Istilah kehidupan di dunia ini seperti roda yang berputar memang benar adanya. Hal itu lah yang sedang di alami oleh Abeliaza Azalea yang akrab di panggil Abel. Yang dulu nya bergelimang harta dalam sekejap menjadi tidak punya apa-apa. Gadis cantik berusia 22 tahun itu pun harus menanggung beban hutang yahh sangat besar setelah kematian kedua orang tua nya. Tidak hanya itu, dia juga harus menerima pembalasan dari seorang pria dengan tampilan culun yang pernah dia permalukan saat SMA dulu.
"Arabella Azalea maukah kamu menjadi pacar ku," Kaivan Putra Rajendra yang tak lain adalah putra Abian dan Azizah.
"Jangan kan di dunia nyata, di dunia mimpi pun gue ngga sudi nerima Lo jadi cowok gue.." Abeliaza Azalea
Bagaimana kisah perjalanan seorang Abeliaza Azalea bertahan di kehidupan yang sangat keras dan kejam ini, dan bagaimana pembalasan yang akan di lakukan oleh seorang Kaivan Putra Rajendra kepada orang yang sudah mempermalukan nya dulu? Cuss...kepoin karya baru aku ya gaess,😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ny.Irawana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 35 Cewe langka
Drrrt,
Drrrt,
Drrrt,
Kaivan menyipitkan mata nya, mendengar suara dering telepon di dalam mobil. Namun bukan berasal dari ponsel nya, karena nada dering yang terdengar sangat asing di telinga nya.
"Max...angkat dulu ponsel mu."
Max yang sedang fokus dengan kemudi nya pun mengerutkan dahi nya, pasal nya handphone dia sejak tadi tidak berbunyi sama sekali, tidak ada orang yang menghubungi nya sejak tadi. Lagi pula ponsel Max juga dalam mode silent jika ada orang yang menghubungi pasti hanya getaran saja yang akan terdengar bukan lagu Stecu - Stecu seperti yang terdengar sekarang.
"Maaf tuan, tapi ponsel saya sejak tadi tidak berbunyi," jawab Max.
"Terus kalau bukan ponsel kamu ponsel siapa yang berbunyi."
"Saya juga tidak tahu tuan," kata Max sambil melirik sang bos lewat spion. Namun tatapan Max tertuju pada sebuah tas selempang yang terletak di samping Kaivan.
"Ehm..maaf tuan, bunyi ponsel itu saya rasa berasal dari tas nona Abel yang ada di sebelah tuan."
Kaivan langsung menoleh ke arah samping, dan bener saja apa yang di katakan Max, sebuah tas selempang yang sudah ketinggalan model dan kusam warna nya.
"Ck...dasar ceroboh," Kaivan langsung mengambil tas istri nya itu, kemudian membuka tas itu.
Hati nya seketika tercubit, ternyata tidak hanya warna tas itu yang kusam, namun tas itu juga sudah dalam keadaan rusak terbukti saat Kaivan membuka tadi bagian resleting tas itu sudah jebol. Kaivan menghela nafas nya perlahan, ada rasa nyeri dalam hati nya. Sungguh dia tidak menyangka jika kehidupan istri nya sangat sulit selama ini, terbukti tas selempang yang Kaivan tahu pasti harga nya di bawah seratus ribu sudah rusak begini namun Abel tidak bisa untuk mengganti nya.
Tidak banyak barang yang ada di dalam tas itu, hanya dompet kecil dan sebuah ponsel yang layar nya sudah banyak bekas goresan.
"Dafa??" gumam Kaivan saat mengetahui jika yang menghubungi istri nya itu adalah Dafa, teman sekolah mereka dulu.
"Untuk apa laki - laki itu menghubungi Abel," batin Kaivan dalam hati.
Ting,
"Bel, kamu sibuk ya? Sampai telepon ku ngga kamu angkat. Aku cuma mau mastiin saja jika kamu baik - baik saja. Jujur sejak kamu masuk rumah sakit tempo hari, aku sangat kuatir ma kamu. Oh ya Bel, kemarin aku baru pulang liburan dari Labuhan Bajo dan aku bawain kamu oleh - oleh tas keren lho. Besok kita ketemuan ya di tempat kamu kerja, aku sudah ngga sabar pengen ngasih tas ini ke kamu."
Sebuah pesan dari Dafa masuk ke ponsel Abel, setelah panggilan telepon nya berkali - kali tadi tidak di angkat.
"Ck...sok perhatian, emang dia siapa ! berani - berani nya merhatiin istri gue, di kira gue ngga bisa beliin tas buat istri gue apa, pakai acara beliin tas istri orang segala. Lihat aja kalau dia macam - macam ma istri gue," gerutu Kaivan yang langsung menonaktifkan ponsel Abel.
Max yang melihat ekspresi sang bos berubah menjadi masam setelah mengecek ponsel Abel pun hanya tersenyum," definisi benci tapi cinta," lirih Max.
"Tuan.. bagaimana kalau kita putar balik saja, kasihan nona Abel. Pasti dia kebingungan karena tidak memegang ponsel dan tas nya. Kasihan nona Abel tuan," ucap Max dengan begitu hati - hati.
"Biarin saja, kita lanjutkan saja perjalanan kita. Aku tidak ingin orang itu menunggu kita lama, kamu sudah pastikan bukan jika orang itu akan memberikan informasi yang akurat tentang apa yang aku inginkan selama ini."
"Iya tuan, saya pastikan jika kali ini informasi yang dia bawa sesuai dengan apa yang tuan inginkan."
Setelah obrolan itu, kedua nya pun saling tidak ada pembahasan apa pun di dalam mobil. Semua nya nya fokus dengan pikiran nya masing - masing. Namun Kaivan sendiri sejak tadi terlihat beberapa kali menghela nafas, pikiran nya saat ini terpecah belah. Tak munafik, pria itu juga kepikiran sang istri yang dia tinggalkan begitu saja di pinggir jalan tanpa memegang uang dan ponsel.
"Huft..."
**
"Astaga... ternyata di dunia ini masih ada ya cewe modelan kayak dia," ucap pria yang saat ini sedang mengoleskan salep pada dahi nya yang memerah di dalam mobil.
"Tapi, kalau di pikir - pikir cewe modelan dia sekarang memang sudah langka sih, bisa - bisa nya dia minta uang tadi untuk ongkos ke tempat kerja nya. Harusnya kan aku yang minta ganti rugi ke dia, karena ulah nya dahi ku jadi kayak gini. Ini justru dia yang minta uang, mana minta nya cuma sepuluh ribu lagi, mana ada aku uang segitu, di kasih seratus ribu malah di tukerin menjadi recehan dan dia memang benar - benar hanya ngambil sepuluh ribu saja, dasar bener - bener cewe aneh."
Flashback on,
"Ehm, sekali lagi saya minta maaf ya mas. Demi Allah saya tidak sengaja tadi, anu saya reflek saja karena saya kesal tadi di turunin di pinggir jalan sama orang yang tidak berprikemanusiaan. Mana saya ngga megang ponsel dan uang lagi sekarang, jadi saya ngga bisa jika harus membayar ganti rugi ke mas nya," kata Abel panjang lebar menjelaskan sejelas - jelas nya tentang apa yang terjadi pada nya.
"Huh...siapa juga yang mau minta ganti rugi ke kamu!"
Abel menggaruk kepalanya yang tidak gatal," jadi mas nya ngga ada niatan untuk minta ganti rugi? Alhamdulillah mas nya baik banget ternyata, biasa nya kalau di novel - novel yang sering aku baca itu kalau ada kejadian kayak tadi pasti pemeran cowo nya minta ganti rugi. Tapi syukurlah kalau mas nya tidak seperti itu. Ehm, mas nya kayak nya orang baik, karena dari tadi aku lihat mas nya soft spoken banget bicara nya, ngga ada tuh sedikitpun marah atau emosi, kalau semisal saya minta uang sepuluh ribu pada mas nya boleh ngga? Saya lagi butuh uang mas buat ongkos kerja, dan posisi nya saya saat ini ngga megang uang seperak pun, dompet dan ponsel saya ada di tas saya semua. Dan tas saya itu ada di dalam mobil orang yang nurunin saya di pinggir jalan tadi. Kalau mas nya ngga percaya, nanti mas bisa cek kok di restoran 'JAYA REZEKI ', saya kerja di sana mas."
Flashback off,
"Ya Allah mimpi apa aku semalam, pagi - pagi seperti ini bisa bertemu cewe random macam dia. Bentar...bukan nya cewe itu yang aku lihat di makam kemarin, ah iya...beneran dia. Akhir nya ketemu juga kamu," ucap pria itu sambil tersenyum tipis.
Drrrt,
Drrrt,
Drrrt,
"Hallo... assalamualaikum bunda."
[...........................]
"Iya Rizky sudah dalam perjalanan ke rumah kok Bun, sebentar lagi sampai."
aku bolak balik lihat blm up jg