Dia Xuan Huan. seorang pejuang tingkat sembilan. Programmer sekaligus hacker yang sangat ditakuti. Banyak lawan yang sudah ditaklukkan, bahkan ada yang berkeinginan untuk menjalin kerja sama.
Proyek terakhir yang Ia kerjakan, adalah proyek kecerdasan buatan, yang bisa menjelajahi alam semesta. Penuh dengan kode kode rumit dan mencengangkan.
Quantum Xuan, itulah nama programnya. Tapi karena program itu dia harus mati, dan jiwanya ditempatkan pada tubuh seorang gadis lemah 12 tahun ke belakang, yang juga mati karena penganiayaan. Lalu bisakan tubuh dengan jiwa Xuan membalas dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aditya Jetli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Bentrokan kedua
"Jumlah tidak menjamin kemenangan. Kualitas itu kuncinya. Jadi jangan banyak omong, majulah kalau kalian tidak percaya!" balas Nindya.
"Huh! dikasi hati malah minta jantung. Kau belum tahu siapa kami. Tujuh pendekar belati. Jarang ada yang bisa lolos dari serangan kami. Mati, itulah kuncinya." balas Arka. meniru ucapan lawannya.
"Hehehe, melawan gadis ingusan seperti ini tidak membutuhkan belati. Sekali tampar saja pasti...?"
Wush..., Bugh..! Brak!.
Belum juga perkataannya selesai. Kirana sudah maju duluan. Gerakannya lincah dan presisi. Preman yang sedang bicara itu langsung di tendangnya.
Nindya juga demikian. Dia ikut maju dan membantai sisanya.
Sampai saat ini mereka belum menggunakan energi spiritual, karena keduanya ingin melihat sampai sejauh mana kekuatan tubuh mereka.
Ternyata pemurnian tubuh yang mereka lakukan secara singkat, sudah sampai ke tahap yang tak terduga.
Kirana sudah mendekati tahap satu puncak. Sedangkan Nindya sudah berada di tahap dua akhir, dan sebentar lagi mencapai puncaknya.
Jadi begitu mereka menyerang, hasilnya sangat luar biasa. Banyak musuh yang tangannya patah. Gigi rontok. leher keseleo dan dada sesak.
Tanpa menggunakan tenaga spiritual pun mereka sudah tak terkalahkan, apalagi jika menggunakannya.
Di bagian Braja. "Siapa sebenarnya dua gadis itu. Kenapa kekuatannya sangat menakutkan? Apa mereka masih layak disebut manusia?" gumamnya.
Lalu berdiri dari duduknya, dan memandang ke arah depan, dimana enam anak buahnya yang masih tersisa, sedang bertarung dengan Nindya dan Kirana.
Namun posisi mereka sangat tidak menguntungkan. Senjata yang mereka gunakan tidak membuat musuhnya terdesak, bahkan terkesan santai. Lalu....
Wush! Wush!
Bugh, bugh, bugh, kraaak. kraaak, kraaak!
"Aaarrrggghhhk!"
Berbarengan mereka berteriak. Tendangan yang musuh lakukan, membuat tubuh mereka terpental. Belati yang sedang dipegangnya, terbang entah kemana.
Belum juga tindakan itu selesai, tiba tiba tujuh belati itu terbang ke udara, dan langsung melesat ke arah pemiliknya.
Lalu, Jleb! jleb! jleb!
Tiga orang tumbang, dan disusul oleh tiga lainnya.
Sekarang mereka sudah tidak bisa melawan, karena kaki, bahu dan punggung mereka telah terkunci. Kirana yang melakukannya.
Dari jauh Braja melihat itu, dan belum menyadari apa yang terjadi. Kemudian dengan rasa khawatir dia bergumam. "Gawat! Jika terus dibiarkan, seluruh anak buahku akan mati. dan aku akan mendapatkan kesulitan dari bos besar." gumamnya.
"Tidak bisa! Aku harus maju untuk menghentikan kedua gadis itu." tekadnya. Lalu mengeluarkan pistol dari balik bajunya.
Di bagian Nindya atau Xuan Huan. "Lili! Habisi mereka! Jangan setengah setengah dalam bertindak. Mereka sudah sangat meresahkan. Jika kita biarkan mereka hidup, maka selanjutnya mereka akan membalas dendam!"
"Biar aku yang menghadapi ketuanya."
"Untuk mu Quan Huan. Bawa kedelapan orang itu ke sini, biar mereka melihat bagaimana aku menghabisi sisanya!"
"Baik Nona!?"
[Siap tuan!]
Prook! Prook! Prook
"Luar biasa! Masih kecil tapi sudah mampu membuat jiwaku bergetar."
"Bagaimana kalau kalian bergabung dengan kami saja. Aku jamin kalian akan mendapatkan posisi tinggi, dan mendapatkan gaji besar pula. Bagaimana, apakah kalian berdua tertarik?"
"Cuih! jangan banyak omong. Maju, dan gunakan senjata rongsokanmu itu orang tua!"
"Aku ingin melihat seberapa kuatnya ketua kelompok preman di kota ini. Apa seperti yang dirumorkan, atau hanya sekedar ayam sayur saja?"
"Kurang ajar!"
Klik. Dor! Dor! Dor! Dor!
Empat kali terdengar tembakan. empat peluru pula melesat ke arah Nindya. Tapi dia tenang tenang saja. Namun begitu peluru tersebut hampir mengenainya, tiba tiba peluru itu berhenti, dan tak lama kemudian hancur menjadi serpihan.
Kali ini Nindya menggunakan energi spiritual, karena dia tidak mau mengambil risiko, sesuatu yang belum diyakininya benar.
Jadi terpaksa menggunakan itu. Tapi hasilnya sangat mencengangkan. Braja yang melihat itu jadi ternganga diam.
Dia tidak menyangka, gadis yang masih SMA tersebut mempunyai kekuatan sangat mengerikan. Selama ini dia belum pernah melihat ada seseorang yang mampu menghentikan laju peluru yang dia tembakkan, apalagi menghancurkannya.
Nyalinya mulai ciut, dan mundur secara teratur ke belakang. Walaupun di dalam pistolnya masih ada sisa 4 peluru lagi, tapi dia tidak mau gegabah, dan tidak mau lagi mendapatkan kegagalan.
"Kenapa diam? Tembakkan lagi sisa peluru yang ada di dalam pistolmu itu. Aku ingin melihat apakah tubuhku ini mampu menahannya?" ejek Nindya.
"Siapa kau sebenarnya? Apakah masih layak disebut manusia?"
"Kenapa peluru pistolku tidak bisa mengenaimu, bahkan hancur menjadi debu. Di dunia ini, belum pernah kulihat orang yang memiliki kemampuan seperti itu. Apakah kau bukan berasal dari dunia ini?"
"Oh, ho! Sadar juga akhirnya kau. Benar, Aku bukan berasal dari dunia ini, tapi berasal dari neraka, yang datang untuk mengambil nyawa busukmu itu beserta seluruh anak buahmu!"
"Di Kotavia ini, aku ingin memberantas kejahatan. tidak peduli keluarga atau pun yang lainnya. Tidak akan aku sisakan seorang pun. Bahkan seorang pencuri pun akan aku habisi, apalagi orang yang menyusahkan rakyat. termasuk kau!"
"Jadi bersiaplah untuk mati. Tapi sebelum itu, apakah ada pesan terakhir yang ingin kau sampaikan?" jawab Nindya penuh intimidasi.
Dor, Dor.
Kebaikan Nindya dibalas dengan suara tembakan, dua sekaligus, dan mengarah kepalanya.
Dor, Dor.
Kali ini targetnya bukan Nindya tapi Kirana. Braja pikir Kirana tidak seperti temannya. Dia pasti mati karena peluru itu. Tapi harapannya segera sirna.
Sama seperti Nindya. Saat peluru pistol tersebut masih berada 2 meter dari tempatnya berdiri, peluru tersebut berhenti di udara, kemudian jatuh ke tanah begitu saja.
Namun bedanya tidak sampai hancur menjadi serpihan, sama seperti yang dilakukan oleh Nindya. hanya jatuh ke tanah juga.
"Kau lihat itu preman busuk! Selain bisa menghentikan laju peluru, bawahan ku itu juga bisa menghabisi orang terkuat mu. Sekarang mereka hanya tinggal tubuh tidak bernyawa, termasuk sisa anggotamu itu."
"Jadi apa pesan terakhirmu, sebelum aku mencabut nyawa busuk mu itu?" tanya Nindya.
Bruk!
Bukan melawan atau menjawab, tiba tiba Braja menjatuhkan kedua lututnya ke tanah, dan berlutut ke arah Nindya. lalu berkata. " Tolong jangan bunuh aku. Aku masih punya keluarga. Lagi pula jika aku mati, maka kalian berdua akan dalam bahaya!"
"Oleh karena itu tolong lepaskan aku. Aku berjanji akan menjadi orang baik, dan semua harta yang aku miliki akan aku berikan padamu!" ujarnya.
Nindya tidak menjawab. Dia masih menganalisa apa yang dikatakan oleh Bos preman itu.
Sebaliknya dia malah memandang ke arah kejauhan, di mana 8 orang teman sekelasnya itu sedang memandang nanar ke arahnya. dan tanpa diduga, tubuh ke delapan orang itu melayang mendekati Nindya, dan jatuh begitu saja di depannya.
"Nindya. Oh bukan. Nona Nindya. Tolong maafkan aku. Aku hanya bercanda. Aku tidak sungguh sungguh membenci mu. Aku hanya...?"
Bugh! Wush.....Sraaaakkk! Braaaak!
Belum juga selesai bicara, tubuh Raka sudah melayang di udara. Energi spiritual yang mengungkunginya, mampu mengangkat tubuh Raka. Lalu membantingnya di atas mobil. Kemudian mengangkatnya lagi dan dibantingnya tanpa jeda.