Di antara aroma aspal basah setelah hujan dan asap sate maranggi di pinggiran jalur Cisaat, Adella Veranza Tan hanya ingin menjalani hidup normal sebagai mahasiswi hobi motoran.
Bersama Sasha Eliana Wijaya, sahabatnya yang terobsesi pada kuliner hits Instagram, Della membelah kabut Sukabumi dengan Scoopy krem kesayangannya.
Namun, bagi Della, spion motor bukan sekadar alat pantau lalu lintas. Sejak kunjungan ke sebuah kedai kopi "tersembunyi" di lereng gunung, spion kirinya tak lagi menampilkan aspal yang kosong.
Ada sosok yang betah duduk di jok belakang, tepat di belakang Sasha yang tak menyadari apa pun.
Gerian Liemantoro, mekanik andalan sekaligus sahabat masa kecilnya, mulai curiga saat mesin motor Della sering kali "berat" tanpa alasan teknis.
Ada sesuatu yang ikut berboncengan.
"Loe ngerasa motor gue berat nggak, Sha?"
"Enggak ah, Del. Perasaan loe aja kali, atau sate tadi emang bikin kenyang bego?"
Della melirik spion kiri, Sosok itu kini balas menatapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nhatvyo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: Ritual Pemutusan
Udara subuh di Sukabumi mendadak mati. Tidak ada suara jangkrik, tidak ada gonggongan anjing, hanya suara detak jantung Della yang berpacu dengan raungan mesin "Si Creamy" yang semakin tidak terkendali.
"Ger! Tahan pintunya! Jangan biarkan Sasha keluar!" teriak Della sambil berlari ke arah motor.
Geri, dengan logat Sunda-China-nya yang kental saat panik, berteriak dari balik pintu, "Del! Ulah nekat! Eta si Pangsi mawa rantai, Del! (Jangan nekat! Itu si Pangsi bawa rantai!)"
Della tidak peduli, Ia berlutut di samping Si Creamy. Hawa panas menyembur dari arah blok mesin, padahal motor itu baru saja dinyalakan. Ia bisa mencium bau rambut terbakar dan kemenyan yang sangat menyengat. Tangan Della yang memegang Busi Merah gemetar hebat, tapi luka ungu di tangannya seolah menuntun gerakannya secara paksa.
Pria berbaju pangsi itu melangkah maju. Rantai motor di tangannya diseret di atas aspal, mengeluarkan percikan api yang berwarna biru kehijauan.
"Geura pasrah, turunan Tan... Darah manéh geus ditandaan! (Cepat pasrah, keturunan Tan... Darahmu sudah ditandai!)" Pria itu mengangkat rantainya, siap menghantam Della.
"JANGAN GANGGU TEMEN GUE, SETAN!"
Tiba-tiba Geri keluar dari rumah. Bukan pakai doa-doa, tapi dia membawa kunci pipa besar dan botol berisi oli bekas yang dicampur garam kasar resep lama dari ayahnya untuk mengusir lelembut yang "nempel" di besi.
Geri menyiramkan oli itu ke arah pria pangsi. Saat cairan itu mengenai kulit sang pria gaib, keluar asap putih yang berbau amis. Pria itu menggeram, fokusnya teralih dari Della ke Geri. Mereka mulai bergumul di halaman, sebuah duel antara mekanik Cisaat dan penjaga gaib dari Sukaraja.
Della segera membuka penutup mesin Si Creamy menggunakan Kunci Tulang. Begitu terbuka, Della tersentak.
Di dalam ruang busi, bukannya kabel-kabel rapi, ia melihat urat-urat daging manusia yang berdenyut, melilit seluruh bagian mesin.
Bibi Mei muncul di spion kiri yang sudah pecah. Wajahnya kini hanya tinggal setengah kulit, sementara setengahnya lagi sudah menjadi logam karatan.
"Della... pasang... tulungan Bibi... (Della... pasang... tolong Bibi...)"
Della memegang busi lama yang sudah hitam pekat. Saat ia mencoba mencabutnya, jarinya terasa seperti tersengat listrik ribuan volt. Ia menggigit bibir bawahnya sampai berdarah untuk menahan sakit.
"Maafin Della, Bi. Della harus balikin Bibi ke tempat asal," bisik Della.
Dengan satu hentakan kuat, Della mencabut busi lama dan memasukkan Busi Merah. Seketika, Si Creamy mengeluarkan suara lengkingan seperti wanita yang sedang histeris. Seluruh bodi motor yang berwarna cream itu mendadak berubah menjadi merah darah, lalu kembali ke warna aslinya.
Tiba-tiba, sebuah tangan pucat keluar dari lubang mesin dan mencengkram pergelangan tangan Della. Sosok Bibi Mei kini berada tepat di samping telinganya. Dingin sekali.
"Nuhun, Della... tapi perjanjian tetap perjanjian. Manéh moal bisa leupas ti spion kenca... (Terima kasih, Della... tapi perjanjian tetap perjanjian. Kamu nggak akan bisa lepas dari spion kiri...)"
Bibi Mei mencium kening Della. Seketika, mata kiri Della menjadi gelap total selama beberapa detik. Saat ia membuka mata, pria berbaju pangsi sudah menghilang bersama asap kabut subuh. Geri terkapar di aspal dengan napas terengah-engah, kunci pipanya patah jadi dua.
Sasha lari keluar rumah, langsung memeluk Della sambil menangis. "Del! Loe nggak apa-apa? Mata loe... mata kiri lo kok jadi abu-abu?"
Della melihat pantulan dirinya di spion kiri Si Creamy yang ajaibnya kini kembali utuh dan bening.
Di dalam spion itu, ia melihat Bibi Mei sedang duduk tenang di kursi goyang rumah Sukaraja, melambaikan tangan dengan wajah cantik yang utuh.
Della mengusap matanya. Penglihatan mata kirinya sekarang berbeda; ia bisa melihat "asap hitam" yang menyelimuti setiap rumah di gang tempat tinggalnya. Ia menyadari, ritual tadi tidak menghapus kutukan, tapi justru mengikatnya lebih dalam sebagai "juru kunci" Si Creamy.
Di spakbor depan motor, muncul sebuah goresan baru yang permanen: sebuah angka 23.
"Pelabuhan Ratu..." gumam Della. "Kita harus kesana, Ger. Ada sesuatu di KM 23 yang manggil Bibi Mei."
Geri bangkit sambil memegangi bahunya yang biru. "Gue ikut, Del. Mau gimana lagi? Gue mekanik motor ini, berarti gue juga mekanik nyawa loe sekarang."
Sasha berhenti menangis, ia mengambil HP-nya. "Gue... gue tetep ikut. Tapi kali ini, gue nggak bakal posting apa-apa di Instagram sampai kita beneran aman."
Della berdiri mematung di samping Si Creamy. Meskipun suasana sudah sedikit tenang, bau amis darah dan oli masih tertinggal di udara subuh itu. Geri mencoba bangkit, meringis menahan sakit di bahunya yang dihantam rantai gaib tadi.
"Edan, Del... urang beneran gelut jeung jurig (Gila, Del... gue beneran berantem sama setan)," gumam Geri sambil mencoba membersihkan noda oli hitam di tangannya.
Sasha yang masih gemetar mendekat, memandangi mata kiri Della yang kini berubah warna. "Del, serius, mata loe... warnanya kayak katarak tapi lebih bening, kayak perak. Loe masih bisa liat gue?"
Della mengerjapkan matanya. Penglihatan mata kirinya kini aneh. Ia tidak melihat Sasha sebagai manusia biasa; ia melihat aliran energi yang redup di sekujur tubuh sahabatnya itu.
Sedangkan saat ia melihat ke arah Si Creamy, motor itu tampak bernapas, mengeluarkan uap tipis dari sela-sela mesinnya.
Koh Adnan mendekati Della dengan langkah berat. Ia menyerahkan sebuah kunci cadangan tua yang karatan. "Bawa ini, Del. Ini kunci gudang lama kita di Pelabuhan Ratu. Buyut Tan menyimpan sesuatu di sana, sesuatu yang mungkin bisa benar-benar membebaskan Mei dan kamu."
"Tapi Pa, kenapa harus sekarang?" tanya Della, suaranya terdengar lebih dewasa, dipengaruhi oleh memori Bibi Mei yang kini bersarang di kepalanya.
"Karena angka 23 di spakbor itu," Koh Adnan menunjuk goresan permanen di motor Della. "Itu tanda waktu. Kamu punya waktu 23 hari sebelum Bibi Mei mengambil alih tubuhmu sepenuhnya. Kamu harus sampai di KM 23 Pelabuhan Ratu sebelum malam ke-23."
Sasha langsung mengecek kalender di HP-nya. "Berarti kita cuma punya waktu sampai malam Jumat Kliwon depan, Del!"
Geri langsung sigap. Sisi mekaniknya muncul meski badannya sakit semua. "Oke, gue nggak bakal biarin Si Creamy mogok di jalan. Kita ke bengkel gue sekarang di Cisaat. Gue harus pastiin Busi Merah itu nggak bikin mesin loe jebol karena panas gaib."
Della mengangguk. Ia memakai helm Bogo coklat nya. Saat ia bercermin di kaca helm, ia melihat bayangan Bibi Mei tersenyum tipis tepat di belakang pundaknya.
"Ger, Sha... perjalanan ke Pelabuhan Ratu lewat Cikidang itu berat. Banyak tikungan yang 'ada isinya'. Kalian beneran mau ikut?" tanya Della meyakinkan.
Sasha menghela nafas panjang, mencoba kembali ke mode "anak hits"-nya yang berani. "Gue butuh konten yang beneran ekstrim kan? Lagian, gue nggak bakal tenang kalo loe sendirian, Del. Tapi janji ya, kita mampir makan sate maranggi dulu sebelum masuk jalur hutan!"
Mereka bertiga melaju menuju bengkel Geri di Cisaat. Jalanan Sukabumi masih sepi, hanya ada beberapa angkot kuning yang mulai narik penumpang. Sesampainya di depan bengkel Geri yang masih tutup, Della memarkirkan Si Creamy.
Tiba-tiba, spion kiri motor itu bergetar. Della melihat sosok Mang Asep, tukang parkir legendaris yang biasa mangkal di situ, sedang berdiri di pojokan bengkel. Mang Asep hanya menatap motor Della dengan tatapan kosong.
"Mang Asep? Tumben udah di sini?" sapa Geri.
Mang Asep tidak menjawab. Ia hanya mengangkat tangannya, menunjuk ke arah roda belakang Si Creamy. Della melihat ke bawah, dan jantungnya nyaris copot. Di jari-jari roda motornya, melilit potongan kain kafan yang sangat panjang, terseret di sepanjang jalan tanpa mereka sadari.
Saat Della menatap Mang Asep lagi, sosok itu tiba-tiba menghilang, meninggalkan bau bunga kantil yang sangat tajam. Di tempat Mang Asep berdiri tadi, hanya ada sebuah koin benggol kuno yang tergeletak di lantai.
"Dia bukan Mang Asep yang asli, Ger..." bisik Della. "Itu pemberitahuan. Kita udah 'diikat' dari bawah."