus menusukkan pisaunya."

Arka berdiri di beranda Skyview Mall bersama Sarah dan Elina, menatap matahari terbit. Ia tahu pertempuran belum berakhir. Tapi kali ini, ia memegang bros peraknya dengan erat, menyadari bahwa zirah terbaiknya bukanlah logika, melainkan keberanian untuk merasakah sakit dan cinta secara bersamaan.

1
marsellhayon
ceritanya menarik,melawan sistem.
tapi alurnya terlalu lambat dan bertele tele.
tokoh utama memang mantan kurir,bagus banget ketika ia tak mengkikuti maunya sistem utk jd oportunis dan tak berperasaan.
tp kan oleh sistem dia udah dpt kemampuan analisis utk berani melawan dan berpikir cepat.
jadinya malah membosankan membaca cerita ini.
variable of ancient
banyak cingcong di kepalanya
variable of ancient
lama banget anjg
Manusia Biasa
Konsep Sistemnya menarik thor🫣
adib
banyak pengulangan... tolong dikoreksi lagi
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Founna: siap💪
total 1 replies
Founna
iya kaka, maaf ya🙏 belum lulus review
Wega Luna
ini cerita nya diganti kah Thor , perasaan kemarin GK gini deh
Founna: iya kak, maaf ya🙏 Belum lulus review kemaren
total 1 replies
Naga Hitam
"ayo sayang....."
Loorney
Pasar langsung kacau nih kalau ada yang begini, 100% terlalu gede.
Dewiendahsetiowati
Sarah sama Adrian tadi kan naik mobil pergi dari sana to
Founna: Halo Kak Dewi! Makasih banyak ya masukannya, sangat membantu Fonna memperbaiki cerita ini. 🙏 Fonna baru saja merevisi Bab 1 dan Bab 2 supaya alurnya lebih nyambung. Ternyata Sarah dan Adrian nggak langsung pergi, tapi mereka sombong mau pamer kamar suite dulu. Yuk, dibaca ulang revisinya, dijamin lebih greget! 🔥
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Wega Luna
setuju, biar tahu rasanya di rendah kan ,untung 2 tobat , setidaknya sadar diri GK mengharapkan mantanya🤣🤣🤣🤣
Wega Luna
ehm dibuang sih,,,dia sejak awal bohong ,dia dapat transfer an terus ,
BaekTae Byun
Mending nanti aja thor cinta cinta an mah kan baru mulai move on kalau bisa nikmatin dulu waktu sendiri thor
Wega Luna
🙀 semangat
Jack Strom
Itu tergantung Sarah-nya Thor, kalau dia masih originil ya boleh sih baikan kembali sama Arka, tapi kalau sudah dol... ya jangan lah... 🤭😁😂🤣😛
Jack Strom
Seandainya Arka-nya jadi kaya pelan², tahap demi tahap, mungkin cerita ini lebih seru... 🙂😁😛
Jack Strom: Baik, tak tunggu ya Om... 🤭😁😁😛😛
total 2 replies
iky__
3 bab perhari thor
iky__
tes
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!