♥️♥️♥️
Perjodohan diusia muda? Yakin berjalan lancar? Usia yang masih labil, tanggung jawab besar, bisakah? Mampukah?.
Akan jadi apa pernikahan tanpa adanya ilmu pengetahuan yang cukup? Mental yang bahkan masih perlu bimbingan orang tua, apa keputusan orang tua mereka sudah benar untuk masa depan anak-anak nanti? Entahlah, semoga aja semuanya baik-baik saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SP_Daffotta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab XXXIII
...Selamat membaca...
.......
.......
.......
Hari-hari berlalu dengan begitu cepat rasanya, pernikahan 3 pasutri muda sudah sampai 3 bulan, tidak ada kendala, semua lancar, semua dimudahkan oleh Tuhan rasanya.
Tapi, keadaan tenang tak membuat Ayah Adib tenang juga, pria paruh baya itu memancarkan kekhawatiran yang sangat kentara di wajahnya.
Di gedung kantor miliknya, Ayah Adib melamun, mengabaikan berkas-berkas yang membutuhkan sentuhan tangan darinya.
‘Apa maksud pertempuran akan dimulai? Aku tidak melihat ada pergerakan apa pun dari Andreas, tapi hatiku mengatakan dia memang sudah bergerak? Kenapa kali ini aku tak mencium hal-hal apapun? Ya Tuhan, doaku tidak pernah macam-macam, permintaanku juga tidak terlalu banyak, aku hanya ingin anak-anakku dan anak-anak sahabatku Kau lindungi, jagalah mereka ya Tuhan,' doa tulus Ayah Adib mengalun dalam hati, bersamaan dengan beliau menghela napas pasrah.
‘Tok tok tok!’ suara pintu diketuk.
“Masuk!” Ayah Adib membenarkan posisi duduknya.
“Yo! Selamat siang Pak Adib, maaf mengganggu waktu bekerja Anda, saya hanya ingin berkunjung ke tempat Anda, tidak masalah, ‘kan?” Papi Akifa dengan segala sifat cerianya dari semasa kuliah tidak pernah luntur, sampai menurun pada anaknya, beliau menyapa Ayah Adib dengan nada tengilnya.
Ayah Adib membalas hanya dengan senyuman kecilnya, dia mengulurkan tangan pada sofa di ruangannya, mempersilakan Papi Akifa duduk dengan nyaman.
“Enak banget bisa jalan ke sana-kemari kamu, ngga ada kerjaan emang?” Ayah Adib bertanya sanksi, karena memang, Papi Akifa nih kaya pengangguran hidupnya, beliau kerja, tapi sering keluyuran ke kantor sahabat-sahabatnya.
“Lagi ada meeting di deket sini, ini aku baru selesai, sengaja mampir ke sini,” Papi Akifa menatap Ayah Adib dari samping.
2 pria paruh baya ini kemudian saling diam, bingung mau ngobrol apaan, satunya banyak pikiran karena pikirannya riweuh, satunya pengen bantu meringankan beban.
“Kamu kenapa Dib? Kayaknya banyak pikiran banget,” tak tahan hanya saling diam, Papi Akifa membuka obrolan.
“Andreas mengan*camku lagi, 3 hari yang lalu dia kembali mengirimkan surel ancaman,” Ayah Adib menjelaskan kekhawatirannya pada Papi Akifa.
“Terus? Kamu takut?” dengan hati-hati Papi Akifa bertanya.
“Aku tidak pernah takut pada baji*ngan itu, aku hanya khawatir dengan anak-anak, karena surel dari Andreas mengatakan. ‘Pertem*puran akan segera dimulai,' tapi saat aku menunggu pergerakan dari Andreas, tidak terjadi apa pun, aku takut kali ini sasarannya bukan cuma kita, tapi juga anak-anak kita, dia gi*la, kamu ngga lupa itu, ‘kan?” Ayah adib kali ini tidak bisa menunjukkan rasa tenangnya, beliau benar-benar sudah diselimuti oleh rasa cemas.
“Kabar anak-anak baik-baik aja, kita tidak benar-benar melepaskan mereka, tangan mereka, masih ada ‘di genggaman’ kita, Dib, ‘mereka’ menjaga anak-anak kita dengan baik,” Papi Akifa bukan hanya setakat menenangkan, tapi mengatakan kejujuran, 3 pasutri muda tidak pernah benar-benar sendirian, mereka selalu diawasi oleh guard yang para orang tua kirimkan.
Papi Akifa perlahan dapat mengalihkan rasa cemas Ayah Adib, cinta pertama Akifa itu menggiring topik ke suatu perbincangan santai.
Ok, mari kita tinggalkan para orang tua itu, dan ayo kita kembali pada suasana anak-anak di sekolah.
Jam istirahat sedang berlangsung, Nathan sedang duduk sendirian di rooftop sambil menyalakan sebatang rokok, pemuda itu juga sedang berbicara dengan seseorang lewat telepon.
“Bukannya kesepakatannya aku hanya mengawasi mereka? Aku sudah patuh, jadi jangan aneh-aneh, aku tidak mau!” Nathan berucap dengan nada tegasnya.
Nathan mendengarkan seseorang di seberang telepon marah-marah, karena muak, Nathan memutuskan sambungan telepon dan matikan ponselnya juga.
‘Gawat, dugaanku benar, pria tua itu memerintahkanku melakukan hal-hal aneh, ya Tuhan bantu aku!’ batin Nathan bergejolak gelisah, ini seperti Nathan diminta memilih antara pisau dan pistol, sama-sama berbahaya dan mema*tikan, Nathan harus berhati-hati.
.......
.......
.......
Bersambung ...
Lope you pull guys♥️
...Terima kasih🌹...
Ayo baca ulang karyaku, ada perubahan yang agak besar loh, in syaa Allah alurnya aku ubah biar tambah cantik😚
Love you all😚